Kisah Pengalaman Saya Menulis dan Menerbitkan Buku: Dari Mayor Sampai Indie

Advertisement
Cita-cita saya menjadi penulis dan menerbitkan buku merupakan cita-cita sejak pertama kali masuk bangku kuliah diploma (2001). Saat itu, saya berpikir optimis, suatu hari kelak saya akan bisa menerbitkan buku. Entah kapan itu bisa terjadi. Saya punya keyakinan, saya harus bisa menerbitkan buku melalui penerbit, tentunya dengan segenap usaha dan kerja keras saat itu.

Harapan, keyakinan, dan do'a itu akhirnya terkabul juga. Alhamdulillah, pertama terima kasih pada Allah, SWT karena setelah 8 tahun, saya bisa menulis dan menerbitkan sebuah buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor dari Yogyakarta. Tepatnya diterbitkan pada 2009. Apa yang saya rasakan saat itu? Sebuah kepuasan batin yang tidak ternilai dengan apapun. Jujur, pengalaman kebahagiaan itu tidak bisa terlupakan hingga sekarang.
HikmahCita-cita dan keyakinan itu penting karena itu adalah amunisi untuk terus bergerak melaju dalam usaha mencapainya 
Buku pertama yang diterbitkan itu bertemakan komputer dan internet. Saat itu, merupakan pengalaman pertama kali membuat website. Saya berpikir, kenapa tidak tuliskan saja pengalaman tersebut, lalu dikirimkan ke penerbit. Proses penulisan buku pertama tersebut sebenarnya berawal dari sebuah blog dimana saya suka menulis dan sebagai sarana latihannya adalah blog. Setiap hari saya menulis diblog dengan harapan akan memperoleh penghasilan tambahan berupa dolar. Namun seiring waktu berjalan, saya tidak memperoleh apa-apa.

Kendati saat itu saya merasa gagal, beruntung saya masih bisa memotivasi diri. Saya berpikir, walaupun saya gagal mendapatkan dolar, akan tetapi paling tidak saya bisa berlatih menulis setiap hari melalui blog. Dari sinilah, api semangat saya tetap membara, hingga kemudian bisa menyelesaikan sebuah naskah buku karena tugas membuat website dari kantor dan latihan menulis rutin diblog. Sebuah kesempatan dan hikmah dibalik kegagalan yang berujung pada kepuasan batin. Cerita tentang buku pertama ini bisa dibaca disini: Karena Ngeblog Lahirlah Buku Pertama Saya: Drupal 6.0.
Hikmah: Seringkali kita tidak tahu, dibalik hal yang menyakitkan itu akan datang masa kebahagiaan
Kegagalan itu memang menyakitkan. Tapi, dibalik rasa sakit itu ternyata menyimpan hikmah yang tak terkira. Dolar tak kunjung tiba, Alhamdulillah terbit buku pertama. Lantas, berlanjut ke buku kedua (baca: Jual Buku Bekas di Internet Terbitlah Buku Toko Online). Buku kedua ini tidak jauh dengan buku pertama, yaitu ditulis berdasarkan pengalaman ketika menjual buku bekas. Saat itu masih baru bermunculan marketplace di Indonesia. Lalu saya menuliskannya disertai dengan wawancara informan dari para pebisnis online.  Untuk penerbit sendiri masih diterbitkan oleh penerbit mayor yang ada di Yogyakarta. Proses penulisan buku kedua ini hingga diterbitkan sungguh menarik karena ternyata bertepatan dengan keberhasilan saya memperoleh dolar setelah sekian tahun mengalamai kegagalan. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini: Refleksi Ngeblog 7 Tahun: Dollar, Buku dan Biaya Haji Emak.

