Pustakawan di Era Disrupsi, Revolusi Industri 4.0

Seminggu ini saya mengikuti seminar di dua tempat. Pertama di Perpustakaan Nasional. Sebagai penyelenggara adalah Perpusnas dan Forum Perpustakaan Khusus Indonesia (FPKI). Kedua di Perpustakaan Pusat UGM, penyelenggaranya dari Forum Pustakawan UGM. Ok, kira-kira apa sih yang bisa diambil pelajaran dari seminar keduanya?

Kalau saya ambil benang merahnya dan kata kunci dari kedua seminar tersebut adalah teknologi informasi, kesiapan pustakawan dan perpustakaan itu sendiri. Ok, sengaja saya gabungkan hasil kedua seminar tersebut dalam satu tulisan karena saya pikir dari kedua seminar tersebut masih sangat berkaitan.

Sebagai informasi, tema seminar di Perpustakaan Nasional adalah Arah Tata Kelola Perpustakaan Khusus di Indonesia dalam Menghadapai Revolusi Industri 4.0 dan di Perpustakaan Pusat UGM adalah Menakar Ulang Muruah Pustakawan: Retrospeksi dan Reposisi di Era Disrupsi. 


Tiga Golongan

Meminjam istilah dari Anthony Giddens yang membagi tiga golongan dalam melihat globalisasi misalnya hadirnya teknologi informasi yaitu diantaranya adalah kaum fundamentalis, kosmopolitan dan moderat. Tiga golongan itu tentunya mempunyai cara pandang tersendiri. Dalam perspektif fundamentalis, keberadaan teknologi itu pada dasarnya menggangu dan berbahaya. Sementara dalam  perspektif kosmopolitan, adanya teknologi itu merupakan suatu hal yang baik. Oleh karenanya bisa diterima dengan tangan terbuka. Lantas dalam perpspektif moderat, kehadiran teknologi itu merupakan peluang sekaligus bisa jadi tantangan. Bisa dikatakan dalam perspektif kaum moderat ini, cara pandangnya lebih holistik. Nah, kita lihat dari semua narasumber yang hadir baik di Perpustakaan Nasional maupun Perpustakaan UGM, kira-kira masuk golongan mana.

Konten Lokal, Shifting, Literasi, Information Expert

Ok, langsung saja ya, kalau saya melihat praktisi perpustakaan masjid, Pak Mukmin Suprayogi, disana belum ada unsur pengaruh perkembangan teknologi. Dalam hal evaluasi pun disana hanya memfokuskan pada koleksi berformat cetak seperti buku. Usulan pengembangan koleksi pun hanya fokus pada buku. Padahal, satu hal yang menurut saya penting dan sepertinya luput dari perhatian adalah dokumentasi hasil kajian seperti ceramah, tausiyah, dan sejenisnya. Masjid menjadi majelis ilmu yang penuh dengan kajian, diskusi keagamaan dan menurut saya ini menjadi konten lokal dari koleksi perpustakaan masjid itu sendiri.
Baca Juga: Masjid Sebagai Daya Dukung Dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia
Seminar Nasional~Forum Perpustakaan Khusus Indonesia
Seminar Nasional "Arah Tata Kelola Perpustakaan Khusus di Indonesia dalam Menghadapai Revolusi Industri 4.0"
Berbeda dengan Kang Yogi praktisi dari CNN. Secara garis besar perjalanan rekan saya dari grup pustakawan blogger ini sungguh menarik. Hadirnya teknologi telah merubah segalanya. Bukan hanya dari sisi pekerjaan melainkan istilah-istilah dari kepustakawanan itu sendiri. Misalnya tidak ada kata 'perpustakaan' melainkan aset media. Kang Yogi, sering menyebut MAM. Pekerjaan Kang Yogi benar -benar ada pergesaran. Rhenald Kasali menyebut dengan istilah shifting. Oleh karenanya, terjadilah metamorforsis pekerjaan dan mau tidak mau harus bertransformasi. Kalau tidak, maka jelas akan gigit jari.

