Autokritik Pustakawan: Sebagai Kontrol Sekaligus Refleksi Pribadi

Tulisan Autokritik Pustakawan ini telah di terbitkan dalam buku Antologi Kepustakawanan yang berjudul Literasi dan Pustakawan 4.0 yang tergabung dalam Komunitas Menulis Pustakawan (KMP) halaman 191. Berikut informasi lengkap bukunya:

Literasi dan Pustakawan 4.0

  • Judul: Literasi dan Pustakawan 4.0
  • Pengarang: Agung Nugrohoadhi, dkk
  • Penerbit: Yuma Pustaka
  • Kota Terbit: Surakarta
  • Tahun Terbit: 2019
  • Halaman: 422
  • ISBN: 978-623-7128-28-1

Selain itu juga saya publish versi vlognya. Berikut tulisan lengkap dan vlognya:

Autokritik Pustakawan

Sudah berapa lama anda menjadi pustakawan? Apa saja yang selama ini anda kerjakan? Senang atau terpaksakah anda menjalaninya? Kapan dan buku terakhir apa yang anda baca? Sudah benar-benar merasa terliterasikah anda? Seberapa pentingkah memandang profesi anda dalam kehidupan ini?

Sederet pertanyaan itu bukanlah untuk anda para pustakawan di mana pun berada. Pertanyaan itu adalah untuk diri saya sendiri. Tentunya sebagai autokritik, kontrol sekaligus refleksi pribadi selama saya menjadi pustakawan. Sungguh saya tidak menyesal menjadi seorang pustakawan, bekerja di perpustakaan paruh waktu sejak dari mahasiswa hingga sekarang. Ini bukan lebay, tapi sejujurnya saya ungkapkan apa adanya. Harus saya akui, perpustakaan adalah tempat di mana saya menemukan pilihan hidup dengan penuh kemerdekaan, sadar dan tanpa paksaan. Boleh dibilang, menjadi pustakawan dan bekerja di perpustakaan adalah laboratorium kehidupan saya sendiri di tengah kehidupan yang penuh tantangan ini.

Lantas, sanggupkah autokritik tersebut menjadi renungan sekaligus evaluasi diri? Entahlah, yang jelas saya harus tetap berusaha sebisa mungkin agar dapat terus memperbaiki diri sehingga kelak bisa melakukan hal terbaik untuk diri sendiri dan pastinya juga untuk modal layanan pemustaka. Selanjutnya, saya tidak akan menjawab semua pertanyaan tersebut, melainkan hanya tiga saja, yakni terkait waktu untuk membaca, kemampuan literasi, dan perspektif pribadi terkait refleksi kecintaan profesi pustakawan.

Membaca

Pustakawan bagi saya sendiri adalah seorang yang harus paham dengan dunia aksara. Itu saja dulu. Terlepas era sekarang sering kali dihubungkan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi hingga memunculkan sebutan profesi baru, konon dengan nama yang lebih modern misal semacam spesialis informasi, pengelola aset digital dan apalah sejenisnya, tapi menurut hemat saya adalah tetap satu, yakni kemampuan memahami dan memaknai kumpulan aksara alias membaca. Itulah autokritik pertama bagi saya pribadi. 

Menyoal itu, jujur akhir-akhir ini saya masih belum berani untuk berbicara lantang kepada pemustaka soal ajakan positif bahwa aktivitas membaca adalah penting, terkecuali itu dilakukan untuk keluarga saya sendiri. Mengapa? Karena sejatinya tanpa harus menggembar-gemborkan untuk membaca, maka saya harus memberi contoh terlebih dahulu. Orang yang suka membaca sejatinya akan terlihat dari perilakunya sehari-hari misalnya dari cara dia berpikir, bertindak hingga mengambil keputusan. Disisi lain, pastinya akan berbeda dari orang-orang yang jarang membaca karena biasanya orang yang rajin membaca itu akan terlihat dari produktivitas hidupnya sebagai contoh mempunyai karya yang bisa bermanfaat untuk orang lain. 

