Representasi Perpustakaan Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta (Analisis Semiotika Roland Barthes )

Advertisement
Ketika Tuhan Jatuh Cinta
Paper ini adalah dokumentasi tugas kuliah yang sebelumnya sudah saya janjikan akan diposting ketika nilai sudah keluar. Dokumentasi ini ada kaitannya dengan artikel yang sudah pernah saya tulis berjudul Memaknai 4 Puisi Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta. Nah, kali ini adalah mengenai representasi perpustakaan dalam film "Ketika Tuhan Jatuh Cinta" dengan menggunakan analisis semiotika dari Roland Barthes. Ada tiga pokok yang saya kemukakan dalam paper ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, teori representasi dan semiotika Roland Barthes juga nilai kultural kepustakawanan yang merujuk pada bukunya Ibu Laksmi. Ketiga, pembahasan dari film tersebut yang saya deskripsikan melalui makna-makna denotasi dan konotasi. Tidak lupa pula, menyinggung sedikit tentang mitos dan ideologi dalam film tersebut. Adapun objek film yang saya bahas dengan cara memanfaatkan teknik-teknik sinematografi. Beberapa cara yang dilakukan adalah membedah anatomi film dengan teknik sequence, scene, shot. Sehingga dalam paper ini akan banyak ditemui potongan adegan-adegan film khususnya yang berkaitan dengan dunia perpustakaan. Selain saya publish disini, paper ini juga tersedia dalam format pdf. Bagi yang ingin mengunduhnya, saya sediakan linknya dibawah tulisan ini. Berikut tulisan lengkap papernya:

Daftar Isi:
Pendahuluan
Realitas, Media Representasi dan Perpustakaan
Semiotika Roland Barthes
Representasi Perpustakaan Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta
Kesimpulan
Daftar Pustaka


Pendahuluan
Mendengar istilah perpustakaan konvensional, maka akan berkaitan erat dengan salah satu koleksi cetaknya yaitu buku yang berjajar di rak-rak. Begitu pentingnya sebuah buku hingga kata mutiara lama mengatakan “buku adalah jendela ilmu”. Dengan banyak membaca buku, idealnya seseorang bisa akan mempunyai cara berpikir yang holistik. Namun patut disayangkan, dalam realitasnya masih ada sebagian perpustakaan sepi pengunjung dan fenomena rendahnya minat baca (1) merupakan salah satu indikator bahwa perpustakaan hingga sekarang masih belum mendapatkan tempat oleh sebagian masyarakat kita. Ironisnya ini juga terjadi di dalam dunia kampus yang notabene banyak orang berpendidikan. Belum lagi adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka koleksi perpustakaan konvensional akan semakin pudar karena dilibas oleh era digital (2)

Kendati realitas perpustakaan hingga sekarang masih belum menjadi sarana dan prasarana ideal dalam mendukung minat dan budaya baca namun demikian, hingga sekarang fungsi utama perpustakaan selalu disosialisasikan di berbagai media massa seperti surat kabar, radio, televisi, bahkan internet. Lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pejabat, hingga tokoh-tokoh terkenal menganjurkan agar kita masyarakat Indonesia harus gemar membaca, rajin datang ke perpustakaan demi masa depan bangsa kita. Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh minat dan budaya baca masyarakatnya. Program-program pemerintah yang berupa sosialisasi berbentuk iklanpun tidak luput dari perhatiannya. Semua itu dilakukan tak lain agar masyarakat kita mempunyai paradigma, bahwa betapa pentingnya sebuah perpustakaan dan aktivitas membaca demi perkembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.

Disisi lain, pentingnya perpustakaan dan aktivitas membaca juga seringkali direpresentasikan dalam dunia seni misalnya film. Ini menarik, dimana film merupakan salah satu media komunikasi massa yang bersifat menghibur. Selain sebagai alat penghibur, film juga berfungsi sebagai alat informasi, alat propaganda bahkan alat politik (Novi Kurnia, 2006). Hadir ditengah-tengah sistem sosial masyarakat dengan membawa pesan yang ingin disampaikan pembuatnya kepada setiap individu yang menontonnya. Film memiliki daya tarik tersendiri apabila dibandingkan dengan aktivitas membaca karena sifatnya yang tidak harus menuntut ruang imajinasi tinggi seperti halnya membaca teks. Film adalah sebuah karya seni yang memuat banyak nilai-nilai, norma, bahkan budaya dalam setiap adegan yang dibuatnya. Meskipun setiap adegan dalam film itu hanyalah sebuah rekayasa semata, namun seringkali penonton larut dalam emosinya yang tercerminkan dalam sebuah tindakan misalnya menangis dan tertawa.

