AI dan Rasa

AI, terus menjadi perbincangan di tengah masyarakat kita.

Pemanfaatannya, dari mulai yang serius untuk membantu pekerjaan sampai yang remeh temeh untuk sekedar iseng. 

Kalian ada diposisi mana? Pertama atau kedua?

Kehadiran AI, ada yang menerima, juga ada yang menolak. 

Dari yang khawatir dan juga ada yang optimis, bahkan ada yang tak peduli.

Kalian ada diposisi mana? Pertama, kedua atau yang ketiga?

Konon katanya AI itu memudahkan, di sisi lain juga bisa menyisihkan, mengganti mereka-mereka yang tak bergerak cepat. Ada juga yang shifting. Bagi yang tak mampu beradaptasi, maka akan terlindas.

Benarkah itu?

Semua bidang, selalu dikaitkan dengan AI, termasuk dalam hal menulis. 

Banyak sekali tulisan-tulisan yang bertebaran dari hasil AI. 

Sepintas, tampak luar biasa. Cepat, keren, bagus, tapi dalam kasus tertentu, tak ada lagi rasa bangga karena itu bukan murni hasil otak manusia.

Kumpulan pengetahuan bisa dibuat dengan mudah. Data-data dapat diolah dengan cepat. Itu memang bagus, membantu manusia dalam pengambilan keputusan.

Dalam hal menulis dengan memanfaatkan AI, sejatinya bukan sekedar rangkaian tata bahasa yang sempurna.

Tapi, tentang Rasa.

Ya, Rasa! 

rasa

Kita ambil contoh kasus, misalnya ketika kalian ditanya, "menurut anda bagaimana politik di Indonesia?" Lalu anda menjawab dengan bantuan AI dan mengiyakan pasrah sembari mengangguk-anggukan kepala, maka sudah pasti anda malas berpikir dan tak memiliki rasa!

Data dan informasi terkait politik Indonesia memang tersedia banyak. AI bisa mengolah dan menyajikannya dengan cepat dan mudah. 

Tapi, itu belum cukup, sebagai insan manusia, idealnya data dan informasi itu hanyalah pendukung kita dalam proses mengolah rasa. 

Itu kata kuncinya. AI tak memiliki rasa. Kalian punya.

Menurut kalian bagaimana? 

Posting Komentar untuk "AI dan Rasa"