Konten Lokal, Warisan, dan Editor Profesional

Saya patut bersyukur. Selain peranan penting berbagai pihak untuk menyemangati para pegawai guna menyukseskan program manajemen pengetahuan (knowledge management) di BAPETEN, juga  Alhamdulillah setelah melakukan promosi dari mulut ke mulut dan via tulisan (opini) terkait konten lokal, akhirnya pemustaka di perpustakaan tempat saya bekerja, kini mulai ada yang menyerahkan naskah (konten lokal) yang diterbitkan berupa buku oleh lembaga sendiri.

Bagi saya konten lokal ini adalah sebuah warisan tak ternilai untuk generasi pegawai masa depan. Saya sendiri sering mengatakan hal itu kepada calon pegawai baru bahwa anda bisa saja pindah atau pensiun dari kantor ini lantas dilupakan. Tapi, jika anda mempunyai karya yang bisa diwariskan untuk pegawai lain, maka anda akan tetap terkenang dan menariknya itu bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Oleh karena itu, tulis pengalaman sekecil apapun selama bekerja di kantor ini agar nanti bisa dibuat lebih terstruktur misalnya berupa buku.

Sejak mulai memberanikan diri, memposisikan perpustakaan tempat saya bekerja juga bisa menerbitkan buku khusus untuk para pegawai sesuai tupoksinya, kini saya anggap sekarang tinggal memetik panennya.

Pada awalnya tahun 2017 menerbitkan satu buku dari salah satu pegawai yang pensiun dan pada 2018 juga masih satu buku. Itu pun buku yang disusun berupa glosarium.

Nuklir dan Saya
Buku pertama (2017)
Glosarium Pengawasan Ketenaganukliran
Buku kedua (2018)
Pada 2019 mulai ada kenaikan, ada dua naskah yang berasal dari pegawai pensiun dan juga buku bunga rampai. Sebenarnya ada satu buku lagi yang saya tulis sendiri dengan tujuan untuk memancing pegawai lain dibidang sosial agar mulai menuliskan pengalamannya saat bekerja. Jadi, bukan hanya untuk kalangan teknis belaka.

Nuklir Oh Nuklir
Buku ketiga (2019)

Buku Saku Reaktor Nuklir: Pemanfaatan dan Pengawasan
Buku keempat (2019)
Namun, karena ada saran dan kritik dari seorang rekan di kantor, maka saya anggap buku yang saya tulis bukanlah bagian dari program penerbitan konten lokal karena dianggap tidak terkait tupoksi.

Kini tahun 2020 direncanakan ada sekitar lima buku. Dua naskah sudah siap. Sementara yang tiga masih dalam proses. Semoga saja sih bisa berjalan lancar.

Kekurangan

Selama tiga tahun berjalan ini, satu hal yang masih belum bisa dilakukan dan ini benar-benar sangat penting, yaitu adanya tim editor profesional.

Di masa yang akan datang, harapan saya adalah nanti ada tim editor profesional seperti BATAN Press.

Saya sadar, harus saya akui, untuk buku-buku yang sudah diterbitkan sejak pertama kali terbit 2017 hingga sekarang ini masih banyak kekurangannya.

Tapi, bagi saya pribadi jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi hal semacam ini bisa dilakukan oleh perpustakaan tempat saya bekerja. Yang penting proses untuk memperbaiki diri tetap harus dilakukan. Oleh karenanya, saya pribadi tidak anti kritik dan siap menerima saran.

Suatu hal yang besar, bukankah dilakukan dari hal yang terkecil dahulu? Dan inilah yang coba saya lakukan bersama teman-teman di perpustakaan tempat saya bekerja. Perpustakaan BAPETEN.

Salam,
Pustakawan Blogger

Belum ada Komentar untuk "Konten Lokal, Warisan, dan Editor Profesional"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel