Bajaj dan Bapak
Dahulu, Jakarta, bajaj dan taksi adalah tema lucu yang selalu diceritakan almarhum bapak saya ketika sedang makan bersama di rumah.
Bapak dengan mengebu-gebu bercerita, saat mencari nafkah di Jakarta mulai dari menjadi tukang bajaj sampai supir taksi yang diidam-idamkan kandas tak bertahan lama.
Hanya tersisa SIM A dan terpaksa pulang menjadi petani kembali, berdampingan dengan alam hingga akhir hayatnya.
Kini, bajaj menjadi pengingat saya ketika sekarang merantau kerja di Jakarta. Mengingatkan cerita bapak yang tak lekang waktu.
Oleh karenanya, sesekali saya naik bajaj untuk mengenang itu kembali kendati bajaj dulu dan sekarang sudah berbeda. Tak berisik.
Saat akan pulang ke Indramayu, saya naik bajaj dari Stasiun Tanah Abang ke Gambir. Kebetulan kondisi juga lagi hujan. Jadilah saya naik bajaj, cuma Rp.30.000. Ini video perjalananya:

Posting Komentar untuk "Bajaj dan Bapak"