Tiga Keuntungan Sekaligus Jika Pustakawan Menulis Buku

Advertisement
Menurutku selain menyebarkan ilmu pengetahuan, apabila diukur dengan nilai ekonomi, maka ada tiga keuntungan sekaligus jika pustakawan menulis buku. Apa saja? Pertama, nilai angka kredit besar. Kedua berpeluang adanya passive income. Ketiga, akan saya bahas diakhir tulisan ini. Yang jelas kesemuanya itu akan mengerucut pada satu istilah penting, yakni meningkatnya "income" yang diharapakan.

Terkait angka kredit, saya ingin bercerita sedikit tentang angka kreditku dulu (he...2). Ini bukan tentang angka kredit cicilan rumah atau kendaraan lho. Tapi tentang angka kredit pekerjaanku sebagai pustakawan. Sudah hampir lima tahun semenjak pengajuan kedua angka kreditku pada tahun 2010, hingga sekarang saya belum mengajukan lagi. Alhasil jika sudah mencapai enam tahun, maka jabatan fungsionalku sebagai pustakawan bisa dinon aktifkan. Imbasnya tentu tunjangan jadi menurun dunk (he..2) karena menjadi tunjangan umum bukan lagi tunjangan fungsional pustakawan. Padahal tunjangan fungsional pustakawan ini sudah naik sejak tahun 2013 (baca: Kenaikan Tunjangan Fungsional Pustakawan Tahun 2013). Besarannya lumayan sih, hampir sama dengan tunjangan pejabat eseon IV dikantorku. Lantas bagaiamana naik pangkatnya? Ya, jelas kaga bisa. Dulu sih prediksi setiap dua tahun inginnya naik pangkat (hii....hii... ngarep).

Kenapa angka kreditku belum juga diajukan? Ada banyak faktor. Pertama, karena saat itu sedang sibuk-sibuknya mutasi, jadinya banyak pekerjaan kepustakawanan yang tidak tercatat. Kedua, saat itu saya sedang penyesuaian pekerjaan yang sidikit berbeda karena dari perpustakaan umum ke perpustakaan khusus. Ketiga, faktor menunda-nunda. Inilah sifat buruk yang sejatinya selalu di dengungkan bahwa jangan sekali-kali menunda-nunda pekerjaan karena akan berakibat fatal. Kalau kata bosku, kebiasaan menunda-nunda itu disebut procrastination dan ini adalah musuh produktivitas. Benar juga sekarang saya kena batunya (he..2).

Bagaimana penyelesainnya sekarang? Ya untungnya saya sigap dengan semua itu. Semua kegiatan kepustakawanan sudah saya dokumentasikan khususnya sertifikat-sertifikat ketika ikut seminar (he..2) walaupun tidak selengkap seperti ketika sedang mengerjakan secara langsung. Paling tidak ini menjadi pembelajaran penting bagi saya pribadi bahwa kedepannya akan mulai saya ajukan setiap setahun sekali saja sehingga akan terasa ringan dan mudah terkontrol.

Angka kredit pekerjaan rutin sehari-hari memang bernilai kecil. Oleh karenanya tidak jarang ini membuat para pustakawan malas untuk mencatatnya. Bahkan sering saya menemukan seorang pegawai yang backgroundnya ilmu perpustakaan namun tetap bertahan menjadi staf struktural saja. Konon katanya lebih enak karena tidak dibebankan dengan angka kredit. Untuk kenaikan pangkatpun sudah otomatis naik setiap empat setahun sekali.

Nilai Angka Kredit Besar 
Bagi yang senang menulis, siasat untuk mendapatkan nilai angka kredit yang besar itu salah satu caranya dengan sering-sering mengerjakan unsur pengembangan profesi karena  nilainya yang cukup besar.  Misalnya:
  • Membuat karya tulis / ilmiah dibidang perpustakaan, informasi dan dokumentasi, 
  • Menyusun pedoman / petunjuk teknis perpustakaan, dokumentasi dan informasi
  • Menerjemahkan / menyadur buku dan bahan-bahan lain bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi
Selain itu unsur kegiatan penunjang kepustakwanan seperti sering mengikuti seminar / lokakarya dan pertemuan sejenisnya dibidang kepustakawanan juga cukup bernilai besar bahkan hingga mencapai nilai 3.

Pustakawan Ideal
Sejatinya seorang pustakawan ideal itu tidak hanya difokuskan pada pencarian angka kredit semata. Angka kredit memang penting. Akan tetapi, lebih penting lagi sejauhmana pekerjaan yang berkaitan dengan angka kredit itu dapat berdampak pada lingkungan sekitar. Entah itu pustakawan itu sendiri, pemustaka bahkan hingga untuk institusinya.

