Masalah dan Potensi Ekonomi Eceng Gondok di Indramayu
Sebulan lalu saya menjelajahi salah satu wilayah di Indramayu. Ada satu hal yang menurut saya sayang banget belum dimanfaatkan. Apa itu? Eceng Gondok.
Aliran air di Sungai Cimanuk yang menuju danau tampat latihan dayung dipenuhi dengan eceng gondok. Hijau, air tidak kelihatan.
Berikut videonya:
Secara ekonomis, econg gondok mempunyai nilai yang cukup potensial. Penelitiannya juga sudah banyak. Dari untuk produk kerajinan rumah tangga seperti tas, tempat tisu, topi sampai sabun, makanan dan kosmetik juga ada.
Nah, bagaimana dengan di Indramayu? Itu bahan bakunya sudah ada loh. Banyak lagi!
Saya baca berita di website Badan Perencanaan Pembangunan Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA), terkait eceng gondok ini sudah ada kegiatannya. Pelatihan membuat produk dari bahan baku eceng gondok, bahkan hingga cara marketingnya di era digital (tanggal 31 oktober dan 26 November 2025). Baca di sini:
- Bappeda-Litbang Indramayu Gelar Pelatihan Pemanfaatan Sumber Daya Alam: Ubah Eceng Gondok Jadi Berkah
- Indramayu Lanjutkan Pelatihan Eceng Gondok: Dari Kerajinan, Digital Marketing, hingga Pembuatan Pupuk Cair
Selain di website officialnya, di Instagram juga ada sharing kegiatannya.
Sekarang, bagaimana implementasinya? Sejauh ini saya belum menemukan produk-produk yang dipasarkan via digital secara masif atau memang saya belum tahu?
Bahan baku eceng gondok begitu tersedia banyak. Apakah belum di manfaatkan atau memang saking banyaknya sehingga tak terkendali?
Ini masalah serius dan berulang. Satu sisi, pemerintah melakukan pelatihan untuk masyarakat, satu sisi kita kewalahan mengurusi eceng gondok. Misalnya berita yang berjudul Terjunkan Dua Excavator, Bupati Lucky Hakim Lakukan Pengangkatan Eceng Gondok di Sungai Tjimanoek
Dua sisi eceng gondok bagaikan pisau bermata dua. Satu pemberdayaan dan kreatifitas, satu lagi dianggap sebagai pengganggu.
Bagaimana dinas terkait menyikapi itu?
Bagaimana dalam jangka panjang mengatasi solusi tersebut? Sebab, itu bukan suatu hal yang baru. Harus ada perencanaan yang terstruktur. Jangan sekedar seremonial, jangan sekedar ada pelatihan untuk penyerapan anggaran, tapi tak ada tindak lanjut misalnya untuk pemasaran produknya.
Pemerintah Daerah Indramayu harus membuka ruang selebar-lebarnya, membantu sepenuh hati, khususnya dalam penjulaan produknya. Misalnya adakan pameran khusus terkait produk eceng gondok.
Saya kira dalam hal ini bukan hanya dinas terkait, tapi juga dinas-dinas lainnya bahu-membahu untuk mengatasi masalah eceng gondok ini. Misalnya dinas perpustakaan, juga bisa berpartisipasi dalam peningkatan literasi terkait eceng gondok. Buka akses pengetahuan terkait eceng gondok agar masyarakat benar-benar terbuka pikirannya. Dari tidak tahu menjadi tahu, setidaknya akan membuka potensi ruang perubahan dari yang hanya yang bersifat kognitif hingga praktik baik di lapangan untuk memanfaatkan eceng gondok. Ada kreatifitas yang akan tercipta.
Sekali lagi, eceng gondok bagai buah simalakama, satu sisi mendatangkan masalah, satu sisi juga bermanfaat yang memiliki potensi ekonomi. Hanya pemerintah daerah yang kreatif dan cepat tanggap yang bisa mengatasi itu dengan baik.

Posting Komentar untuk "Masalah dan Potensi Ekonomi Eceng Gondok di Indramayu"