Menurut hemat saya, suatu hal wajar apabila dalam pekerjaan Kang Yogi itu terjadi pergesaran. Mengapa? Pertama, tempat bernaung Kang Yogi adalah industri media dan akan berbeda dengan misalnya seperti perpustakaan plat merah atau di bidang pendidikan. Dari koleksinya saja sudah jelas, sepertinya video yang akan mendominasi bukan buku. Kedua, karena industri bisnis, maka persoalan profit adalah yang harus diperhatikan. Oleh karenanya, jika ada yang lebih praktis, efektif, efesien, maka penerapan TI tentu menjadi pilihan. Ketika Kang Yogi bercerita dulu ada karyawan hingga 30 orang dan sekarang dipangkas hanya 8 orang karena adanya teknologi, maka itu adalah suatu pilihan berat memang. Tapi, dalam bisnis pihak manajemen tentunya pasti sudah berhitung.

Pekerjaan Kang Yogi menjadi suatu hal yang berbeda dan ini harusnya menjadi salah satu perhatian dari institusi pendidikan khususnya jurusan ilmu informasi dan perpustakaan untuk memasukan kurikulum seperti yang biasa Kang Yogi lakukan. Menurut kabar, sementara ini baru di Universitas Brawijaya yang sudah memasukan kurikulum seperti yang telah dilakukan Kang Yogi selama ini.

Hal yang menarik ada beberapa tips dan trik dari Kang Yogi untuk bisa menghadapi revolusi 4.0 ini. Apa saja? Harus mampu beradaptasi, jangan lupa selalu berpikir positif, tingkatkan skill, tingkatkan nilai tambah sebagai pustakawan yang unik, mampu bekerja sama, dan jangan lupa belajarlah kewirausahaan atau berbisnis.
Baca Juga: 25 Hobi Yang Bisa Anda Jadikan Bisnis
Lain Pak Mukmin dan Kang Yogi, maka lain pula bagi presiden ISIIPI, Bang Farli yang sekaligus sebagai praktisi pustakawan dibidang hukum. Secara garis besar TI memang membawa pengaruh di lingkungan tempatnya bekerja. Namun, kemampuan literasi informasi khusus hukum menjadi penting ketika bergelut dengan dunia informasi hukum. Ditambah harus mampu bersinergi, jejaring, baik antar sesama pekerja informasi dibidang hukum maupun dengan asosiasinya.

Kalau 3 praktisi sebelumnya memang orang jurusan ilmu perpustakaan, maka narasumber dari LIPI yang satu ini adalah orang komputer. Pak Hendro Subagyo, lulusan ilmu komputer dari negeri sakura ini menekankan bahwa hidup itu terus mengalami perubahan. Dari industri 1.0 hingga sekarang era 4.0, dimana ada tiga komponen penting, yakni cyber-physical system, internet of things (iot), dan internet of services (ios). Perkembangan teknologi dan ledakan informasi menjadi sebuah titik perubahan dimana ini sangat berpengaruh terhadap pustakawan dan perpustakaan. Isu penting yang menjadi pertanyaannya adalah bukan bagaimana cara menyimpannya, namun menurut Pak Hendro adalah bagaimana cara mengklasifkasikan, menelusuri, dan pengamanan informasi tersebut. Maka, industri 4.0 paling tidak membawa sebuah perubahan pada ruang kerja dan cara bekerja itu sendiri.  Lantas, jika dituntut serba cepat dan akan banyak pekerjaan-pekerjaan pustakawan yang tergantikan dengan sebuah 'program', apakah peran perpustakaan dan pustakawan masih dibutuhkan?

Menyoal itu, sejatinya tidak berbeda jauh dengan apa yang dikemukakan Kang Yogi, dimana telah terjadi shifting, pustakawan harus bertransformasi. Maka menurut Pak Hendro, pekerjaan pustakawan dimasa yang akan datang bisa memposisikan diri sebagai information expert bukan lagi sebagai literature expert. Sebagai contoh di LIPI, pustakawan idealnya bukan sebagai pendukung para peneliti, akan tetapi partner peneliti.