Memberi contoh itu mudah. Akan tetapi, menjadi contoh itu yang sulit. Saya bisa saja berkisah memberi contoh kepada pemustaka tentang orang-orang yang sukses karena rajin membaca. Namun, akan lebih menarik lagi apabila itu terjadi pada diri sendiri. Jangan sampai saya semangat mengebu-gebu menyosialisasikan bahwa membaca itu penting, tapi saya sendiri tidak melakukan aktivitas membaca secara periodik. Harus saya akui, waktu membaca misalnya untuk buku saja, perbandingannya masih kalah jauh dengan memanfaatkan internet. Walaupun ketika memanfaatkan internet juga saya gunakan untuk membaca dan menulis, tapi sering kali saya kalah dengan godaan seperti menonton film daring dan video di Youtube sehingga ketika berselancar di internet itu harus selalu ada kompas, yakni tujuan yang jelas. Mengenai kisah itu, pernah saya singgung juga di buku Dua Dunia Seirama: Secarik Kisah Pengalaman Menulis Pustakawan Blogger.

Idealnya, saya harus banyak meluangkan waktu untuk membaca buku dengan target tertentu misalnya seminggu berapa buku? Lantas buku-buku apa saja yang menjadi prioritas untuk dibaca? Kemudian dalam sehari berapa jam yang saya harus manfaatkan secara khusus untuk membaca? Dan masih banyak yang lainya. Sejatinya manfaat dari aktivitas membaca yang konsisten dari waktu ke waktu merupakan “tambang emas” bagi seorang pustakawan, dimana itu kelak akan menjadi akumulasi pengetahuan (tacit), yang apabila tidak di eksplisitkan, maka merupakan sebuah kerugian besar. Hasil dari membaca itu yang di padu dengan pengalaman kehidupan, maka akan membuat pustakawan semakin memiliki banyak imajinasi, di mana pada satu titik akan bisa saling bersinggungan. Titik yang bersinggungan itulah apa yang dinamakan dengan ide/gagasan. 

Kembali ke autokritik terkait membaca. Selama ini, aktivitas membaca yang saya lakukan hanya serampangan, tak tertarget dan tidak lama misalnya hingga berjam-jam. Apa artinya ini? Berarti saya belum menjadi seorang pembaca yang konsisten, belum menjadi seorang pembaca yang benar-benar “lapar” dengan bahan bacaan, belum menjadi seorang kutu buku. Kalau modelnya seperti itu, bagaimana saya harus mengajak pemustaka apabila waktu untuk membaca saja saya masih belum ideal. Jangan sampai saya teriak-teriak pentingnya membaca kepada pemustaka, tapi saya sendiri masih kurang memanfaatkan waktu untuk membaca apalagi kalau sampai tidak membaca. Itu sungguh keterlaluan.

Literasi

Autokritik kedua adalah literasi. Dalam kurun waktu tiga tahun ini, istilah literasi sering kali digaungkan oleh berbagai pihak bahwa istilah tersebut sangat penting untuk kemajuan dan kemandirian bangsa. Bahkan, kepopuleran istilah tersebut bisa dibuktikan dengan melihat di laporan statistik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Cobalah masuk melalui akun anda dan disana akan terlihat statistik(1) pencarian terbaru mulai dari harian, mingguan, bulanan, tahunan bahkan, hingga sepanjang masa. Menariknya ketika tulisan ini dibuat, istilah literasi masuk dalam statistik  pencarian sepanjang masa dengan istilah-istilah lain sebanyak 41.690.208 kata. Dari total pencarian itu, kata literasi sendiri sejumlah 39.699 kata. Merujuk statistik tersebut, apa sebenarnya makna literasi itu? 

