Kisah Anak Kecil Menangis, Santri dan Kyai

Advertisement
 “Sungguh aku diutus menjadi Rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).” (Abu Hurairah)
Kisah yang saya tulis ini adalah kisah nyata dari salah seorang ustad. Kemarin malam di Masjid Al-Hidayah Pamulang Permai 1 telah memperingati Maulid Nabi Muhammad, SAW 1436 H dan yang mengisi ceramah adalah ustad tersebut. Salah satunya menceritakan tentang pesan yang disampaikan kyai-nya ketika ustad tersebut masih menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Kisahnya memang sederhana, namun pesan yang disampaikan mengandung nasehat yang begitu mendalam.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad, SAW 1436 H
Dalam acara maulid nabi tersebut pokok bahasan utama adalah mengenai suri teladan nabi yaitu akhlak. Ruang lingkup akhlak meliputi akhlak kepada Allah, SWT, diri sendiri, keluarga, sesama manusia dan alam semesta. Salah satu suri tauladan Rasulullah yang harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah akhlak kepada Allah, SWT. Perbuatan yang dianjurkan yaitu agar kita semua pandai bersyukur. Dua peristiwa penting yang pernah dilakukan Rasulullah adalah ketika sholat malam hingga kakinya bengkak. Istrinya, Aisyah penasaran hingga menanyakan kepada baginda nabi. Kisah ini tersirat dalam HR. Bukhari dan Muslim. Aisyah, ia berkata : Rasulullah apabila shalat malam beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak.” A’isyah bertanya: “Mengapa engkau berbuat seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang”. Maka Nabi menjawab: “Tidak bolehkan aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Sungguh sebuah jawaban yang luar biasa. “Tidak bolehkan aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” Ini yang seharusnya kita malu kepada Allah dan Rasulullah. Hendaknya kita sebagai umatnya harus meneladani beliau. Jangan sedikitpun mengeluh dan jadilah manusia yang selalu pandai bersyukur. Semoga kita semua bisa mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Peristiwa kedua adalah ketika beliau menyuruh istrinya agar memasak daging domba. Sebenarnya Rasul jarang sekali memakan daging, namun salah satu daging yang paling disukai adalah daging domba. Beberapa makanan dan minuman yang sering dikonsumsi adalah kurma dan air zam-zam. Ketika memasak daging domba itu, baunya menyebar kemana-mana sehingga para tetangga menyangka di rumah Rasul sedang mengadakan kenduri. Maka, datanglah satu persatu tetangganya ke rumah baginda nabi. Dan istri beliau memberikan daging domba itu kepada setiap tetangga yang datang hingga tidak terasa yang tersisa adalah hanya kaki domba. Istri beliau tentu merasa bingung apa yang harus dijawab ketika baginda nabi bertanya.

Ketika Rasulullah menanyakan masakan daging domba itu, sang istri menjawab," ya Rasulullah, masakan daging domba itu telah habis kecuali hanya tersisa kaki dombanya"

Diluar dugaan, Rasulullah menjawab," Ya Aisyah, kamu salah yang tersisa itu bukanlah benar-benar sisa melainkan yang diberikan tetangga itu yang merupakan sisa kelak diakherat. Kaki domba itu justru hanya dimakan oleh kita dan habis tak berbekas."

Ini artinya, Rasul mengajak kita untuk berpikir hakikat. Apa yang diberikan untuk semua orang itulah kelak akan diperhitungankan diakherat. Sehingga Rasulullah pernah mengucapkan kriteria orang cerdas adalah orang yang sering mengingat mati dan telah mempersiapkan bekalnya nanti untuk akherat dengan banyak berbuat amal shaleh.

Yakin Besok Masih Hidup?
Lantas apa hubungannya si anak kecil yang menangis, santri dan sang kiyai terhadap dua peristiwa dari Rasulullah tersebut? Silahkan simak cerita singkatnya dibawah ini. Ambil hikmahnya untuk kehidupan kita sehari-hari. Semoga kita bisa menjalaninya. Amin.

Di suatu kesempatan sang ustad melihat seorang anak kecil menangis. Lalu ia datangi dan menanyakannya.
"Dek kenapa nangis?"
"Uangku habis, jadi besok gak bisa jajan lagi," jawab sang anak merengek
Sang ustadpun mencoba menenangkan anak kecil tersebut.
Lalu datanglah kyai dan menanyakan ke santri tersebut
"Ada apa pulan?" tanya sang kyai
"Ini guru, katanya duitnya habis, jadi besok gak bisa jajan," jawab sang ustad
"Ya Allah, kaya besok tahu aja kalau masih hidup," jawab sang kiyai dengan yakin sembari meninggalkan ustad tersebut.

Apa yang ada dalam benak pikiran teman-teman? Sepintas memang anak kecil tak mengerti akan itu. Tapi sangat jelas pesan itu ditujukan untuk kita orang-orang dewasa yang ingin bersikap cerdas seperti diungkapkan Rasulullah. Tentu ini bagi yang merasa. Tak usah memikirkan besok yang belum pasti, pikirkan sekarang yang sedang dijalani dengan banyak melakukan perbuatan amal sholeh dan bersyukurlah dengan apa yang ada saat itu. Semoga kita semua termasuk dalam orang-orang yang bisa pandai bersyukur. Amin...

Salam blogger pustakawan

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Anak Kecil Menangis, Santri dan Kyai"