Secercah Harapan Itu Bernama SLiMS

Advertisement
“Harapan adalah seperti jalan di daerah pedalaman, pada awalnya tidak ada jalan setapak semacam itu, namun sesudah banyak orang berjalan di atasnya, jalan itu tercipta.” -Lu Xun-
Saya mengetahui SLiMS dengan sebutan Senayan sekitar tahun 2007-an dari seorang teman kuliah dulu yang ada di Jogja melalui chating. Dia memberitahukan kepada saya bahwa ada software perpustakaan gratis. Siapa teman tersebut? dialah salah satu pengembang SLiMS (Senayan Developer Community) yakni Purwoko yang saat itu masih berkerja sebagai pustakawan di Perpustakaan Teknik Geologi UGM.

Secercah Harapan Itu Bernama SLiMS
Ketika temanku menawarkan SLiMS, jujur saya tidak antusias karena saat itu di kantor baru saja menandatangani kontrak untuk pembelian software perpustakaan dari STT Telkom Bandung. Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena pustakawan senior yang ada dikantorku itu telah mengusulkan ke kepala Kantor. Lagipula jika saya tidak mendukung, maka saya sebagai CPNS yang baru bekerja beberapa bulan sudah pasti dianggap "Sok Tahu". Namun yang menjadi beban pikiranku adalah ternyata pengadaan software perpustakaan sebelumnya telah mengalami kegagalan, tentunya saat itu saya belum menjadi pegawai di kantor perpustakaan umum kota mangga itu.

Belajar Dari Pengalaman
Singkat cerita, software yang dibeli tersebut dipakai hanya mampu bertahan hingga dua tahun. Itupun dengan berbagai macam kesulitan seperti harus terus menghubungi pembuatnya ketika ada permasalahan. Belum ditambah lagi harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pengembangannnya jika masa pendampingan habis. Jadilah dua kali pengadaan software perpustakaan kandas ditengah jalan. Oleh karenanya, sejak saat itu saya mulai berpikir mengapa tidak mencoba software yang dulu pernah ditawarkan temanku dulu. Ada secercah harapan SLiMS untuk bisa dimanfaatkan di Perpustakaan Umum Indramayu, pikirku.

Atas dasar beberapa permasalahan dengan software yang dibeli, akhirnya saya mulai meyakinkan kepala kantor dan para pustakawan senior yang rata-rata sudah tua. Saya buat rancangannya dengan sebuah proposal yang menggambarkan betapa efektif dan efesiennya jika kita memakai software yang bersifat open source. Pelan-pelan saya jelaskan kepada mereka akan kekurangan dan kelebihannya dengan bahasa yang awam. Belajar dari sebuah pengalaman itu, saya mengambil suatu kesimpulan bahwa kekurangan dan kelebihannya kira-kira seperti ini:

Kekurangan pemanfaatan software berbayar:
  • Sangat jelas, memerlukan anggaran untuk membelinya.
  • Jika terjadi kerusakan dan masa garansi habis (waktu pendampingan), maka ada biaya tambahan. 
  • Tidak bisa kustomisasi fitur-fitur yang telah ada.
  • Ketika ada fitur atau modul baru yang harus ditambahkan maka, perlu ada biaya lagi.
  • Jika ada masalah, terkadang sulit untuk menghubungi pembuatnya
Kelebihan pemanfaatan software open source:
  • Tidak perlu membeli karena bersifat gratis sehingga efektif dan efesien. Kalaupun ada anggaran bisa dimanfaatkan untuk pos lainya.
  • Fitur-fitur bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan.
  • Jika menemukan kendala atau kesulitan, ada komunitas yang digunakan sebagai tempat untuk bertanya dan berbagi.
  • Meningkatkan kompetensi para pustakawan sehingga bisa menambah pengetahuan dibidang teknologi informasi.

Dari Titik Nol
Tidak perlu waktu lama, usul saya tentang pemanfaatan software open source kepada kepala kantor dan para pustakawan senior mulai terbuka. Pada tahun 2009 saya mulai memanfaatkan SLiMS dan mengganti software yang telah dibeli sebelumnya. Saya mulai belajar melalui manual, buku dan internet karena terus terang saya bukanlah orang yang ahli dalam bidang komputer dan jaringan. Beruntung adanya internet gratis dari Program Jardiknas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sehingga menjadikan saya bertambah mudah untuk belajar secara otodidak karena saya bisa membaca banyak artikel-artikel yang berkaitan dengan dunia teknologi informasi melalui internet.

