Representasi Kepustakawanan Dalam Film Ondine: Perpustakaan, Pustakawan, Aktivitas Membaca dan Dongeng

Advertisement
Teman-teman pernah nonton film Ondine? Sebenarnya film ini sudah lama direlease sih. Sekitar bulan September 2009, jadi sekitar 7 tahun yang lalu. Saya sendiri baru nonton seminggu yang lalu. Itu juga karena tidak sengaja nonton di kereta saat perjalanan dari Jakarta ke Jogja.

Ondine film yang diperankan Colin Farrell sebagai Syracuse yang biasa dipanggil "Circus". Ia seorang nelayan dari Irlandia. Mantan pemabuk dengan satu anak wanita (Annie). Keluarganya berantakan dan mantan istrinya telah mempunyai pasangan lain, seorang pembuk juga. Anaknya, Annie yang diperankan Alison Barry adalah seorang anak yang sedang sakit gagal ginjal tapi selalu ceria, optimis, dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi.

Ondine sendiri nama seorang wanita yang diperankan oleh Alicja Bachleda. Wanita misterius ini ditemukan dalam jaring Circus ketika sedang mencari ikan. Oleh Annie, wanita ini dianggap sebagai Selkie, seekor anjing laut betina yang bisa menjadi seorang wanita dan bisa mengabulkan sebuah harapan.

Film bergenre fantasi ini berdurasi 111 menit dengan cerita legenda yang sudah biasa misalnya seperti putri duyung. Tetapi diakhir cerita, kendati seperti film khayalan belaka, nyatanya itu bisa dipatahkan karena toh Ondine adalah seorang wanita yang memang benar-benar manusia bernama asli Joanna , jadi bukanlah seperti yang disangkakan Annie, yakni seorang Selkie

Ok, saya tidak akan bercerita tentang filmnya secara keseluruhan. Saya hanya ingin mengulas film tersebut dari sisi saya sebagai seorang pustakawan. Seperti biasa, teori representasi dan semiotika Roland Barthes akan saya gunakan. Kendati tidak detail, akan tetapi menurut saya cukup sebagai pedoman untuk mengulasanya. Saya tidak akan mengulas lebih dalam sampai ke mitos dan ideologi. Istilah representasi dan teori semiotika Roland Barthes bisa dibaca pada tulisan saya terdahulu disini: Representasi Perpustakaan Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta. 

Ada empat hal yang ingin saya komentari dalam film tersebut. Utamanya adalah pada dunia kepustakawanan, yakni perpustakaan, pustakawan, dongeng, dan membaca buku. Film Ondine paling tidak telah merepresentasikan dari empat hal tersebut. Sebelum membahas perpustakaan, pustakawan, dan aktivitas membaca bukunya, ada baiknya saya awali dengan menguraikan salah satu aktivitas dalam film itu yakni mendongeng.

Dongeng
Orang tua idealnya harus bisa mendongeng bagi anak-anaknya. Biasanya anak-anak suka sekali dengan dongeng. Saya sendiri selain membacakan buku untuk anak-anak menjelang tidur, aktivitas dongeng juga selalu saya lakukan (baca: Video Dongeng Anak Si Jeb baca Buku) . Alhasil anaku senang. Bahkan seringkali mereka berimajinasi hingga memunculkan keingintahuan. Dongeng yang baik adalah dongeng yang memberikan pesan moral kepada yang mendengarkannya. Seringkali ketika dewasa, anak-anak yang di dongengkan dulu dari orang tuanya akan membekas dalam ingatan si anak.

