Menyoal Kebanggaan Metadata Katalog Perpustakaan

Advertisement

Kalau saya lihat, tidak sedikit para pustakawan yang merasa bangga apabila telah memiliki katalog daring perpustakaannya yang bisa diakses oleh pemustaka melalui internet. Tentu ini tidak salah, karena mereka menganggap bahwa bisa memberikan informasi koleksinya secara daring itu merupakan bagian dari penerapan teknologi informasi dan komunikasi yang terus mengalami perkembangan hingga sekarang ini.

katalog daring

Jangan lupa, alih-alih merasa bangga itu, tapi tentu menurut hemat saya informasi koleksi yang biasanya berupa metadata itu ada tingkatannya. Sebab, tidak sedikit metadata katalog perpustakaan daring yang ada itu juga kosong. Memang, pemustaka (user) tak peduli apabila ada salah satu metadata di katalog daring itu kosong misalnya sebut saja nomor klaisifikasinya. Bagi pemustaka yang terpenting biasanya  tahu koleksi yang sedang diaksesnya itu tentang apa sih? Isinya apa saja sih? dan lain sebagainya.

Menyoal metadata katalog perpustakaan itu, apa yang kira-kira paling terberat untuk mengisinya? Misalnya mulai dari judul, nomor panggil, pengarang, penerbit, tahun terbit, kota terbit, ISBN, deskripsi fisik, tipe media, subyek, edisi, abstrak , dan lain sebagainya.

Iya memang, sekarang dengan adanya fitur copy cataloging, semua metadata itu bisa diisi secara otomatis. Tapi, menurut hemat saya, ada satu hal yang tidak bisa main ambil atau copy dari semuanya. Apa itu? Yakni ringkasan/catatan/resensi dan apalah sejenisnya semacam komentar terkait isi dari koleksi tersebut. Kenapa demikian? Karena minimal pustakawan harus membaca konten koleksinya itu. Tidak serta merta, sekonyong-konyong asal copy paste dari web lain. Disinilah ujian seorang pustakawan yang sesungguhnya. Bukan sekedar teknis, menginput metadata koleksi. Namun, lebih dari itu.

Membuat catatan koleksi tersebut secara mendalam akan sangat bermanfaat dan inilah seharusnya bentuk kebangaan tertinggi seorang pustakawan. Selain pemustaka lebh puas, tentunya bisa memancing diskusi dari para pemustaka atau bahkan pustakawan lain. Bisa jadi, tanggapan antar pustakawan satu dengan yang lain itu akan berbeda karena menyangkut mindset, pengetahuan, pengalaman si pustakawan tersebut.

Ini menarik bukan kalau seandainya pustakawan bisa membuat semacam komentar dari setiap koleksi yang diinput di katalognya. Tentu ini memerlukan waktu lama. Belum lagi bagaimana seandainya koleksi tersebut koleksi bersifat teknis katakanlah misalnya koleksi teknik fisika, kimia, biologi, dan sebagainya. Ini tentu akan susah. Oleh karena itu, pustakawan yang berkerja di perpustakaan umum atau sekolah setidaknya bisa melakukan itu karena bukunya yang masih bisa dipahami.

Pengalaman saya sendiri dengan koleksi khusus ketenaganukliran, sering kali untuk yang bersifat teknis, angkat kaki alias mundur. Kecuali koleksi-koleksi yang bersifat umum atau sosial yang masih bisa saya pahami.

Oh, iya satu lagi, hingga sekarang saya juga bukanlah pustakawan yang benar-benar teruji karena untuk metadata koleksi saja khususnya pada review koleksi masih sering kali mengambil dari website lain. Benar-benar saya masih bukanlah pustakawan sesungguhnya. Makanya sampai sekarang saya belum merasa bangga alias puas dengan metadata katalog daring di perpustakaan yang saya kelola. Bagaimana dengan teman-teman?

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menyoal Kebanggaan Metadata Katalog Perpustakaan"