Pengalaman Sehari di Sri Lanka: Tuk Tuk, Gagak Hitam dan Pohon Kelapa

Advertisement
Setelah sekitar 4 jam mengudara, kurang lebih pukul 18.00 waktu Sri Lanka, pesawat yang saya tumpangi dari Bandara Internasional Soekarno Hatta mendarat di Bandara Internasional Bandaranaike.

"Kita nanti langsung menuju hotel ya. Sekalian makan malam dan pembagian kamar untuk istirahatnya," ujar sang ustad yang ada bersama rombongan umroh Masjid Mujahidin Pamulang.

"Rencanya kita transit sehari di Sri Lanka, besok pagi, baru kita berangkat menuju Jeddah dari bandara ini lagi," ujar ketua rombongan.

Ketua rombongan pun menunjukan saya dan rombongan menuju bagian imigrasi Sri Lanka. Di sana di bimbing untuk mengisi sebuah dokumen visa transit. Setelah semua rombongan mengisi dokumen tersebut, satu persatu mulai menuju pintu keluar untuk ceklist kelengkapan. Satu-persatu diperiksa, mulai dokumen yang baru diisi tersebut hingga paspor.

Di Bandara ini, saya sendiri belum sempat mengeksplore karena sudah langsung keluar menuju hotel. Namun, ada dua hal yang menempel di otak saya dengan kondisi Bandara Internasional Bandaranaike. Pertama, saat akan keluar, di dalam bandara tersebut banyak sekali dijual barang-barang elektronik. Jadi, serasa berada ada dalam toserba elektronik. Kedua, saat keluar menuju parkir bus bandara, banyak sekali patung-patung Budha. Wajar, karena Sri Lanka mayoritas penduduknya adalah Budha. Konon terkenal dengan negara yang banyak warisan Budha.

Saya beserta romobongan lain pun satu persatu menuju bus yang ada diparkiran bandara. Salah seorang supir mengatakan selamat datang dengan lantang penuh semangat. Rupanya supir bus ini sudah terbiasa antar jemput khusus para jemaah umroh yang berasal dari Indonesia. Kendati dia penduduk lokal Sri Lanka, nyatanya bisa sedikit-sedikit bahasa Indonesia.

Bus pun mulai berangkat membawa rombongan. Saya pun sigap. Memasang mata lebar-lebar. Penasaran ingin melihat kota-kota Sri Lanka yang akan dilalui bus ini. Sembari sesekali saya berkomentar dengan emak saya yang ada disamping, saya menjelaskan kalau kita belum sampai di Arab Saudi.

"Ini baru di Sri Lanka mak," ucapku

"Belum sampai di Mekkah. Insya Allah besok baru berangkat lagi dari bandara tadi. Disini hanya sementara, numpang tidur sehari," lanjutku

"oh mengkonon (oh gitu)," jawab emak saya sembari mengangguk-angguk. Polos.

Mata saya menyisir setiap pinggir jalan. Walau suasana malam, tapi tampaknya tidak ada perbedaan. Saya merasa seperti masih berada di negara sendiri. Hanya saja mungkin dari jenis mobil dan orang-orangnya saja yang tampak berbeda. Saya melihat banyak pohon kelapa. Saya jadi teringat di kampung.

Golden Star Beach Hotel

Sekitar 30 menitan , akhirnya bus sampai di hotel. Nama hotelnya Golden Star Beach Hotel. Jujur, karena ponsel saya tidak terhubung dengan internet, maka saya sendiri masih bingung di daerah mana hotel yang saya singgahi ini berada.

Golden Star Beach Hotel
Tampak Depan Golden Star Beach Hotel
Golden Star Beach Hotel
View Golden Star Beach Hotel, Tampak Dari Jalan Raya Depan Hotel

Golden Star Beach Hotel
Salah Satu Area di Dalam Golden Star Beach Hotel
Beruntung, hotel menyediakan akses internet gratis kendati sering putus nyambung. Tak apa, paling tidak saya bisa mencari informasi dengan akses internet yang ala kadarnya.

Rombongan pun turun dan langsung di pandu menuju tempat makan. Sembari makan, ketua rombongan mulai membagikan kunci kamar.