Dongeng merupakan salah satu aktivitas yang juga dilakukan oleh pustakawan misalnya diperpustakaan umum yang bercerita (story telling) untuk anak-anak kecil. Nah, dalam film Ondine ini juga dikisahkan Circus bapaknya Annie yang tidak bisa mendongeng. Pada awalnya seorang perawat dokter menanyakan apakah si Annie membawa buku untuk dibaca sembari menunggu pengobatan. Ternyata tidak, Circus berdalih akan mendongeng. Ketika Annie menagih bapaknya untuk mendongeng, nyatanya ia tampak bingung. Si Circus tidak kehabisan akal, untuk menyiasatinya ia mendondeng dengan apa yang terjadi pada dirinya bahwa ada seorang nelayan sedang mencari ikan. Tidak biasanya, hari itu ada yang berbeda. Ketika menarik jaringnya, maka didapatinya ada seorang wanita. Ia terkejut ternyata wanita tersebut masih hidup. Dari cerita awal itu, ternyata memancing anaknya penasaran hingga ia bertanya siapa wanita itu. Kemudian anaknya menjawab sendiri dengan menerka wanita itu adalah putri duyung. Oleh bapaknya dijawab bukan, lalu anaknya menerka lagi apakah itu Selkie? Kali ini justru bapaknya yang tidak tahu. Lantas anaknya pun menjelaskan. Ia mengetahui tentang Selkie dari sekolahnya yang di ceritakan oleh gurunya.

Ada satu hal yang menarik dari adegan itu, walaupun pada akhirnya Ciscus terpaksa mendongeng, tapi oleh anaknya dianggap sebagai dongeng yang buruk karena pendek sekali. Satu pelajaran yang bisa dipetik dalam adegan tersebut, bagi orang tua yang tidak bisa mendongeng, mulailah berlajar mendongeng (hahaha).
Circus sedang mendongeng ke anaknya
Circus sedang mendongeng untuk anaknya
Ternyata dongeng tidak berhenti saat menemani anaknya ketika pengobatan. Esok harinya ketika bapaknya menjemput  anaknya pulang sekolah, Annie menanyakan kembali bagaimana kisah si nelayan dan wanita itu. Bapaknya menjawab, bahwa kali ini wanita itu bernyanyi. Annie menerka kembali dan meyakinkan ayahnya bahwa itu Selkie, terlebih dia bisa bernyanyi yang dianggap sebagai bahasa selk di lautan untuk memanggil ikan-ikan.

Dari adegan itu, ada dua hal menarik. Pertama, dongeng yang diceritakan bapaknya itu adalah realitas yang terjadi dalam hidupnya. Kedua, Annie sendiri memahaminya sebagai seorang anak kecil yang percaya dengan cerita fantasi dari gurunya tentang Selkie. Secara kebetulan antara dongeng bapaknya dengan pengetahuan si Annie sedikit menyambung.

Tidak sampai disitu, nyatanya Annie bertambah penasaran dan diam-diam dia mengikuti bapaknya ketika pulang. Annie merasa penasaran dengan apa yang diceritakan bapaknya bukanlah sekedar dongeng, namun kisah nyata hidupnya yang benar-benar terjadi. Setelah mengikutinya dan ternyata benar, ada seorang wanita di dalam rumah neneknya itu. Di sinilah cerita bermulai, diawali rasa penasaran yang berlanjut pada rasa keingintahuannya dengan mencari literatur buku-buku tentang kisah Selkie ke Perpustakaan.
Mengantar anaknya pulang
Circus mengantar anaknya pulang sembari melanjutkan dongeng pendek sebelumnya
Perpustakaan, Pustakawan dan Membaca Buku
Rasa penasaran Annie terhadap dongeng bapaknya ternyata membawa pada rasa ingin tahu melalui aktivitas membaca buku. Ia pun pergi ke perpustakaan untuk mencari buku-buku terkait anjing laut. Untuk perpustakaanya sepertinya perpustakaan umum karena disitu ada orang dewasa yang sedang mencari buku pula. Jadi, kemungkinan bukanlah perpustakaan sekolah.

Dalam adegan tersebut tampak bagaimana sebuah perpustakaan direpresentasikan menjadi pusat informasi dan pengetahuan yang penting. Selain perpustakaan, pustakawan dalam film ini juga direpresentasikan sebagai seorang yang ramah dan sigap dalam menghadapi pemustaka. Hal ini terlihat ketika Annie meminjam buku. Pustakawan perempuan menanyakan kepada Annie. Kemudian juga kepada Circus yang menanyakan buku apa yang sedang dicarinya ketika Circus sedang mencari buku tentang anjing laut dikarenakan rasa penasarannya akibat cerita dari si Annie.