Naskah Hilang

Setelah buku kedua, tentunya berlanjut dengan buku ketiga bukan? Yup, betul. Tapi, nanti dulu. Draft naskah buku ketiga saya yang ada di dalam notebook dan tablet tiba-tiba hilang diambil pencuri saat solat ashar di Masjid UIN Syarif Hidayatullah. Seketika saya lemas, loyo. Bukan karena noteboook dan tabletnya. Akan tetapi, karena ada draft naskah bukunya itu. Sementara saya tidak membackup naskah tersebut. Na'as, sebuah keteledoran yang tak terlupakan.

Sejak kejadian tersebut, akhirnya sementara saya fokuskan hanya menulis pada blog saja untuk meraup dolar. Kejadian naskah buku ketiga hilang itu membuat saya demotivasi sejenak. Beruntung kejadian tersebut masih sedikit terobati dengan kebahagiaan saya dalam meraup dolar hingga rutin didapatkan setiap bulan. Walaupun pada saat itu masih terasa sakit, paling tidak keberhasilan yang tertunda ketika mendapatkan dolar itu bisa menjadi penawar rasa kecewa akibat si pencuri yang mengambil tas saya itu.
Hikmah: Mengantisipasi risiko itu perlu, secepatnya lakukan jangan ditunda-tunda 
Menginjak tahun 2015, sayapun menerbitkan buku yang ketiga, namun isinya diambil dari kompilasi yang ada diblog saya. Untuk kali ini saya terbitkan melalui penerbit indie. Kenapa memilih penerbit indie? Ada dua alasan. Pertama, ingin mencari pengalaman baru. Seperti apa rasanya menerbitkan buku yang diterbitkan penerbit indie sekaligus dengan pemasaran sendiri. Kedua, dokumentasi tulisan. Saya sadar, tulisan saya yang diblog itu tidak selamanya ada. Bagaimana seandainya bila hosting diblogger itu saya kena semprit. Memang, ada juga website yang bisa digunakan untuk melihat arsip blog misalnya di archive.org, tapi itu lagi-lagi punya keterbatasan karena tidak bisa semuanya terarsipkan. Ada batasan waktunya. Oleh karena itu, belajar dari masa lalu, dimana backup adalah penting. Kompilasi tulisan saya yang ada diblog kemudian saya jadikan buku cetak, maka paling tidak ini sebagai backup yang tersimpan di rak rumah sendiri. Jadi, bila sewaktu-waktu data tulisan yang ada di komputer dan website hilang, minimal saya masih menyimpan versi cetaknya. Hal yang paling mudah, kalaupun versi cetak di rak rumah saya hilang, maka saya masih bisa mencari ke Perpustakaan Nasioanl RI karena buku yang versi cetak itu pasti akan dikirimkan oleh penerbit sebagai kewajiban dari Undang-undang tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Nomor 4 Tahun 1990.

Pada 2016, masih dengan penerbit indie, saya berkontribusi dalam buku bunga rampai yang tergabung dalam banyak penulis pustakawan. Naskah untuk buku bunga rampai tersebut sebenarnya saya ambil dari tulisan di blog juga. Namun, ada yang saya tambahkan dan direvisi. Tulisan yang sama ambil adalah berjudul Tiga Keuntungan Sekaligus Jika Pustakawan Menulis Buku. Kemudian, saya revisi menjadi Ketika Pustakawan Menulis Buku.


Kelebihan dan Kekurangan Penerbit Mayor dan Indie

Lantas, bagaimana dengan sekarang? Apakah masih menerbitkan buku juga? Insya Allah masih. Saat ini naskah masih dalam proses. Kurang lebih ada 4 naskah. Do'akan saja teman-teman semoga bisa segera terbit. Rencananya akan saya kirimkan baik ke penerbit mayor dan juga penerbit indie.

Mungkin ada teman-teman yang bertanya, apa kelebihan dan kekurangan penerbit mayor dan indie? Pada dasarnya, dua-duanya pasti ada kelebihan dan juga kekurangannya masing-masing. Untuk lebih jelasnya berikut saya uraikan kelebihan dan kekuranganya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Informasi ini tentu bukanah hal yang mutlak karena sekali lagi saya tekankan, ini adalah berdasarkan pengalaman saya sendiri. Bisa jadi dengan penulis lain akan berbeda.