Saat ini, industri perfilm di Indonesia mulai terlihat menggembirakan. Ada tanda-tanda kehidupan setelah di awal 1990-an hingga 2000-an mengalami mati suri karena adanya televisi swasta. Sejarah mencatat, dua film yang menandakan bangkitnya film Indonesia adalah ketika di rilisnya film Petualangan Sherina (1999) dan Ada Apa Dengan Cinta (2001) yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Dian Sastro Wardoyo. Sejak saat itu, mulai banyak film Indonesia yang diproduksi dengan berbagai macam genre mulai dari drama, laga, komedi, hingga horor. Cerita utama dalam filmpun bervariasi, mulai dari kisah roman percintaan remaja, keluarga, kepahlawanan, motivasi, pendidikan, memoar hingga cerita rakyat. Menariknya lagi, berdasarkan penelitian yang dilakukan Sari, Lestari dan Tritama (2013) bahwa isu-isu muatan lokal film Indonesia itu ternyata laku dan laris dipasaran. Tidak hanya itu, kini ide pembuatan film Indonesia mulai banyak yang diangkat dari sebuah kisah buku novel seperti Laskar Pelangi, Negeri Lima Menara, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, 5CM, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, 99 Cahaya di Langit Eropa, Habibie Ainun, dan Supernova. Maraknya film yang mengangkat kisah-kisah relegius juga menjadi tempat tersendiri di pasar perfilman Indonesia misalnya novel terbaik karya Helvy Tiana Rosa berjudul Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) yang filmnya akan diputar 2016 ini. Bahkan, untuk  film tersebut Helvy menjadi produser sendiri dengan menggandeng berbagai elemen masyarakat. Konon, hal ini dilakukan demi menjaga idealisme semangat dakwah dalam film tersebut. Selain Helvy, ada juga Wahyu Sujani. Ia juga telah menulis buku novel relegius bernafaskan islami misalnya Bidadari Berkalam Ilahi, Ajari Aku Menuju Arsy, Atas Nama Cinta, Kerudung Cinta dari Langit Ketujuh, Di Pintu Langit Kubersujud dan Ketika Tuhan Jatuh Cinta. Novelnya yang dikenal oleh masyarakat dan diangkat menjadi film adalah Ketika Tuhan Jatuh Cinta (2014). Bahkan, untuk Film Ketika Tuhan jatuh Cinta 2 kini sedang dalam proses produksi.

Terkait hal itu, menurut pengamatan penulis, Film Tuhan Ketika Jatuh Cinta menarik untuk diteliti karena dalam alur ceritanya terdapat adegan yang merepresentasikan perpustakaan. Film bergenre drama ini telah dirilis pada tanggal 5 Juni 2014 yang mengkisahkan tentang perjalanan hidup seorang mahasiswa seniman pasir. Film ini di sutradarai oleh Fransiska Fiorella yang diproduksi oleh Studio Sembilan, Leica Production dengan durasi 105 menit. Tokoh utama dalam film ini dibintangi oleh Reza Rahadian yang berperan sebagai Ahmad Hizalul Fikri, sosok yang begitu tegar dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup yang bertubi-tubi. Dari mulai orang tuanya yang memaksakan kehendak, kisah percintaanya yang kandas karena perjodohan, hingga kedua orang tuanya meninggal. Tulisan ini akan menganalisis representasi perpustakaan dalam film tersebut dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes.



Realitas, Media Representasi dan Perpustakaan
Brenda Downes dan Steve Miller (1998) mengatakan penting sekali untuk membedakan secara ekplisit antara realitas dan media representasi. Media adalah sistem di mana kita mengalami di dunia luar ruang yang kita tempati. Sedangkan media membangun hubungan antara penonton dan dunia nyata serta membuat versi realitas untuk konsumsi oleh para audien. Menurut Eoin Devereux (2003) ada dua alasan mengapa harus menganalisis konten media. Pertama, konten media itu merupakan sumber kekuatan dari makna tentang dunia sosial. Misalnya bagaimana etnis minoritas direpresentasikan dalam sebuah media. Kedua, karena konten media tidak menyamakan dengan realitas sosial yang ada maka, menjadi penting untuk memeriksa bagaimana konten media merepresentasikan itu karena hal tersebut akan berhubungan dengan sistem sosial, ekonomi dan politik. Diperlukan sikap kritis terhadap media yang merepresentasikan karena menyangkut dominasi wacana hegemonik tentang kelas, suku dan gender.

Chris Barker (2004) menyinggung representasi adalah tentang bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial kepada dan oleh kita. Oleh karenanya, ini perlu eksplorasi pembentukan makna tekstual. Selain itu perlu juga penyelidikan tentang cara dihasilkannya makna pada beragam konteks. Representasi dan makna kultural memiliki materialitas tertentu, mereka melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku, majalah, dan program televisi. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam konteks sosial tertentu (Baker, 2004:9).

Representasi perpustakaan adalah menyangkut makna kultural perpustakaan yang dikonstruksi dan digambarkan pada suatu media misalnya pada fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan. Perpustakaan yang direpresentasikan pada media tidaklah selalu sama dengan realitas sosial yang ada. Laksmi (2007) mengaitkan bahwa makna kultural perpustakaan juga akan tercermin dalam simbol-simbol kepustakawanan yang berkaitan erat dengan aspek-aspek penting seperti pola kerja pustakawan dalam keseharian, berbagai jenis koleksinya misalnya buku, aktivitas membaca, budaya kerja organisasi, arsitektur gedung, tata ruang, desian interior perpustakaan, hingga sistem manajemen perpustakaan itu sendiri.


Semiotika Roland Barthes
Dalam sistem sosial kehidupan manusia bahasa menjadi media istimewa yang membentuk sekaligus mengkomunikasikan makna kultural. Bahasa juga menjadi media yang berkontribusi dalam membangun pengetahuan tentang diri kita dan dunia sosial. Ketika memahami sebuah kebudayaan berarti mengeksplorasi berbagai makna yang dihasilkan secara simbolis melalui praktik-praktik signifikasi bahasa. Inilah yang pada awalnya menjadi cakupan dalam semiotika yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure yaitu studi tentang tanda. 

Kendati Saussure hanya berkontribusi pada studi arena linguistik yang sempit, namun demikian ia telah memperkirakan kemungkinan adanya ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada di masyarakat. Hal tersebut karena objek kultural itu mengungkapkan makna yang dibentuk oleh tanda dan ini tentu saja terbuka bagi analsisis semiotik. Selanjutnya Roland Barthes yang memakai pendekatan Saussure telah melakukan modifikasi dan menerapkannya pada praktek kebudayaan pop dengan maksud dapat menunjukan bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut membentuk makna. Istilah tersebut dikenal dengan sebutan mitologi Roland Barthes. (Barker, 2004: 72).