Sebagai penutup dari Pak Hendro terkait upgrading layanan perpustakaan yang dianalogikan pada gambar dibawah ini:
Upgrading Layanan

Posisi paling bawah adalah bersifat pasif misalnya seperti layanan pencarian. Pustakawan tidak lagi membimbing pemustaka karena para pemustaka sudah bisa mencari informasi sendiri dengan sebuah mesin pencarian. Di bagian tengah, bersifat interaktif, artinya kini para pemustaka tidak lagi datang karena sudah bisa diakses melalui daring. Di bagian paling atas itu bersifat konsultatif. Nah, posisi teratas adalah dimana posisi yang tidak bisa tergantikan mesin, walau sekarang sudah mulai ada yang mengarah kesana, tapi masih perlu waktu lama. Apa posisi contoh diatas? Konon terkait wisdom. Eit, jangan keburu berpikir jadi orang seperti kaya Mario Teguh ya? Bukan, akan tapi sebagai information expert yang mempunyai kemampuan dalam menganalisis tajam, setajam silet hingga mampu mengeluarkan keputusan tepat. Ingat, wisdom itu berada paling atas dari data, informasi, dan pengetahuan. Kalau digambarkan kira-kira seperti ini:
Wisdom
Nah, balik lagi terkait information expert, kira-kira di kurikulum jurusan ilmu informasi dan perpustakaan sekarang ini, apakah sudah dibekali tentang hal itu?

RPT, Redefinisi Istilah, dan Pustakawan Radikal

Ok, sekarang saya sambung lagi dengan tiga narasumber di seminar Perpustakaan Pusat UGM. Sejatinya di seminar yang saya ikuti di Perpustakaan UGM ini menarik. Kenapa? Pertama, narasumbernya berasal dari profesi yang berbeda, yakni dosen, praktisi pustakawan, dan penulis sekaligus pengelola perpustakaan. Kedua, tema yang diangkat fokus terhadap pemaknaan profesi pustakawan. Hal itu bisa dilihat dari beberapa istilah tema yang mungkin masih ada pustakawan yang merasa belum tahu dengan beberapa istilah tersebut. Apa saja istilah itu? Yakni muruah, retrospeksi, reposisi, dan disrupsi. Semuanya tersirat jelas dalam KBBI daring. Khusus istilah terakhir, disrupsi adalah istilah yang sedang santer didengar karena menjadi salah judul buku Rhenald Kasali. Akibat dari buku itulah, banyak pustakawan merasa galau karena diprediksikan akan terdepak akibat perkembangan teknologi informasi.

Atas hal itu, kira-kira seperti apa sih pustakawan di era disrupsi, era dimana banyak profesi hilang karena perkembangan teknologi informasi?

Saya awali dengan pak dosen dari UI, Pak Taufik. Sebenarnya agak berat bahasan dari Pak Taufik ini. Maklummlah, beliau dosen, lulusan doktor filsafat lagi. Oleh karenanya, pokok bahasanya mengenai filsafat informasi yang dihubungkan dengan pustakawan. Pemikiran dari tokoh yang dibicarakan adalah Luciano Floridi. Menyoal teknologi informasi, sebuah pertanyaan terlontar dari Pak Taufik.  "Apakah teknologi bisa membantu apa tidak? Tergantung, bisa iya, bisa tidak," kata Pak Taufik.  Menurut pak doktor, posisi pustakawan terkait hadirnya teknologi bisa menilik pada model RPT (resource, product, target).
Baca Juga: Informasi Bersifat Multifaset dan Polivalen, apa itu?
Waduh, hewan apalagi ini model RPT. Biar mudah kira-kira begini, resource atau sumber, konon katanya berkaitan dengan ketersediaan, akses, dan akurasi. Wah ini sepertinya sejalan dengan Pak Hendro Subagyo yah. Ingatkan isu yang dilontarkan? Bukan bagaimana cara penyimpananya, akan tetapi bagaimana mengklasifikasi, menelusuri dan pengamananya. Dari itu, tak heran Pak Taufik menyinggung bahwa pustakawan harus membangun metada, ehmmm.
Seminar Nasional “Menakar Ulang Muruah Pustakawan: Retrospeksi dan Reposisi di Era Disrupsi”
Seminar Nasional “Menakar Ulang Muruah Pustakawan: Retrospeksi dan Reposisi di Era Disrupsi”
Selanjutnya, produk berkaitan erat dengan seorang pustakawan itu bukan hanya sekedar penikmat atau konsumsi informasi, melainkan harus menjadi provider informasi, pembuat informasi juga. Nah, disinggung juga harus menjadi penangkal hoax. Ehmmmm....Sementara itu, target terkait keamanan, privasi informasi dan sejenisnya. Tiga model RPT itu idealnya bisa menjadi acuan pustakawan di era disrupsi ini.
Baca Juga: Di Era Digital ini, Tanamkan Akhlak/Budi Pekerti Sebelum Literasi Digital
Narasumber kedua, praktisi yang pernah menjadi pustakawan dan kepala perpustakaan yang tak asing namanya. Beliau adalah seorang doktor lulusan dari Australia, Pak Aditya Nugraha. Walau pokok pembahasan Pak Aditya lebih pada pengalaman perpustakaan perguruan tinggi, tapi menarik jika ditelisik pada  beberapa pokok pembahasannya seperti terkait kontraversi penyetaraan pustakawan antara pendidikan formal dan pelatihan PNRI. Ini ada kaitannya dengan program inpasing. Kemudian, terkait pustakawan hanya diperlukan sebagai akreditasi lembaga, selebihnya dianggap angin lalu.

