12/31/2018

Kaleidoskop 2018 Blog muradmaulana.com

Di penghujung tahun 2018 ini, apa saja kaleidoskop untuk blog saya ini muradmaulana.com?
Baca juga: Kaleidoskop 2017 Blog muradmaulana.com
Pada 2018 ini, saya hanya memposting sekitar 25 tulisan. Tidak banyak memang, kalau dirata-rata sebulan hanya menulis antara 1-4 kali. Paling banyak sebulan sekitar 4 tulisan. Lantas, apa saja tema tulisan selama tahun 2018 ini?

Semua arsip tulisan 2018

Tema Setahun

Ada beberapa tema yang saya bahas seperti tentang dunia menulis, perpustakaan, buku, bisnis, PNS, tutorial, religi, peristiwa, wisata, juga beberapa tips. Dari beberapa tema itu, ada dua tema yang menurut saya paling berkesan, yakni ketika berkunjung ke Perpustakan Masjidil Haram pada bulan Mei dan buku kelima yang saya tulis dan telah saya bagikan secara gratis dalam format ebook (PDF) pada bulan November. Berikut tautan tulisannya:
Perpustakaan Masjidil Haram

Pengalaman saat mengunjungi Perpustakaan Masjidil Haram di Mekkah, tentu saja menjadi kenangan yang tak terlupakan. Terlebih saya sebagai pustakawan. Tentunya saya merasa ada pengalaman tersendiri karena bisa melihat secara langsung kondisi perpustaakaan tersebut. Sebenarnya, masih banyak tulisan terkait pengalaman selama di Arab misalnya saat mengunjungi Masjid pertama yang di bangun Rasulullah, yakni Masjid Quba. Sayangnya pada 2018 ini belum sempat untuk menuliskannya. Semoga pada 2019 nanti bisa saya bagikan tulisannya karena saya sendiri suka menuliskan pengalaman ketika mengunjungi masjid bersejarah atau musola unik. 
Baca juga: Anda ke Mustafa Centre dan Chinatown Singapore? Jangan Lupa Mampir di Masjid Bersejarah Angullia dan Jamae
Sementara itu, buku kelima yang saya tulis juga merupakan proses perjuangan untuk terus bisa konsisten menulis buku setiap tahun. Walaupun, buku tersebut sebenarnya bisa diterbitkan pada tahun 2017. Namun, karena ada beberapa hal sehingga terpaksa mundur. Tapi, yang jelas saya merasa lega karena bisa menuliskan pengalaman sendiri selama menjadi pustakawan sekaligus blogger di buku tersebut. Kalaupun masih banyak kekurangannya, semoga kedepan bisa lebih baik lagi.
Ebook Dua Dunia Seirama

Resolusi 2019

Pada 2019 ini saya tidak menuliskan secara eksplisit di blog ini terkait resolusi apa yang hendak ingin saya capai. Yang jelas saya punya harapan semoga yang maha kuasa memudahkan segala urusan saya dalam dunia dan akhirat. Tetap dalam iman Islam dan terus bisa istiqomah untuk suatu hal kebaikan. Di penghujung tahun 2018 ini, seperti biasa, sebuah tulisan pribadi yang patut menjadi bahan kontemplasi saya sendiri: Nasehat Akhir Tahun: 6 Sesuatu Yang Perlu Kita Renungkan.

Bagaimana dengan teman-teman?

Salam,
Pustakawan Blogger

12/19/2018

Merencanakan Liburan Akhir Tahun

Sebentar lagi liburan akhir tahun akan tiba. Pengalaman saya kecil yang tinggal di kampung memang tak pernah memikirkan libur akhir tahun datang. Bahkan, hingga direncanakan akan kemana. Maklum, namanya juga orang kampung, anake wong tani. Tapi, biasanya akan lain bagi orang tua yang katakanlah bekerja sebagai pegawai/karyawan, maka biasanya akan mengajak keluarga, misalnya istri dan anak-anaknya berlibur pergi ke suatu tempat. Entah kemana. Tapi, tentu saja kalau itu dianggarkan.

Kenapa Perlu Liburan?

Ngomong-ngomong soal liburan akhir tahun, kenapa sih orang perlu liburan? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan sederhana dan sudah biasa. Tapi, saya yakin alasannya akan berbeda. Ada yang mengisi liburan dengan tidak pergi kemana-kamana alias dirumah saja, tapi disi dengan kegiatan kreatif bersifat positif misalnya membaca, membuat karya hand made, dan lain sebagainya. Ada juga yang tipe keluarga yang harus jalan-jalan keluar kota misalnya mengunjungi kerabat atau kakek dan neneknya. Ada juga yang menganggap tak perlu liburan misalnya seperti yang saya alami kecil dulu. Liburan, cukup diisi dengan bermain bersama teman-teman di kampung.
Floating Market, Lembang, Bandung
Floating Market, Lembang, Bandung
Apapun itu, yang jelas liburan bagi setiap individu itu akan dimaknai berbeda. Satu hal yang mungkin sepakat adalah tujuan mengisi waktu liburan adalah bukan hanya sekedar untuk hiburan semata, melainkan ada tujuan lain misal sekalian silaturahim. Bisa juga untuk menambah keharmonisan keluarga. Menghilangkan penat sejenak dari rutinas kerja, dimana dengan melakukan liburan minimal akan tercipta komunikasi keluarga yang semain akrab. Apalagi di era internet sekarang ini, salah satu tantangan terberat keluarga berkumpul utuh adalah sulitnya saling berkomunikasi dari hari ke hati, face to face kaena adanya gadget seperti telepon pintar. Untuk itu, dengan melakukan liburan bersama-sama dan berkomitmen untuk membuat peraturan, liburan tanpa telepon pintar, maka akan semakin menarik. Telepon pintar boleh digunakan hanya untuk dokumentasi misalya mengambil foto guna mengabadikan moment terindah bersama keluarga.


Persiapan Rencana Liburan Akhir Tahun

Ok, terlepas alasan perlu atau tidaknya liburan, itu adalah hak masing-masing individu. Namun, bagi siapa saja yang ingin merencanakan liburan akhir tahun ini, kira-kira apa sih yang perlu dipersiapkan bagi orang tua? Idealnya, kita menginginkan liburan yang murah meriah. Lebih bagus lagi kalau bersifat edukatif. Di blog ini memang saya sering menuliskan alternatif liburan yang bersifat edukatif dan murah meriah berdasarkan pengalaman saya sendiri. Silakan baca disini:

Ada lima hal penting jika teman-teman ingin merencanakan liburan akhir tahun. Pertama, waktu. Kedua, biaya. Ketiga, manfaatnya. Kempat, kesehatan. Kelima, tempatnya. Menyoal waktu, tentunya diperlukan waktu yang tepat, misalnya orang tua cuti dari kantor dan bertepatan dengan sekolah anak-anak libur.

Sementara itu, menyoal manfaat, maka harusnya liburan itu bernuansa edukatif. Artinya bermanfaat dari sisi kognitif, afektif dan pastinya juga psikomotorik. Lalu, menyoal biaya, maka diusahakan seminimalis mungkin. Bahkan, kalau perlu tidak mengeluarkan sepeserpun. Walaupun secara itung-itungan matematis, saya kira tidak mungkin karena pastinya tetap diperlukan biaya misalnya untuk transportasi, makanan, dan lainnya. Oleh karena itu, seperti yang saya bilang, maka sebaiknya sebisa mungkin dengan biaya minimalis. Tapi, bagi mereka yang berduit, tentu biaya tidaklah menjadi masalah. Sungguh suatu hal yang patut disyukuri.

Bagaimana dengan kesehatan? Pastinya juga penting. Apalah arti liburan, jika fisik kita tidak sehat. Oleh karena itu, jangan lupa selalu jaga kesehatan sebelum pergi berlibur. Kesehatan adalah sebuah nikmat yang tak bisa dibandingkan dengan empat lainya itu. Sedangkan pemilihan tempat berlibur juga perlu menjadi perhatian dan pertimbangan.

Nah, lima persiapan tersebut, tentunya tak asik jika saya tidak mencontohkannya. Berikut ini video tips tentang wisata edukatif dengan biaya murah berdasarkan pengalaman saya sendiri. Barangkali mungkin bisa menjadi rekomendasi liburan akhir tahun teman-teman.
Selamat berlibur teman-teman...

Salam,
Pustakawan Blogger

11/21/2018

Akhirnya Bisa Berkunjung Ke Perpustakaan Pojok Kelas SMA Negeri 2 Indramayu

Ketika saya mendapat kiriman foto via WhatsApp dari Fachri terkait Perpustakaan Pojok Kelas SMA Negeri 2 Indramayu, jujur saya sempat terkejut sekaligus terharu dan tentu saja senang karena ada juga sekolah di tempat daerah saya lahir, ternyata memiliki kepedulian terhadap minat baca dan dunia buku.
Baca Juga: Keren! Ada Perpustakaan Pojok Kelas di SMA Negeri 2 Indramayu
Nah, saat ada kesempatan mengunjungi Sekolah SMA Negeri 2 Indramayu bulan lalu, saya pun tak menyia-yiakan untuk berkunjung ke perpustakaan pojoknya secara langsung. Terus terang saya penasaran karena sebelumnya hanya melihat via foto. Setelah melihat langsung, rasa penasaran pun kini mulai hilang. Unik dan kreatif sih. Ini dia foto-fotonya:

Perpustakaan Pojok Kelas SMA Negeri 2 Indramayu
Perpustakaan Pojok Kelas SMA Negeri 2 Indramayu
Perpustakaan Pojok Kelas SMA Negeri 2 Indramayu
Ilmi, Saya, Fachri
Lihat, rak menggunakan bambu dan ban mobil bekas. Sementara kursi dan meja menggunakan kayu kas. Tidak lupa pula, ditempelkan quote dan tanaman hias.

Adanya perpustakaan pojok kelas, kira-kira bagaimana ya dengan kegiatannya? Apakah rutin dilakukan diskusi buku yang sudah dibaca atau bagaimana? Lantas, bagaimana dengan dukungan perpustakaan sekolah itu sendiri? Karena terus terang saya belum sempat bertandang ke perpustakaannya. Untuk informasi terkait itu, nantikan posting selanjutnya ya.

Salam,
Pustakawan Blogger

11/14/2018

Unduh Buku Kelima Saya Gratis, Dua Dunia Seirama

Alhamdulillah, akhirnya terbit juga buku kelima saya yang diterbitkan oleh kantor sendiri melalui Perpustakaan BAPETEN. Tersedia dalam dua format, cetak (edisi terbatas) dan ebook yang bersifat gratis.

Sebenarnya untuk yang versi ebook ingin saya bagikan gratis bertepatan dengan Hari Blogger Nasional, tapi karena beberapa hal, rencana saya untuk membagikan terpaksa mundur sekitar awal-awal November dan baru sekarang mulai bisa di unduh.