Menurut Barthes dalam Nawiroh Vera (2014) bahwa semiotika hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Walaupun teori semiotika Barthes berasal dari Saussure melalui signifikasi bahasa yang terstruktur, akan tetapi Barthes tak membatasi hanya pada sisi bahasa melainkan mencakup banyak aspek budaya. Barthes menganggap kehidupan sosial sebagai suatu signifikasi yang bermacam-macam bentuknya  dan itu merupakan suatu sistem tanda sendiri. Sistem tanda dalam menganalisis makna meliputi misalnya teks pada literatur, fotografi atau gambar, musik bahkan film. Secara umum, Jane Stokes (2003) membagi delapan tahapan dalam analisis semiotik yaitu meliputi menentukan objek untuk di analisis, mengumpulkan teks, menguraikan teks, menafsirkan teks, menentukan kode budaya, membuat generalisasi dan membuat kesimpulan. 

Dalam semiotika Roland Barthes dikenal istilah signifier (penanda) dan signified (pertanda) yang dikembangkan menjadi teori tentang metabahasa dengan dua sistem signifikasi yaitu makna denotasi dan konotasi. Makna denotasi adalah level makna deskriptif bersifat tertutup dan literal yang secara virtual dimiliki oleh semua anggota suatu kebudayaan. Makna denotasi merupakan makna yang sebenar-benarnya yang disepakati bersama secara sosial, yang rujukannya pada realitas sosial. Sedangkan makna kontasi terbentuk dengan mengaitkan penanda dengan aspek-aspek kultural yang lebih luas misalnya keyakinan, sikap, kerangka kerja, dan ideologi suatu formasi sosial (Barker, 2004: 74). Makna konotasi bersifat terbuka terhadap penafsiran-penafsiran baru. Antara penanda dan pertanda harus memiliki relasi sehingga inilah yang akan membentuk tanda dan relasi tersebut tentunya akan berkembang karena ditetapkan oleh pemakai tanda. Hubungan antara keduanya pun bersifat arbitrer. Sehingga dalam makna denotasi itu menghasilkan makna yang eksplisit dan merupakan sistem signifikasi pertama. Sedangkan makna kontasi menghasilkan makna yang implisit dan merupakan sistem siginifikasi kedua (Nawiroh Vera, 2014:27-28). Berikut peta tanda menurut Roland Barthes:
Peta Tanda Model Semiotika Roland Barthes (Nawiroh Vera, 2014:27)
Peta Tanda Model Semiotika Roland Barthes (Nawiroh Vera, 2014:27)
Selanjutnya ketika dalam makna konotasi diterima sebagai yang normal dan alami atau dengan kata lain memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku suatu periode tertentu seolah-olah telah ditakdirkan Tuhan, maka hal tersebut merupakan mitos yang dihasilkan dari konstruksi kutural, namun demikian ia tampak sebagai kebenaran universal yang telah ada sebelumnya dan melekat pada nalar awam. Sebuah mitos memiliki konsep yang mirip dengan ideologi karena keduanya bekerja pada level konotasi. Bahkan Barthes menyatakan mitos yang sudah mantap akan menjadi ideologi. Menurut Volosinov (1973) dalam Chris Barker (2004) bahwa ranah ideologi itu akan berkorespondensi dengan arena makna artinya dimana ada tanda, maka disitu ada ideologi. Mitos dalam pandangan Barthes merupakan bahasa kedua yang berbicara tentang bahasa tingkat pertama. Ini artinya tanda pada signifikasi pertama (partanda dan petanda) yang membentuk makna denotasi menjadi penanda pada urutan kedua makna mitologis konotasi. Adapun rumusan tentang signifikasi dan mitos dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Siginifikasi dan Mitos Roland Barthes (Nawiroh Vera, 2014:30)
Siginifikasi dan Mitos Roland Barthes (Nawiroh Vera, 2014:30)

Representasi Perpustakaan Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta
Film “Ketika Tuhan Jatuh Cinta” dirilis tanggal 5 Juni 2014. Film ini di sutradarai oleh Fransiska Fiorella adaptasi dari sebuah novel karya Wahyu Suljani. Film bergenre drama ini diproduksi oleh Studio Sembilan, Leica Production dengan durasi 105 menit.

Tokoh utama dalam film ini dibintangi oleh Reza Rahadian yang berperan sebagai Ahmad Hizalul Fikri. Ia seorang mahasiswa sekaligus seniman pasir yang begitu tegar dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup yang bertubi-tubi. Dari mulai orang tuanya yang memaksakan kehendak, kisah percintaanya yang kandas karena perjodohan, hingga kedua orang tuanya meninggal. 

Bapaknya bernama Qosim (Joshua Pandelaki), seorang ustad sekaligus penjual ikan asin di Garut yang tidak setuju anaknya Fikri menjadi seniman dan melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Ia menginginkan Fikri menjadi marbot masjid agar bisa belajar banyak ilmu agama sehingga kelak bisa menjadi ustad sepertinya dirinya. 

Walaupun film drama ini bercerita tentang lika-liku kehidupan seorang seniman yang penuh cobaan dari Tuhan dan tentu saja dibumbui drama percintaan, akan tetapi dalam alurnya juga banyak merepresentasikan dunia perpustakaan yang tercermin dalam simbol-simbol kepustakawanan. Dalam film ini memang tidak menampakan seorang tokoh pustakawan. Beberapa yang seringkali direpresentasikan adalah buku berbentuk cetak, aktivitas membaca, sistem manajemen perpustakaan dan ruang perpustakaan itu sendiri. 