Jujur kuakui, saya sendiri hingga sekarang masih menjadi pustakawan yang belum ideal karena seringkali tolak ukur pekerjaannya masih mengandalkan pada jam masuk dan pulang kantor. Ketika dievaluasi apa yang saja yang sudah di lakukan dengan pekerjaan sehari-hariku? Apa manfaat, dampak dan hasilnya? Secara tegas semua itu masih terjebak dalam rutinitas. Namun demikian, saya selalu terus berusaha agar menjadi pustakawan ideal yang menikmati setiap detiknya pekerjaan dibidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Satu pertanyaan yang perlu saya lontarkan untuk diri sendiri agar menjadi cambuk adalah sejauhmana saya sudah bekerja dengan baik dan maksimal selama menjadi pustakawan plat merah ini baik untuk institusi, masyarakat dan negara Indonesia pada umumnya? Jawabannya adalah masih perlu berkontemplasi sejenak. 

Passive Income
Dari angka kredit ke passive income, apa hubungannya? Jelas ada. Kan sudah saya tulis diawal bahwa passive income merupakan keuntungan kedua untuk para pustakawan yang menulis buku. Berbicara tentang passive income akan lebih tepat dikaitkan dengan faktor ekonomi bisnis dalam hal ini penghasilan atau kebebasan finansial. Menyebut passive income seringkali akan dihubungkan dengan multi level marketing (MLM). Padahal, tentu konteksnya lebih luas. Passive income hanyalah sejenis tipe penghasilan yang seringkali orang sebut "uang bekerja untuk kita" bukan "kita bekerja untuk uang". Apakah ini mungkin? Mungkin saja. Hanya saja orang-orang yang sekarang telah mendapatkan itu pada awalnya tetap harus bekerja keras.

Berbicara mengenai passive income, maka akan ada juga istilah yang disebut dengan active income. Apa pengertian keduanya? Active income adalah penghasilan aktif yang berasal dari hasil kerja sehari-hari misalnya sebagai pedagang konvensional, guru sekolah atau bimbel, karyawan perusahaan atau pegawai pemerintah dan lain sebagainya. Sedangkan passive income adalah penghasilan yang didapatkan terus-menerus kendati kita tidak bekerja lagi. Artinya karena adanya sebuah sistem, kita akan mendapatkan penghasilan itu terus-menerus sesuai dengan sistem dan peraturan yang ada. Jika ini dikaitkan dengan profesi pustakawan, kira-kira kegiatan apakah yang akan mendapatkan passive income? Pastinya menulis buku toh?

Ketika Pustakawan Menulis Buku
Pustakawan adalah salah satu profesi yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghasilan baik active income maupun passive income. Sebagai contoh kita ambil kasus menulis buku. Gaji kita sebagai pustakawan merupakan active income. Sedangkan hasil menulis buku adalah pendapatan passive income. Menulis buku yang diterbitkan akan mendapatkan royalti terus menerus selama buku tersebut laku dipasaran dan dicetak ulang. Oleh karena itu, diperlukan tips dan trik khusus agar buku yang kita tulis dapat laku dipasaran dan dicetak ulang. Selain karena faktor isi bukunya yang hebat, satu yang paling menonjol adalah pemilihan tema yang akan ditulis harus bersifat jangka panjang. Dalam bahasa blogger kata kunci abadi atau berumur panjang yang akan selalu dicari orang dari masa ke masa. Misalnya apa? Tentang kesehatan, motivasi, religi, wisata, dan lain sabagainya.

Bagaimana kawan-kawan pustakawan? Sudah sedikit ada gambarankan dua keuntungan pustakawan ketika menulis buku?  Lantas, apa keuntungan yang ketiga? Yaitu adanya kesempatan diundang sebagai narasumber atau pembicara baik dalam acara bedah buku, seminar, lokakarya, workshop dan sejenisya. Keuntungan ketiga ini adalah keuntungan bonus yang didapatkan setelah menulis dan menerbitkan buku. Peluang diundang untuk menjadi narasumber akan terbuka lebar bagi para pustakawan-pustakawan yang aktif menulis buku. Agar lebih jelas lagi perhatikan gambar berikut ini:
Pustakawan Menulis Buku

Buku Apa Yang Harus Di Tulis?
Setelah melihat gambar diatas, kemungkinan pertanyaan selanjutnya yang mengusik para pustakawan adalah tema apa yang mau ditulis sehingga memperloleh angka kredit dan royalti? Sedangkan kita tahu tema-tema tentang kepustakawanan itu jarang diminati oleh para pembaca. Kalaupun ada, paling dibaca oleh para mahasiswa jurusan perpustakaan. Itu juga dibacanya menjelang skripsi. Disatu sisi, seperti yang kita tahu, menulis buku dengan tema diluar kepustakawanan, maka tidak akan diperhitungkan dalam angka kredit.