Mulai dari titik nol, saya belajar dari bagaimana cara menginstall, mempelajari fitur dan menunya, mengimport database, mengedit template, konfigurasi jaringan intranet, hingga bagaimana mengupload SLiMS di hosting agar bisa diakses melalui internet. Dengan keterbatasan dana saya membuat katalog online dengan menggunakan hosting dan domain gratis. Sayapun memberikan pelatihan secara mandiri pula kepada para pustakawan yang notabene sudah tua dan sama sekali buta akan komputer. Hobi lain yang berkaitan SLiMS misalnya saya gemar mengedit template web gratis yang saya convert menjadi template SLiMS. Saat itu masih versi  Senayan 3 Stable 14. Sampai-sampai saya membuat blog khusus di wordpress dengan alamat senayantemplates.wordpress.com. Saya mengeditnya hanya menggunakan aplikasi sederhana yakni notepad. Berikut  contoh-contoh template SLiMS terdahulu.

Contoh Template SLiMS Terdahulu (Senayan 3 Stable 14)
Contoh Template SLiMS Terdahulu (Senayan 3 Stable 14)
Contoh Template SLiMS Terdahulu (Senayan 3 Stable 14)
Contoh Template SLiMS Terdahulu (Senayan 3 Stable 14)
Bisa diakses di alamat www.fulltextebook.com
Suatu hal yang patut dibanggakan adalah sejak tahun 2009 hingga sekarang (2014), Perpustakaan Umum Kabupaten Indramayu masih tetap menggunakan SLiMS. Alamatnya sekarang yang sudah menggunakan domain berbayar dapat diakses disini: http://arpusindramayu.com/katalog/

Tampilan katalog online Kantor Arsip dan Perpustakaan Indramayu terdahulu
Tampilan katalog online Kantor Arsip dan Perpustakaan Indramayu terdahulu
menggunakan hosting dan domain gratis. Dulu beralamat di katalogonline.dikti.net

Sosialisasi Pemanfaatan SLiMS
Sekitar tahun 2009, saya pernah mengikuti sebuah seminar dan rapat kerja di Bandung yang di selenggarakan oleh Badan Perpustakaan dan Kearsipan (Bapusipda) Propinsi Jawa Barat dan salah satu pembicaranya adalah Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional RI yaitu Ibu Sri Sularsih (Sekarang Kepala Perpusnas). Pada saat itu, saya mengajukan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama saya mengusulkan agar dibuatkan surat keputusan tentang tunjangan kelangkaan pustakawan secara menyeluruh di Indonesia. Dan pertanyaan kedua, mengapa khususnya dalam dunia otomasi perpustakaan justru Kemdikbud yang lebih tanggap dan menjadi pionirnya dibanding Perpustakaan Nasional RI. Mengapa Perpustakaan Nasional RI tidak mengeluarkan software otomasi perpustakaan yang bisa dibagikan secara gratis keseluruh perpustakaan Indonesia. Sehingga seluruh Perpustakaan di Indonesia tidak harus membeli software yang mahal.Walaupun dengan adanya program dana bantuan block grant khusus otomasi perpustakaan, toh tidak semua perpustakaan memperolehnya karena bantuan tersebut hanya berupa uang yang harus belanja sendiri (bukankah ini namanya pemborosan atau lebih tepatnya kurang efektif). Saya kira Perpusnas bisa bekerjasama dengan menggandeng para developer SLiMS yang mempunyai idealisme dalam pengembangan otomasi perpustakaan. Ketika itu, Ibu sekretaris utama mengatakan dengan jawaban yang singkat.”Oke akan saya pertimbangkan”. Itulah sosialisasi pertama SLiMS yang saya lakukan secara langsung kepada pejabat Perpusnas melalui sebuah pertanyaan.

Setelah satu tahun menggunakan SLiMS, sayapun mulai melakukan sosialisasi ke perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indramayu. Sosialisasi ini saya lakukan secara mandiri dan gratis yang didasari idealisme agar perpustakaan yang ada di Kabupaten Indramayu dapat memanfaatkan software open source ini. Harapannya tentu saja dapat membawa wajah perpustakaan yang lebih dinamis sesuai perkembangan teknologi informasi dewasa ini. Strategi pertama yang saya lakukan adalah dengan mendatangi perpustakaan SMA N 1 Sindang Indramayu dimana dulu saya pernah belajar di sekolah itu. SMA tempat dulu saya sekolah merupakan sekolah favorit dengan standar internasional. Saya beralasan sebagai alumni ingin membantu perpustakaan sekolah yang notabene masih dilakukan secara manual. Hal ini tentu bertolak belakang dengan standar taraf internasional yang di gembar-gemborkan. Pada awalnya tidak ada respon dan menganggap itu biasa saja. Setahun berlalu salah satu staf pustakawan dengan kepala perpustakaanya mendatangiku agar menemui kepala sekolahnya dan mempresentasikan tentang pemanfaatan SLiMS. Sebuah usaha yang tidak sia-sia walaupun harus menunggu satu tahun lamanya.