Buku ini saya persembahkan secara khusus sebagai rasa syukur saya selama ini karena menggeluti dua dunia sekaligus, yakni pustakawan dan blogger. Meskipun antara pustakawan dan blogger berbeda dunia, tapi menurut saya ada sisi pekerjaan yang seirama yaitu aktivitas menulis
Baca Juga: Refleksi Ngeblog 11 Tahun
Apa sih sebenarnya isi ringkas dari buku kelima saya ini? Hanya secarik; sehelai; sedikit pengalaman saya terkait perjalanan menulis dari sejak mahasiswa hingga sekarang menjadi pustakawan dan blogger. Latihan menulis dari era luring hingga daring.

Dua Dunia Seirama

Proses menulis setiap individu itu akan berbeda-beda. Begitu pula yang saya alami. Menulis itu perlu keberanian, kepercayaan diri, dan tentu saja bukanlah bakat. Bisa menulis itu karena latihan bukan hasil kebut semalam. Tiga hal itulah yang saya ceritakan dalam buku sederhana ini.

Pada awalnya judul buku ini adalah Satu Atap Dua Dunia, tapi setelah berpikir ulang, saya pun merubahnya menjadi Dua Dunia Seirama. Alasan saya berganti judul adalah karena setelah saya cek, ternyata judul tersebut pernah untuk judul film.

Ok, berikut deskripsi lengkap bukunya:
  • Judul: Dua Dunia Seirama: Secarik Kisah Pengalaman Menulis Pustakawan Blogger
  • Pengarang: yang punya blog ini
  • Cetakan: ke-1, September
  • Format/Jml. Hlm : 14×21, viii + 127 halaman
  • Penerbit: Perpustakaan BAPETEN
  • Tahun Terbit: 2018
  • ISBN Ebook: 978-602-51760-3-6
  • ISBN Cetak:  978-602-51760-2-9
Dua Dunia Seirama

Saya tidak akan berpanjang lebar menceritakan isi bukunya. Bagi yang penasaran dan tertarik silakan baca sendiri dan bisa di unduh langsung disini:

Link 1: Dua Dunia Seirama
Link 2: Dua Dunia Seirama

Selamat membaca dan saya tunggu saran, komentar, dan kritiknya. Harapan saya secarik kisah pengalaman menulis tersebut bisa bermanfaat bagi para pembaca.

Salam,
Pustakawan Blogger

11/12/2018

Pustakawan di Era Disrupsi, Revolusi Industri 4.0

Seminggu ini saya mengikuti seminar di dua tempat. Pertama di Perpustakaan Nasional. Sebagai penyelenggara adalah Perpusnas dan Forum Perpustakaan Khusus Indonesia (FPKI). Kedua di Perpustakaan Pusat UGM, penyelenggaranya dari Forum Pustakawan UGM. Ok, kira-kira apa sih yang bisa diambil pelajaran dari seminar keduanya?

Kalau saya ambil benang merahnya dan kata kunci dari kedua seminar tersebut adalah teknologi informasi, kesiapan pustakawan dan perpustakaan itu sendiri. Ok, sengaja saya gabungkan hasil kedua seminar tersebut dalam satu tulisan karena saya pikir dari kedua seminar tersebut masih sangat berkaitan.

Sebagai informasi, tema seminar di Perpustakaan Nasional adalah Arah Tata Kelola Perpustakaan Khusus di Indonesia dalam Menghadapai Revolusi Industri 4.0 dan di Perpustakaan Pusat UGM adalah Menakar Ulang Muruah Pustakawan: Retrospeksi dan Reposisi di Era Disrupsi. 


Tiga Golongan

Meminjam istilah dari Anthony Giddens yang membagi tiga golongan dalam melihat globalisasi misalnya hadirnya teknologi informasi yaitu diantaranya adalah kaum fundamentalis, kosmopolitan dan moderat. Tiga golongan itu tentunya mempunyai cara pandang tersendiri. Dalam perspektif fundamentalis, keberadaan teknologi itu pada dasarnya menggangu dan berbahaya. Sementara dalam  perspektif kosmopolitan, adanya teknologi itu merupakan suatu hal yang baik. Oleh karenanya bisa diterima dengan tangan terbuka. Lantas dalam perpspektif moderat, kehadiran teknologi itu merupakan peluang sekaligus bisa jadi tantangan. Bisa dikatakan dalam perspektif kaum moderat ini, cara pandangnya lebih holistik. Nah, kita lihat dari semua narasumber yang hadir baik di Perpustakaan Nasional maupun Perpustakaan UGM, kira-kira masuk golongan mana.

Konten Lokal, Shifting, Literasi, Information Expert

Ok, langsung saja ya, kalau saya melihat praktisi perpustakaan masjid, Pak Mukmin Suprayogi, disana belum ada unsur pengaruh perkembangan teknologi. Dalam hal evaluasi pun disana hanya memfokuskan pada koleksi berformat cetak seperti buku. Usulan pengembangan koleksi pun hanya fokus pada buku. Padahal, satu hal yang menurut saya penting dan sepertinya luput dari perhatian adalah dokumentasi hasil kajian seperti ceramah, tausiyah, dan sejenisnya. Masjid menjadi majelis ilmu yang penuh dengan kajian, diskusi keagamaan dan menurut saya ini menjadi konten lokal dari koleksi perpustakaan masjid itu sendiri.
Baca Juga: Masjid Sebagai Daya Dukung Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia
Seminar Nasional~Forum Perpustakaan Khusus Indonesia
Seminar Nasional "Arah Tata Kelola Perpustakaan Khusus di Indonesia dalam Menghadapai Revolusi Industri 4.0"
Berbeda dengan Kang Yogi praktisi dari CNN. Secara garis besar perjalanan rekan saya dari grup pustakawan blogger ini sungguh menarik. Hadirnya teknologi telah merubah segalanya. Bukan hanya dari sisi pekerjaan melainkan istilah-istilah dari kepustakawanan itu sendiri. Misalnya tidak ada kata 'perpustakaan' melainkan aset media. Kang Yogi, sering menyebut MAM. Pekerjaan Kang Yogi benar -benar ada pergesaran. Rhenald Kasali menyebut dengan istilah shifting. Oleh karenanya, terjadilah metamorforsis pekerjaan dan mau tidak mau harus bertransformasi. Kalau tidak, maka jelas akan gigit jari.

Menurut hemat saya, suatu hal wajar apabila dalam pekerjaan Kang Yogi itu terjadi pergesaran. Mengapa? Pertama, tempat bernaung Kang Yogi adalah industri media dan akan berbeda dengan misalnya seperti perpustakaan plat merah atau di bidang pendidikan. Dari koleksinya saja sudah jelas, sepertinya video yang akan mendominasi bukan buku. Kedua, karena industri bisnis, maka persoalan profit adalah yang harus diperhatikan. Oleh karenanya, jika ada yang lebih praktis, efektif, efesien, maka penerapan TI tentu menjadi pilihan. Ketika Kang Yogi bercerita dulu ada karyawan hingga 30 orang dan sekarang dipangkas hanya 8 orang karena adanya teknologi, maka itu adalah suatu pilihan berat memang. Tapi, dalam bisnis pihak manajemen tentunya pasti sudah berhitung.

Pekerjaan Kang Yogi menjadi suatu hal yang berbeda dan ini harusnya menjadi salah satu perhatian dari institusi pendidikan khususnya jurusan ilmu informasi dan perpustakaan untuk memasukan kurikulum seperti yang biasa Kang Yogi lakukan. Menurut kabar, sementara ini baru di Universitas Brawijaya yang sudah memasukan kurikulum seperti yang telah dilakukan Kang Yogi selama ini.

Hal yang menarik ada beberapa tips dan trik dari Kang Yogi untuk bisa menghadapi revolusi 4.0 ini. Apa saja? Harus mampu beradaptasi, jangan lupa selalu berpikir positif, tingkatkan skill, tingkatkan nilai tambah sebagai pustakawan yang unik, mampu bekerja sama, dan jangan lupa belajarlah kewirausahaan atau berbisnis.
Baca Juga: 25 Hobi Yang Bisa Anda Jadikan Bisnis
Lain Pak Mukmin dan Kang Yogi, maka lain pula bagi presiden ISIIPI, Bang Farli yang sekaligus sebagai praktisi pustakawan dibidang hukum. Secara garis besar TI memang membawa pengaruh di lingkungan tempatnya bekerja. Namun, kemampuan literasi informasi khusus hukum menjadi penting ketika bergelut dengan dunia informasi hukum. Ditambah harus mampu bersinergi, jejaring, baik antar sesama pekerja informasi dibidang hukum maupun dengan asosiasinya.

Kalau 3 praktisi sebelumnya memang orang jurusan ilmu perpustakaan, maka narasumber dari LIPI yang satu ini adalah orang komputer. Pak Hendro Subagyo, lulusan ilmu komputer dari negeri sakura ini menekankan bahwa hidup itu terus mengalami perubahan. Dari industri 1.0 hingga sekarang era 4.0, dimana ada tiga komponen penting, yakni cyber-physical system, internet of things (iot), dan internet of services (ios). Perkembangan teknologi dan ledakan informasi menjadi sebuah titik perubahan dimana ini sangat berpengaruh terhadap pustakawan dan perpustakaan. Isu penting yang menjadi pertanyaannya adalah bukan bagaimana cara menyimpannya, namun menurut Pak Hendro adalah bagaimana cara mengklasifkasikan, menelusuri, dan pengamanan informasi tersebut. Maka, industri 4.0 paling tidak membawa sebuah perubahan pada ruang kerja dan cara bekerja itu sendiri.  Lantas, jika dituntut serba cepat dan akan banyak pekerjaan-pekerjaan pustakawan yang tergantikan dengan sebuah 'program', apakah peran perpustakaan dan pustakawan masih dibutuhkan?

Menyoal itu, sejatinya tidak berbeda jauh dengan apa yang dikemukakan Kang Yogi, dimana telah terjadi shifting, pustakawan harus bertransformasi. Maka menurut Pak Hendro, pekerjaan pustakawan dimasa yang akan datang bisa memposisikan diri sebagai information expert bukan lagi sebagai literature expert. Sebagai contoh di LIPI, pustakawan idealnya bukan sebagai pendukung para peneliti, akan tetapi partner peneliti.