Ada beberapa tips yang mungkin bisa dipraktekan oleh teman-teman pustakawan. Lho, kok pake "mungkin" sih? Berarti yang menulisnya belum pernah mempraktekkan donk? Jujur, saya jawab iya karena sampai sekarang saya juga sedang proses ke arah itu. Saya berani membuat tips ini karena sebelumnya pernah menulis buku namun bukan tentang kepustakawanan. Justru karena menulis diluar kepustakawanan ini pada akhirnya saya bisa mempunyai tips-tips sendiri. Berikut tips pustakawan yang ingin menulis buku namun diharapakan akan memperoleh tiga keuntungan sekaligus.

Pertama, kenyataan yang terjadi adalah benar, buku-buku tentang kepustakawanan masih belum dilirik baik oleh pembaca maupun penerbit major. Kalaupun ada jumlahnya masih terbatas. Namun, saya punya solusi untuk menyiasati itu tema-tema kepustakwanan itu harus balut dengan pangsa pasar yang ada. Apa maksudnya? Pustakawan harus pandai mencari celah untuk bisa mengkombinasikan isi buku tentang kepustakawanan dengan keinginan pasar. Agar lebih mudah berikut contoh judul-judul bukunya:

Tema berumur panjang:
  • "Cara Mudah Membangun Bisnis Informasi" atau "Sukses Berbisnis Informasi dan Pengetahuan". Saya melihat buku-buku yang berkaitan dengan dunia bisnis itu banyak diminati. Penerbitpun banyak yang melirik buku-buku yang bertema bisnis. Agar bisa masuk dalam tema kepustakawanan, maka bisa dibalut dengan kata-kata informasi. Selanjutnya pembahasan didalam tentu saja menyangkut dunia informasi atau ekonomi informasi.
  • "Membangkitkan Minat Baca Sejak Dini" atau "Membuat Anak Gila Membaca". Dua contoh judul tersebut saya kira bersifat universal. Dalam artian semua manusia yang memiliki keturunan sejatinya mendambakan anak yang suka membaca. Pustakawan bisa menulis tentang itu berdasarkan pengalamannya sendiri terhadap anak-anaknya.
  • "Fiqih Informasi". Dari judulnya saja bisa kelihatan antara tema kepustakawanan yang dibalut dengan unsur keagamaan dalam hal ini Islam. Jika mumpuni dalam pengetahuan Islam, silahkan para pustakawan bisa menuliskan khusus informasi dipandang dari sudut pandang Islam dalam memperoleh kebenaran. Seperti yang kita tahu, saat ini berlimpahnya informasi membuat orang semakin sulit untuk menentukan mana yang informasi yang benar dan mana informasi yang salah sehingga dapat mengandung kebohongan dan fitnah.
  • "Mereka Yang Sukses Karena Membaca". Jenis judul seperti itu lebih tepatnya ke buku motivasi atau biografi. Tema buku yang bersifat motivasi dan biografi mempunyai pangsa pasar tersendiri dan selalu banyak orang yang mencarinya. Oleh karena itu, orang-orang yang sukses bisa dijadikan tema menulis yang dihubungkan dengan kebiasaan membacanya.
  • "Mudah Menulis Karya Tulis Ilmiah". Kalau yang ini pangsa pasarnya jelas. Bisa pelajar, mahasiswa, guru dan dosen yang memang belum mempunyai pengalaman menulis karya tulis ilmiah. Pendek kata, pangsa pasarnya adalah orang-orang yang sedang menempuh pendidikan ataupun orang-orang yang bergelut dalam bidang pendidikan. Bisa juga judul yang lain misalnya "Menulis Buku Populer" dan lain-lainya yang bertemakan dunia tulis-menulis. Tema tentang menulis adalah tema yang abadi sepanjang masa.
  • "Mudah Menulis Skripsi". Judul tersebut lebih spesifik lagi targetnya yaitu para mahasiswa. Temanya sama yaitu tentang menulis
  • "Knowledge Management". Judul itu bisa dikombinasikan sesuai keadaan. Di Indonesia buku-buku yang bertema tersebut masih jarang. Beberapa buku tentang knowledge management yang ada di Indonesia misalnya Knowledge Management: Dalam Konteks Organisasi Pembelajar dan Personal Knowledge Management yang ditulis oleh Jann Hidajat dkk. Buku lainya misalnya: (1) Knowledge Management: Konsep, Arsitektur dan Implementasi (2) Manajemen Knowledge Sharing Berbasis Komunitas (3) Knowledge Management: Suatu Pengantar Memahami Bagaimana Organisasi Mengelola Pengetahuan Sehingga Menjadi Organisasi Yang Unggul (4) Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management): Teori dan Aplikasi dalam Mewujudkan Daya Saing Organisasi Bisnis dan Publik (5) Knowledge Management - Meningkatkan Daya Saing Bisnis (6) Successful Implementation of Knowledge Management in Indonesia (7) Knowledge Management Untuk Rumah Sakit (8) Penerapan Knowledge Management pada Organisasi (9) Kiat Menjadi Knowledge Worker Yang Smart, dll.
  • Tema lainya misalnya tentang literasi media, wisata perpustakaan tertua di Indonesia, sehat karena membaca, dan lainya.
Tema berumur pendek:
  • "Cara Mudah Menggunakan  Zotero / Mendelay". Dikatakan berumur pendek karena tools tersebut akan terus mengalamai perkembangan yang terbaru. Namun demikian target pasarnya lebih berumur panjang seperti para mahasiswa, peneliti, dosen, guru dan orang-orang yang bergelut dalam dunia pendidikan
  • "Meraup Dollar Dengan Perpustakaan Digital", pangsa pasarnya hampir semua orang yang senang dengan mencari duit online.
  • "Panduan Mencari Informasi Tepat di Google", target pasarnya adalah semua orang dengan tujuan membagikan tips cerdas dalam mencari dan memilih informasi yang tepat dan akurat
  • Dan masih banyak yang lainya
Itulah beberapa contoh judul-judul buku yang bisa dijadikan tema untuk menulis oleh para pustakawan agar memperoleh tiga keuntungan sekaligus.