Kendati Fikri seorang yang tinggal di kampung dengan kondisi apa adanya, namun status ia sebagai seorang mahasiswa memberikan gambaran bahwa sejatinya mahasiswa itu memiliki teman wajib yang mencerminkan keintelektualannya, yakni kepemilikan buku. Hal itu tercerminkan dalam film ini antara menit ke 1-02 hingga 2-47 seperti dalam gambar 1 dan 2 dibawah ini:
Gambar 1. Intro Film Koleksi Buku Fikri
Gambar 1. Intro Film Koleksi Buku Fikri
Gambar 2. Perpustakaan Pribadi Fikri
Gambar 2. Perpustakaan Pribadi Fikri
Gambar 1 menampilkan beberapa koleksi buku Fikri yang menjadi bagian dalam intro film lalu secara keseluruhan ditampilkan dalam perpustakaan pribadi seperti tampak pada gambar 2. Keberadaan Fikri dikampungnya ini sebenarnya karena selama ini ia mengambil cuti kuliah. Ada dua hal yang menjadikan sebab ia cuti kuliah. Pertama, membantu bapaknya yang berjualan ikan asin dan kedua karena memang bapaknya yang melarang melanjutkan kuliah karena terkait biaya. Selain itu, tentu saja bapaknya menginginkan agar Fikri menjadi seorang marbot masjid menggantikan marbot lama yang sudah tua sekaligus belajar agama sehingga barangkali kedepan bisa menjadi ustad seperti yang diharapakan bapaknya. Faktor lainya didukung oleh kenyataan yang ada bahwa bahwa percuma melanjutkan kuliah karena banyak sarjana yang nganggur. Ini merupakan sebuah mitos dalam bangsa ini yang masih berpikiran tujuan utama kuliah itu untuk mencari kerja bukan membuka lapangan kerja. Dalih tersebut menjadi pilihan alasan bapaknya agar Fikri tidak melanjutkan kuliah. 

Ketidaksetujuan bapaknya terhadap keinginan Fikri yang terus ingin melanjutkan kuliah ditunjukan dengan perbincangan dikamar Fikri sembari membereskan buku-bukunya seperti tampak pada gambar 3. Bapaknya melarang mengapa membaca buku-buku diktat kuliah lagi. Ia merasa itu tidak penting. Lalu bapaknya menyodorkan buku pilihannya bertemakan keislaman berjudul Fiqh Islam seperti pada gambar 4. Aktivitas membaca idealnya begitu penting ditampilkan dalam keseharian hidup seorang muslim. Buku yang disodorkan bapaknya kepada Fikri menunjukan bahwa aktivitas membaca dalam konsep Islam sebenarnya sudah dianjurkan bahkan menjadi sebuah perintah wajib seperti yang tertera dalam Al-Quran, surat Al’Alaq. Surat ini adalah surat pertama kali diturunkan kepada Rasul Shallalahu ‘alaihi wa sallam. Diawal surat berisi perintah untuk membaca, Iqra. Membaca buku-buku bernuansa Islami yang dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan lebih bermanfaat karena sebagai bekal di akherat kelak. Makna itu yang sebenarnya ingin ditunjukan bapaknya. 
Gambar 3. Fikri dan Bapaknya
Gambar 3. Fikri dan Bapaknya
Gambar 4. Buku Fiqh Islam
Gambar 4. Buku Fiqh Islam
Perintah membaca dalam konsep Islam tentu saja bukan diartikan secara harfiah saja. Namun demikian, perintah tersebut bermakna begitu luas dan filosofis. Salah satu yang menjadi anjuran wajib adalah ketika menuntut ilmu. Salah satu jalanya adalah dengan banyak-banyak membaca. Dalam konteks keseharian, Islam menganjurkan umatnya membaca Al-Qur’an lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Idealnya, membaca Al-Quran perlu memahami makna dan tafsirnya dari para imam dan ulama terdahulu. Dalam film ini juga menggambarkan aktivitas membaca Al-Qur’an oleh ibunya, Fatimah (Dewi Irawan) dan adiknya, Humaira (Tamara Tyasmara) seperti pada gambar 5. 
Gambar 5. Ibu dan Humaira Sedang Membaca Al-Quran
Gambar 5. Ibu dan Humaira Sedang Membaca Al-Quran
Representasi kehadiran buku berbentuk cetak dalam film ini juga ditampilkan oleh Koh Achong (Didi Petet), pemilik galeri lukisan dan benda-benda kuno. Melalui galeri ini, Fikri menjual lukisannya yang bernuansa religi Islami. Inspirasi lukisan pertama yang dijual itu adalah dari aktivitas membaca Al-Qur’an yang dilakukan ibu dan adiknya ketika di rumah. Pengambilan dengan latar belakang buku di meja kerja Koh Acong seringkali ditampilkan hingga berkali-kali seperti tampak pada gambar 6, 7 dan 8. 
Gambar 6. Buku Tampak Dari Samping
Gambar 6. Buku Tampak Dari Samping
Gambar 7. Buku Tampak Dari Belakang
Gambar 7. Buku Tampak Dari Belakang
Gambar 8. Buku Tampak Dari Depan
Gambar 8. Buku Tampak Dari Depan 
Kehadiran tumpukan buku di meja kerja Koh Acong itu menandakan bahwa Koh Acong senang dengan aktivitas membaca dan tentu ini diperlukan juga sebagai seorang pebisnis dibidang seni yang dituntut memiliki banyak pengetahuan. Disisi lain, ada pesan ideologis yang ditampilkan jika dikaitkan dengan etnis Cina. Dimana negara Cina saat ini adalah negara besar yang maju pesat dengan tingkat pertumbuhan ekonominya yang tinggi. Kemajuan yang diperoleh negara cina tak lain salah satunya karena mereka memandang pentingnya aktivtias membaca. Barangkali foto antrian pengunjung perpustakaan di Cina yang menghebohkan sekitar bulan Januari 2015 menunjukan kepada dunia, bahwa mereka sukses dibidang ekonomi karena warganya yang mulai memandang penting terhadap aktivitas membaca. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Sejauh mana penduduk Indonesia memandang penting dengan aktivitas membaca? Secara mengejutkan Kepala Perpustakaan Nasional RI, Sri Sularsih mengatakan bahwa 90% penduduk usia diatas 10 tahun itu gemar menonton televisi, tetapi tidak suka membaca buku. Ini artinya minat baca masyarakat Indonesia bagitu rendah (Antaranews, 28/10/2015). 