Sebagai penutup dari Pak Hendro terkait upgrading layanan perpustakaan yang dianalogikan pada gambar dibawah ini:
Upgrading Layanan

Posisi paling bawah adalah bersifat pasif misalnya seperti layanan pencarian. Pustakawan tidak lagi membimbing pemustaka karena para pemustaka sudah bisa mencari informasi sendiri dengan sebuah mesin pencarian. Di bagian tengah, bersifat interaktif, artinya kini para pemustaka tidak lagi datang karena sudah bisa diakses melalui daring. Di bagian paling atas itu bersifat konsultatif. Nah, posisi teratas adalah dimana posisi yang tidak bisa tergantikan mesin, walau sekarang sudah mulai ada yang mengarah kesana, tapi masih perlu waktu lama. Apa posisi contoh diatas? Konon terkait wisdom. Eit, jangan keburu berpikir jadi orang seperti kaya Mario Teguh ya? Bukan, akan tapi sebagai information expert yang mempunyai kemampuan dalam menganalisis tajam, setajam silet hingga mampu mengeluarkan keputusan tepat. Ingat, wisdom itu berada paling atas dari data, informasi, dan pengetahuan. Kalau digambarkan kira-kira seperti ini:
Wisdom
Nah, balik lagi terkait information expert, kira-kira di kurikulum jurusan ilmu informasi dan perpustakaan sekarang ini, apakah sudah dibekali tentang hal itu?

RPT, Redefinisi Istilah, dan Pustakawan Radikal

Ok, sekarang saya sambung lagi dengan tiga narasumber di seminar Perpustakaan Pusat UGM. Sejatinya di seminar yang saya ikuti di Perpustakaan UGM ini menarik. Kenapa? Pertama, narasumbernya berasal dari profesi yang berbeda, yakni dosen, praktisi pustakawan, dan penulis sekaligus pengelola perpustakaan. Kedua, tema yang diangkat fokus terhadap pemaknaan profesi pustakawan. Hal itu bisa dilihat dari beberapa istilah tema yang mungkin masih ada pustakawan yang merasa belum tahu dengan beberapa istilah tersebut. Apa saja istilah itu? Yakni muruah, retrospeksi, reposisi, dan disrupsi. Semuanya tersirat jelas dalam KBBI daring. Khusus istilah terakhir, disrupsi adalah istilah yang sedang santer didengar karena menjadi salah judul buku Rhenald Kasali. Akibat dari buku itulah, banyak pustakawan merasa galau karena diprediksikan akan terdepak akibat perkembangan teknologi informasi.

Atas hal itu, kira-kira seperti apa sih pustakawan di era disrupsi, era dimana banyak profesi hilang karena perkembangan teknologi informasi?

Saya awali dengan pak dosen dari UI, Pak Taufik. Sebenarnya agak berat bahasan dari Pak Taufik ini. Maklummlah, beliau dosen, lulusan doktor filsafat lagi. Oleh karenanya, pokok bahasanya mengenai filsafat informasi yang dihubungkan dengan pustakawan. Pemikiran dari tokoh yang dibicarakan adalah Luciano Floridi. Menyoal teknologi informasi, sebuah pertanyaan terlontar dari Pak Taufik.  "Apakah teknologi bisa membantu apa tidak? Tergantung, bisa iya, bisa tidak," kata Pak Taufik.  Menurut pak doktor, posisi pustakawan terkait hadirnya teknologi bisa menilik pada model RPT (resource, product, target).
Baca Juga: Informasi Bersifat Multifaset dan Polivalen, apa itu?
Waduh, hewan apalagi ini model RPT. Biar mudah kira-kira begini, resource atau sumber, konon katanya berkaitan dengan ketersediaan, akses, dan akurasi. Wah ini sepertinya sejalan dengan Pak Hendro Subagyo yah. Ingatkan isu yang dilontarkan? Bukan bagaimana cara penyimpananya, akan tetapi bagaimana mengklasifikasi, menelusuri dan pengamananya. Dari itu, tak heran Pak Taufik menyinggung bahwa pustakawan harus membangun metada, ehmmm.
Seminar Nasional “Menakar Ulang Muruah Pustakawan: Retrospeksi dan Reposisi di Era Disrupsi”
Seminar Nasional “Menakar Ulang Muruah Pustakawan: Retrospeksi dan Reposisi di Era Disrupsi”
Selanjutnya, produk berkaitan erat dengan seorang pustakawan itu bukan hanya sekedar penikmat atau konsumsi informasi, melainkan harus menjadi provider informasi, pembuat informasi juga. Nah, disinggung juga harus menjadi penangkal hoax. Ehmmmm....Sementara itu, target terkait keamanan, privasi informasi dan sejenisnya. Tiga model RPT itu idealnya bisa menjadi acuan pustakawan di era disrupsi ini.
Baca Juga: Di Era Digital ini, Tanamkan Akhlak/Budi Pekerti Sebelum Literasi Digital
Narasumber kedua, praktisi yang pernah menjadi pustakawan dan kepala perpustakaan yang tak asing namanya. Beliau adalah seorang doktor lulusan dari Australia, Pak Aditya Nugraha. Walau pokok pembahasan Pak Aditya lebih pada pengalaman perpustakaan perguruan tinggi, tapi menarik jika ditelisik pada  beberapa pokok pembahasannya seperti terkait kontraversi penyetaraan pustakawan antara pendidikan formal dan pelatihan PNRI. Ini ada kaitannya dengan program inpasing. Kemudian, terkait pustakawan hanya diperlukan sebagai akreditasi lembaga, selebihnya dianggap angin lalu.

Pustakawan di era disrupsi tak ubahnya seperti para narasumber sebelumnya. Menurutnya perlu melakukan redefinisi peran pustakawan dan perpustakaan itu sendiri. Pustakawan yang berkompetisi dengan mesin pencari, sejatinya harus tanggap terhadap perubahan yang terjadi. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan menjadi tantangan bagi pustakawan itu sendiri.

Kemampuan (skill), passion, komunikasi, kepemimpian, dan pendidikan harus menjadi perhatian. Yang menarik adalah pada subject spesialis, dimana sejatinya untuk menjadi subject spesialis ini justru S1 seorang pustakawan itu jurusannya bukan harus perpustakaan, melainkan yang lainya. Sebagai contoh, jurusan S1 teknik mesin, kemudian bekerja di perpustakaan perguruan tinggi teknik akan lebih baik, apalagi ditambah dengan S2 nya baru jurusan ilmu perpustakaan. Sehingga dasar-dasar sumber informasi tentang keteknikan bisa dikuasai. Satu hal lagi yang disinggung pak Aditya, bahwa jurusan ilmu perpustakaan harus bisa menanamkan passion para mahasiswanya terutama terhadap profesinya kelak.  Sementara itu, redefinisi pada perpustakaan menyangkut pada sebuah ruang yang harus menjadi tempat pembelajaran komunitas, bersifat nyaman, bebas, memancing daya kreatifitas, dan terbuka. Istiah yang dilontarkan Pak Aditya adalah neutral space (sanctuary) dan  empowering space.

Narasumber terakhir yang saya kenal dari buku-bukunya dulu ketika mahasiswa diploma. Beliau adalah Muhidin M. Dahlan. Jika narasumber sebelum-sebelumnya berkaitan dengan harus serba cepat, tepat, mengikuti perkembangan zaman, maka narasumber yang satu ini sangat berbeda. Mungkin beliau adalah seorang penulis buku yang benar-benar buku banget. Sampai-sampai di slidenya tertulis Pencinta Buku Sampai Mati dalam 17 Tweet. Tema yang diusungnya menarik, mendefinisikan pustakawan aktif dan pustakawan pasif.  "Kalau dua narasumber sebelumnya menikmati pecepatan, harus di tuntut serba cepat, maka saya menikmati perlambatan. Lagi pula, manusia itu yang dicari hanya ada dua, bahagia dan meninggal kelak masuk surga. Jadi, nikmatilah perlambatan itu," ungkap Bang Muhidin ketika membuka awal presentasinya. Serentak, para peserta pun mulai tertawa. Saya tidak tahu, tertawa karena mengiyakan atau menyembunyikan rasa gelisahnya, akibat dari dua narasumber sebelumnya yang begitu tampak serius. Apalagi setelah diberikan filasafat informasi oleh Pak Taufik, Yah, paling tidak, setelah celoteh awal dari Bang Muhidin itu, cukup bisa membuat para peserta yang hadir mulai bisa sedikit santai. Hihihihi

Sering kali manusia itu lupa dengan hakikat dirinya. Manusia hidup sejatinya untuk apa? Pencarian makna sesungguhnya sering kali abai dan akhirnya jauh dari rasa. Rasa yang ada disekeliling kita. Kalau berbicara pustakawan, maka hal yang pertama harus jadi perhatian adalah seorang pustakawan itu harus tahu dunia buku. Tak ada tawar-menawar dalam hal ini. Pokoknya buku. "Kalaupun sekarang ada apalah misal ebook, toh nyatanya pemeran buku terbesar di Frankfurt, paling banyak buku cetaknya dibanding digitalnya," ungkap Muhidin. Pustakawan adalah orang pertama yang harus paham mengenai isi buku. Oleh karenanya, "budaya menimbang buku adalah budaya seorang pustakawan," ungkap Bang Muhidin berapi-api. "Jadi, jangan hanya mikirin berapa gajinya, ini profesi atau bukan, dihargai atau tidak," sambung Bang Muhidin.

Kalau pustakawan lebih merasa penting, wan-nya dibanding pustaka-nya, maka siap-siaplah menjadi pustakawan yang terdisrupsi, yakni pustakawan yang tercabut dari akarnya, pustakawan yang jauh dari dunia buku. Oleh karenanya menurut Muhidin, jadilah pustakawan radikal. Apa itu pustakawan radikal? Yaitu pustakawan yang tahu secara mendalam tentang buku, paham perkembangan dunia aksara seiring sejarah hidup ini terus tecipta. Tahu sejarah buku dari masa ke masa yang tumbuh penuh dengan lika-liku persis seperti bangsa ini lahir.

Menurut Bang Muhidin pustakawan itu sebagai pengelola, pengorganisasi sekaligus fasilitator suara polifonik yang ada dalam buku. Nah, tugas pustakawan itu adalah melindungi dan memberi ruang yang cocok untuk suara polifonik tersebut ke dalam sebuah harmoni. Pengelola bukan sebatas fisik, tapi paham isinya. Agar lebih di desiminasikan, maka bisa gunakan IT, tapi tidak mutlak. IT hanyalah alat. Tanpa IT juga tak mengapa, toh usianya juga lebih tua buku dibanding IT. Pendek kata, harus cinta kepada buku, sebenar-benarnya cinta yang bisa membuat si pecinta itu aktif. Apakah cinta Hapsari terhadap profesinya bisa seperti Bang Muhidin? (Baca: Blog Kang Yogi).

Ada dua jenis pustakawan radikal, yakni pustakawan aktif dan pasif. Pustakawan aktif adalah mereka yang bergerak ke wilayah pelosok-pelosok, menyalurkan buku ke daerah yang belum tersentuh buku. Wujud kecintaan mereka terhadap buku adalah bagaimana caranya buku-buku itu sampai ke tangan mereka, para pemustaka yang sama sekali belum menyentuh, bahkan membaca isinya. Pustakawan aktif adalah pustakawan bergerak. Program pengiriman buku gratis adalah salah satu peran dari pustakawan aktif ini.