Kedua, ketika pustakawan menulis buku dengan tujuan angka kredit cukup besar dan royaltipun lumayan, maka buatlah target pangsa pasarnya yang jelas. Kalau bisa yang bersifat universal misalnya tentang minat baca sejak dini, menuntut ilmu dan membaca dalam pandangan Islam, kekuatan informasi dan pengetahuan, dan lain sebagainya. Sehingga ketika pengajuan angka kredit judul-judul buku tersebut bisa diperhitungkan dan harapannya buku yang diterbitkanpun banyak yang membelinya. Sykur-syukur bisa best seller.
Sebagai penutup, tiga keuntungan bagi pustakawan ketika menulis buku yang saya bahasa ini hanyalah mempraktekan seperti kata pribahasa "Sambil menyelam minum air". Bagi pustakawan yang menulis buku dengan tujuan utama tidak untuk mencari angka kredit dan royalti, berarti menulislah buku dengan tema sesuka hatimu, bebas dan lepas. Namun demikian, untuk memotivasi para pustakawan agar menulis buku, maka kita bisa melihat salah satu pustakawan yang aktif menulis dan sudah banyak menerbitkan buku misalnya Pak Suherman. Beliau adalah pustakawan LIPI yang pernah meraih CONSAL Outstanding Librarian Award 2012, sebagai Pustakawan Berprestasi Terbaik tingkat ASEAN. Beliau juga ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI). Buku-buku pak Suherman sebagian besar mengenai kepustakawanan. Terbukti dengan banyak menerbitkan buku yang ditulisnya, beliau sekarang sering di undang menjadi narasumber diberbagai instansi perpustakaan yang ada diseluruh Indonesia. Buku terakhirnya Pustakawan 1/2 Gila. Untuk buku-buku lainya sebagai berikut:
  • Dialog Peradaban Anis Matta - Ary Ginanjar Agustian: Refleksi Dua Ikon Perubahan Mencipta Manusia Paripurna
  • Perpustakaan: Jantung Sekolah
  • Bacalah
  • Pustakawan Inspiratif
  • Mereka Besar Karena Membaca
Bagaimana teman-teman pustakawan? Tertarik untuk menulis buku? Di depan mata ada tiga keuntungan sekaligus lho.

Salam pustakawan blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tiga Keuntungan Sekaligus Jika Pustakawan Menulis Buku"