"Bapak/ibu, nanti besok kita akan kembali ke bandara jam 10 ya. Jadi, jangan lupa siapkan barangnya. Jangan sampai ketinggalan. Kita naik bus lagi," ujar ketua rombongan.

Setelah makan selesai, kunci pun sudah ada di tangan, barulah rombongan satu-persatu menuju kamarnya masing-masing. Sementara saya sendiri masih penasaran. Ingin rasanya malam itu saya keluar berkeliling di daerah sekitar hotel. Tapi, saya teringat harus mengantar emak saya dulu ke kamarnya. Rasa penasaran ingin berkeliling itu, akhirnya saya putuskan besok pagi saja. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum ke bandara untuk berkeliling.

Pantai Negombo

Bangun pagi-pagi buta. Penuh semangat. Setelah diluar tampak terang, akhirnya saya keluar kamar hotel. Saya terkejut, rupanya hotel yang saya singgahi ini dekat sekali dengan pantai. Rupanya, malam itu saya tidak menyadari kalau hotelnya dekat pantai. Persis di depan kamar terhampar pantai yang cukup indah. Nama pantainya Pantai Negombo. Banyak pohon kelapa. Pasirnya putih. Banyak juga burung gagak hitam. Saya bergegas menuju bibir pantai.

Kolam Renang Golden Star Beach Hotel
Kolam Renang Golden Star Beach Hotel
Pohon Kelapa di Golden Star Beach Hotel
Pohon Kelapa di Golden Star Beach Hotel
Pohon Kelapa di Golden Star Beach Hotel
Pohon Kelapa di Golden Star Beach Hotel
Saat menuju bibir pantai, saya didekati oleh segerombolan orang. Salah satunya mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum," ucap dari salah seorang berjenggot panjang.

"Saya Muhammad. Warga lokal sekitar sini. Saya muslim. Kita saudara, sama-sama berjenggot. Mau oleh-oleh cincin, kalung, mutiara, bagus ini, boleh bayarnya pakai rupiah"

Penjual Lokal Yang Menawarkan Dagangan Cinderamata
Penjual Lokal Yang Menawarkan Dagangan Cinderamata

Penjual Lokal Yang Menawarkan Dagangan Cinderamata
Penjual Lokal Yang Menawarkan Dagangan Cinderamata: Cincin, Gelang, Kalung

Jujur saya sempat terkejut. Ternyata dia menawarkan barang dagangannya. Wah ini orang bisa bahasa Indonesia pula. Setelah saya tanya-tanya. Rupanya dia sudah biasa bertemu dengan orang Indonesia, khususnya jemaah umroh yang biasa transit di hotel ini. Konon, dia belajar lama karena dia tahu orang yang akan ditawarkan untuk barang dagangannya adalah orang Indonesia.

"Tolong, kasih tahu, kasih kabar ke teman-temannya, ada cincin, kalung, gelang mutiara bagus," sambung si penjual

Saya pun mengiyakan, nanti akan saya coba ajak teman-teman kesini.

Sebelum memanggil teman, saya pun berkeliling sendiri ke tepi pantai. Saya ingin menikmati Pantai Negombo. Cukup bersih. Tidak terlalu ramai. Di sekitar saya melihat ada penduduk lokal sedang membersihkan pantai dari sampah. Saya pun memandang jauh ke arah laut."Alhamdulillah," kataku dalam hati.

Pantai Negombo Sekitar Golden Star Beach Hotel
Pantai Negombo Sekitar Golden Star Beach Hotel

Pantai Negombo Sekitar Golden Star Beach Hotel
Pantai Negombo Sekitar Golden Star Beach Hotel

Pantai Negombo Sekitar Golden Star Beach Hotel
Tampak Seorang Warga Lokal Sedang Membersihkan Pantai
Pantai Negombo Sekitar Golden Star Beach Hotel
Tampak Seorang Warga Lokal Sedang Membersihkan Pantai

Pantai Negombo Sekitar Golden Star Beach Hotel
Saya Berpose di antara pohon kelapa pinggir pantai

Pantai Negombo Sekitar Golden Star Beach Hotel
Klo yang ini, langsung berpose di belakangnya pantai he..he..
Puas menikmati suasana pantai. Saya bergegas keluar hotel, menyusuri jalan. Baru keluar 400 meter, langkah saya terhenti karena ada penduduk lokal yang menawarkan naik tuk tuk. Kalau di Indonesia bajaj.

