Memaknai 4 Puisi Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta

Advertisement
Ada yang sudah pernah nonton film Ketika Tuhan Jatuh Cinta? Buat para anak muda yang suka nonton film Indonesia harusnya sih sudah menontonnya karena film ini telah dirilis sejak tanggal 5 Juni tahun lalu. Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta ini di sutradarai oleh Fransiska Fiorella adaptasi dari sebuah novel karya Wahyu Suljani. Film bergenre drama ini diproduksi oleh Studio Sembilan, Leica Production dengan durasi 105 menit.

Tokoh utama dalam film Ketika Tuhan Jatuh Cinta dibintangi oleh Reza Rahadian yang berperan sebagai Ahmad Hizalul Fikri. Ia seorang mahasiswa sekaligus seniman pasir yang begitu tegar dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup yang bertubi-tubi. Dari mulai orang tuanya yang memaksakan kehendak, kisah percintaanya yang kandas karena perjodohan, hingga kedua orang tuanya meninggal. Kata mutiaranya yang menyentuh hati berbunyi "Tidak kau renungkan, bahwa segala cobaan dan masalah yang terjadi dalam hidup hingga memaksa kita untuk meneteskan air mata adalah suatu pertanda...."

Saya menonton film Ketika Tuhan Jatuh Cinta sebenarnya sudah lama setelah beberapa bulan film itu dirilis. Saat itu saya hanya sebagai penonton pasif. Nah, untuk sekarang saya ingin mencoba menjadi penonton yang sok berkomentar (hahaha). Itu juga kebetulan karena ada tugas kuliah khusus mengenai representasi perpustakaan dalam film tersebut. Sementara ini, untuk hasil analisis tugasnya masih belum saya publikasikan karena menunggu nilainya dulu. Iseng-iseng saja, sembari menunggu nilainya, saya ingin memaknai 4 puisi dalam dalam film tersebut.  Berikut 4 puisinya:

Puisi 1
Aku menjadi sebait puisi yang kesepian
Semakin ku coba bernyanyi, kian sesak hatiku
Sabda-sabda cintaku, kini serasa tak bermakna lagi
Adalah ketika yang kusanjung tak memiliki arti bahasa hati
Puisi itu ditulis oleh Leni (Aulia Sarah) teman ospek kuliah Fikri dan Irul (Ibnu Jamil). Puisi yang ditulis oleh Leni itu adalah bentuk kekecewaan terhadap Fikri yang menganggapnya hanya sebagai seorang teman. Padahal, disatu sisi Leni yang memendam perasaan terhadap Fikri menginginkan hubungannya bukan hanya sebatas teman melainkan lebih dari itu yang mempunyai hubungan khusus. Kekecewaan ini terjadi ketika Leni dan Fikri mengobrol ditaman. Sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba datanglah Irul. Dengan mendatangi Leni dan Fikri, sang Irul berceloteh bahwa ia mencari-cari Fikri tapi ternyata ada di taman sedang berpacaran. Saat Irul bilang "berpacaran" itulah, oleh Fikri secara spontan ditepis bahwa ia hanya "temenan" bukan pacaran. Mendengar omongan Fikri itu, seketika raut muka Leni terlihat kecewa.
Leni, Fikri dan Irul Teman Ospek Kuliah
Leni, Fikri dan Irul teman ospek kuliah
Raut Muka Leni Kecewa
Raut muka Leni kecewa karena perkataan Fikri yang menganggap sebatas teman
Puisi yang dibuat Leni ditulis di perpustakaan kampus. Kekecewaan Leni tampak pada kata-kata kesepian; yang menandakan sunyi atau lengang. Hati Leni terasa hampa ketika Fikri mengucapkan hanya sebagai seorang teman (walau ketika itu diucapkan sembari bercanda di depan Irul). Leni mencoba menghibur diri namun malah semakin merasakan hampa dihatinya. Pemilihan kata-kata sabda cinta menunjukan betapa besar sekali kasih sayang Leni terhadap Fikri. Sabda biasanya perkataan dari Tuan, nabi atau raja yang benar-benar agung. Kekecewaan itu tampak dengan luapan perasaanya yang merasa itu tidak bermakna lagi. Kata sanjung mencerminkan makna pujian, menghormati, kagum terhadap seseorang. Dalam hal ini ditujuakn untuk Fikri. Namun oleh Leni dianggap itu tak berarti karena Fikri dianggap kurang peka terhadap Leni.
Leni Membuat Puisi
Leni membuat puisi kekecewaanya di perpustakaan
Puisi 2
Langit masih biru, sejak pertama kali diciptakan sampai sekarang. Embun pun masih terang dan sejuk setiap kali hadir di dedaunan yang selalu merindunya tanpa henti.. Namamu pun rupanya tak mau kalah, masih tetap tersimpan di hati ini sejak waktu mempertemukan.
Akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan. Ruhku bertasbih pada Tuhan semesta alam.. Isyarat cinta kepada-Nya dan kepadamu. (Ahmad Hizalul Fikri)
Puisi 2 ini dibuat oleh Fikri ketika Leni telah berhasil menyelesaikan ujian sidangnya. Sembari memberikan lukisan,  ia memberikan puisi itu kepada Leni dan juga sebaliknya.
Puisi Fikri
Puisi Fikri untuk Leni
Pemilihan kata-kata romantis ala anak muda disandarkan kepada alam seperti langit biru dan embun terang dan sejuk. Bagi Fikri pada kenyataanya ia juga memendam perasaan terhadp Leni. Karenanya ia ungkapkan sejak pertama kali bertemu nama Leni masih tetap tersimpan dihatinya. Tentu saja ini layaknya langit biru yang tak pernah berubah dan embun sejuk dipagi hari di dedaunan yang selalu dirindukan. Seperti itulah kira-kira hati Fikri terhadap Leni.