Pustakawan di era disrupsi tak ubahnya seperti para narasumber sebelumnya. Menurutnya perlu melakukan redefinisi peran pustakawan dan perpustakaan itu sendiri. Pustakawan yang berkompetisi dengan mesin pencari, sejatinya harus tanggap terhadap perubahan yang terjadi. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan menjadi tantangan bagi pustakawan itu sendiri.

Kemampuan (skill), passion, komunikasi, kepemimpian, dan pendidikan harus menjadi perhatian. Yang menarik adalah pada subject spesialis, dimana sejatinya untuk menjadi subject spesialis ini justru S1 seorang pustakawan itu jurusannya bukan harus perpustakaan, melainkan yang lainya. Sebagai contoh, jurusan S1 teknik mesin, kemudian bekerja di perpustakaan perguruan tinggi teknik akan lebih baik, apalagi ditambah dengan S2 nya baru jurusan ilmu perpustakaan. Sehingga dasar-dasar sumber informasi tentang keteknikan bisa dikuasai. Satu hal lagi yang disinggung pak Aditya, bahwa jurusan ilmu perpustakaan harus bisa menanamkan passion para mahasiswanya terutama terhadap profesinya kelak.  Sementara itu, redefinisi pada perpustakaan menyangkut pada sebuah ruang yang harus menjadi tempat pembelajaran komunitas, bersifat nyaman, bebas, memancing daya kreatifitas, dan terbuka. Istiah yang dilontarkan Pak Aditya adalah neutral space (sanctuary) dan  empowering space.

Narasumber terakhir yang saya kenal dari buku-bukunya dulu ketika mahasiswa diploma. Beliau adalah Muhidin M. Dahlan. Jika narasumber sebelum-sebelumnya berkaitan dengan harus serba cepat, tepat, mengikuti perkembangan zaman, maka narasumber yang satu ini sangat berbeda. Mungkin beliau adalah seorang penulis buku yang benar-benar buku banget. Sampai-sampai di slidenya tertulis Pencinta Buku Sampai Mati dalam 17 Tweet. Tema yang diusungnya menarik, mendefinisikan pustakawan aktif dan pustakawan pasif.  "Kalau dua narasumber sebelumnya menikmati pecepatan, harus di tuntut serba cepat, maka saya menikmati perlambatan. Lagi pula, manusia itu yang dicari hanya ada dua, bahagia dan meninggal kelak masuk surga. Jadi, nikmatilah perlambatan itu," ungkap Bang Muhidin ketika membuka awal presentasinya. Serentak, para peserta pun mulai tertawa. Saya tidak tahu, tertawa karena mengiyakan atau menyembunyikan rasa gelisahnya, akibat dari dua narasumber sebelumnya yang begitu tampak serius. Apalagi setelah diberikan filasafat informasi oleh Pak Taufik, Yah, paling tidak, setelah celoteh awal dari Bang Muhidin itu, cukup bisa membuat para peserta yang hadir mulai bisa sedikit santai. Hihihihi