Penerbit Mayor:
Kelebihan:
  • Tidak perlu modal, cukup sediakan naskahnya saja (baik sistem royalti maupun sistem jual putus naskah)
  • Pemasaran semuanya urusan penerbit
Kekurangan:
  • Naskah harus mengikuti keinginan pasar sehingga berpotensi ditolak apabila tidak sesuai dengan keinginan penerbit
  • Tidak bisa menentukan royalti/keuntungan sendiri. Artinya harga jual sudah ditentukan oleh penerbit
  • Biasanya royalti per enam bulan, cukup lama
  • Berpotensi ada penerbit nakal yang kurang terbuka terhadap statistik laporan penjualan
  • Kadangkala proses penilaian naskah memerlukan waktu lama sehingga konfirmasi penerimaan atau penolakan naskah jadi lebih lama
Penerbit Indie:
Kelebihan:
  • Naskah pasti diterima, apapun kategorinya dan tema bebas tidak harus mengikuti permintaan pasar
  • Bisa menentukan harga penjualan sendiri sehingga besarnya keuntungan bisa ditentukan sendiri
  • Lebih cepat dalam penerbitan mulai dari editing, layout hingga proses cetak (bergantung banyaknya order)
Kekurangan:
  • Kerja keras pemasaran sendiri (bisa disiasati dengan media daring misal blog, twitter, facebook, instagram, youtube, dll). Tetapi tenang, ada juga penerbit indie yang berperan sekaligus dalam pemasaran juga. Minimal ikut mempromosikannya. 
  • Perlu modal sendiri untuk ongkos cetak (bisa disiasati dengan mencari penerbit indie yang murah tapi berkualitas)
Dengan melihat uraian diatas, kiranya jelas kelebihan antara penerbit mayor dan indie. Sekarang bagi teman-teman yang tertarik ingin menulis dan menerbitkan buku, bisa memilih dan memutuskan mana kira-kira yang akan dipilih.

Memilih Penerbit Indie Yang tepat

Khusus untuk teman-teman yang ingin memilih penerbit indie, maka berhati-hatilah karena sekarang ini memang banyak penerbit indie, namun harus memilih yang benar-benar harga terjangkau dan tentu saja hasil yang berkualitas. Dengan melihat dua kekurangan diatas, setidaknya sudah ada solusi yang bisa dilakukan. Hadirnya internet tentu menjadi lebih mudah dalam teknik pemasaran. Sementara untuk ongkos cetak dengan harga terjangkau dan berkualitas, maka harus benar-benar memilih penerbit indie yang tepat. Oleh karena itu, pilihlah penerbit indie yang sudah terpercaya. 

Lantas, adakah penerbit indie yang mempunyai kriteria seperti yang telah diurakan diatas? Jelas ada donk. Saya rekomendasikan penerbit indie dengan penawaran harga yang terjangkau dan berkualitas. Kebetulan, penerbit indie ini milik sahabat saya Moh. Mursyid, yang sudah berpengalaman banyak menerbitkan buku dan publikasi lainya. Pemiliknya selain penulis juga seorang pustakawan. Jadi, Insya Allah sudah berpengalaman malang melintang di dunia perbukuan. Apa nama penerbitnya? Ini dia: Azyan Mitra Media.
Tips: Pilihlah penerbit indie yang tepat, harga terjangkau dan berkualitas
Lah, emang apa istimewanya kalau yang punya pustakawan sekaligus penulis? Ada loh. Pertama, jaringan. Paling tidak, kalau yang punya pustakawan berarti banyak mengenal pustakawan-pustakawan yang bekerja seluruh perpustakaan yang ada Indonesia. Bayangkan tuh, ini bisa menjadi jalur pemasaran yang memiliki kesempatan besar. Kedua, karena yang punyanya adalah penulis, Insya Allah bakal mengerti tentang dunia penulis dan perbukuan dari mulai proses penerbitan hingga buku tersebut berada di perpustakaan-perpustakaan. Jadi, bisa memahami keinginan setiap naskah penulis yang ingin diterbitkan itu akan seperti apa.