Sebenarnya ketika saya mendatangi perpustakaan SMA N 1 Sindang, secara bersamaan saya juga telah mendatangi perguruan tinggi tertua yang ada di Indramayu yakni Universitas Wiralodra (Unwir). Sayapun mengenalkan SLiMS di universitas tersebut dan lagi-lagi sayapun ditolak dengan alasan tidak ada anggaran. Lantas saya katakan kepada mereka bahwa tidak usah memikirkan anggaran yang penting ada kemauan untuk memanfaatkan sofware tersebut agar memudahkan pekerjaan kepustakawanan. Sama halnya dengan SMA N 1 Sindang, setahun kemudian Universitas Wiralodra pun mengundang saya untuk mempresentasikan tentang SLiMS. Tepat di tahun 2011 SLiMS telah digunakan di Perpustakaan Universitas Wiralodra namun masih secara offline. Selanjutnya berita dari mulut ke mulut mulai menyebar hingga akhirnya saya di undang untuk membantu di beberapa sekolah seperti SD Paoman 01 Indramayu, SMK N 1 Indramayu, SMP Unggulan Indramayu, SMK N Kerangkeng Indramayu, dan SMA Negeri 1 Losarang.

Pembentukan Komunitas SLiMS
Ditahun yang sama awal 2011, saya bersama Dimas Rizky, mahasiswa semester akhir Ilmu Informasi dan Perpustakaan Unpad menjadi inisiator terbentuknya Komunitas SLIMS Jabar. Tujuan dasar dibentuknya komunitas ini  adalah sebagai wadah komunikasi sekaligus pembelajaran teknologi informasi bagi pengguna SLiMS di Jawa Barat. Saat itu yang menjadi ketuanya adalah Bagus Ramdan, seorang Pustakawan dari Rumah Sakit Mata Cicendo. Deklarasi komunitas SLiMS Jabar tersebut dihadiri juga oleh dua developer SLiMS yaitu Hendro Wicaksono dan Arif Syamsudin. Selain itu juga dihadiri oleh System Engineering Primurlib.net dan pegiat SLIMS Priangan Timur Tasikmalaya, Asep Muhammad Fahrus dan rekannya.

Harus diakui pada awal-awal setelah terbentuknya komunitas ini memang sering melakukan belajar bersama salah satunya di Perpustakaan Rumah Sakit Mata Cicendo. Sayangnya, setelah itu komunitas ini tampak vakum. Beberapa yang perlu menjadi catatan adalah kurangnya komunikasi antar pengurus dan juga antar anggota. Namun saya yakin sebenarnya mereka semua yang hadir dalam deklarasi SLiMS Jabar itu masih mensosialisasikan SLiMS di daerahnya masing -masing kendati tidak masif. Kalau dibandingkan dengan komunitas SLiMS daerah lainya, bisa dibilang SLiMS Jabar yang jarang mengadakan kegiatan bersama lagi.

Peserta yang hadir ketika pendeklarasian pembentukan Komunitas SLiMS Jabar  sedang mendengarkan materi dari Hendro Wicksono
Peserta yang hadir ketika pendeklarasian pembentukan Komunitas SLiMS Jabar 
sedang mendengarkan materi dari Lead Developer Senayan, Hendro Wicksono