Kedua, pustakawan pasif, yaitu mereka itulah jenis pustakawan yang berada dibalik ruang, berdiskusi membicarakan ide-ide kepustakawanan. Dalam hal koleksi, pustakawan pasif , si kurator buku juga sering kali berdalih melalui seleksi ketat, buku-buku pilihan. Menurut Bang Muhidin, apabila jenis pustakawan pasif ini berkumpul, maka akan menjadi provider informasi yang penting terkait buku misalnya seperti rekomendasi-rekomendasi untuk para pemustaka terkait isi buku tersebut. Pustakawan pasif yang menjadi provider informasi khusus buku adalah sejatinya seorang pemikir karena mereka melahirkan kembali tulisan-tulisan terkait buku yang bisa menjadi bahan diskusi, berdialektika. Saran dari Bang Muhidin, jika anda tipe orang yang tak suka keramaian, lebih suka kesunyian, maka jadilah pustakawan pasif.

Diantara jenis pustakawan itu? Mana yang penting? Menurut Bang Muhidin dua-duanya penting. Semuanya sudah ada tugasnya masing-masing. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah dua-duanya cinta buku walau diekspresikan dengan cara yang berbeda. Buku yang menjadi paling utama. Yang perlu diwaspadai adalah untuk pustakawan pasif, hati-hati jangan terjebak pada kuantitas. Ingat kualitas, dalam arti sering kali banyaknya pengunjung menjadi tolak ukur si perpustakaan itu dianggap maju. Bukan itu, ketika perpustakaan itu sunyi, maka itu bisa menjadi pembuktian, seberapa tangguh pustakawan pasif itu bisa melahirkan ide-ide untuk membuat timbangan buku, paham terhadap perkembangan buku, melakukan penelitian terhadap buku, hadir dalam peristiwa besar terkait buku, dan sejenisnya terkait seluk-beluk dunia buku. "Jika perpustakaan itu sepi, kita bisa menjadi pustakawan sekaligus pemustakanya sendiri," kata Bang Muhidin. Ungkapan dari Bang Muhidin itu, jelas sebuah bahan renungan untuk para pustakawan, sejauh mana paham tentang koleksi perpustakaan kita. Sejauh mana kita praktikan sekaligus contohkan aktivitas membaca sehari-hari, bukan hanya sekedar retorika bahwa membaca itu penting.

Sekarang kita bisa melihat, dari semua narasumber sepertinya hanya ada dua golongan, yakni kosmopolitan dan moderat.  Menariknya, antar narasumber satu dengan yang lain bisa saling bertolak belakang. Misal Pak Taufik yang meyinggung citra pustakawan selalu melulu soal buku, maka bagi Bang Muhidin itu adalah keharusan. Namun, tidak mutlak menolak TI, toh itu bisa digunakan sebagai alat pengroganisasian konten buku.

Kalau kawan-kawan sendiri sebagai pustakawan, kira-kira saat ini masuk yang mana? Atau masih mencari pemaknaan seperti halnya Paijo (Baca blog Kang Pur).

Autokritik Saya (Pustakawan)

Ok, dari mengikuti seminar tersebut, paling tidak membuat saya harus melakukan autokritik pribadi sebagai pustakawan. Pertama, menyoal TI dan kaitanya literasi, karena saya pikir, beberapa narasumber mengerucut pada literasi. Sudahkah saya sebagai pustakawan menjadi contoh kepada yang lain misal pemustaka, kalau saya memang benar-benar pustakawan yang terliterasi. Ingat menjadi contoh, bukan menunjukan atau memberi contoh.  Konteks pemustaka luas, bukan hanya di kantor saya sendiri. Namun, misal orang paling terdekat keluarga atau teman.

Kedua, dahulu saya pernah bekerja di perpustakaan umum. Saya masih ingat, pertanyaan kepada rekan saya pustakawan senior dulu. Saat itu saya bertanya, selama bekerja menjadi pustakawan lebih dari 20 tahun, sudah berapa buku yang dibaca hingga selesai? Rekan saya menjawab, "belum ada." Sekarang apabila pertanyaan saya tersebut dihubungkan kepada saya pribadi dengan presentasi Bang Muhidin, sungguh itu membuat saya merasa tertampar. Saya jadi teringat, masih banyak buku-buku di rumah yang saya beli rutin masih terbungkus rapi di rak. Kemudian di perpustakaan kantor, khusus buku-buku non teknis, sepertinya baru beberapa buku saja yang saya baca hingga selesai.

Ketiga, menganggap profesi penting, tapi sudahkah saya mementingkan pekerjaan profesi itu sendiri secara total. Menyoal memahami konten buku misalnya.

Dari tiga autokritik itu, era disrupsi atau revolusi 4.0, tiba-tiba saya teringat emak saya. Maaf lan kesuwun emak....

Unduh semua materi seminar disini. 

Salam,
#pustakawanbloggerindonesia

11/07/2018

Pelatihan Menulis Artikel (Opini) Bulan Bahasa di SMA Negeri 2 Indramayu

Seminggu yang lalu, saya diundang oleh komunitas sastra SMA Negeri 2 Indramayu untuk menjadi narasumber guna memperingati bulan bahasa yang jatuh pada bulan Oktober, sekaligus peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Undangan ini juga terkait dunia literasi, khususnya aktivitas menulis.

Pelatihan Menulis Bulan Bahasa di SMANDA

Awalnya, tema yang saya bawakan adalah terkait dunia menulis di blog, tapi saya kaitkan dengan dunia jurnalisme. Lalu, saya putuskan tentang citizen journalism (jurnalisme warga). Sementara itu, selain saya, konon katanya nanti ada lagi narasumber dari pihak wartawan khusus membahas dunia jurnalistik. Namun, setelah satu minggu, salah satu panitia menghubungi saya kembali untuk sedikit mengerucutkan pelatihan menulis terkait agar siswa menulis artikel (opini). Minimal nanti, para siswa bisa mengirimkan tulisan artikel tersebut ke salah satu media internal yang diterbitkan sekolah tersebut. Sayangnya, narasumber berasal dari wartawan tidak bisa hadir karena kesibukan.

Kalau boleh jujur, awalnya saya sedikit ragu karena jelas sekali ini adalah sebuah tantangan berat. Mengapa? Pertama, dalam menulis itu memang saya selalu tekankan pada tiga hal, yakni bukan bakat, menepis mental block dan rajin latihan. Tapi, untuk memulai itu jelas sekali akan berkaitan dengan minat. Inilah yang akan menjadi tantangan sendiri karena untuk memancing minat itu yang harus dikejar. Bagi siswa yang baru pertama kali mengikuti pelatihan menulis, lalu langsung disodorkan dengan menulis artikel (opini), memang agak berat karena mereka harus berpikir kritis, berpikir logis, dan mampu menganlisis suatu permasalahan serta tawaran solusinya. Akan berbeda apabila diawali dengan menulis bebas misalnya.

Kedua, tantangan berat ini adalah menulis itu proses. Tidak bisa sekonyong-konyong akan langsung mampu. Jangankan langsung bisa, agar senang dalam dunia menulis itu biasanya perlu waktu juga.  Perlu konsistensi dan latihan secara teratur. Bisa jadi, misalnya hari ini ikut pelatihan menulis. Lalu, 3 tahun kemudian baru tergerak untuk mulai menulis. Oleh karena itu, saya mengharapkan dukungan dari gurunya agar selalu memotivasi para siswanya untuk mulai mau menulis. Motivasi ini sangat penting karena sebagai amunisi mereka agar selalu semangat, bergerak untuk mau menulis.

Atas dua tantangan berat itu, baiklah saya tidak boleh mundur. Sebagai bentuk tangung jawab saya, akhirnya saya tegaskan diakhir acara setelah praktik atau latihan menulis, saya mempersilahkan siswa agar tetap berhubungan dengan saya via email atau WhatsApp terkait menulis artikel ini. Kendati acara sudah selesai, saya mengharapkan tetap adanya jalinan komunikasi sebagai bahan diskusi terkait bahan tulisan yang akan dikirim di media sekolah tersebut.

Menulis di media mainstream dan blog itu jelas berbeda. Blog yang cenderung lebih bebas, tanpa ada editorial itu akan lebih mudah. Belum lagi bahan yang ditulis. Blog lebih cenderung apa adanya tanpa harus memikirkan ini dan itu. Jadi, jelas sekali untuk menarik minat pertama kali menulis sejatinya blog lebih tepat. Tinggal diberitahu terkait menulis yang harus penuh kehati-hatian, dalam arti tidak bersinggungan dengan UU ITE.

Ok, itu sekilas informasi terkait beban berat dan saran saya pribadi (he...he..). Walau berat, tapi tetap harus optimis. Kembali terkait undangan pelatihan tersebut. Jadi, tema yang diusung adalah Menggali Potensi Bahasa Melalui Jurnalistik. 

Bagi saya dunia kejurnalistikan, bukanlah suatu hal yang baru kendati saya seorang pustakawan blogger. Saat menjadi mahasiswa dulu saya pernah mendapatkan pelatihan dari kampus, ditambah juga pernah menjadi pemimpin redaksi media skala kampus di koperasi mahasiswa. Artinya secara praktik saya sudah pernah melakukan dunia kejurnalistikan. Walaupun untuk sekarang saya sering berkecimpung di dunia blogger. Selain itu, beberapa kali juga saya pernah mengirimkan artikel (opini) ke media mainstream. Dari sedikit pengalaman ini, saya ingin berbagi pengetahuan dengan siswa SMA Negeri 2 Indramayu khususnya bagaimana menulis artikel (opini). Harapan dari berbagi pengetahuan ini, seperti yang telah diungkap diawal, semoga para siswa ini minimal bisa mengirimkan tulisannya ke media internal sekolah. Judul dari pelatihan ini adalah Mudah Menulis Artikel (Opini). 