Secara pribadi saya mengenal sahabat saya ini punya idealisme dalam memajukan dunia penerbitan dan literasi di Indonesia. Oleh karenanya, ia ingin membantu siapa saja yang ingin menerbitkan buku secara indie, mudah dengan kualitas hasil yang sebaik-baiknya.

Penerbit yang didirikan sahabat saya ini saya anggap luar biasa. Sebagai seorang pustakawan ia merasa perihatin dengan pertumbuhan literatur khusus dibidang kepustakawanan yang dirasa oleh penerbit mayor masih kurang dilirik. Oleh karena itu, sahabat saya ini berharap dengan penerbitannya bisa  mempercepat tumbuhnya literatur khususnya di bidang kepustakawanan.

Lalu, apa sih kelebihan dari Azyan Mitra Media? Pertama, harga terjangkau (sesuai dengan ketebalan dan pemilihan jenis kertas). Kedua, bisa menerbitkan dalam dua format sekaligus baik cetak maupun e-book. Ketiga, sudah gratis layout buku, desain cover, dan tentunya ISBN. Desain cover bukunya ciamik loh. Keempat, hasil pra cetak selalu dikonsultasikan ke penulis, kelima bisa diajak bekerjasama loh misalnya pelatihan kepenulisan, paket seminar kit, dan publikasi hasil penelitian. Terakhir, tentu saja ikut mempromosikannya. 

Lalu seperti apa sih contoh buku-buku yang sudah diterbitkan? Penasaran? Ini dia:
Contoh Buku Terbitan Azyan Mitra Media
Contoh Buku Terbitan Azyan Mitra Media
Bagaimana? Keren dan mantapkan desain covernya? Jika ada yang ingin tahu cara menerbitkan buku di Ayzan Mitra Media misalnya terkait prosedur kirim naskah, format kerjasama, dan harga silahkan kontak langsung ke sahabat saya yah. Ini kontaknya:
  • HP/ WhatsAp: 085641522841
  • Email: azyanpublishing@gmail.com
  • Website: www.azyanmitramedia.com
Hubungi kontak tersebut, Insya Allah bakalan dijawab secepatnya.

Bukan Akhir Keberhasilan

Kisah pengalaman saya mengenai menulis dan menerbitkan buku baik dari penerbit mayor dan indie diatas tersebut, semoga bisa menjadi pembelajaran buat teman-teman semuanya. Semoga ini bukanlah akhir dari keberhasilan melainkan akan menyusul keberhasilan-keberhasilan lainya yang lebih membahagiakan. Kisah ini bukanlah apa-apa karena hanya seonggok cerita masa lalu yang tidak akan bermanfaat apabila tidak dituliskan dan dibaca oleh teman-teman. Saya hanya seseorang yang terus belajar untuk berkarya lewat tulisan. 

Bagi teman-teman yang mempunyai tulisan yang hanya tersimpan di hardisk komputer dengan kategori apa saja apalagi tema tentang kepustakawanan, kenapa tidak coba untuk terbitkan misalnya dengan mencoba terlebih dahulu memanfaatkan penerbit indie. Sementara bagi teman-teman yang ingin mulai menulis dan mempunyai mimpi untuk menerbitkan buku, maka cobalah dimulai dari sekarang berlatih menulis karena sejatinya tidak ada rumusan pasti untuk bisa menulis selain daripada terus berlatih menulis tanpa henti. Jika ingin berbuat kebaikan dimasa yang akan datang, maka menulis adalah salah satu jalanya karena akan dibaca oleh generasi masa depan. Tertarik? Semoga...

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Pengalaman Saya Menulis dan Menerbitkan Buku: Dari Mayor Sampai Indie"