Antara Meja dan Semangat Kerja

Refresh sebentar. Sejenak nulis di blog dulu. Maklum, lagi nulis seminar proposal tesis (he..2). Ini tulisan buat selingan saja. entah kenapa tiba-tiba saya ingat meja. Nah, mumpung pengen nulis seputar meja, sekalian saja saya cerita tempo dulu tentang kisah meja kerjaku ketika pertama kali bekerja di perpustakaan daerah kampung mangga, sekitar tahun 2007 lalu.

Meja kerja, idealnya setiap para pegawai baru harus memilikinya karena untuk aktivitas sehari-hari. Saya sendiri pertama masuk dalam dunia pemerintahan dari awal 2006 hingga 2012 (mutasi), terus terang saya tidak memiliki meja. Lho kok bisa? Kenapa? Entahlah! Lah wong masuk kerja sudah langsung masuk kerja saja. Gak ada perkenalan ke setiap pegawai. Mejapun tak ditunjukan. Apalagi diberikan! Mengenaskan ya? He....2.
meja kerjaku: blogger
Meja kerjaku di rumah buat ngeblog, maaf berantakan (uda biasa..he2)
Tapi tak mengapa, saya enjoy aja. Saya pun tetap bisa bekerja kendati berbarengan di meja para pemustaka. Lalu, dimana saya harus menyimpan dokumen-dokumennya? Sementara saya nitip di meja kerja teman seprofesi.

Memang sih, saya pernah diberi ruang sekaligus mejanya, tapi bukan sebagai pustakawan melainkan sebagai staf keuangan. Enam bulan saya bertahan, setalah itu gak betah. Saya ingin tetap fokus menjadi pustakawan yang penuh tantangan  karena saat itu terjun langsung dengan masyarakat.

Bekerja tanpa meja bukanlah sebuah kendala. Lagipula melihat budaya kerja di kantorku saja, maka saya harus patut bersyukur dan berlapang dada. Toh, itu bagian dari proses untuk menjadi lebih baik. Tak ada alasan tanpa meja kerja menyebabkan tidak bisa bekerja. Saya tetap menjalaninya dengan tersenyum.

Keterbatasan sarana meja kerja, membuat saya tak kehilangan akal. Suatu hari, saya pergi ke gudang kantor. Melihat ada meja bekas yang penuh dengan kotoran dan rusak, pikiran sayapun secepat kilat untuk bisa menggunakan meja tersebut. Saya ambil dibantu dengan seorang teman. Kemudian saya betulkan sendiri. Membersihkan kotoran-kotorannya. Kemudian, meja itu saya bawa sebagai tempat dokumen penting.

Sebenarnya meja bekas itu, bukan meja khusus untuk bekerja yang dilengkapi dengan kunci loker. Meja yang saya ambil itu sebenarnya meja komputer dari plastik yang sudah tidak layak. Tetapi, saya berpikir mengapa tidak memanfaatkan barang bekas meja tersebut? Bukankah ini sebuah peluang  yang saya kira harus mengambilnya?

Semangat Kerja
Meja kerja memang penting, tapi lebih penting lagi semangat bekerja. Tanpa meja kita masih bisa berpikir kreatif, akan tetapi apabila tak ada semangat bekerja, maka ini akan membuat manusia menjadi tumpul, serasa hidup tak ada tantangan!

Menjelang pertengahan tahun 2012 saya mutasi kerja ke daerah lain. Alasan mutasi bukan karena tak ada meja kerja (he..2) melainkan karena keluarga. Itu urutan pertama. Sebenarnya masih ada alasan lain selain itu, tapi biarlah waktu yang berbicara. Ceile..ha.ha..ha..(sok pujangga)..

Lalu, bagaimana dengan sekarang? Apa masih gak punya meja kerja? Ada kok. Tapi, untuk dua tahun ini tidak saya manfaatkan karena saya sedang upgrade otak dikota gudeg. Hingga sekarang tiga meja rutin yang saya gunakan adalah meja di Perpustakaan Pusat UGM (Ruang Referensi), meja dikosan, juga meja dirumah Pamulang. Tiga meja kerja itu, saya sering gunakan untuk aktivitas ngeblog....he..2. Biasa, namanya juga blogger.

Ingat! tanpa meja kita tetap masih bisa bekerja...
Tanpa semangat bekerja, maka hidup serasa tak berguna...
Tanpa dua-duanya, kasihan bener....(he..2)

Segitu dulu deh, tulisan selingannya. Selamat bekerja teman-teman walau hari ini hari libur (he..2). Salam meja, ups...maksudku tetap semangat bekerja. Tak lanjutin dulu buat seminar proposal tesisnya....he..2

Salam,
Pustakawan blogger

Posting Komentar untuk "Antara Meja dan Semangat Kerja"