Pentingnya Konten Lokal

Advertisement
Tulisan kepustakawanan ini diterbitkan di Buletin BAPETEN edisi XI Tahun 2018. Seperti biasa, saya merasa kecewa karena ada beberapa bagian paragraf yang dihilangkan sehingga menurut saya ada beberapa pesan yang ingin saya sampaikan, tapi pada akhirnya bisa berpotensi menimbulkan salah persepsi kepada pembaca. Oleh karena itu, tak ada tempat menulis yang saya anggap paling asyik selain daripada blog. Melalui blog ini, saya publish ulang naskah tulisan berjudul "Pentingnya Konten Lokal" versi utuh. Semoga bermanfaat.

Buletin BAPETEN
Baca Juga: Bagaimana Jika Pegawai BAPETEN Ngeblog?
Polanyi, seorang ahli kimia, membagi pengetahuan menjadi dua jenis. Pertama, pengetahuan tacit yaitu pengetahuan yang masih dalam otak manusia yang didasarkan pada pengalaman-pengalamannya selama mereka hidup dan bekerja. Kedua, pengetahuan eksplisit yaitu pengetahuan yang sudah dituliskan sehingga lebih terstruktur seperti buku, majalah, buletin, jurnal, prosiding dan lainya.

Pengetahuan eksplisit ini mudah diperoleh karena tersedia di pusat-pusat informasi seperti perpustakaan atau sumber informasi lainya di internet. Sementara pengetahuan tacit ini seringkali mengalami kesulitan karena masih ada dalam otak atau pikiran seseorang. Dalam lingkup organisasi untuk memperoleh pengetahuan tacit, maka salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan implementasi manajemen pengetahuan (knowledge management). Praktiknya bisa melakukan aktivitas berbagi pengetahuan (knowledge sharing) misalnya dengan metode coaching, focus group discussion (FGD), atau menulis buku berdasarkan pengalaman-pengalaman setiap individu selama bekerja. Pada dasarnya, prinsip utama dari manajemen pengetahuan adalah bagaimana setiap individu untuk selalu bisa mengembangkan diri yang bertumpu pada pengetahuan, berproses menjadi manusia pembelajar dan mempunyai kesadaran diri dalam berbagi pengetahuan yang dikuasai sesuai dengan bidangnya.

Seorang pimpinan dalam suatu organisasi yang dipimpinya, patut berbangga apabila memiliki banyak jumlah terbitan yang ditulis oleh para sumber daya manusia yang ada didalamnya. Terbitan yang dipublikasikan itu misalnya berupa tulisan berdasarkan pengalaman selama bekerja. Semakin banyak jumlah terbitannya, maka menandakan adanya siklus pengetahuan yang hidup dan ini tentu akan bermanfaat untuk generasi masa depan. Jika ini bisa dilakukan oleh sumber daya manusia yang ada dalam organisasi tersebut, maka seyogiyanya akan menjadi konten lokal yang bisa menjadi rujukan dalam upaya memajukan organisasi sesuai dengan visi dan misinya.

Konten lokal dalam hal ini adalah kumpulan pengetahuan dengan subyek keilmuan tersendiri sesuai dengan core business setiap organisasinya. Walaupun kumpulan pengetahuan tersebut merupakan aset yang tak berwujud (intangible assets), namun begitu berharga karena dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan dalam suatu organisasi misalnya sebagai dasar pemecahan permasalahan atau pengambilan keputusan. Tidak hanya itu, dalam lingkup yang lebih luas, konten lokal adalah sebagai bahan rujukan yang  terpercaya sehingga semua masyarakat dapat memanfaatkannya tanpa harus khawatir apakah informasi yang digunakannya tersebut benar atau palsu.

Seperti halnya Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) sebagai organisasi pemerintah di bidang pengawasan nuklir, tentu memiliki fokus bidang dan karakteristik budaya kerja tersendiri. Sehingga segala hal yang berkaitan dengan dunia pengawasan tenaga nuklir, radiasi, zat radioaktif dan sejenisnya akan merujuk pada BAPETEN sebagai lembaga satu-satunya yang memiliki otoritas dalam bidang tersebut. Ini tentu menjadi peluang sekaligus tantangan dimana BAPETEN harus memiliki kekayaan konten lokal terkait pengetahuan seputar pengawasan ketenaganukliran.