Oleh karenanya Fikri menyatakan perasaanya yang ditujukan kepada sang pencipta yang telah menciptakan makhluk begitu indah, yaitu Leni. Pada akhirnya sungguh sebuah keadaan yang tak terduga bagi Leni. Ternyata Fikri mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya. Oleh karena itu, begitu bahagianya Leni ketika membaca bait terakhir puisi dari Fikri dengan kata-kata "Isyarat cinta kepada-Nya dan kepadamu"
Raut Muka Leni Bahagia
Raut muka Leni bahagia setelah membaca puisi Fikri, terutama ketika membaca bait terkakhir
Puisi 3
Hari berganti, waktu pun berlalu.
Tak mau memahami.
Kisah yang telah kau berikan padaku.
Kini ku bingkai indah.
Tak mau ku hapus.
Walau dengan kehadiran pangeran lain.
Puisi 3 ini dibuat oleh Leni yang diberikan berbarengan dengan puisi 2 yang dibuat Fikri.
Puisi Leni
Puisi Leni untuk Fikri
Tampak puisi dari Leni ini mengisyaratkan dalam perasaanya bahwa ia menganggap perasaan Fikri kepada dirinya masih sebatas teman sehingga masih terlihat kekecewaanya itu pada kata "tak mau memahami". Meskipun demikian, ia tetap merasa bahagia dengan apa yang dilaluinya bersama Fikri. Bahkan oleh Leni dianggap sebagai kenangan indah yang tak terlupakan walaupun nanti dikemudian hari ada laki-laki lain.

Puisi 4
Berkali-kali sudah ku dapati, bahwa rasa begitu menikamku
Memendam ini sangat menyakitkan untukku
Melihatmu aku mampu tersenyum
Disaat bersamaan aku mampu untuk terbaring, hening, diam. Luka ini begitu dalam hingga pasir pun tak dapat berkata apapun hingga tangan tak mampu bergerak
Lupa aku apa itu artinya cinta
Puisi 4 ini juga dibuat oleh Fikri yang merasa kecewa karena ketika sudah berhubungan serius bersama Leni, namun ternyata Leni dijodohkan oleh bapaknya.
Fikri kecewa
Fikri tampak kecewa karena Leni dijodohkan bapaknya
Perasaan Fikri terhadap Leni sebenarnya sudah lama bersemi sejak pertama kali bertemu, namun ia tak pernah mampu untuk mengungkapkannya. Oleh karenanya perasaan yang dipendam itu benar-benar membuatnya menyakitkan. Namun demikian, lebih menyakitkan lagi ketika Leni mengabarkan dijodohkan oleh orang tuanya. Fikri tetap berusaha tegar kendati hal itu terjadi pada dirinya. Ia merasa mati rasa.

Nah, kawan-kawan seperti itulah kira-kira pemaknaan 4 puisi dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta. Makna ini hanya pendapat pribadi saja dan tidak berdasarkan pada analisis keilmuan misalnya semiotika dari Umberto Eco atau Rolands Barthes. Sifat pemaknaanya juga arbitrer, jadi tentunya makna yang saya di tafsirkan akan berbeda dengan makna kawan-kawan pula.

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Memaknai 4 Puisi Dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta"