11/25/2020

4 Tujuan Dasar Saya Ketika Memanfaatkan Youtube Sebagai Pembuat Konten

Meski saat ini Tik Tok digadang-gadang bakal menjadi serupa seperti Youtube, dalam arti ada potensi ekonomi, tapi Youtube hingga sekarang masih menjadi pilihan para netizen yang ingin mengais pundi-pundi $. 

Makanya dari hari ke-hari jumlah video yang dipublish di Youtube begitu menakjubkan. Oleh karenanya, mencari uang di Youtube saat ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Banyak teman saya yang mengeluhkan akan hal itu. 

Youtube-TikTok

Saya pikir ada benarnya. Tapi, ya begitulah. Kadang, kalau kita  melihat orang lain yang sukses mendapatkan uang dari Youtube sepertinya mudah. Sejatinya mungkin mengalami hal serupa pada awalnya, penuh perjuangan yang berdarah-darah. Namun karena kita tidak aware saja, akhirnya hanya tahu ketika sudah ada hasilnya. 

Nah, ini serius pengalaman saya sendiri mencari uang di Youtube memang seperti itu. Apalagi sekarang syarat bisa dimonetisasi itu semakin ketat, 1000 Subsriber, 4000 jam tayang dalam setahun.  Itu baru syarat permulaan. Belum ketika sudah diterima monetisasi ketika melihat statistik penghasilan ternyata tidak sedikit yang kaget alias down karena ternyata hasilnya tidak seperti yang dibayangkan. 

Iming-iming kesukseskan orang di Youtube itu jumlahnya jika diakumulasikan dengan semuanya hanya berapa persen. Sementara itu, dibelakang sana masih banyak yang berjuang. Entah jumlahnya berpa juta orang. 

Kalau sudah demikian, maka kasus saya pribadi ketika memanfaatkan Youtube itu ada beberapa tujuan dasar. Apa saja?
  1. Sebagai dokumentasi pribadi (sama halnya seperti blog)
  2. Bentuk keisengan pribadi saja
  3. Untuk sampingan penghasilan. Syukur-syukur bisa boom.
  4. Media promosi bisnis sendiri (ini pernah saya bahas diacara Dinas Koperasi & UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai narasumber diacara Kelas Literasi Bisnis)
Lantas, bagiamana dengan sarana media belajar otodidak. Yang itu pasti dong, tapi itu posisinya sebagai pengkonsumsi informasi/pengetahuan atau bahkan hiburan. Empat alasan diatas posisinya adalah sebagai provider atau pembuat konten.

Itulah 4 alasan dasar saya pribadi. Jadi, kalau misalnya Youtube saya jadikan yang utama dalam tujuan mendapatkan uang, niscaya ketika hasilnya tak kunjung tiba, bisa-bisa demotivasi, bahasa kasarnya alias  mutung. 

Youtube bagi saya bukan mendapatkan uang semata, tapi tentu saja bagian proses kehidupan. Saya memandangnya seperti blog. Itu saja sih.

Kalaupun Youtube untuk mendulang uang, saya pun tidak menampik. Tapi, ya itu sekali lagi, hanya untuk sampingan saja. Lah terus, bagaimana dengan pembuatan channel kemarin yang dibuat laporan studi kasusnya? Ya, sami wamon, buat nyari uang tapi sampingan. Tak lebih. 

11/24/2020

Catatan Studi Kasus Channel Youtube #1

Ok saya mengenal per-youtube-an untuk sistem monetisasi itu cukup lama. Bisa dikatakan ketika baru pertama kali Youtube launching mulai ada iklan, maka sejak saat itu saya lakukan monetisasi. Sistem monetisasi sebelum Youtube sudah berjalan yaitu di blog dan alhamdulillah hingga sekarang masih aktif.

Kebetulan dulu saya rajin membuat video pendek durasi dalam 10 detikan bertema smartphone, tujuannya hanya untuk backlink blog. Ketika launching monetisasi, maka saya coba aktifkan dan boom hasilnya cukup menggembirakan. Sehari paling tidak saya mendapatkan sekitar 14$. Tak heran mendapatkan sebesar itu walau video berdurasi pendek karena saat itu pasarnya dari luar negeri. 

Youtube-Laut
Youtube seperti lautan yang kaya ikan, saya coba memancing dengan gaya saya sendiri

Selang beberapa minggu berjalan, channel saya kena semprit karena alasan spam, alasannya kalau tidak salah durasi video yang terlalu pendek. Ok, channel hilang kena suspend dan tak bisa diakses. 

Lambat laun, semakin kesini Youtube semakin berkembang, singkatnya mulailah menjamur orang-orang yang mencari $ dari Youtube. Blog mulai berkurang, bukan menjadi andalan lagi dalam mengais pundi-pundi $. Hingga kemudian semakin kesini, peraturan Youtube untuk monetisasi pun semkain ketat.Terakhir, syarat yang harus diperbolehkan minimal 1000 subscriber dengan 4000 jam tayang selama setahun.