Preservasi Pengetahuan

Konten lokal dalam organisasi itu penting sebagai identitas suatu organisasi terlebih di era melimpah ruahnya informasi sekarang ini, dimana  adanya potensi informasi palsu yang bisa disalahgunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Konten lokal yang terpercaya yang dipublikasikan oleh organisasi sesuai bidangnya merupakan bentuk pengukuhan diri sebagai langkah legitimasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, identitas organisasi tersebut bisa tercermikan melalui banyaknya terbitan konten lokal yang dimilikinya sesuai dengan kekhususan subjek keilmuannya.

BAPETEN sendiri memiliki koleksi konten lokal, baik yang bersifat kelembagaan maupun individu atau perseorangan. Beberapa diantaranya yang diterbitkan secara kelembagaan seperti kumpulan peraturan ketenaganukliran, laporan keselamatan nuklir, rekaman unit kerja, pedoman kedaruratan nuklir, buletin, jurnal, modul pelatihan pengawas radiasi, prosiding seminar keselamatan nuklir dan lainya. Sementara yang bersifat individu, sesuai dengan bidang keahlianya, selain tulisan ilmiah adalah tulisan yang diterbitkan oleh penerbit berupa buku dengan bahasa populer. Beberapa diantaranya adalah buku yang ditulis oleh Aris Sanyoto, berjudul K3 Radiasi Nuklir: Occupational Safety and Health for Internal Radioactive Hazards dan Fundamental Untuk Memahami K3 Radiasi Nuklir. Selain itu, ada Yusri Heni, berjudul Improving our Safety Culture: Cara Cerdas Membangun Budaya Keselamatan Yang Kokoh. Kemudian ada Nanang Triagung Edi Hermawan yang berjudul Dasar-Dasar Keselamatan Radiasi Pengangkutan Zat Radioaktif. Ini tentu menjadi kebanggan sendiri karena sumber daya manusia di lingkungan BAPETEN tersebut, secara sadar telah melakukan upaya preservasi pengetahuan yang kelak akan bermanfaat untuk generasi mendatang.

Konten lokal yang ditulis secara individu tersebut harus diberikan apresiasi. Jazi Eko Istiyanto, Kepala BAPETEN mengatakan bahwa untuk menjadi organisasi kelas dunia, maka harus memiliki individu-individu hebat. Mereka-mereka yang menulis itulah para individu hebat, seorang smart knowledge worker yang peduli dan memandang terhadap pentingnya pengetahuan dan kompetensi untuk kemajuan organisasi sehingga mereka bersedia untuk meluangkan waktunya dalam menuliskan pengalamannya melalui sebuah buku. Mereka harus menjadi contoh bagi sumber daya manusia lainya agar terdorong untuk melakukan hal yang sama dan mulai melakukan aktivitas menulis. Jika individu lain bisa termotivasi, tentunya akan mendukung upaya implementasi program manajemen pengetahuan pada 2015 yang lalu, dimana bertujuan sebagai upaya meningkatkan kinerja dan produk inovasi bagi organisasi BAPETEN. Selain yang telah disebutkan diatas, dua konten lokal lainya berupa buku yang pernah di tulis adalah oleh mantan Kepala BAPETEN, yakni Mohammad Ridwan berjudul Memperingati Satu Dasawarsa BAPETEN dan Sukarman Aminjoyo yang berjudul Meniti Karir Sebagai Abdi Negara. Konten lokal berupa buku tersebut adalah pengalaman masa-masa kerja ketika beliau memimpin BAPETEN.

Kesadaran Diri

Koleksi konten lokal berupa buku yang ditulis oleh individu masih berjumlah terbatas. Oleh karena itu, di masa yang akan datang diharapkan akan ada banyak lagi pengalaman-pengalaman masa kerja yang ditulis oleh setiap individu, khususnya oleh para pengawas radiasi sebagai profesional inti di lingkungan BAPETEN. Di dalam Buku Pedoman Manajemen Pengetahuan BAPETEN 2015, bahwa salah satu proses manajemen pengetahuan adalah melakukan knowledge harvesting yaitu membentuk tim penyusun buku untuk mewawancarai para ahli yang akan menjelang pensiun. Sejatinya, proses manajemen pengetahuan bisa dilakukan oleh setiap individu manakala mereka mempunyai kesadaran diri untuk selalu menuliskan pengalamannya selagi masih aktif. Menurut hemat saya, ini belumlah terlambat. Generasi-generasi sekarang bagi yang masih aktif bekerja agar mulai segera menulis, bertahap membuat catatan-catatan kecil sebagai pengembangan ke dalam tulisan yang lebih dalam dan terstruktur. Menulis itu proses, oleh karenanya perlu dilakukan sejak masih aktif bekerja. Kesadaran diri harus tumbuh bagi setiap individu untuk berbuat sesuatu yang bisa menginspirasi dan memberikan hikmah kepada generasi mendatang melalui sebuah tulisan. Berbuat baik untuk masa depan yang ideal adalah dengan cara menulis pengalaman-pengalaman terbaik selama masih aktif bekerja. Sehingga menjelang pensiun, harapannya mempunyai sesuatu hal yang bisa dibanggakan dan tentunya bisa dikenang dalam rentang waktu yang lebih lama.

