Merdeka Itu Menyangkut Mindset, Syukur, dan Kebaikan

Advertisement
Banyak orang yang merasa belum merdeka dalam kehidupan ini. Pertanyaanya adalah kenapa? Tentunya ada banyak faktor yang menyebabkan itu. Biasanya kalau kita melihat contoh kasus per kasus, bukan pukul rata, maka rasa merdeka itu selalu akan dikaitkan dengan kondisi kehidupan ekonomi seseorang. Akibatnya, kemerdekaan itu hanya terbatas dan diukur dengan faktor seberapa besar harta yang dimiliki sekarang.

Saya tidak menampik akan hal tersebut karena begitulah yang sering saya jumpai dan itu bukanlah suatu hal yang dilarang pula. Namun demikian, setidaknya kemerdekaan itu bisa dirasakan dengan konsep yang berbeda apabila kita tahu apa yang mesti dilakukan. Apa dan bagaimana itu? Saya menawarkan tiga hal untuk merasakan kemerdekaan dalam kehidupan ini.
Baca Juga: Memaknai Hari Kemerdekaan Yang Sebenarnya
Pertama, mindset. Rasa merdeka itu tergantung pada mindset atau cara berpikir seseorang. Persoalan merdeka itu berawal dari cara orang itu memandang dalam kehidupan ini. Pada tahap ini diperlukan pola pikir seseorang yang lebih bijaksana. Jika pemikiran lebih sempit, maka yang terjadi adalah cenderung terkekang, mengeluh. Sementara jika lebih holistik, maka yang terjadi adalah lebih luas, terbuka, mempunyai sudut pandang yang lebih bervaratif sehingga akan lebih leluasa dalam memandang suatu masalah yang ada. Kita tahu, merasakan kebebasan itu seringkali dilihat dari kacamata permasalahan yang melingkupi kehidupan seseorang. Mindset yang baik itu akan terpola bilamana seseorang banyak mempunyai pengalaman kehidupan yang dikombinasi dengan gaya hidup gemar membaca sehingga akan timbul pikiran kritis.
Merdeka Itu Menyangkut Mindset, Syukur, dan Kebaikan
Kedua, bersyukur. Sebagai seorang muslim, rasa syukur itu sudah dianjurkan bahkan harus dipraktikan dalam kehidupan hari-hari. Rasa syukur membuat kita menjadi merdeka, menerima kondisi yang ada dengan lapang dada (ridho). Rasa syukur ini tentunya dilakukan setelah kita sudah berusaha secara maksimal, bukan pasrah tanpa ada usaha sedikitpun. Syukur akan membuat hati menjadi tenang karena adanya rasa keberterimaan, bukan penolakan yang seringkali memicu rasa ketidakbebasan itu sendiri. Terutama, terjadi pada beban pikiran seseorang. Ia akan merasa terbebani karena adanya rasa kecewa dikarenakan penolakan-penolakan yang ada dalam pikiran itu sendiri. Akibatnya yang terjadi seringkali terbesit kata-kata seperti "kalau saja..., seandainya..., mungkin jika....", dan sejenisnya yang menyebabkan terjadinya penyesalan berkepanjangan.
Baca Juga: Lima Tingkatan Nikmat Yang Harus di Syukuri Agar Selalu Berbuat Kebaikan
Ketiga, lakukan hal bermanfaat. Saya jadi teringat sebuah kata "fastabiqul khairat," yakni berlomba-lomba dalam hal kebaikan di kehidupan ini. Istilah tersebut juga pernah dilontarkan oleh Tuan Guru Bajang dan AA Gym. Istilah "fastabiqul khairat" tersirat dalam surat Al-Baqaroh, ayat:148 yang terjemahannya sebagai berikut:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Berdasar itu, rasa merdeka sejatinya bisa tercermin dengan melakukan sesuatu hal yang bermanfaat. Melakukan kebaikan selama hidup dengan penuh keyakinan dan rasa semangat penuh optimisme. Hindari sifat-sifat mengeluh, nyinyir, mencaci maki, benci dan sejenisnya yang semua itu menyebabkan hidup kita tidak merdeka. Pendek kata, itu sebenarnya adalah penyakit hati. Itulah sejatinya kemerdekaan ketika, kita bisa menghindari penyakit hati sebisa mungkin.
Baca Juga: Kedepankan Akhlak, Stop Bullying!
Diawali dengan mindset, sehingga diharapakan timbul rasa syukur, lalu tergerak untuk melakukan hal yang bermanfaat. Ini adalah sebuah rasa merdeka yang sebenarnya karena berlandaskan pada kenyataan yang ada. Cara berpikir tidak sempit, selalu melihat dengan mata terbuka sehingga menyadari dengan lapang dada. Merdeka adalah persoalan mengelola cara berpikir yang benar. Merdeka itu persolan menerima dengan rasa syukur. Merdeka itu adalah semangat untuk melakukan kebaikan. Melakukan hal-hal yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat, maka pikirkanlah lingkungan orang-orang yang terdekat terlebih dahulu seperti keluarga, tetangga dan lingkungan kerja. Siap untuk melakukannya?

Selamat HUT RI ke-73. Merdeka!

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Merdeka Itu Menyangkut Mindset, Syukur, dan Kebaikan"