"sir, tuk tuk, arround, only fifty thousand, rupiah it's ok," kata sang supir tuk tuk
"Why do you come from?" lanjutnya.

"Indonesia. No, no, just walking arround," jawabku singkat sembari menggelengkan kepala.

Tampak tuk tuk warna merah
Tampak tuk tuk warna merah

Tampak tuk tuk warna hijau
Di belakang saya, tampak tuk tuk warna hijau
Saya lanjut jalan. Sebenarnya ingin sekali naik tuk tuk berkeliling. Apalagi dia menawarkan bayarnya boleh pakai rupiah. Terharu saya. Sudah dua orang Sri Lanka yang menawarkan bayarnya pakai rupiah. Tapi, mau gimana lagi, waktunya sedikit hanya sebentar.

Saya menyusuri jalan di Negombo dengan berjalan kaki, berasa sedang tidak di negara orang karena suasananya mirip-mirip di Indonesia. Saya merasa berada di daerah Jogja. he..he..

Laundry di Lewis Place, Negombo
Jasa Laundry di Lewis Place, Negombo

 Lewis Place, Negombo
Saya menyusuri jalan ini,  Lewis Place, Negombo

 Lewis Place, Negombo
Bis dan Taxi di  Lewis Place, Negombo

 Lewis Place, Negombo
Serasa di salah satu jalan yang ada di Jogja
Oh iya, selama jalan itu, melewati rumah warga, saya lagi-lagi ketemu dengan burung gagak hitam.

Gagak Hitam
Gagak Hitam Yang Saya Foto di Salah Satu Rumah Warga Lokal
Entah berapa km yang sudah saya lalui. Sekitar 40 menit kaki melangkah, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke hotel. Takut-takut nanti ketinggalan bus ke bandara. Kalau ditinggalin, kan bisa berabe..he...he..

***

Pukul 10.00 bus beserta rombongan kembali menuju Bandara Internasional Bandaranaike. Kali ini, bus berangkat siang, jadi cukup bisa menyaksikan banyak pemandangan untuk dinikmati. Selama di perjalanan, burung gagak hitam ini selalu saya temukan.

Gagak Hitam
Burung Gagak Hitam Lagi di Rel Kereta, Saat Saya Kembali Menuju Bandara
Sesampainya di bandara, setelah menunggu pemberangkatan sekitar 2 jam lagi, ternyata ada pengumuman mendadak. Pesawat menuju yang akan saya tunggangi menuju Jeddah, ternyata delay. Tak tanggung-tanggung delay-nya hampir 10 jam lebih. Kecewa pasti. Tapi, mau bagaimana lagi. Pihak maskapai pun meminta maaf. Kemudian memberikan kompensasi makan siang dan malam.

Jujur, bagi saya sendiri dengan delaynya keberangakatan ini ada perasaan kecewa sekaligus merupakan kesempatan. Artinya saya bisa mengeksplore bandara internasional Sri Lanka ini. Tapi, apa yang mau di eksplore? Bandaranya saja kecil. Kalau jauh dengan Bandara Soekarno-Hatta. Dua hal yang saya ingat dari bandara ini pertama, toiletnya susah. Artinya ketika mau ke kamar kecil saja, sering kali di ping-pong sama petugas toiletnya. Kedua, ada musola kecil di bandara itu untuk solat. Tapi, wudhunya saja kadang-kadang susah. Seperti biasa, petugasnya rese. Jadi, kalau saya bandingkan dengan Soekarno-Hatta jelas kalah jauh. Apalagi dengan Changi Airport. Tapi tak mengapa, toh ini sebuah pengalaman menarik bagi saya. Bagian sejarah yang tak terlupakan. Minimal, bisa jadi bahan cerita untuk anak sendiri ketika nanti pulang. Tentunya juga bahan tulisan seperti yang teman-teman baca ini.

Walaupun hanya sebentar transit di Sri Lanka, setidaknya saya punya pengalaman yang tak terlupakan. Pantai Negombo, penjual cinderamata, tuk-tuk, burung gagak hitam, pohon kelapa, dan pastinya bandara yang susah toiletnya. Hi..hi..

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengalaman Sehari di Sri Lanka: Tuk Tuk, Gagak Hitam dan Pohon Kelapa"