Aktivitas membaca tidak hanya penting bagi pebisnis seperti yang digambarkan oleh Koh Acong, kemudian bagi para mahasiswa sebagai agen perubahan, melainkan juga bagi civitas akademika seperti dosen dan asistennya. 

Dalam film ini lagi-lagi juga menampilkan bahwa membaca menjadi bagian terpenting dalam dunia pendidikan dan dalam hal ini perpustakaan perguruan tinggi menjadi jantungnya untuk menyediakan berbagai koleksi buku sebagai bahan referensi dalam kegiatan belajar dan mengajar baik untuk mahasiswa, dosen dan asistennya tersebut. Kondisi perpustakaan perguruan tinggi dan aktivitas membaca dalam film ini direpresentasikan tampak seperti pada gambar 9 hingga 12. 
Gambar 9. Leni, Asisten Dosen
Gambar 9. Leni, Asisten Dosen
Gambar 10. Fikri Mencari Buku
Gambar 10. Fikri Mencari Buku 
Gambar 11. Leni Sedang Membaca
Gambar 11. Leni Sedang Membaca
Gambar 12. Fikri dan Leni di Perpustakaan
Gambar 12. Fikri dan Leni di Perpustakaan
Pada gambar 9 menunjukan Leni seorang asisten dosen yang sedang mengajar sambil memegang buku. Bisa dibilang sedikit berbeda dari kenyataan yang ada karena seringkali untuk sekarang seorang dosen atau asisten dosen itu mengajar dengan menggunakan slide presentasi. Namun demikian, buku menjadi simbol yang nyata bahwa dalam dunia kampus itu merupakan sesuatu hal yang penting. 

Pada gambar 10 hingga 13, ada dua hal penting yang menjadi perhatian terutama dalam representasi ruang perpustakaan dan fungsinya. Pertama, dalam makna denotasi ruang perpustakaan perguruan tinggi dengan jajaran buku di rak dan beberapa mahasiswa yang sedang mencari buku. Kedua, fungsi perpustakaan perguruan tinggi diatas menunjukan sebagai tempat untuk mencari ilmu pengetahuan. Gambar 10 menunjukan Leni, seorang asisten dosen yang sedang membaca buku. Tentu saja seorang asisten dosen dituntut memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni sesuai dengan mata kuliah yang diajarkannya. Oleh karenanya aktivitas membaca di perpustakaan itu menjadi terlihat penting dan terdayagunakan. 

Disisi lain, Fikri seorang mahasiswa yang juga memandang pentingnya sebuah perpustakaan dengan mencari buku-buku yang diperlukannya karena terkait ketertinggalan mata kuliah karena cuti. Untuk bisa mengejar ketertinggalanya, maka membaca menjadi aktivitas penting dan itu harus dilakukan. 

Representasi perpustakaan dalam gambar 10 hingga 12 diatas menunjukan betapa perpustakaan sangat vital bagi mereka yang sedang menuntut dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Koleksi buku perpustakaan yang digambarkan diatas merupakan rekaman ilmu pengetahuan yang terstruktur dari berbagai macam pemikiran para penulisnya. Tugas perpustakaan untuk mengolah, memilih, menyimpan, melestarikan, hingga menyebarkan kembali kepada para pembaca adalah sebuah langkah yang mengawal peradaban manusia menjadi lebih baik. Perpustakaan perguruan tinggi pada beberapa gambar tersebut menunjukan kedinamisan para mahasiswa yang sedang mencari referensi untuk menunjang perkuliahannya. Perpustakaan tinggi diatas ditampilkan begitu hidup, tidak sepi tapi juga tidak padat pengunjung.

Satu hal yang patut disayangkan adalah ketika Fikri melihat Leni sedang membaca sambil berdiri diantara jajaran rak buku. Fikri kemudian mendekati dari belakang. Untuk memulai obrolannya, Fikri berpura-pura menjatuhkan buku tepat dibelakang Leni. Sehingga Leni menjadi terkejut. Apa yang dilakukan Fikri adalah perbuatan yang bertolak belakang dengan representasi pentingnya buku dalam film ini. Buku merupakan hasil pemikiran manusia dengan proses panjang dan itu harus benar-benar dijaga. Dengan menjatuhkan buku secara sengaja, maka itu merupakan bentuk vandalisme yang dapat merusak bahkan menghancurkan kendati hanya fisiknya saja. Dalam kepustakawanan bentuk-bentuk vandalisme itu harus dicegah misalnya mencoret-coret buku, melipat, menyobek, menghilangkan, melempar, dan termasuk menjatuhkan. Buku merupakan hasil budaya yang seharusnya dijaga dengan baik dan hati-hati. Buku merupakan simbol peradaban dalam tatanan kehidupan sosial.

Aktivitas pentingnya membaca juga ditampilkan oleh Fikri ketika Koh Acong menghampiri untuk memberitahukan bahwa lukisannya pertamanya telah terjual seperti tampak pada gambar 13. Lagi-lagi pada gambar tersebut menunjukan sejatinya membaca merupakan aktivitas penting yang akan berpengaruh terhadap cara berpikir seseorang, utamanya dalam menghadapi masalah serta solusi yang akan ditempuh. Buku secara fisik merupakan benda mati, namun pada hakekatnya ia adalah hidup yang bisa menggerakan manusia untuk melakukan tindakan. .