Menurut KBBI Daring pengertian literasi sendiri mencakup dua hal. Pertama, pengertian literasi yang mencakup tiga bagian, yakni kemampuan menulis dan membaca, kemudian pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu misalnya pemanfaatan komputer, serta kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Kedua, penggunaan huruf untuk merepresentasikan bunyi atau kata. 

Di Indonesia literasi merupakan kegiatan penting yang menjadi program gerakan nasional. Dibawah koordinasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dibuatlah apa yang disebut dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Dikatakan bahwa program ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah sendiri melainkan dari berbagai pihak seperti dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua, dan masyarakat. Secara khusus perpustakaan dan pustakawan termasuk di dalamnya. Dalam program GLN itu terdapat enam dimensi literasi, yakni literasi baca dan tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Pertanyaannya adalah dari semua dimensi literasi itu, apakah saya sebagai pustakawan benar-benar sudah terliterasi? Sebab, lagi-lagi jangan sampai itu hanya sekedar lisan belaka, sementara dalam kehidupan keseharian itu tidak dipraktikkan. Apalagi dengan banyaknya dimensi literasi itu, maka harus banyak memahami konteks dan mempraktikkannya.

Saya coba ambil contoh satu kasus saja yaitu dimensi literasi digital dimana era sekarang dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat, maka konon katanya harus mempunyai kemampuan literasi digital. Menyoal itu, apakah saya benar-benar sudah terliterasi sesuai dengan pedoman Kerangka Literasi Digital Indonesia? Saya patut bersyukur dengan adanya kerangka tersebut membuat saya harus banyak-banyak berkontemplasi kembali.

Saya percaya mempraktikkan kemampuan literasi digital untuk diri sendiri itu bisa dilakukan. Hanya saja, satu hal yang kadang masih belum berani saya lakukan adalah ketika memberikan klarifikasi misalnya di media sosial kepada teman-teman yang sering kali saya temukan masih terjebak dalam penyebaran berita hoax. Era internet ini, produksi informasi hoax ini sering kali diluar batas. Bahkan, tentang agama sekalipun. Miris memang. Nadirsyah Hosen, seorang Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Nahdatul Ulama (NU) di Australia dan New Zealand pernah mengkalrifikasi infomasi hoax dari warganet yang memalsukan nama sahabat nabi untuk mengritik seseorang. Sungguh etika informasi sering kali diabaikan. 

Perasaan takut untuk mengklarifikasi itu kemungkinan karena saya tipe orang-orang yang tidak mau menyinggung perasaan orang lain apalagi hingga berseteru yang menyebabkan konflik. Sebab tidak sedikit, ketika nanti diklarifikasi akan merasa tersinggung. Khusus untuk orang-orang terdekat yang memang sudah mengenal karakter pribadinya, mungkin masih bisa saya lakukan. Namun demikian, di grup seperti WhatsApp yang memang belum mengenal satu sama lain, tentunya akan menjadi beban berat tersendiri. Inilah autokritik bagi saya sendiri yang masih belum mempunyai keberanian selain merasa pengetahuan saya yang masih minim untuk melakukan klarifikasi kebenaran. Pada akhirnya saya hanya bisa diam dan berdoa semoga mereka yang menyebarkan berita hoax suatu hari nanti akan sadar. Apabila dihubungkan dengan salah satu hadis yang pernah diriwayatkan oleh Muslim tentang kemungkaran, maka level saya adalah masih berada paling dasar. Berikut bunyi hadisnya:
Abu Sa'id Al Khudry ra. menginformasikan, Muhammad Rosulullah Saw. bersabda, "Siapa saja diantara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, makah ubahlah dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga, maka ubahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lamahnya iman." (HR. Muslim). 
Jika saya visualisasikan, tingkatannya  tampak seperti gambar berikut ini:
HR. Muslim

Refleksi Cinta Profesi Pustakawan

Autrokritik ketiga adalah terkait kecintaan terhadap profesi pustakawan. Selama menjadi pustakawan, tidak sedikit saya menemukan dari rekan-rekan pustakawan yang menjalankan pekerjaan sehari-harinya itu hanya rutinitas belaka tanpa makna. Apalagi di perpustakaan milik pemerintah, masih banyak pegawai yang memilih menjadi pustakawan karena dianggap pekerjaannya yang santai tanpa didasari faktor kecintaan. Bagi saya pribadi, itu tentu urusan mereka masing-masing. Namun, yang menjadi masalah adalah untuk diri saya sendiri. Jangan-jangan secara tidak sadar, saya juga termasuk pustakawan yang hanya bekerja karena rutinitas belaka. 