Pelatihan Menulis Bulan Bahasa di SMANDA

Hidup Itu

Tak bisa dipungkiri, dalam kehidupan itu pastinya akan memerlukan komunikasi antar sesama manusia. Bahkan, bayi yang baru lahir saja akan berkomunikasi walau dengan cara menangis. Begitu juga anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua semuanya melakukan komunikasi. Dalam berkomunikasi lazimnya adalah menggunakan simbol seperti halnya bahasa. Ketika seseorang berkomunikasi menggunakan bahasa, maka disana ada sebuah pesan, ada makna yang harus ditafsirkan oleh si penerima pesan (komunikan). Bahasa begitu sangat penting karena sebagai alat berkomunikasi. Ada banyak bahasa di dunia. Namun, yang menjadi bahasa internasional adalah bahasa Inggris. Di Indonesia sendiri, terdapat  652 ragam bahasa daerah. Beruntungya kita mempunyai bahasa persatuan, yakni Indonesia. Sehingga antar suku bisa saling berkomunikasi dengan bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Baca Juga: Bahasa, Identitas, Kerinduan

Bahasa

Ngomong-ngomong tentang bahasa, maka umumnya kita akan mengenal dua hal yaitu bahasa lisan dan tulis. Ada juga bahasa isyarat yang digunakan oleh khusus orang-orang tertentu. Bahasa lisan sering kali dimanfaatkan dalam berkomunikasi sehari-hari. Berbeda dengan bahasa tulis  yang notabene masih dari jauh harapan. Maksudnya adalah kondisi di negera kita yang masih rendah budaya tulis dibanding lisan. Bahkan, minat menulis lebih rendah dari minat baca. Sementara itu, bagaimana mau menulis, lha wong minat baca saja masih rendah juga. Padahal, antara menulis dan membaca itu saling berkaitan. Tujuh tahun yang lalu, Kepala Balai Bahasa Bandung , Abdul Khak  pernah mengatakan bahwa tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan tradisi membaca di kalangan generasi muda. Hal itu terjadi salah satunya karena rendahnya minat baca. Sementara itu, hasil studi Most Littered Nation In the World 2016, dikatakan bahwa minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Oleh karena itu, dibulan bahasa ini, acara bertajuk literasi yang digagas komunitas sastra smanda patut diapresiasi. Bahkan, hingga ada banyak lomba-lomba literasi seperti menulis cerpen, menulis puisi, menulis esai, berpidato, dan pelatihan kejurnalistikan. Semoga kegiatan semacam ini bisa dilakukan setiap tahun.

Pelatihan Menulis Bulan Bahasa di SMANDA

Jenis Tulisan

Secara sederhana, kurang lebih ada beberapa jenis tulisan yang dikenal, yakni fiksi dan non fiksi. Lalu populer dan ilmiah. Ada juga yang bersifat gabungan seperti populer ilmiah, contohnya menulis artikel opini yang sekarang ini. Tulisan dengan bahasa ilmiah seperti karya tulis ilmiah di jurnal, skripsi, laporan penelitian siswa, dan lain-lain. Sedangkan tulisan populer misalnya di blog, buku-buku fiksi.

Media Tulisan

Era sekarang media tulisan begitu beragam. Perkembangan teknologi informasi tentu menjadi penyebab hal itu bisa terjadi. Secara garis besar ada dua jenis media tulisan. Pertama media cetak dan kedua media elektronik atau digital. Kehadiran media digital tentu saja mempengaruhi terhadap media cetak. Banyak surat kabar yang mengurangi oplahnya, bahkan ada pula yang gulung tikar.

Jenis Media

Ada dua jenis media yang dikenal saat ini. Pertama, media mainstream atau media saluran utama seperti Kompas, Republika, Detik, dll. Media mainstream biasanya diatur oleh UU seperti UU Pers No.40 Tahun 1990. Untuk yang digital, biasanya juga ada pedoman media siber. Penulis berita seperti wartawan juga diatur dalam kode etik jurnalistik. Kedua, media alternatif seperti blog, situs jejaring sosial, dll. Saat ini, sering kali justru media alternatif sangat berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat. Tak jarang, sekarang banyak sekali berita hoax yang berseliweran misalnya di grup seperti Facebook, WhatsApp dan sejenisnya hanya sekedar untuk mempengaruhi masyarakat.

Pelatihan Menulis Bulan Bahasa di SMANDA

Tulisan Jurnalistik

Berbicara tentang jurnalistik, maka hakikatnya ada tiga buah jenis konten yaitu berita, iklan dan tulisan baik fiksi/non fiksi. Untuk non fiksi seperti artikel opini. Sementara untuk fiksi misal cerpen dan puisi. Dalam dunia jurnalistik terdapat beberapa jenis tulisan dengan nama rubrik tersendiri. Nah, beberapa media menamai dengan nama rubrik yang berbeda-beda. Jenis tulisan tersebut diantaranya mulai dari tajuk rencana, surat pembaca, opini, feature, kolom, esai, resensi buku, puisi, cerpen, dll. Untuk masing-masing pengertiannya, bisa dibaca di buku BSE pelajaran Bahasa Indonesia kelas XII misalnya disini:
BSE:  Bahasa Indonesia: Ekpresi Diri dan Akademik

Kenapa Menulis?

Sebelum kita melakukan aktivitas menulis, baik menulis di media cetak ataupun digital, maka satu hal yang harus diperhatikan adalah alasan kenapa kita harus menulis. Di beberapa pelatihan menulis, saya selalu mempunyai alasan kuat kenapa individu harus menulis. Hal itu penting sebagai dasar agar terus semangat menulis. Oleh karenanya, saya selalu berangkat dari sebuah pertanyaan kenapa harus menulis? Ada beberapa point penting kenapa sejatinya kita harus menulis. Hingga sekarang saya mendasarkan diri pada beberapa hal yaitu iqra & qalam, amal jariyah, manusia bermanfaat, manusia pelupa, dan menjaga peradaban. Semua itu bisa dibaca disini:
Baca Juga: Menulis Untuk Perubahan

Manfaat Menulis

Tidak hanya terkait alasan kenapa harus menulis. Tentunya agar motivasi menulis tetap terjaga, maka harus diketahui apa sih manfaat dari menulis itu sendiri. Manfaatnya antara lain bisa ditinjau dari beberapa perspektif diantaranya aspek kesehatan, pendidikan, agama, sosial, ekonomi dan politik. Semuanya itu bisa dibaca disini:
Baca Juga: Workshop Menulis Kreatif Zaman Now di Perpustakaan Umum Indramayu

Bisa Menulis Itu

Tiga hal yang perlu diperhatikan adalah untuk bisa menulis itu pertama, bukan karena bakat. kedua, hilangkan mental block bersifat negatif seperti "saya bisa nulis gak ya", "saya gak ada bakat menulis," " jangan-jangan tulisan saya jelek," dan sejenisnya. Ketiga, latihan secara teratur. Ini yang paling penting. Tanpa latihan, sehebat apapun mentornya, maka akan sia-sia.


Ketika Menulis Artikel (Opini)

Kembali lagi tentang  artikel. Di pelatihan ini adalah artikel yang saya khususkan pada opini. Definisi opini dalam KBBI adalah pendapat, pikiran, atau pendirian. Nah artikel opini kurang lebih adalah membuat tulisan populer ilmiah berdasarkan pendapat si penulis. Tentunya pendapat itu dikemukakan dengan alasan yang logis, berdasar pada data dan fakta. Ketika akan menulis opini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu banyak-banyaklah membaca baik tekstual maupun kontekstual. Perhatikan jenis medianya. Kalau media internal sekolah, misal lihat syarat-syarat penerimaan tulisan. Media sekolah dengan surat kabar lokal pastinya berbeda. Ketiga, ide bisa dari hari penting atau peristiwa-peristiwa yang terjadi baik di dunia maupun di Indonesia. Keempat, latihan secara konsisten.

3 Langkah Praktis

Untuk memudahkan dalam membuat artikel opini itu, maka bisa dilihat dari 3 langkah praktis, yakni melihat dari sisi pembukaan, isi dan penutup. Pembuka biasanya dibuat berdasarkan pokok masalah. Isi terkait uraian data, fakta, contoh kasus, pikiran pendukung, bahkan hingga uraian tawaran solusinya. Penutup biasnya berisi harapan, keinginan si penulis itu sendiri.

Outline Artikel (Opini)

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah membuat outline artikel agar lebih mudah dan fokus ketika proses menulisnya. Contohnya sebagai berikut:
Outline Artikel (Opini)
Outline Artikel (Opini)
Setelah membuat outline artikel, baru kemudian bisa mengembangkan tulisannya mulai dari pembuka, isi, dan penutup.

Membuat Judul

Kenapa saya menempatkan dalam membuat judul itu terakhir? Karena judul bersifat fleksibel. Triknya adalah buatlah 3-4 kata untuk judul yang menarik. Lalu, buatlah daftar pilihannya. Contohnya sebagai berikut:
  • Budaya Kritis Siswa
  • Pentingya Berpikir Kritis
  • Kritis Dalam Informasi
  • Ajarkan Siswa Berpikir Kritis
  • Berpikir Kritis di Era Informasi 
  • Kritis Sebelum Bertindak

Situs Penting

Satu hal lagi, jangan lupa selalu cek istilah-istilah penting di KBBI Daring. Silahkan kunjungi situsnya di http://www.kbbi.kemdikbud.go.id. 

Pelatihan Menulis Bulan Bahasa di SMANDA

Pelatihan Menulis Bulan Bahasa di SMANDA

Bagi adik-adik siswa semuanya, pesan saya adalah jangan lupa latihan, latihan, dan latihan karena itu yang paling penting. Tanpa latihan,  semua itu akan sia-sia. Baca juga contoh-contoh artikel opini yang lain. Selamat berlatih menulis.

Slide Presentasi bisa dibaca disini:


Salam,
Pustakawan Blogger

10/27/2018

Refleksi Ngeblog 11 Tahun: Satu Atap Dua Dunia

11 tahun sudah saya menggeluti dunia blog. Memang tak terasa, begitulah kalau dijalani dengan senang hati, apapun itu, alhamdulillah tak jadi beban, malah justru mengasyikan.

Saya mengenal blog sejak tahun 2007. Saat itu platform blogger milik Google yang saya gunakan. Selanjutnya, merambah ke Drupal dan juga Wordpress. Sempat mencoba Joomla, tapi gak lama.

Bagi saya, blog persis seperti seorang teman. Blog menjadi tempat curahan saya mulai dari yang bahagia, sedih, bahkan lucu.

Blog sangat berpengaruh bagi aktivitas saya sebagai pustakawan dan rencananya dihari blogger nasional, 27 Oktober ini, sebagai rasa syukur, saya ingin mempersembahkan sebuah buku gratis (ebook) untuk para pembaca siapapun. Buku ini saya tulis terkait pengalaman saya selaku pustakawan dan blogger. Tapi, untuk sementara ini, masih belum saya bagikan. Kemungkinan sekitar awal Nopember.

Blog menghiasi perjalanan hidup saya, khususnya dalam dunia kepenulisan. Blog menjadi tempat saya berlatih menulis sehari-hari. Blog menjadi pundi-pundi keuangan untuk keluarga saya. Blog menjadi tempat saya berkontemplasi, menyimpan ide, gagasan, menjadi ruang untuk perubahan, nasihat diri, pendek kata blog telah banyak menemani sisi kehidupan saya sebagai pustakawan.

Selama ngeblog, kurang lebih saya sudah menerbitkan lima buku termasuk nanti yang akan saya bagikan secara gratis. Buku yang kelima ini bercerita perjalanan saya selama latihan menulis dari yang sebelumnya mengenal blog hingga fokus ke blog itu sendiri. Dari zaman mahasiswa hingga sudah bekerja sebagai pustakawan. Buku ini diterbitkan oleh perpustakaan tempat saya bekerja dan harapan saya ada setitik manfaat untuk para pembaca.