Begitu pentingnya sebuah buku hingga dalam beberapa adegan film ini juga merepresentasikan bahwa buku ibarat lilin yang menerangi manusia dalam kegelapan seperti tampak pada gambar 14. Pada gambar tersebut dimana adegan ketika Humaira adiknya Fikri menyalakan lilin yang disampingnya ada sebuah buku, secara denotasi hal itu menunjukan hanya untuk menerangi ruangan kamar Fikri yang gelap. Namun demikian, menyalakan lilin disamping buku juga mempunyai pesan filosofis yang syarat akan makna yaitu buku merupakan peta jalan manusia dalam menempuh peradaban yang lebih baik. Buku akan memberikan cahaya yang menunjukan jalan ketika manusia berjalan di lorong gelap dari ketidaktahuan agar menjadi tahu. Buku banyak memberikan manfaat bagi perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa. 
Gambar 13. Fikri Sedang Membaca Buku
Gambar 13. Fikri Sedang Membaca Buku 
Gambar 14. Humaira Menyalakan Lilin
Gambar 14. Humaira Menyalakan Lilin 
Ketika Humaira merasa rindu dengan kakaknya, ia masuk ke kamar Fikri dan menyalakan lilin untuk menerangi ruangannya gelap. Dapat dibayangkan listrik belum masuk di kampung Fikri. Untuk mengobati rasa rindu itu, Humaira mengambil salah satu buku kuliah kakaknya dan mengatakan kepada ibunya bahwa Fikri lupa membawa buku itu seperti tampak pada gambar 15. Rasa rindu Humaira kepada Fikri yang dilampiaskan dengan memeluk salah satu buku kuliahnya. Hal tersebut menggambarkan sosok Fikri yang senang dengan aktivitas membaca dalam kesehariannya dan itu disaksikan langsung oleh adiknya, Humaira. Artinya ada pola kebiasaan membaca buku dari Fikri ketika berada dikampung. 
Gambar 15. Humaira Memagang Buku Fikri
Gambar 15. Humaira Memagang Buku Fikri
Secara ringkas, ada empat hal yang menggambarkan Fikri senang dengan aktivitas membaca. Pertama, ia memiliki perpustakaan pribadi dirumahnya. Kedua, ia sering meminjam buku perpustakaan dikampusnya untuk mengejar ketertinggalan mata kuliahnya karena cuti. Ketiga, selain melukis ia juga meluangkan waktunya untuk membaca saat tinggal di rumah Koh Acong seperti pada gambar 13. Keempat, dalam kesehariannya ia memang memiliki pola kebiasaan membaca saat dikampungnya dan itu disaksikan sendiri secara langsung oleh adiknya. Fenomena ini seharusnya juga menjadi renungan buat orang tua ketika menyuruh anaknya membaca namun tidak memberikan contoh secara langsung. Fikri adalah sosok yang memberikan contoh kepada adiknya bahwa membaca itu penting. Ia memberikan contoh melalui tingkah lakunya yang dengan sendirinya itu akan berpengaruh terhadap orang-orang disekelilingnya. 

Beberapa adegan lainya yang selalu menunjukan pentingnya buku dalam film ini adalah seperti pada gambar 16 hingga 18. Pada gambar 16 saat sedang terjadi perbincangan ditaman antara Fikri dan Leni yang lama tidak bertemu karena Fikri Cuti. Leni adalah teman ospek ketika baru memasuki perkuliahan. Di sebalah tas Leni ada sebuah buku. Kemudian pada gambar 17, saat dicafe ketika Fikri menggambar Leni sebagai objeknya, diatas meja tepatnya didepan laptop Leni juga terlihat buku. Selanjutnya pada gambar 18 ketika Leni membaca puisi dari Fikri dan begitu juga sebaliknya, lantas Leni mengambil smartphone untuk menghubungi Fikri, tampak begitu jelas memperlihatkan buku. Sedangkan pada gambar 19 ketika Koh Acong dan Fikri sedang mengakses internet untuk melihat galeri lukisannya juga dimeja dan depan laptopnya terlihat buku. 
Gambar 16. Buku di Samping Tas
Gambar 16. Buku di Samping Tas 
Gambar 17. Buku Diatas Meja Depan Laptop
Gambar 17. Buku Diatas Meja Depan Laptop
Gambar 18. Buku Ketika Leni Akan SMS Fikri
Gambar 18. Buku Ketika Leni Akan SMS Fikri
Gambar 19. Buku di Meja Depan Laptop
Gambar 19. Buku di Meja Depan Laptop 
Dalam film ini juga merepresentasikan perpustakaaan yang tercerminkan dalam simbol-simbol kepustakawanan dari sisi yang berbeda seperti tampak pada gambar 20 hingga 24. Pada gambar 20 menampilkan Leni sedang menulis puisi karena merasa kecewa dan akibat Fikri menganggapnya sebatas teman walaupun yang terjadi sebenarnya kesalapahaman antara mereka berdua ketika berkomunikasi di taman. Perpustakaan menjadi fungsi rekreasi yang bersifat seni. Rekreasi disini lebih melepas pada kegundahan perasaan untuk sejenak menenangkannya dengan cara menulis curahan hati melalui sebait puisi di perpustakaan. 