Jadi, pada dasarnya disini justru agak terbalik. Annie sendiri tidak percaya dengan cerita bapaknya yang hanya sekedar dongeng, akan tetapi disisi lain bapaknya yang pada awalnya tidak terlalu menanggapi Annie tentang Selkie malah justru penasaran hingga datang mengunjungi perpustakaan. Sayangnya buku tentang anjing laut yang ingin dipinjamnya habis karena semua sudah dipinjam Annie.
Annie meminjam buku tentang anjing laut di perpustakaan umum
Annie meminjam buku tentang anjing laut di perpustakaan umum
Pustakawan menanyakan Circus tentang buku yang dicarinya
Pustakawan menanyakan Circus tentang buku yang dicarinya
Aktivitas membaca buku dalam film ini juga direpresentasikan begitu penting. Dengan semangat Annie membaca buku-buku tentang anjing laut yang dipinjamnya dari perpustakaan. Ketika ayah tirinya bertanya, ia hanya beralasan itu tugas pekerjaan rumah dari sekolah. Kenyataan sebenarnya adalah sedang semangat membaca untuk memenuhi rasa keingintahuannya terhadap anjing laut.
Annie membaca banyak buku tentang anjing laut
Annie membaca banyak buku tentang anjing laut 
Representasi Kepustakawanan Dan Pesan Filosifis Dalam Film Ondine
Secara keseluruhan representasi kepustakawanan dalam film Ondine ini saya simpulkan menjadi beberapa hal, yakni pertama, perpustakaan menjadi institusi penting sebagai tempat mencari informasi dan pengetahuan. Kedua, pustakawan harus ramah dan sigap terhadap kebutuhan pemustaka. Ketiga, aktivitas membaca itu penting guna memenuhi rasa ingin tahu akan sesuatu dan terakhir kemampuan dongeng saya kira perlu untuk semua orang tua kepada anak-anaknya.

Sebagai tambahan, menurut saya dalam film ini juga mengandung pesan filosofis yaitu pertama, manusia harus percaya dan yakin akan sebuah harapan baik yang dapat terkabul selama terus berd'oa dan berusaha. Contohnya adalah ketika Circus yang mencari ikan dengan hasil yang memuaskan mislanya mendapatkan tangkapan lobster dan salmon yang tidak seperti biasanya. Kemudian harapan untuk putrinya sembuh dari sakit gagal ginjal yang di deritanya. Kedua, seorang anak itu polos dan suci karenanya hati-hati ketika mendidiknya. Annie pernah melakukan satu hal gila hanya karena menganggap Ondine benar-benar seorang Selkie. Ia menceburkan diri ke laut dengan harapan Ondine menolongnya. Memang, Ondine menolongnya. Untungnya Ondine adalah seorang perenang yang tangguh sehingga Annie bisa terselamatkan. Mendidik anak harus benar-benar diperhatikan karena menyangkut cara berpikir si anak kelak ketika dewasa. Orang tua harus memberitahu mana yang hanya sekedar legenda dongeng dan mana realitas. Ketiga, tidak ada kata terlambat, semua manusia bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Circus pada awalnya seorang pemabuk, lalu ia memutuskan berhenti karena sesuatu hal. Begitu pula dengan Ondine yang sudah nyaman bersama keluarga Circus dan Annie. Ia bertaubat ingin menjadi manusia yang lebih berarti karena dahulunya seorang napi pengedar narkoba dari Rumania.

Kira-kira itulah representasi kepustakawanan dalam film Ondine menyangkut perpustakaan, pustakawan, aktivitas membaca dan mendongeng.

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Representasi Kepustakawanan Dalam Film Ondine: Perpustakaan, Pustakawan, Aktivitas Membaca dan Dongeng"