Judul buku yang akan saya bagikan adalah Satu Atap Dua Dunia: Secarik Kisah Pengalaman Menulis Pustakawan Blogger. Untuk sinopsis, Insya Allah akan saya tulis diposting selanjutnya sekaligus saya bagikan tautan untuk mengunduhnya.

Salamat Hari Blogger Nasional
Kereta Cirebon Ekspress, 27 Oktober 2018

Salam,
Pustakawan Blogger

10/26/2018

Bahasa, Identitas dan Kerinduan

Kalau ngomongin peristiwa di bulan Oktober, kemungkinan teman-teman banyak yang merujuk pada salah satu peristiwa penting, yakni Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Kebetulan peristiwa tersebut akan diperingati dua hari lagi. Nah, menariknya 28 Oktober juga menjadi tonggak sejarah terkait ditetapkannya bahwa Oktober adalah sebagai bulan bahasa. Lantas, sebagai apresiasi kita terhadap bulan bahasa, apa yang sudah teman-teman lakukan?

Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa menjadi alat komunikasi penting untuk saling memahami pesan yang disampaikan. Ada banyak ragam bahasa daerah  di negara kita Indonesia. Konon jumlahnya berkisar 652 bahasa. Luar biasa, negara kita memang negara kaya akan ragam budaya dan bahasa. 
Kampung Halaman
Kampung halaman, belakang rumah emak
Saya membayangkan apabila negara kita Indonesia tidak memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia, maka dapat dibayangkan betapa susahnya kita harus mempelajari banyak bahasa seandainya kita akan mengunjungi ke daerah-daerah tertentu. Beruntung, adanya bahasa persatuan bahasa Indonesia yang memudahkan kita dalam berkomunikasi kepada masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah gambaran bahwa hakikatnya Indonesia itu suatu negara yang memiliki karakteristik budaya tersendiri. Dengan adanya bahasa persatuan, bukan berarti menomorduakan bahasa daerah. Bukan! 

Identitas 

Bahasa daerah adalah wajah sebagai cerminan keragaman suku yang ada di Indonesia. Bahasa daerah adalah aset sebagai identitas budaya setiap daerah sehingga ada sejarahnya dari masih-masing daerah dan itu menjadi kekayaan bahasa persatuan bahasa Indonesia. Tidak sedikit, istilah-istilah dalam bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa daerah yang sudah diserapkan tentunya. Bukankah ini pertanda bahwa bahasa daerah adalah akar dari keberadaan bahasa Indonesia? 

Kalau saya coba tapak tilas, dulu darimana saya mempelajari bahasa Indonesia? Di rumah jelas tidak mungkin karena bahasa yang digunakan adalah bahasa ibu, bahasa daerah sendiri, lagi pula emak saya juga tidak bisa berbahasa Indonesia. Hal yang paling saya ingat adalah ketika saya mulai bisa berbahasa Indonesia karena saya belajar di sekolah sejak dari SD hingga perguruan tinggi, bahasa Indonesia menjadi bahasa formal untuk memudahkan dalam kehidupan, utamanya berbangsa dan negara. Walaupun ketika SD hingga SMA sering kali kalau ngomong bahasa Indonesia masih bercampur dengan bahasa daerah dan sering itu menjadi bahan tertawaan. Tapi tak mengapa, belajar bahasa Indonesia agar lancar itu dikarenakan sering praktik. Kesalahan-kesalahan itu menjadi bahan pembelajaran hingga akhirnya saya bisa mahir berbahasa Indonesia dengan sendirinya. 

Kerinduan

Sementara itu, kendati bahasa Indonesia menjadi bahasa formal, bukan berarti saya melupakan bahasa daerah. Justru itu, terkadang kebanggaan itu muncul ketika kita sedang berada di perantauan. Betapa bahasa daerah menjadi lambang identitas kebanggan yang sering kali menjadi bahan obrolan. Sesekali saya juga sering menyebutkan istilah-istilah bahasa daerah kepada rekan kerja di kantor yang berasal dari berbagai daerah. Begitu juga sebaliknya. Tidak hanya itu, saya juga sesekali menuliskan istilah, peribahasa bahasa daerah yang saya alami sendiri.
Baca: Bahasa Dermayu: Uyah Tumuse Mendi, Makna Istilah Rubuh Gedang, & Ngebak: Adus-Adusan
Bahasa daerah juga sering kali menjadi puncak kerinduan ketika seseorang berada di dunia perantauan. Oleh karenanya, tak jarang kalau kita mengamati misalnya pekerja-pekerja yang berasal dari desa sedang mencari nafkah di kota besar, maka lagu-lagu daerah sering kali menjadi obat rasa rindu. Kemungkinan itu bentuk dari rasa rindu terhadap keluarga, kampung dan tentu saja juga bahasa daerahnya yang terbiasa digunakan saat dulu kala. 

Pengalaman saya saat menjadi mahasiswa di Jogja dan hingga sekarang merantau kerja di Jakarta, kerinduan bahasa daerah itu kadang dilampiaskan dengan mendengarkan lagu-lagu tarling. Padahal ketika dikampung dulu, terus terang saya jarang sekali mendengarkan lagu-lagu tarling tersebut? Mengapa itu bisa terjadi? Mungkin itulah bentuk apresiasi, wujud kecintaan saya terhadap bahasa daerah yang tak terasa. Orang bilang, cinta akan tumbuh ketika kita sudah jauh darinya. Barangkali itu juga menjadi pertanda bahwa sejatinya cinta saya kepada bahasa daerah tumbuh manakala saya berada jauh dari kampung halaman. Satu hal yang perlu digaris bawahi, kalau sudah cinta bahasa daerah, tentunya juga cinta kepada bahasa Indonesia karena bahasa daerah itu adalah akarnya. Bagaimana dengan teman-teman? 

Selamat Bulan Bahasa 
Jakarta, 26 Oktober 2018

Salam,
Pustakawan Blogger 

10/01/2018

Menulis Untuk Perubahan

Ya, judul diatas sebenarnya judul presentasi saya terkait acara knowledge sharing di kantor sendiri, yakni AoC (Agent of Change). Ada dua alasan saya mengambil judul tersebut. Pertama, karena memang saya sebagai seorang yang sering melakukan aktivitas menulis khususnya di blog. Kedua, tentunya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Oleh karenanya, menyoal perubahan, maka saya fokuskan terkait dengan aktivitas saya sehari-hari, dimana menulis merupakan bagian dari upaya untuk melakukan perubahan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Seperti apa menulis itu bagian dari upaya melakukan perubahan? Ok, berikut pembahasan detailnya:

Menulis untuk Perubahan

Perubahan Itu

Berbicara tentang perubahan, maka akan berkaitan dengan tiga hal, yakni proses, jangka panjang dan aktivitas. Perubahan itu proses karena terjadi secara step by step. Ada tahapannya. Selanjutnya tentu saja bersifat jangka panjang, bukan sesegera mungkin. Walaupun pada kasus tertentu, ada juga yang ingin melakukan perubahan secara cepat, tiba-tiba. Namun, tetap itu semua melalui proses dan arahnya hakikatnya untuk masa yang akan datang.

Selain proses dan jangka panjang, maka selanjutnya adalah adanya aktivitas. Tanpa itu, mustahil terjadi perubahan. Saya ambil contoh misalnya seorang siswa yang belajar di sekolah. Institusi  sekolah adalah tempat sekaligus lingkungan yang bagi setiap orang tua menginginkan anaknya agar bisa berubah. Misalnya agar anaknya pintar, agar anaknya memiliki pengetahuan, agar anaknya kelak mempunyai paradigma berpikir yang ideal, dan lain sebagainya. Perubahan siswa yang tadinya belum tahu, lantas menjadi tahu bahkan, hingga ia menjadi siswa yang pintar, maka itu semua melalui proses. Aktivitasnya adalah misalnya si siswa tersebut belajar dengan rajin.

Aktivitas Apa dan Kenapa Menulis? 

Nah, perubahan yang terjadi karena adanya aktivitas itu, tentunya dengan beragam cara dan masing-masing individu memiliki cara tersendiri untuk melakukannya. Bagi saya sendiri karena seorang pustakawan dan blogger, maka kira-kira apa yang hendak ingin saya lakukan untuk sebuah kata perubahan? Yakni aktivitas menulis. Itu salah satu alasan secara pribadi saja. Namun demikian, ada alasan dasar lainya yang bukan sekedar itu. Apa itu? Yakni, karena menulis merupakan salah satu simpul perubahan berdasarkan 4 hal seperti iqra & qalam, manusia bermanfaat, manusia pelupa dan peradaban. 4 hal itu sebenarnya sudah pernah saya bahas di presentasi-presentasi saya sebelumnya misalnya pada saat acara di Perpustakaan Indramayu. Saat itu, saya membawakan tema Menulis Kreatif Zaman Now dan Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah 1 Yogyakarta berjudul Ngeblog ala Lebah. Tapi tak mengapa, sekarang akan saya sedikit singgung lagi di tulisan ini. Mari kita lihat satu persatu tentang 4 hal tersebut.

Pertama, iqra & qalam. Sebagai seorang muslim, saya tentu harus merujuk pada pedoman hidup yaitu Al-Quran. Di dalam surat Al-Alaq ayat 1-5, disana sangat jelas tersirat bahwa tulis baca merupakan kunci ilmu pengetahuan. Dalam tafsir Al-Quran yang diterbitkan oleh UII, salah satu pokok surat dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 terkait dunia baca dan tulis adalah bahwa Allah,swt menjadikan kalam sebagai alat mengembangkan pengetahuan. Dari sini jelas sekali, menulis merupakan aktivitas yang bisa untuk melakukan perubahan, yakni perubahan untuk yang lebih baik lagi khususnya dengan pengetahuan.

Kedua, manusia bermanfaat. Ingat hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dari situ, efeknya juga akan kembali ke diri kita sendiri. Hal itu dinyatakan jelas dalam Al-Quran surat Isra ayat 7 bahwa jika kamu berbuat kebaikan, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Kiranya jelas, dua dasar itu dari Al-Quran dan hadist yang mendorong kita agar selalu berbuat kebaikan, salah satunya dengan menulis. Harapannya adalah agar menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, manusia pelupa. Disadari atau tidak, kita adalah manusia yang seringkali dihinggapi rasa lupa. Oleh karena itu, menulis adalah salah satu cara untuk menyiasati rasa lupa tersebut agar selalu ingat. Saya sendiri seringkali membaca tulisan-tulisan sendiri karena ada sesuatu yang memang benar-benar lupa sehingga dengan membacanya, maka akan segera teringat kembali. Tulisan-tulisan seperti religi itu sebenarnya seringkali menjadi pengingat sekaligus nasihat pribadi.