Sementara itu, upaya yang dilakukan oleh unit kerja terkait seperti Balai Pendidikan dan Pelatihan BAPETEN misalnya dalam kegiatan pelatihan menulis bisa menjadi ruang yang menjembatani untuk meningkatkan keterampilan menulis baik tulisan ilmiah maupun populer terkait ketenaganukliran. Namun perlu diingat, kegiatan semacam itu harus rutin dilakukan karena keterampilan menulis itu merupakan proses dan outputnya harus terealisasi misalnya hingga tulisan itu diterbitkan. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah dalam aktivitas menulis itu menyangkut praktik secara terus menerus tanpa bosan. Tanpa melakukan itu, sehebat apapun mentornya, maka itu merupakan suatu hal yang akan sia-sia. Ini harus menjadi renungan bersama.

Peran Penting

Proses preservasi pengetahuan yang dilakukan oleh individu itu tidaklah berjalan sendiri. Agar bisa mencapai keberhasilan, maka harus ada pihak terkait yang ikut berpartisipatif. Oleh karena itu, diperlukan peran dari unit kerja lain yang secara khusus untuk mendukung hal tersebut. Sebagai contoh ketika akan menerbitkan sebuah buku. Jangan sampai ketika naskah tulisan itu sudah siap, namun tidak ada yang memublikasikannya. Naskah yang sudah siap idealnya dapat diterbitkan baik berupa cetak maupun digital. Setelah terbit, perlu dilakukan desiminasi informasi baik untuk kalangan internal maupun eksternal organisasi.

Menyoal itu, unit kerja seperti dokumentasi ilmiah atau Perpustakaan BAPETEN secara langsung bisa mengakomodasi hal tersebut, dari mulai proses penulisan hingga terbit mencakup desiminasi informasinya. Dalam siklus itu, Perpustakaan BAPETEN tentunya memiliki peran penting dengan melakukan empat hal, yakni pertama menyediakan sekaligus membantu referensi apa saja yang diperlukan ketika proses penulisan tersebut. Dalam hal ini, pustakawan akan membantu dengan senang hati dan tangan terbuka. Kedua, ketika naskah itu telah siap untuk diterbitkan, maka Perpustakaan BAPETEN akan membantu dalam penerbitannya. Mulai dari tata letak, desain cover, pendaftaran ISBN hingga proses cetaknya. Ini dilakukan sebagai upaya mendukung implementasi manajemen pengetahuan. Ketiga, buku yang telah diterbitkan, selanjutnya akan dilakukan kegiatan seperti bedah buku dengan mengundang para sumber daya manusia yang ada di lingkungan BAPETEN. Kegiatan ini sebagai upaya untuk berbagai pengetahuan sekaligus desiminasi informasi terkait buku yang telah diterbitkan tersebut. Perpustakaan BAPETEN akan melakukan desiminasi bukan hanya dilakukan secara luring melainkan secara daring melalui internet. Keempat, sebagai langkah apresiasi, kiranya Perpustakaan BAPETEN akan memberikan penghargaan secara kelembagaan karena telah berpartisipasi dalam upaya preservasi pengetahuan.

Empat upaya diatas adalah sebagai stimulus awal untuk membuat ekosistem menulis di BAPETEN menjadi bertambah semangat dan menyenangkan. Apabila itu dilakukan, maka bukan tidak mungkin setiap tahun akan ada sumber daya manusia di lingkungan BAPETEN yang bisa menerbitkan tulisannya berdasarkan pengalamannya selama bekerja, baik secara individu maupun berkolaborasi. Konten lokal berupa pengalaman adalah aset penting yang bisa menjadi pengetahuan. Pengalaman-pengalaman yang sudah di dituliskan itu merupakan pengetahuan eksplisit yang memperkaya konten lokal BAPETEN. Semakin banyak konten lokal yang dimiliki, maka akan semakin bermanfaat bagi setiap individu sebagai daya dukung dalam dasar pengembilan keputusan yang cepat dan tepat sehingga bisa berdampak pada kemajuan organisasi.

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pentingnya Konten Lokal"