Sering kali manusia itu lupa dengan hakikat dirinya. Manusia hidup sejatinya untuk apa? Pencarian makna sesungguhnya sering kali abai dan akhirnya jauh dari rasa. Rasa yang ada disekeliling kita. Kalau berbicara pustakawan, maka hal yang pertama harus jadi perhatian adalah seorang pustakawan itu harus tahu dunia buku. Tak ada tawar-menawar dalam hal ini. Pokoknya buku. "Kalaupun sekarang ada apalah misal ebook, toh nyatanya pemeran buku terbesar di Frankfurt, paling banyak buku cetaknya dibanding digitalnya," ungkap Muhidin. Pustakawan adalah orang pertama yang harus paham mengenai isi buku. Oleh karenanya, "budaya menimbang buku adalah budaya seorang pustakawan," ungkap Bang Muhidin berapi-api. "Jadi, jangan hanya mikirin berapa gajinya, ini profesi atau bukan, dihargai atau tidak," sambung Bang Muhidin.

Kalau pustakawan lebih merasa penting, wan-nya dibanding pustaka-nya, maka siap-siaplah menjadi pustakawan yang terdisrupsi, yakni pustakawan yang tercabut dari akarnya, pustakawan yang jauh dari dunia buku. Oleh karenanya menurut Muhidin, jadilah pustakawan radikal. Apa itu pustakawan radikal? Yaitu pustakawan yang tahu secara mendalam tentang buku, paham perkembangan dunia aksara seiring sejarah hidup ini terus tecipta. Tahu sejarah buku dari masa ke masa yang tumbuh penuh dengan lika-liku persis seperti bangsa ini lahir.

Menurut Bang Muhidin pustakawan itu sebagai pengelola, pengorganisasi sekaligus fasilitator suara polifonik yang ada dalam buku. Nah, tugas pustakawan itu adalah melindungi dan memberi ruang yang cocok untuk suara polifonik tersebut ke dalam sebuah harmoni. Pengelola bukan sebatas fisik, tapi paham isinya. Agar lebih di desiminasikan, maka bisa gunakan IT, tapi tidak mutlak. IT hanyalah alat. Tanpa IT juga tak mengapa, toh usianya juga lebih tua buku dibanding IT. Pendek kata, harus cinta kepada buku, sebenar-benarnya cinta yang bisa membuat si pecinta itu aktif. Apakah cinta Hapsari terhadap profesinya bisa seperti Bang Muhidin? (Baca: Blog Kang Yogi).

Ada dua jenis pustakawan radikal, yakni pustakawan aktif dan pasif. Pustakawan aktif adalah mereka yang bergerak ke wilayah pelosok-pelosok, menyalurkan buku ke daerah yang belum tersentuh buku. Wujud kecintaan mereka terhadap buku adalah bagaimana caranya buku-buku itu sampai ke tangan mereka, para pemustaka yang sama sekali belum menyentuh, bahkan membaca isinya. Pustakawan aktif adalah pustakawan bergerak. Program pengiriman buku gratis adalah salah satu peran dari pustakawan aktif ini.

Kedua, pustakawan pasif, yaitu mereka itulah jenis pustakawan yang berada dibalik ruang, berdiskusi membicarakan ide-ide kepustakawanan. Dalam hal koleksi, pustakawan pasif , si kurator buku juga sering kali berdalih melalui seleksi ketat, buku-buku pilihan. Menurut Bang Muhidin, apabila jenis pustakawan pasif ini berkumpul, maka akan menjadi provider informasi yang penting terkait buku misalnya seperti rekomendasi-rekomendasi untuk para pemustaka terkait isi buku tersebut. Pustakawan pasif yang menjadi provider informasi khusus buku adalah sejatinya seorang pemikir karena mereka melahirkan kembali tulisan-tulisan terkait buku yang bisa menjadi bahan diskusi, berdialektika. Saran dari Bang Muhidin, jika anda tipe orang yang tak suka keramaian, lebih suka kesunyian, maka jadilah pustakawan pasif.