Komunitas SLiMS Jabar Terbentuk pada tanggal 22 Januari 2011 di Kampus Universitas Padjajaran Bandung
Komunitas SLiMS Jabar, terbentuk pada tanggal 22 Januari 2011
di Kampus Universitas Padjajaran Bandung
Belajar Bersama SLiMS di Perpustakaan Rumah Sakit Mata Cicendo
Belajar Bersama SLiMS di Perpustakaan Rumah Sakit Mata Cicendo
Bandung , 26 Februari 2011
Jangan Beli! Ikutkan Pustakawan Pelatihannya
Ada sebuah pengalaman yang menarik. Masih di tahun yang sama, salah satu kepala perpustakaan Politeknik Indramayu (Polindra) pernah meminta saran kepada saya tentang software perpustakaan. Sebainya software apa yang akan dipakai. Saya bilang kepadanya lebih baik memanfaatkan open source karena selain dapat menghemat anggaran juga sekaligus bagi para pustakawan bisa secara mandiri belajar teknologi informasi. Saya selalu bilang berdasarkan pengalaman pribadi, mohon jangan beli softwarenya! ikutkan saja beberapa pustakawan untuk mengikuti pelatihan SLiMS yang biasanya diselenggarakan di kota Jogja atau Jakarta. Alangkah baiknya apabila anggaran itu dialihkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Jadi tugaskanlah pustakawan untuk menimba ilmu dengan mengikuti pelatihan-pelatihan SLiMS. Kedepan ini akan lebih bermanfaat dibandingkan membeli software yang jelas-jelas sudah ada yang gratis.

Setelah saya jelaskan pertimbangan baik dan buruknya lantas sang kepala perpustakaan tetap bersikukuh akan membeli saja, terlebih kepala bagian keuangan menginginkan itu. Dua tahun kemudian sang kepala ini menghubungi saya lagi bahwa dia merasa menyesal telah membeli software berbayar karena ketika ada permasalahan, begitu susahnya menghubungi sang pembuatnya. Kemudian sang kepala perpustakaan meminta bantuan agar saya untuk membuat pelatihan khusus di kampus politeknik tersebut selama 3 hari atau seminggu. Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur, saya tidak bisa melakukannya karena saya sudah pindah tugas ke Jakarta. Saya hanya bisa menyarankan agar nanti salah satu pustakawannya di ikutkan saja ketika ada pelatihan SLiMS di luar kota atau dengan belajar secara otodidak seperti ketika saya dulu. Lagi pula belajar SLiMS untuk sekarang begitu mudah karena sudah tersedianya akses informasi seperti adanya Forum khusus di website slims.web.id. Tinggal pintar-pintar seorang pustakawan untuk mau belajar dari nol.

Kuwariskan Pengetahuan SLiMS 
Tahun 2012 saya mengajukan mutasi PNS dari Pemda Kabupaten Indramayu ke Jakarta karena alasan keluarga. Salah satu tempat sasaran saya mutasi adalah di LPNK yaitu Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Sayangnya kepala kantorku tidak menyetujuinya karena beralasan tenaga saya masih dibutuhkan terlebih tidak ada lagi seorang pustakawan yang bisa mengoperasikan SLiMS bila ada masalah. Akhirnya dengan pertimbangan yang cukup matang saya mengundurkan diri dari PNS. Kepala kantorku menyarankan agar memikirkan kembali dengan pengunduran diriku. Namun, saya tetap bersikeras dengan keputusanku jika kepala kantorku tidak mengijinkan  mutasi, maka lebih baik saya undur diri.

Selang beberapa hari, sang kepala memanggilku untuk menghadap. Lantas kepala kantorku memberikan persetujuan mutasi dengan catatan pertama, buat pelatihan singkat selama seminggu tentang kepustakawanan kepada semua staf yang akan dijadikan pustakawan dan kedua, pelatihan tentang SLiMS terutama pada problem solving ketika ada masalah. Maka dengan lantang, syarat itu saya siap untuk menjalankan. Di pertengahan 2012 akhirnya saya sudah bisa pindah ke Jakarta tentunya setelah kuwariskan pengetahuan SLiMS ke generasi penerus yang ada di Perpustakaan Indramayu. Saya sungguh berterima kasih kepada kepala kantorku dulu yaitu Alm. Haji Mujhid karena beliaulah yang membolehkan saya mutasi untuk dapat berkumpul dengan keluarga yang di Jakarta. Semoga amal baiknya diterima di sisi Allah, SWT. Amin.

