Terima Kasih Era Covid-19 dan Jakarta

Serius, judul diatas tampaknya memang kontradiktif. Ya, tapi begitulah. Saya harus katakan secara jujur karena era Corona/Covid-19 saya jadi teringat akan pekerjaan orang tua dulu, bertani. 

Jadi, begini ceritanya. Dulu saat sejak saya kuliah hingga lulus, saya memang gak kepikiran buat melanjutkan pekerjaan orang tua. Memang, pernah dulu saya sepintas kalau dirumah, nanti ingin ngerjain ini, nanti ingin ngerjain itu. Tapi, ternyata omdo doang. 

desa

Lalu, saya pun bekerja di plat merah. Asyikkan? Uda kerja di daerah sendiri, plat merah lagi. Jadi, nanti bisa sampingannya sambil ngurusin sawah misalnya. Tapi, gak semudah itu bro. Kalau cinta belum datang itu gak bakalan bisa. Kalau bukan dari hati, itu juga gak bakalan bisa. Saya belum tertarik dengan dunia alam. Akhirnya, saya pun meninggalkan kampung halaman karena kondisi kantor yang tak ramah lagi, saya pun mutasi. Hijrah ke kota, kebetulan istri masih tinggal disana juga. 

Nah, setelah beberapa tahun, saya sempat tidak betah lagi. Penyebabnya ya banyak. Entah dari kantor sendiri, ditambah kondisi Jakarta yang tahu sendirikan? Macetnya itu loh. 

Tahun berganti hingga akhirnya datang era Covid-19, cinta itu pun datang. Karena jenuh, saya pun mulai melakukan hal lain. Online terus, lama-lama bosen juga. Online sebelum masa pandemi memang asyik. Tapi, sekarang lain. Kenapa? Ya karena harus dirumah terus, gak bisa kemana-mana. Jadilah, saya mencari kegiatan lain yang lebih fisikly kaya beternak lele juga berkebun alias bercocok tanam. Disinilah cerita dimulai. Saya mulai ingin dekat dengan alam. Saya ingin tinggal di desa dengan suasana yang masih asri, banyak tanaman. Saya ingin berkebun, beternak. Pendek kata, ingin rasanya seperti orang tua menggeluti bidang pertanian. Tapi, kali ini saya lebih cenderung ke perkebunan dan beternak. 

Rasanya tak sabar ingin hijrah ke desa lagi. Rasa itu muncul tentu saja karena suasana era Covid-19 dan pastinya akumulasi selama tinggal di Jakarta yang tak ramah lagi. Macet, berebut di KRL, dan lain-lain. Saya juga harus terima kasih karena sudah merantau di Jakarta. Mungkin, cinta kepada alam tak akan muncul manakala saya tetap di desa terus. Kenapa? Karena sejatinya ketika saya berkebun disini, semua memerlukan uang. Memerlukan lahan. Sementara saya dulu acuh tak acuh terhadap tanaman. Tak kreatif mengolah lahan di desa. Kondisi-kondisi seperti inilah akhirnya saya harus bersyukur. 

Terima kasih era Covid-19. Terima kasih Jakarta. Saya tidak menyesal merantau. Justru dengan merantau, saya jadi cinta kepada alam. Saya sadar. Walaupun, ada satu lagi yang membuat saya ingin hijrah ke desa lagi. Menemani emak yang tinggal sendirian.

Posting Komentar untuk "Terima Kasih Era Covid-19 dan Jakarta"