Diantara jenis pustakawan itu? Mana yang penting? Menurut Bang Muhidin dua-duanya penting. Semuanya sudah ada tugasnya masing-masing. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah dua-duanya cinta buku walau diekspresikan dengan cara yang berbeda. Buku yang menjadi paling utama. Yang perlu diwaspadai adalah untuk pustakawan pasif, hati-hati jangan terjebak pada kuantitas. Ingat kualitas, dalam arti sering kali banyaknya pengunjung menjadi tolak ukur si perpustakaan itu dianggap maju. Bukan itu, ketika perpustakaan itu sunyi, maka itu bisa menjadi pembuktian, seberapa tangguh pustakawan pasif itu bisa melahirkan ide-ide untuk membuat timbangan buku, paham terhadap perkembangan buku, melakukan penelitian terhadap buku, hadir dalam peristiwa besar terkait buku, dan sejenisnya terkait seluk-beluk dunia buku. "Jika perpustakaan itu sepi, kita bisa menjadi pustakawan sekaligus pemustakanya sendiri," kata Bang Muhidin. Ungkapan dari Bang Muhidin itu, jelas sebuah bahan renungan untuk para pustakawan, sejauh mana paham tentang koleksi perpustakaan kita. Sejauh mana kita praktikan sekaligus contohkan aktivitas membaca sehari-hari, bukan hanya sekedar retorika bahwa membaca itu penting.

Sekarang kita bisa melihat, dari semua narasumber sepertinya hanya ada dua golongan, yakni kosmopolitan dan moderat.  Menariknya, antar narasumber satu dengan yang lain bisa saling bertolak belakang. Misal Pak Taufik yang meyinggung citra pustakawan selalu melulu soal buku, maka bagi Bang Muhidin itu adalah keharusan. Namun, tidak mutlak menolak TI, toh itu bisa digunakan sebagai alat pengroganisasian konten buku.

Kalau kawan-kawan sendiri sebagai pustakawan, kira-kira saat ini masuk yang mana? Atau masih mencari pemaknaan seperti halnya Paijo (Baca blog Kang Pur).

Autokritik Saya (Pustakawan)

Ok, dari mengikuti seminar tersebut, paling tidak membuat saya harus melakukan autokritik pribadi sebagai pustakawan. Pertama, menyoal TI dan kaitanya literasi, karena saya pikir, beberapa narasumber mengerucut pada literasi. Sudahkah saya sebagai pustakawan menjadi contoh kepada yang lain misal pemustaka, kalau saya memang benar-benar pustakawan yang terliterasi. Ingat menjadi contoh, bukan menunjukan atau memberi contoh.  Konteks pemustaka luas, bukan hanya di kantor saya sendiri. Namun, misal orang paling terdekat keluarga atau teman.

Kedua, dahulu saya pernah bekerja di perpustakaan umum. Saya masih ingat, pertanyaan kepada rekan saya pustakawan senior dulu. Saat itu saya bertanya, selama bekerja menjadi pustakawan lebih dari 20 tahun, sudah berapa buku yang dibaca hingga selesai? Rekan saya menjawab, "belum ada." Sekarang apabila pertanyaan saya tersebut dihubungkan kepada saya pribadi dengan presentasi Bang Muhidin, sungguh itu membuat saya merasa tertampar. Saya jadi teringat, masih banyak buku-buku di rumah yang saya beli rutin masih terbungkus rapi di rak. Kemudian di perpustakaan kantor, khusus buku-buku non teknis, sepertinya baru beberapa buku saja yang saya baca hingga selesai.

Ketiga, menganggap profesi penting, tapi sudahkah saya mementingkan pekerjaan profesi itu sendiri secara total. Menyoal memahami konten buku misalnya.

Dari tiga autokritik itu, era disrupsi atau revolusi 4.0, tiba-tiba saya teringat emak saya. Maaf lan kesuwun emak....

Unduh semua materi seminar disini. 

Salam,
#pustakawanbloggerindonesia

Posting Komentar untuk "Pustakawan di Era Disrupsi, Revolusi Industri 4.0 "