SLiMS Amunisiku
Di penghujung tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan tentang tiga hal yang berkaitan dengan SLiMS. Menurut saya SLiMS adalah amunisiku. Mengapa? berikut tiga pengalaman yang selalu saya cantumkan tentang keaktifan saya terhadap sosialisasi pemanfaatan SLiMS.
  • Juara 1 Lomba Pustakawan Berprestasi Tingkat Propinsi
Pada tahun 2010 saya mengikuti lomba kepustakawanan tingkat propinsi Jawa Barat. Penyelenggara lomba ini adalah Badan Kearsipan dan Perpustakaan Propinsi Jawa Barat (BASIPDA). Peserta diikuti oleh perwakilan pustakawan yang ada diseluruh kabupaten/kota propinsi Jawa Barat. Saya sendiri mewakili Kabupaten Indramayu. Dalam lomba tersebut, ada penilaian tentang keaktifan pustakawan terhadap organisasi atau komunitas yang berkaitan dengan kegiatan kepustakawanan. Utamanya yang berdampak pada masyarakat yang ada lingkungan Kabupaten Indramayu. Saya menuliskan beberapa keaktifan itu salah satunya saya menjadi pegiat SLiMS di perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indramayu secara mandiri dan gratis. Bagiku ini merupakan sebuah point sehingga dapat memenangkan lomba selain dari penilaian lainya. Oh ya, satu lagi sebagai informasi ketika mengkuti ujian tulis pustakawan berprestasi tingkat propinsi juga ada soal-soal yang membahas tentang SLiMS lho.
  • Finalis Lomba Pustakawan Berprestasi Tingkat Nasional
Lagi-lagi menurutku SLiMS menjadi amunisiku karena dalam Lomba Pustakawan Berprestasi Tingkat Nasional pada tahun 2010 yang di selenggarakan Perpustakaan Nasional RI. Dalam lomba itu ada segment dimana setiap pustakawan harus memaparkan kelebihannya dengan apa yang dilakukan selama bekerja di perpustakaan. Dengan kelebihan itu apa kontribusi bagi kemajuan bagi dunia perpustakaan. Singkat kata pustakawan harus percaya diri dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Pustakawan harus tahu prestasi apa yang dibanggakan dalam memajukan dunia kepustakawanan. Saya meyakini ketika masuk dalam finalis atau 10 besar dari 29 peserta itu, selain karena menulis buku dan mengajak para pustakawan lainya untuk menulis, juga karena keaktifan saya menjadi pegiat SLiMS dalam membantu perpustakaan-perpustakaan di Kabupaten Indramayu sehingga menyumbang nilai yang cukup besar. Dari 29 peserta itu, hanya saya yang merasa bangga menjadi pegiat SLiMS untuk kemajuan perpustakaan dengan disertai bukti-bukti kongkrit yang ada.
  • Senior Library Assistant
Pertengahan tahun 2013, saya memberanikan diri melamar menjadi Senior Library Assistant di International Atomic Energy Agency (IAEA) yang ada di Vienna, Austria. Mengapa saya berani melamar lowongan tersebut? Pertama, karena saya sebagai seorang pustakawan yang bekerja di Badan Pengawas Tenaga Nuklir Indonesia. Sehingga ini jelas sangat berhubungan dengan IAEA tersebut. Kedua, Lagi pula ada beberapa pegawai dikantorku yang di tugaskan di IAEA untuk beberapa tahun karena keahliannya dibidang Nuklir. Ini yang membuat saya berani mencoba untuk melamar sebagai pustakawan dibidang nuklir.

Terkait hal itu, dalam aplikasi lamaran ada sebuah kolom yang berbunyi mengenai daftar keanggotaan profesional dan aktivitas sosial baik tingkat nasional ataupun internasional. Maka dengan bangga saya menuliskan dalam kolom tersebut salah satunya SLiMS Community. Inilah sebuah amunisi yang saya yakin ini bisa menjadi pertimbangan dan harapan bagi saya untuk bisa lolos seleksi. Selain itu, ada satu kolom lagi yang harus menuliskan referensi dari seseorang yang mengenal karakter dan kualifiksi saya sebagai seorang pustakawan. Lalu saya menuliskannya tiga orang yaitu pustakawan senior dari LIPI, dosen dari Universitas Padjajaran dan Lead SLIMS Developer yang waktu itu masih diketuai oleh om Hendro Wicksono.

Melamar Sebagai Senior Library Assistant  di International Atomic Energy Agency (IAEA)
Melamar Sebagai Senior Library Assistant
di 
International Atomic Energy Agency (IAEA)
Harapannya ketika lulus seleksi administrasi dan berlanjut ke wawancara, maka aktivitas sosial kepustakawanan khususnya keaktifan saya di SLiMS Community dan om Hendro sebagai referensinya, maka ini bisa menjadi point tersendiri. Walaupun pada akhirnya, ketika pengumuman saya dinyatakan tidak lolos, paling tidak tahun depan akan saya coba kembali. Do'akan teman-teman semoga bisa lolos dan maaf buat om Hendro, saya tidak bilang terlebih dahulu namanya dijadikan sebagai referensiku. Hal ini saya lakukan karena saya tahu om Hendro adalah orang yang berkompeten dan penuh dedikasi (he..2). Lagi pula rencananya saya akan memberitahukannya ketika sudah lulus seleksi administrasi.