Selanjutnya pada gambar 21 ketika salah satu teman Leni menghampiri dan menanyakan sidang, lalu Leni dengan sadar langsung memberikan peringatan dengan mengatakan “ssssssttttt”. Ini artinya dalam film ini juga merepresentasikan bahwa di perpustakaan itu tidak boleh berbicara keras-keras dalam artian harus pelan-pelan. Kondisi seperti ini tentu saja menjadi sebuah mitos dalam budaya kerja kepustakawanan sehingga memunculkan streotipe bahwa perpustakaan itu harus sepi (hening). Padahal sejatinya tidak harus seperti itu. Perpustakaan harus berani melakukan terobosan yang berbeda dari norma-norma yang sudah ada pada umumnya. Jika dikaitkan dengan gambar 23, maka ini juga merupakan bentuk representasi kultural perpustakaan bahwa di perpustakaan itu adalah hanya tempat untuk diskusi atau belajar dengan suasana yang harus hening. Oleh karenanya, dalam adegan itu Fikri mengajak Leni untuk mengobrol diluar.
Gambar 20. Leni Menulis Puisi di Perpustakaan
Gambar 20. Leni Menulis Puisi di Perpustakaan
Gambar 21. Teman Leni Bertanya Ujian Sidang
Gambar 21. Teman Leni Bertanya Ujian Sidang
Gambar 22. Fikri Mengembalikan Buku di Rak
Gambar 22. Fikri Mengembalikan Buku di Rak
Gambar 23. Fikri Bertanya Ujian Sidang
Gambar 23. Fikri Bertanya Ujian Sidang
Sistem manajemen perpustakaan dalam film ini juga direpresentasikan melalui kode kultural perpustakaan yang dikenal dari salah satu sistemnya yaitu DDC (Dewey Decimal Classification). DDC adalah seperangkat kode-kode dalam dunia perpustakaan untuk menentukan klasifikasi ilmu berdasarkan subjeknya. Sistem ini diciptakan oleh Melvil Dewey pada tahun 1876. Contohnya seperti pada gambar 22 diatas, dimana ketika Fikri meletakan buku ke dalam jajaran rak dengan klasifikasi antara 400 hingga 515 F. Klasifikasi 400 adalah klasifikasi khusus ilmu bahasa. Sedangkan 515 berkaitan dengan matematika dan ilmu alam. Kode 400-515 mempunyai arti bahwa antara urutan 400 hingga 515 letaknya di rak tersebut. Adapun F adalah kode tambahan sendiri dari masing-masing perpustakaan misalnya untuk mempermudah pencarian lokasi rak karena koleksi dengan klasifikasi tersebut yang banyak.

Selain pengetahuan dalam bentuk teorisasi yang ada pada buku, melek informasi juga merupakan simbol-simbol kepustakawanan yang erat kaitannya dengan dunia perpustakaan. Dalam film ini juga merepresentasikan melek informasi melalui bahan bacaan koran kendati tinggal dikampung. Bahkan dalam film ini ada seorang buruh yang memberitahukan kepada keluarga Pak Qosim seperti pada gambar 24. Koran yang ditunjukan tersebut berisi tentang berita kesuksesan pameran tunggal lukisan Fikri. 
Gambar 24 Seorang Buruh Memberitahukan Berita Tentang Fikri di Koran
Gambar 24 Seorang Buruh Memberitahukan Berita Tentang Fikri di Koran

Kesimpulan
Secara umum dalam film ini menampilkan ideologi patriarki dimana laki-laki menjadi sosok yang sentral dalam menentukan keputusan. Beberapa adegan yang menjadi contohnya adalah ketika Pak Qosim yang menganggap istrinya terlalu berani dalam memutuskan pilihan keluarga yang baik. Tidak ada pilihan Fikri untuk menentukan pilihan hidup dan harus menurut kehendak bapaknya. Kemudian perjodohan paksa Leni oleh bapaknya. Selain itu sangat kental pesan-pesan toleransi dan keberagaman misalnya ketika Koh Acong menyuruh solat Maghrib dan saat Koh Acong meninggal, Fikri seorang muslim menghadirinya di dalam  gereja. Ideologi yang berkaitan dengan dogma-dogma agama juga menjadi bias. Misalnya ketika Humaira bekerja harus melepas jilbab. Fikri sebagai kakaknya hanya memberikan pilihan antara nyaman dan tidak. Berbeda dengan bapaknya yang memegang teguh prinsip agama Islam, memakai jilbab wajib hukumnya dan terus istiqomah. 

Apabila mengerucut hanya pada representasi perpustakaan dan simbol-simbol kepustakawanan, maka ada beberapa hal yang menjadi catatan penting yang perlu di kritisi. Pertama, dalam film ini representasi perpustakaan hanya digambarkan pada perpustakaan konvensional dimana koleksi buku cetak menjadi yang utama. Setidaknya dengan adanya perkembangan teknologi informasi dewasa ini, mengapa tidak menampilkan juga koleksi sejenis e-book, e-jurnal, atau koleksi digital lainya.? Kedua, pentingnya buku dan aktivitas membaca yang direpresentasikan juga sebenarnya sungguh menarik. Namun, satu hal yang perlu digaris bawahi adalah ketika buku agama Islam dianggap suatu hal yang tidak penting. Adegan Fikri ketika memandang remeh buku yang ditawarkan bapaknya seolah-olah  menandakan membaca buku agama itu seperti akan membuat pikiran pembaca menjadi sempit, terbelenggu, hidup seperti dikekang karena menganggap banyak aturan. Ada ideologi terselubung yang ingin disampaikan oleh sang pembuat film bahwa buku-buku bernuansa Islami tidaklah terlalu penting untuk dibaca. Ketiga, fungsi perpustakaan direpresentasikan begitu vital misal dalam menyediakan buku-buku untuk mendukung kegiatan belajar mengajar dikampus. Perpustakaan menjadi tempat yang hidup dan dinamis juga tidak sepi. Perpustakaan menjadi tempat rekreasi bukan hanya sekedar tampat belajar dan diskusi. Kondisi seperti ini mematahkan streotipe yang selama ini perpustakaan dianggap sepi (minim pengunjung). Keempat, sistem manajemen perpustakaan tidak luput menjadi arena representasi walau dengan durasi yang terbatas misalnya pada sistem DDC yang digunakan. Kelima, kendati dalam film ini merepresentasikan perpustakaan, buku, dan aktivitas membaca, akan tetapi sosok pustakawan sama sekali tidak ditampilkan. Apakah ini merupakan bentuk streotipe terhadap profesi pustakawan yang belum dianggap penting di Indonesia?