Keempat, peradaban. Jika kita melakukan aktivitas menulis, maka pada hakikatnya kita telah mendukung peradaban untuk masa yang akan datang. Tulisan-tulisan kita setidaknya menjadi bagian sejarah untuk para pembaca yang memang benar-benar memerlukan informasinya. Peradaban yang baik tercipta karena adanya dokumentasi kalam dari waktu ke waktu yang nantinya bisa digunakan untuk generasi mendatang.

Arah Perubahan

Jika menulis merupakan sebuah upaya atau langkah untuk melakukan perubahan, maka arah perubahan apa yang sebenarnya ingin dicapai? Pengalaman saya pribadi bersama KBXC selama ini ada tiga yaitu:
  1. Dari tidak tahu menjadi tahu (pengetahuan dan informasi)
  2. Dari diri sendiri dan orang lain (pengingat, nasihat, inspirasi, hikmah, dll)
  3. Memperoleh/penambahan penghasilan (kesejahteraan ekonomi)
Tiga point diatas adalah arah perubahan yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. Mari kita lihat uraian dan contohnya satu persatu.

Dari tidak tahu menjadi tahu biasanya akan terkait pengetahuan atau informasi. Perubahan dari tidak tahu menjadi tahu melalui tulisan misalnya memberikan pemahaman terhadap pikiran seseorang. Dari hal ini bisa mempengaruhi mindset atau pola pikir orang terutama dalam memandang kehidupan ini. Sebuah tulisan bisa membangkitkan perasaaan sang pembaca mulai dari sedih, marah, bahagia dan sebagainya.

Perubahan diri sendiri dan orang lain biasanya terkait sejauh mana tulisan tersebut bisa membuat si penulis atau pembaca berubah? Misalnya kasus pada saya pribadi, seringkali tulisan yang saya buat sendiri menjadi bahan renungan, instrospeksi bahkan, nasihat. Bagi orang lain juga tentu dari sebuah tulisan bisa memberikan sebuah motivasi, pencerahan, hikmah, dan sejenisnya. Banyak orang yang membaca misalnya tulisan-tulisan dari seorang tokoh kemudian menginspirasi bagi si pembacanya itu.

Perubahan untuk memperoleh/penambahan penghasilan tentu saja terkait faktor kesejahteraan ekonomi dan ini seringkali menjadi penyemangat tersendiri untuk terus bisa melakukan aktivitas menulis. Pada saya sendiri dan teman-teman komunitas KBXC, menulis untuk perubahan khusus dalam hal memperoleh/penambahan penghasilan pada akhirnya membawa ke dunia lain yang berbeda. Misalnya seiring prosesnya, mulai banyak teman-teman komunitas yang memahami keahlian yang ada pada dirinya sendiri sehingga mulai fokus pada passionnya. Disini jelas ada dua perubahan sekaligus. Selain secara finansial, juga tentunya mengetahui keahlian masing-masing.

Tradisi Menulis

Menyoal menulis, maka tradisi aktivitas menulis ini sudah dilakukan ribuan tahun lalu dengan media sesuai dengan perkembangan zaman (baca: Sejarah Tradisi Tulis: Dari Masa ke Masa). Lalu, untuk era internet sekarang ini, seperti apa kira-kira aktivitas menulis itu dilakukan? Pertama, biasanya diterbitkan secara daring dan kedua format digital (ada teks, audio, dan video) dengan berupa output atau media seperti web/blog, format ebook (pdf, epub, html), e-jurnal, e-paper, e-magazine, apps, media sosial (Facebook, WhatsApp), forum dan sejenisnya.

Menulis di Blog

Dari semua itu, saya sendiri untuk aktivitas menulis sering memanfaatkan blog. Kenapa alasannya memilih blog? Kurang lebih ada 4 hal yaitu jangkauan luas, mudah diakses, mudah dimanfaatkan, dan tentu saja multifungsi. Secara khusus, berdasarkan pengalaman untuk alasan terakhir multifungsi itu karena menyangkut 5 hal. Apa saja? Berikut point-pointnya:
  1. Personal Branding
  2. Latihan Menulis
  3. Dokumentasi
  4. Lapak
  5. Jejaring
Pertama, apa itu personal branding? Hal termudah untuk memahami personal branding adalah apa yang akan dikenal orang kepada kita misalnya terkait pekerjaan sehari-hari, keahlian, hingga pengalaman hidup. Personal branding seseorang itu bisa terlihat salah satunya dengan cara menulis secara rutin yang diterbitkan. Kasus saya sendiri misalnya melalui blog. Saya sering menulis di blog dari mulai yang bersifat hiburan, informatif hingga agak sedikit serius misalnya makalah-makalah sesuai dengan pekerjaan saya sebagai pustakawan. Dari pekerjaan saya sehari-hari dan aktivitas menulis di blog itu, maka saya membuat tag line di blog itu sebagai pustakawan blogger hingga sekarang. Tag line itu secara tidak langsung telah membuat orang-orang disekeliling saya melabeli sebagai pustakawan blogger sehingga diacara tertentu seringkali saya untuk knowledge sharing misalnya terkait menulis di blog. 

Kedua, latihan menulis. Sejak dulu saya sering menyatakan bahwa blog itu bisa dimanfaatkan sebagai latihan menulis. Ajaibnya latihan menulis yang membawa manfaat-manfaat lainya misalnya penghasilan dari sisi ekonomi, pertemanan hingga tempat bertukar ide dan gagasan. Tips terbaik agar bisa menulis yaitu tak lain sering berlatih menulis. Nah, strategi latihan menulis ini banyak caranya misalnya yang paling terkenal versi wartawan yaitu 5W+1H. Selain itu ada juga metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), 3 Kata, 1 Jam/Paragraf 1 Paragraf,  dan menulis apa adanya. Di blog ini saya sudah pernah menuliskannya. Silahkan baca disini:
Ketiga, dokumentasi. Menulis di blog secara berkala, ternyata selain bisa sebagai latihan menulis juga bisa sebagai dokumentasi. Beberapa buku saya yang diterbitkan baik sendiri maupun kolaborasi, diantaranya berasal dari kumpulan tulisan di blog. Ini berarti sekaligus dokumentasi kuadrat. Menulis di blog itu sendiri merupakan proses bagian dari dokumentasi. Namun, setelah tulisan makin banyak, berlanjut ke dokumentasi yang kedua misalnya dibuat versi buku atau e-booknya. Sekarang pertanyaanya mengapa perlu di dokumentasikan dalam bentuk buku/e-book? Pertama, tidak selamanya blog kita itu bisa diakses. Nah, minimal dengan membuat versi lain, maka itu merupakan cadangan untuk backup. Kedua, dengan dibuat versi lain misalnya buku/e-book, maka biasanya lebih terstruktur sehingga lebih mudah dan enak dibaca. 

Keempat, lapak. Jujur, dahulu sedari awal saya menulis di blog itu awalnya karena motivasi untuk memperoleh penghasilan tambahan. Dalam perkembangannya, blog ternyata bukan hanya untuk menulis catatan harian yang bersifat pribadi saja. Namun, sudah mulai merambah untuk memperoleh penghasilan misalnya dengan mengikuti program perikalan dari Google yang terkenal seperti Google Adsense. Bisa juga dalam bentuk menjual space iklan. Kemudian juga dalam bentuk sponsored content, dimana iklan dibuat dalam bentuk artikel yang informatif. Ada juga teknik copywriting atau sering disebuat salesman teks,  dimana tulisan yang dibuat berbentuk kisah atau story sehingga pembaca tidak menyadari bahwa sebenarnya itu sedang menjual suatu produk. Pada akhirnya si pembaca menjadi yakin dan membuat keputusan untuk membeli. 

Kelima, jejaring. Kita tahu era internet ini banyak sekali bermunculan aplikasi-aplikasi baru yang bisa kita gunakan beriringan dengan blog misalnya Facebook, Twitter, Instagram, Google+, Youtube, Academia, WhatsApp dan sejenisnya. Beragam aplikasi itu bisa kita gunakan untuk berbagi tulisan sekaligus membangun pertemanan sosial. Namun, tetap blog yang menjadi official tulisan kita sehingga ada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Di era digital ini ada beberapa tipe individu yang lazim kita temui seperti provider informasi, pembagi atau orang yang suka share, komentator, pembaca aktif dan pasif. Provider adalah mereka-mereka yang mebuat konten tulisan misalnya para blogger ini. Pembagi adalah mereka yang suka membagikan tulisan-tulisan kepada orang lain misalnya via media sosial. Pembagi ini, biasanya juga sebagai pembaca. Namun, kadang-kadang ada juga pembagi bukan pembaca yang asal share tanpa membacanya terlebih dahulu. Komentator ini, posisinya bisa juga sebagai pembaca, tapi yang aktif. Sementara pembaca pasif biasanya tidak ada tindak lanjut. Setelah membaca selesai, tidak ada reaksi. Sementara pembaca aktif, bisa kritis. Pada akhirnya bisa memberikan saran atau bisa juga nyiyir atau bisa juga malah terinspirasi. Pendek kata, pembaca itu unik dan pastinya mempunyai cara berpikir tersendiri.

Nah, itulah kira-kira 5 multifungsi menulis di blog sebagai media untuk melakukan perubahan. Sebagai penutup, saya percaya setiap orang memiliki cara tersendiri untuk melakukan perubahan. Saya sendiri salah satunya dengan cara menulis. Lantas, bagaimana dengan kawan-kawan AoC?

Buat teman-teman yang ingin baca slide presentasinya silahkan baca disini:


Salam,
Pustakawan Blogger

9/04/2018

Menengok Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi

Sungguh sebuah kesempatan yang langka, akhirnya saya bisa bertandang menengok ke museum rumah kelahiran salah satu proklamator Indonesia, yakni Muhammad Hatta di Bukttinggi, Sumatera Barat. Terus terang, saya termasuk orang yang kagum dengan Bung Hatta, khususnya pada perilaku gemar membacanya. Belum lagi beliau juga menulis banyak buku. Di blog ini saya pernah menulis tentang Bung Hatta terkait aktivitas membacanya (baca: 11 Hal Unik Tentang Kecintaan Bung Hatta Terhadap Buku).

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi
Museum Rumah kelahiran Bung Hatta terletak di Jl. Soekarno Hatta No.37, Campago Ipuh, Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Kalau teman-teman tahu jam Gadang yang ada di Bukit Tinggi, maka dari situ jarak ke museum rumah Bung Hatta sudah dekat. Kira-kira 2 Km. saya sendiri jalan kaki dari Jam Gadang melewati pasar atas pasar bawah.

Seperti apa rumah museum rumah kelahiran Bung Hatta? Ok, untuk lebih jelasnya silahkan langsung tonton video di bawah ini ya. Mohon maaf apabila, suara ada yang kurang jelas karena pada saat mendokumentasikan juga apa adanya. Ditambah waktu yang sedikit ketika berkunjung karena hari sudah sore sehingga akan tutup dan terburu-buru. Oh iya, sedikit informasi untuk jam buka layanan museum di mulai pukul 08.00 sampai 18.00 dari hari Senin sampai minggu. Sementara untuk biaya masuknya, sebenarnya gratis. Hanya saja nanti ada penjaga museum yang akan menyodorkan kotak, biasa ngasih seikhlasnya.