Secercah Harapan
Sebagai penutup, tiga pelajaran penting bagi saya pribadi dan mungkin juga bisa buat nasehat teman-teman pustakawan semua selama saya aktif menjadi pegiat SLiMS:
  • Pertama, jadilah pustakawan aktif, pandai berkomuniksi, dinamis dan terbuka yang selalu ingin belajar hal-hal yang baru. Seperti peningkatan pengetahuan teknologi informasi dan dapat mengimplementasikannya dalam pekerjaan sehari-hari. Contoh konkritnya ketika belajar SLiMS ini sehingga kita akan tahu bahwa tidak selamanya pemanfaatan software perpustakaan memerlukan biaya yang besar. Belajar pemanfaatan software perpustakaan bukan hanya SLiMS, namun teman-teman pustakawan juga bisa mempelajari software perpustakaan gratis lainya seperti openbiblio, greenstone, koha, dan lain sebagainya. Selain itu, pustakawan juga perlu mempelajari tools lainya yang bermanfaat seperti mendeley yang digunakan untuk mengolah sitasi dan daftar pustaka, kemudian infographic online seperti infogr.am dan presentasi online seperti Prezi, atau Sweet Home 3D yaitu software khusus untuk membuat desain interior sebuah ruangan. Saya sendiri pernah disuruh untuk membut desain interior ruangan perpustakaan oleh kepala biro perencanaan dikantorku dengan menggunakan software tersebut. Untuk contoh gambarnya bisa lihat disini. Pustakawan aktif adalah pustakawan yang selalu ingin belajar untuk meningkatkan kompetensinya kendati kondisi yang ada tidak mendukung sepenuhnya. Ia akan selalu berpikir kreatif dari kondisi yang biasa hingga menjadi luar biasa tanpa banyak berkeluh kesah.  Pendek kata, agar menjadi pustakawan cekatan di era sekarang ini, maka pelajarilah beberapa aplikasi baik desktop atau web based yang dapat bermanfaat untuk kegiatan kepustakawanan. Syukur-syukur bukan hanya sebagai pengguna melainkan pembuat seperti para developer SLiMS ini.
  • Kedua, jangan lupa ilmu yang didapatkan itu harus disebarkan lagi sehingga bermanfaat bagi orang lain. Contohnya demi kemajuan dunia kepustakawanan dalam bidang teknologi informasi, silahkan bagi teman-teman yang sudah ada pengetahuan tentang SLIMS dapat menyebarkannya ke orang lain yang belum mengetahuinya. Ini tentu akan sangat bermanfaat mengingat masih banyak diluar sana para pustakawan yang memerlukan diskusi dan berbagi pengetahuan bersama.
  • Terakhir, setiap pekerjaan yang membantu orang lain, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah jangan pernah mengharapkan dengan imbalan berupa materi misalnya berbentuk uang. Bisa jadi ketika membantu itu efeknya akan berpengaruh terhadap pekerjaan kita misalnya jaringan pertemanan, pengalaman atau lainya . Contohnya keaktifan kita terhadap komunitas sosial yang tulus dan ikhlas secara tidak langsung akan memberikan rezeki lainya yang tidak disangka-sangka. Misalnya dewasa ini ada beberapa perpustakaan yang membuka lowongan dengan kualifikasi harus mahir dengan pengoperasian SLiMS. Dengan demikian ini adalah sebuah kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang calon pustakawan dimasa yang akan datang. Pada kasus saya misalnya pada fenomena "SLiMS sebagai amunisiku". Ini efek yang sebenarnya lebih dashyat. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika saya katakan bahwa secercah harapan itu bernama SLiMS. Sebuah harapan menuju cita-cita yang diidam-idamkan baik untuk personal, masyarakat, maupun institusi. Semoga...
Terima kasih buat para pengembang SLiMS. Kalian adalah orang-orang yang mempunyai idealisme tinggi untuk memajukan dunia kepustakawanan Indonesia. Semoga terus dapat berkarya tanpa lelah....

Tulisan ini di tujukan untuk lomba Blog Contest SLiMS Commeet 2014
Awal Puasa, Pamulang, 29 Juni 2014

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Secercah Harapan Itu Bernama SLiMS"