Film “Ketika Tuhan Jatuh Cinta” memberikan beberapa pesan positif kepada penonton pertama, bahwa apapun  masalah yang menimpa seorang manusia, pada hakikatnya itu merupakan bukti Tuhan cinta kepada hambanya dengan cara memberikan berbagai macam ujian dan cobaan hidup yang harus dilalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Kedua, pentingnya aktivitas membaca dan  sebuah buku adalah simbol peradaban dari masa ke masa yang bisa membawa perubahan bangsa ke arah  yang lebih baik. Ibarat lilin buku dapat memberikan cahaya dari kegelapan. Dengan membaca secara tidak langsung akan membuat manusia mempunyai pola pikir yang lebih maju sehingga mampu berpikir secara holistik terutama dalam menghadapi berbagai masalah misalnya cobaan hidup. Ketiga, kehadiran perpustakaan itu sangatlah penting. Selain sebagai sebagai pusat sumber informasi yang terpercaya, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan, tentunya juga sebagai institusi yang menjaga dan melestarikan peradaban manusia untuk masa yang akan datang.

Catatan kaki:
(1) Jejak pendapat yang dilakukan Kompas tentang perpustakaan, bahwa selama beberapa tahun terakhir, minat masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan terus turun. Hal itu setidaknya tampak dari merosotnya jumlah kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Nasional selama lima tahun terakhir. Rendahnya minat berkunjung ke perpustakaan antara lain juga dipengaruhi oleh belum memadainya akses masyarakat ke perpustakaan, minat baca masyarakat masih dianggap rendah dan adanya teknologi digital yang bisa diakses melalui gawai dalam mencari informasi dan ilmu pengetahuan (Kompas, 16/9/2015).

(2) Dalam acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Kantor Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih, mengatakan bahwa sebanyak 10 persen masyarakat Indonesia yang umurnya di bawah 10 tahun gemar membaca, dan 90 persen penduduk gemar nonton televisi dan tidak suka membaca. Artinya minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah (Antaranews, 18/10/2015).

Daftar Pustaka
Buku:
  • Barker, Chris.2004.Cultural Studies: Teori dan Praktek, Yogyakarta: Kreasi Wacana.
  • Devereux, Eoin.2003.Understanding the Media, London: Sage Publications
  • Downes, Brenda, Miller Steve. 1998.Media Studies, London: TheMc Graw-Hill.
  • Laksmi, 2007.Tinjauan Kultural Terhadap Kepustakawanan: Inspirasi Dari Sebuah karya Umberto Eco, Jakarta: Sagung Seto
  • Marris, Paul, Thornham, Sue. 2000.Media Studies: A Reader, Washington: New York University Press.
  • Stokes, Jones.2003.How To Do Media & Cultural Studies, London: Sage Publications.
  • Vera, Nawiroh.2014.Semiotika Dalam Riset Komunikasi, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.
Jurnal:
  • Kurnia, Novi, 2006, Lambannya Pertumbuhan Industri Perfilman (internet), Maret, Volume 9, No.3 Hal.1. <http://jurnalsospol.fisipol.ugm.ac.id/index.php/jsp/article/view/223/218.> (diakses 21 Oktober 2015).
Seminar:
  • Seminar Nasional Komunikasi Indonesia dalam Membangun Peradaban Bangsa, Bali, 2013, Isu Lokalitas Dalam Film Indonesia (Kajian Counter Hegemony dalam Film Indonesia 1999 – 2012, Sari Monik Agustin, Lestari Nurhajati, Tritama Chaerani, Jakarta: Universitas Al Azhar Indonesia. 
Situs:
  • Antara News (2015), 90 Persen Orang Indonesia Tak Suka Baca Buku: http://www.antaranews.com/berita/526116/90-persen-orang-indonesia-tak-suka-baca-buku, diakses tanggal 29 Oktober 2015
  • Cinema XXI, Ketika Tuhan jatuh Cinta: http://www.21cineplex.com/ketika-tuhan-jatuh-cinta,3527.htm, diakses tanggal 29 Oktober 2015
  • Hazliansyah, 2015, Helvy Tiana Rosa Filmkan Novel ‘Ketika Mas Gagah Pergi’(Internet), Republika: http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/15/07/03/nqwpei-helvy-tiana-rosa-filmkan-novel-ketika-mas-gagah-pergi, diakses 29 Oktober 2015
  • Tribun Medan (2015), Jangan Heran Kalau Warga China Bisa Sukses di Ekonomi:http://medan.tribunnews.com/2015/01/12/lihat-foto-ini-jangan-heran-kalau-warga-china-bisa-sukses-di-ekonomi, diakses tanggal 21 Oktober 2015
  • Wikipedia, Ketika Tuhan Jatuh Cinta:  https://id.wikipedia.org/wiki/Ketika_Tuhan_Jatuh_Cinta, diakses tanggal 21 Oktober 2015
  • Wiwoho, Laksono Hari (2015), Popularitas Perpustakaan Semakin Pudar Dilibas Digital:http://edukasi.kompas.com/read/2015/09/16/09111961/Popularitas.Perpustakaan.Semakin.Pudar.Dilibas.Digital?page=2, diakses tanggal 21 Oktober 2015.
  • Sutarmi, 2015, 90 Persen Orang Indonesia Tak Suka Baca Buku (internet), Antara News: http://www.antaranews.com/berita/526116/90-persen-orang-indonesia-tak-suka-baca-buku, diakses 21 Oktober  2015

Download versi PDF: Representasi Perpustakaan Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta (Analisis Semiotika Roland Barthes )

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Representasi Perpustakaan Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta (Analisis Semiotika Roland Barthes )"