Disisi lain, untungnya selain channel yang hilang itu, saya sudah punya channel Youtube untuk dokumentasi di tahun 2009 hingga sekarang. Isinya campur-campur tak beraturan. Beruntungnya masih bisa layak monetisasi dan tiap bulan masih bisa menghasilkan walau tak sebesar channel sebelumnya. Tapi, cukup untuk melengkapi  $ untuk yang blog. 

Kali ini, saya membuat channel baru lagi dan ini menjadi catatan studi kasus #1. Sebenarnya saya sudah punya banyak channel, tapi tak ada tujuan untuk monetisasi. Oleh sebab itu, untuk catatan sekaligus pengingat di blog ini, saya membuat laporan tertulis di blog ini agar tak lupa. 2 Channel yang akan saya buat dengan tujuan monetisasi. Ok, sebelum saya cerita tentang channel ini, ada beberapa kriteria pribadi saya untuk membuat channel yang baru ini. 

Pertama, saya membuat channel ini dengan konsep sumber daya yang ada. Artinya ide konten yang ada dilingkungan sekitar, tak memberatkan, sehingga bisa konsisten.

Kedua, saya membuat channel ini dengan konsep seadanya, artinya tidak memerlukan waktu banyak untuk membuat kontennya, mengedit bahkan hingga mengunggahnya. Jadi, harus benar-benar efektif dan efesien dari sisi waktu. Lagi-lagi prinsipnya tidak memberatkan. Saya juga tidak berceloteh misalnya "ayo subscribe, like, comment dan seterusnya," jadi benar-benar apa adanya. 

Ketiga, berbeda dengan yang lain, kalau punya channel itu langsung dipromosikan, tapi saya tidak. Channel ini biarlah berkembang alamiah tanpa promosi. 

Beberapa yang menjadi catatan dalam pembuatan channel baru ini, saya melakukan percobaan:

  1. Selalu mengunggah video setiap hari. Kalaupun tidak setiap hari, minimal seminggu sekali.
  2. Sesekali saya mencoba mengkombinasikan kata kunci saran dari pencarian Youtube (suggestion keyword). Saya tidak pake tools apapun. 
Saya membuat dua channel ini berdasarkan analisis pribadi selama bertahun-tahun dan sekarang mulai saya coba praktikan, tentunya termasuk temanya. 
  • Channel pertama bergabung pada 12 Sep 2020 (hingga 24 Nopember 292 x ditonton, jumlah video 11, 2 subsriber)
  • Channel kedua bergabung pada 23 Nov 2020 (hingga 24 Nopember 28 x ditonton, jumlah video 1, 0 subscriber)
Segementasi kedua channel adalah untuk anak-anak. Ok, mungkin segini dulu catatan studi kasus channel Youtube#1. Semoga berjalan lancar dan bisa berkembang. 

11/19/2020

Jangan Asal Ikut Webinar Kepustakawanan!

Sejak WFH diberlakukan karena Virus Corona, maka sejak saat itulah yang namanya webinar begitu akrab di telinga kita.

Apapun bidang kerjanya, webinar dengan tema khusus yang terkait, selalu mudah di akses. Kendati ada juga yang tertutup. Tapi, toh dokumentasi videonya juga biasanya tersedia, misalnya saja di Youtube.

Webinar Kepustakawanan

Kondisi seperti ini tentu ada sisi positifnya. Katakanlah misalnya tak memerlukan biaya yang cukup mahal atau bahkan bisa memperoleh banyak pengetahuan dengan hanya menyaksikan berbagai webinar tersebut. 

Namun, dibalik semua itu, sejatinya bersifat semu. Bisa dikatakan berpotensi pada kebingungan tersendiri. Sering kali tujuannya menjadi tak jelas, bersifat formalitas. Sering kali terjebak pada rutinitas biasa, tanpa tahu esensi ketika mengikuti webinar tersebut. Tak jarang akhirnya, yang penting ikut tanpa hakikat kenapa sebenarnya dia ikut webinar tersebut. 

Nah, hal seperti itu, mestinya harus disiasati dengan mindset yang lebih cerdik dari masing-masing personal yang mengikut webinar. 

Tiga Alasan

Ok, sekarang mengerucut khusus pada webinar kepustakawanan karena saya sendiri sebagai pustakawan yang melihat fenomena tersebut terjadi juga di dunia kepustakawanan.

Hemat saya ada tiga hal untuk rekan-rekan pustakawan yang ingin mengikuti webinar kepustakawanan.

Pertama, ikutilah sesuai dengan tupoksi kerjanya. Jangan asal babad saja mengikuti semua dengan dalih "demi pengetahuan." Benarkah? Sebagai contoh jika bekerja di perpustakaan khusus, lalu ada webinar terkait perpustakaan umum, maka sebaiknya pikirkanlah untuk mengikutinya. Walaupun mungkin bisa saja ada titik singgung temanya. Namun, hemat saya akan lebih substansial jika benar-benar khusus terkait perpustakaan khusus.