Sejatinya, seberapa pentingkah profesi pustakawan hadir di tengah-tengah masyarakat? Apalagi di era digital ini, apakah pustakawan masih layak diperhitungkan? Sejauh ini, istilah disrupsi masih saja menghantui keberadaan profesi pustakawan. Banyak pro dan kontra terkait masih perlu atau tidaknya pustakawan di era serba digital ini. 

Saya sendiri mempunyai perspektif apabila memang pustakawan itu dianggap penting, maka harusnya saya menjalani profesi ini dengan penuh segenap cinta. Meminjam istilah dari Erich Fromm bahwa cinta itu adalah seni seperti halnya hidup ini, maka selayaknya ketika menjalani profesi pustakawan itu harus dimengerti dan diperjuangkan. Sayangnya hingga sekarang, saya merasa masih belum melakukan sesuatu yang lebih berarti untuk profesi yang saya geluti ini.

Lalu, idealnya refleksi cinta profesi pustakawan itu seperti apa? Saya mencoba menghubungkan dengan perspektif saya tentang pustakawan. Diawal saya sudah katakan bahwa pustakawan itu adalah seorang yang harus paham dengan dunia aksara. Dari perspektif itu, maka saya bisa menyimpulkan bahwa aktivitas membaca adalah rutinitas utama seorang pustakawan. Membaca bagi pustakawan adalah mutlak. Kalau pustakawan jarang membaca, maka bekal layanan seperti apa yang akan diberikan ke pemustaka? 

Sementara itu, saya sendiri termasuk pustakawan yang belum melakukan aktivitas membaca secara konsisten. Terkadang saya malu sendiri kepada mereka yang memang memiliki hobi baca bisa berjam-jam menyelami lautan aksara. Membaca bagi mereka persis layaknya kebutuhan. Saya sendiri justru belum mampu melakukan seperti itu. Saya juga merasa malu dengan mereka para pegiat literasi yang dengan segenap cinta menghadirkan bahan bacaan ditengah-tengah masyarakat bahkan, hingga ke pelosok-pelosok desa yang sulit dilalui.  

Cinta menumbuhkan produktivitas seseorang. Mereka para pegiat literasi adalah orang-orang yang dipenuhi cinta kepada dunia aksara sehingga terus semangat untuk menghadirkan bahan bacaan kepada masyarakat luas. Bahkan, hingga ada yang berkarya menuliskan pengalamannya agar bisa dibaca untuk para pegiat literasi lain. Oleh karenanya, kadang dalam benak pikiran saya terlintas bahwa sejatinya untuk menjadi pustakawan itu tak perlu harus melanjutkan sampai ke perguruan tinggi. Syaratnya cukup satu. Mereka-merekalah yang senang bergelut dengan dunia aksara. Itu yang lebih tepat. 

Disisi lain, refleksi cinta profesi sendiri itu idealnya tercerminkan dalam tiga sisi peran yang selalu ada dalam rutinitas kehidupan. Apa saja tiga sisi peran itu? Saya membayangkan tampak seperti gambar berikut ini:

Refleksi Cinta Profesi Pustakawan

Perpustakaan adalah institusi dimana tempat utama saya bekerja sebagai pustakawan. Kemudian sisi keluarga idealnya sifat-sifat pustakawan itu juga harus saya praktikkan di keluarga misalnya menjadi contoh dalam aktivitas gemar membaca, aktif menulis, berpikir kritis, dan lainnya. Sementara di masyarakat juga tak berbeda jauh dengan sisi keluarga. Pendek kata, refleksi kecintaan profesi itu juga secara tidak sadar akan selalu hidup dimanapun berada. Entah dikantor, keluarga maupun masyarakat. Lalu, apakah saya sudah melakukan semua itu? Sampai saat ini masih menjalani prosesnya. Semoga mampu. 