Salam,
Pustakawan Blogger

8/20/2018

Merdeka Itu Menyangkut Mindset, Syukur, dan Kebaikan

Banyak orang yang merasa belum merdeka dalam kehidupan ini. Pertanyaanya adalah kenapa? Tentunya ada banyak faktor yang menyebabkan itu. Biasanya kalau kita melihat contoh kasus per kasus, bukan pukul rata, maka rasa merdeka itu selalu akan dikaitkan dengan kondisi kehidupan ekonomi seseorang. Akibatnya, kemerdekaan itu hanya terbatas dan diukur dengan faktor seberapa besar harta yang dimiliki sekarang.

Saya tidak menampik akan hal tersebut karena begitulah yang sering saya jumpai dan itu bukanlah suatu hal yang dilarang pula. Namun demikian, setidaknya kemerdekaan itu bisa dirasakan dengan konsep yang berbeda apabila kita tahu apa yang mesti dilakukan. Apa dan bagaimana itu? Saya menawarkan tiga hal untuk merasakan kemerdekaan dalam kehidupan ini.
Baca Juga: Memaknai Hari Kemerdekaan Yang Sebenarnya
Pertama, mindset. Rasa merdeka itu tergantung pada mindset atau cara berpikir seseorang. Persoalan merdeka itu berawal dari cara orang itu memandang dalam kehidupan ini. Pada tahap ini diperlukan pola pikir seseorang yang lebih bijaksana. Jika pemikiran lebih sempit, maka yang terjadi adalah cenderung terkekang, mengeluh. Sementara jika lebih holistik, maka yang terjadi adalah lebih luas, terbuka, mempunyai sudut pandang yang lebih bervaratif sehingga akan lebih leluasa dalam memandang suatu masalah yang ada. Kita tahu, merasakan kebebasan itu seringkali dilihat dari kacamata permasalahan yang melingkupi kehidupan seseorang. Mindset yang baik itu akan terpola bilamana seseorang banyak mempunyai pengalaman kehidupan yang dikombinasi dengan gaya hidup gemar membaca sehingga akan timbul pikiran kritis.
Merdeka Itu Menyangkut Mindset, Syukur, dan Kebaikan
Kedua, bersyukur. Sebagai seorang muslim, rasa syukur itu sudah dianjurkan bahkan harus dipraktikan dalam kehidupan hari-hari. Rasa syukur membuat kita menjadi merdeka, menerima kondisi yang ada dengan lapang dada (ridho). Rasa syukur ini tentunya dilakukan setelah kita sudah berusaha secara maksimal, bukan pasrah tanpa ada usaha sedikitpun. Syukur akan membuat hati menjadi tenang karena adanya rasa keberterimaan, bukan penolakan yang seringkali memicu rasa ketidakbebasan itu sendiri. Terutama, terjadi pada beban pikiran seseorang. Ia akan merasa terbebani karena adanya rasa kecewa dikarenakan penolakan-penolakan yang ada dalam pikiran itu sendiri. Akibatnya yang terjadi seringkali terbesit kata-kata seperti "kalau saja..., seandainya..., mungkin jika....", dan sejenisnya yang menyebabkan terjadinya penyesalan berkepanjangan.
Baca Juga: Lima Tingkatan Nikmat Yang Harus di Syukuri Agar Selalu Berbuat Kebaikan
Ketiga, lakukan hal bermanfaat. Saya jadi teringat sebuah kata "fastabiqul khairat," yakni berlomba-lomba dalam hal kebaikan di kehidupan ini. Istilah tersebut juga pernah dilontarkan oleh Tuan Guru Bajang dan AA Gym. Istilah "fastabiqul khairat" tersirat dalam surat Al-Baqaroh, ayat:148 yang terjemahannya sebagai berikut:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Berdasar itu, rasa merdeka sejatinya bisa tercermin dengan melakukan sesuatu hal yang bermanfaat. Melakukan kebaikan selama hidup dengan penuh keyakinan dan rasa semangat penuh optimisme. Hindari sifat-sifat mengeluh, nyinyir, mencaci maki, benci dan sejenisnya yang semua itu menyebabkan hidup kita tidak merdeka. Pendek kata, itu sebenarnya adalah penyakit hati. Itulah sejatinya kemerdekaan ketika, kita bisa menghindari penyakit hati sebisa mungkin.
Baca Juga: Kedepankan Akhlak, Stop Bullying!
Diawali dengan mindset, sehingga diharapakan timbul rasa syukur, lalu tergerak untuk melakukan hal yang bermanfaat. Ini adalah sebuah rasa merdeka yang sebenarnya karena berlandaskan pada kenyataan yang ada. Cara berpikir tidak sempit, selalu melihat dengan mata terbuka sehingga menyadari dengan lapang dada. Merdeka adalah persoalan mengelola cara berpikir yang benar. Merdeka itu persolan menerima dengan rasa syukur. Merdeka itu adalah semangat untuk melakukan kebaikan. Melakukan hal-hal yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat, maka pikirkanlah lingkungan orang-orang yang terdekat terlebih dahulu seperti keluarga, tetangga dan lingkungan kerja. Siap untuk melakukannya?

Selamat HUT RI ke-73. Merdeka!

Salam,
Pustakawan Blogger

8/08/2018

Cara Daftar Online Berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang Selatan (Tangsel)

Sekitar sebulan lalu saya berjibaku untuk mengantri berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang Selatan (Tangsel). Sebenarnya itu rujukan dari faskes BPJS saya yang sebelumnya di Kimia Farma. Berawal dari sebelum lebaran saya mencoba daftar di RSUD Tangsel, ternyata masih dilakukan secara manual. Jadi, saya harus mengantri pagi-pagi buta hanya untuk memperoleh nomor antrian loh, ini belum untuk masuk untuk proses administrasi. Tentu saya kaget bukan kepalang. Lah wong di zaman serba gadget ini, kok mengambil antrian masih secara manual. Apa rumah sakit tidak menyediakan pendaftaran online misalnya menggunakan apps yang bisa di instal di smartphone. Saya memang pernah mencoba menginstal apps RSUD Tangsel ini, tapi hanya berisi informasinya saja misalnya jadwal dokter (itu juga tidak update). Sementara pendaftaran online belum tersedia.

Walau harus rela mengantri pagi-pagi buta ba'da subuh, saya termasuk yang masih beruntung karena rumah saya dekat dengan RSUD Tangsel. Ada  yang lebih parah lagi, yakni mereka-mereka yang rumahnya lebih jauh dan konon katanya hingga mengantri dari jam 3 pagi. Wow, sebuah perjuangan yang tidak mudah. Kenapa? Itu baru proses mengantri, cobaan itu akan berlanjut ketika sedang mengantri, ternyata kuota dokter spesialis yang dituju habis. Maka, terpaksa harus balik lagi dan mengantri esoknya lagi. Saya sendiri pernah mengalami itu. Bayangkan kuota untuk dokter bedah mulut sehari hanya 5 orang. Itu jatah untuk satu wilayah Tangsel. Beberapa kali saya harus melalui proses mengambil antrian secara manual hingga saya harus izin bekerja. Ada sih memang layanan sms, tapi setelah saya coba berungkali selalu jawabanya adalah "Mohon Maaf Yth.....Kuota dokter sudah habis." Pada akhirnya, tetap saya harus rela mengantri pagi-pagi buta.
Baca Juga: Daftar Rumah Sakit di Tangerang Selatan (Tangsel)
Setelah kira-kira satu bulan saya mengikuti proses mengambil nomor antrian secara manual, akhirnya alhamdulillah ternyata ada pendaftaran berobat secara online via website. Kendati baru melalui website belum pengembangan dengan adanya apps, hal itu tentu patut disyukuri mengingat saya sudah mengalami mengambil nomor antrian secara manual itu perlu perjuangan yang tak mudah. Nah, bagi siap saja warga Tangsel yang ingin mendaftar berobat di RSUD Tangsel secara online, berikut prosesnya:

Buka browser dan ketikan alamat berikut ini: https://daftaronlinersud.tangerangselatankota.go.id/home/daftar

kira-kira tampilannya seperti ini:

Pendaftaran Online RSUD Tangsel

Ada tiga menu yaitu pasien lama, pasien baru dan cek status pendaftaran. Sedangkan untuk area sebelah kanan itu berisi informasi jadwal dokter hari ini dan esoknya. Pada kasus saya ini adalah proses untuk pasien lama yang memang sudah punya nomor rekam medis. Untuk pasien baru daftar melalui online saya belum coba ya, karena saya sendiri daftar langsung manual ketika pertama kali berobat. Nanti, untuk pasien baru silahkan coba saja, ikuti alurnya. Masukan nomor induk dan pilih poliklinik, lalu klik tombol "daftar". 

Sementara itu, untuk pasien lama, tinggal masukan nomor rekam medis dan poliklink, maka secara otomatis akan keluar nama, tanggal lahir dan alamat kita. Jangan lupa pilih juga nama dokternya dan klik "daftar". Kira-kira tampilannya seperti berikut:
Pendaftaran berobat online rsud tangsel
Nanti, kalau memang kuota masih ada, maka akan tampil nomor antrian yang nantinya itu digunakan untuk proses administrasi selanjutnya di loket. Jangan lupa datang jangan melewati jam 08.00 ya. Untuk melihat status pendaftaran, tinggal klik menu "cek status pendaftaran." Tinggal masukan nomor rekam medis dan tanggalnya. Pada saat ke loket jangan lupa bawa berkas-berkasnya misal surat rujukannya, kartu berobat rsud, foto kopi ktp dan bpjs. 
Pendaftaran berobat online rsud tangsel
Itu proses ketika kuota dokter masih tersedia. Lantas, bagaimana kalau misalnya habis? Saya memang belum tahu seperti apa tampilanya. Mungkin ada tulisan misalnya "maaf kuota dokter habis". Selama ini saya daftar sudah dua kali, alhamdulillah tersedia. Satu hal yang menjadi catatan, sepertinya diantara poliklinik lain, kuota untuk bedah mulut adalah yang paling sedikit. Tapi, saya dapat informasi dari salah seorang dokter, konon katanya kuotanya dinaikan menjadi 10 dari yang sebelumnya 5. Untuk poliklinik lain saya kurang tahu. Yang jelas misalnya seperti poli dalam itu hingga 90 orang. Kalau poli-poli lain silahkan baca informasi di websitenya ya, yang penting rajin-rajin baca saja. Oh iya satu lagi, usahakan ketika mendaftar online dilakukan satu hari sebelum akan berobat. Kalau dua atau tiga hari sebelumnya, dijamin gak bakalan bisa.

Salam,
Pustakawan Blogger