Kedua, sesuaikan dengan tujuan yang hendak ingin capai misalnya terkait skill. Misalnya jika kita menginginkan peningkatan skill tentang menulis, maka ikutilah webinar terkait dunia menulis walaupun penyelenggaranya bukan dari perpustakaan. Motivasi alasan kedua ini bisa saja bersifat pribadi tanpa ada hubungan dengan alasan yang pertama diatas. Oleh karena itu, akan lebih baik jika alasan pertama dan kedua saling terkait. Sebagai contoh saya bekerja di perpustakaan khusus lembaga ingin meningkatkan keahlian saya dalam bidang sitasi. Nah, kebetulan ada webinar terkait itu dan penyelenggaranya adalah perpustakaan perguruan tinggi, maka ini bisa kita ikuti. Kira-kira idealnya seperti itu. Alasan pertama dan kedua bersinggungan akan lebih baik.

Ketiga, setelah mengikuti webinar tersebut, maka praktikanlah. Jangan hanya berhenti pada aspek kognitif semata, namun perlu adanya aktualisasi dari apa yang diperoleh. 

Nah, rekan sejawat pustakawan dimanapun berada, jika ketiga hal tersebut diperhatikan, maka saya yakin setiap yang akan kita ikuti akan lebih bermakna. 

Mungkin ada banyak alasan-alasan lain ketika mengikuti webinar misalnya sertifikat, angka kredit fungsional, agar tampak rajin, dan lain sebagainya. Namun, penting bagi kita untuk mulai memikirkan suatu hal yang lebih efektif dan efesien untuk suatu hal yang kita cita-citakan. 

Memang, semua alasan dan pilihan kembali lagi ke masing-masing personal. Saya hanya bisa berpesan, jangan asal ikut webinar kepustakawanan! 


Pamulang, 19/11/2020

Salam,

Pustakawan Blogger

Kebahagiaan dalam Proses Menulis

Menurut hemat saya berdasarkan pengalaman, ada tiga hal yang didapatkan khususnya terkait kebahagiaan batin dalam proses menulis. Apa saja itu? 

Teman-teman bisa langsung tonton penjelasannya di vlog saya berikut ini:

Cara Membuat Cover Buku Online Tanpa Bisa Desain

Video yang saya buat kali ini hanyalah berupa cara mendesain cover buku atau ebook secara online/daring tanpa harus bisa desain. Katakanlah mendesain secara instan.

Disini saya hanya merekam berupa apa yang saya buat. Video dengna sengaja saya percepat durasinya karena hanya bertujuan sebagai belajar pribadi. 

Ada sekitar 10 video, tapi saya tampilkan satu saja. Video lainya bisa langsung tonton di vlog saya: Murad Maulana

Rindu Alam Desa

Iseng-iseng membuat film pendek dokumenter. Temanya terkait kerinduan saya akan suasana alam di desa. 

Keinginan saya ingin bekerja dengan alam, tumbuhan. 

Saya ingin kembali ke desa, melestarikan alam sekitar dengan penuh kecintaan.

11/12/2020

Lomba Vlog Anak Kreatif - Belajar Asyik di Masa Pandemi

 Assalamu'alaikum teman-teman. Anak ane masuk final lomba vlog ne. Temanya "Belajar Asyik Dimasa Pandemi." Mohon dukungan like-nya ya. 

Makasih semuanya..... 

Menanam di Pekarangan Rumah yang Sempit

Tinggal di Perumahan biasanya lahan itu begitu terbatas kecuali kalau jenis perumahannya mahal dengan halaman depan dan belakang yang luas. Bagaimana dengan perumahan yang notebene biasa saja? Jangankan ada lahan lebih untuk menanam, sering kali halaman rumahpun begitu sempit misalnya hanya untuk kebutuhan parkir kendaraan.

Nah, saya sendiri untuk menyiasati hal tersebut adalah dengan memanfaatkan bekas bak sampah yang tak terpakai untuk bercocok tanam. Seperti apa prosesnya? Ini dia vlognya:

11/09/2020

Antara Desa dan Kota

Era internet antara desa dan kota seolah tanpa batas. Media sosial Youtube misalnya yang membuat itu menjadi terasa semakin dekat.

Saat ini, tinggal di desa bisa  menjadi pilihan. Jika dahulu banyak anak-anak muda berbondong-bondong urbanisasi ingin tinggal dikota. Ingin bekerja di kota, sepertinya era sekarang ini tidak berlaku lagi. Lagi-lagi perubahan itu semua karena internet. 

Lantas, seperti apa pandangan saya terkait pilihan hidup antara di desa dan kota? Inilah celoteh vlog saya terkaitu hal itu.

10/02/2020

Karya Anak Pertama

Saya ambil foto ini tanggal 17 September 2017. Dokumentasi penting karya anak saya yang pertama. 

Karya Anak Pertama

Karya Anak Pertama

Hobi menggambar adalah saah satunya. Diblog saya ini sudah sering saya publish karya-karya anak saya yang pertama ini.