Penutup

Membaca, literasi dan refleksi kecintaan profesi pustakawan itu adalah autokritik saya sebagai pustakawan. Sejatinya masih ada yang lainya, namun yang lebih perlu menjadi perhatian utama adalah tiga hal itu. Saya merasa masih belum menjadi pustakawan ideal karena pustakawan ideal itu adalah pustakawan yang paripurna, pustakawan yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Akhir kata, sebagai penutup izinkan saya menuliskan tiga puisi alakadarnya yang pernah saya rangkai untuk renungan penulis sendiri.  Berikut puisinya:

Teman Teks

Menjelajahi teks
Banyak rintangan
Baru lima baris
Seketika mata menutup

Begitulah teks
Hanya orang terpilih yang menjadi temannya
Jika engkau kuat
Bersyukurlah

Pamulang, 20/1/2019

Merangkai Kata

Merangkai kata
Itu perlu makna
Perlu keindahan
Agar abadi

Merangkai kata
Itu perlu hati-hati
Perlu kesejukan
Agar terkenang

Merangkai kata
Itu harus dari hati
Jangan pernah lukai
Agar tetap damai

Jakarta,8/1/2019

Omong

Sekedar Omong
Itu tak ada arti
Lebih baik menjadi contoh
Lakukan dengan hati

Tak perlu melihat kanan dan kiri
Lurus, menatap kedepan
Yakin dengan apa yang dilakukan
Hanya karena-Nya

Itu tak mudah
Karena perlu latihan
Jika bukan sekarang
Mau kapan?

Niat itu baik
Disertai aksi juga lebih baik
Bukan sekedar omong
Itu saja kawan

Pamulang, 24/1/2019

(1) Penulis mengambil data statistik di situs KBBI Daring pada 22 Mei 2019, Pukul 03.27 WIB. Situs bisa diakses di https://kbbi.kemdikbud.go.id/

Referensi

  • Detik News. 2019. Gus Nadir Prihatin Ada Netizen Palsukan Sahabat Nabi untuk Kritik AHY dan SBY. Terarsip dalam https://news.detik.com/berita/d-4559457/gus-nadir-prihatin-ada-netizen-palsukan-sahabat-nabi-untuk-kritik-ahy-dan-sby. Diakses pada tanggal 22 Mei 2019. 
  • Fromm, Erich. 2002. The Art of Loving. Jakarta: Fresh Book. 
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. 2016. Literasi. Terarsip dalam https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/literasi. Diakses pada tanggal 22 Mei 2019. 
  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Tentang GLN. Terarsip dalam http://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/tentang-gln/. Diakses pada tanggal 22 Mei 2019. 
  • Maulana, Murad. 2018. Dua Dunia Seirama: Secarik Kisah Pengalaman Menulis Pustakawan Blogger. Jakarta: Badan Pengawas Tenaga Nuklir.
  • Republika. 2016. Mengubah Kemungkaran. Terarsip dalam https://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/16/04/04/o53i0d33-mengubah-kemungkaran. Diakses pada tanggal 24 Mei 2019. 
  • Rijal, Hamid Syamsul. 2012. Buku Pintar Hadits Edisi Revisi. Jakarta Barat: Qibla.
  • Syaripudin, Acep, dkk. 2017. Kerangka Literasi Digital Indonesia. Jakarta: ICT Watch.
Video: Salam,
Pustakawan Blogger

Posting Komentar untuk "Autokritik Pustakawan: Sebagai Kontrol Sekaligus Refleksi Pribadi"