Manusia Sarden dan Wirausahawan

Advertisement
Tidak terasa sudah hampir tiga tahun ini saya telah merantau untuk bekerja di kota metropolitan Jakarta. Tiap hari Senin hingga Jum'at saya harus bolak-balik pergi dari rumah yang ada di Pamulang hingga menuju kantor yang terletak di Jl. Gajah Mada Jakarta Pusat. Bukan rahasia umum lagi, Jakarta adalah kota yang terkenal dengan macet dan banjirnya. Nah, salah satu transport yang murah dan lumayan tidak macet ketika dijalan adalah dengan memanfaatkan commuter line. Selebihnya seperti bushway, motor atau mobil jemputan kantor tentunya sering terkena macet yang berkepanjangan hingga tak jarang membuat orang-orang stress dan mudah marah. Commuter line bisa dikatakan transport yang agak mendingan dibandingkan lainnya. Meskipun demikian tetap masih ada kekuranganya yaitu ketika menaiki transport yang satu ini layaknya sebuah manusia sarden. Berdesakan tanpa bisa begerak sedikitpun, bahkan seandainya bila ada seorang copet dalam kereta dijamin tidak akan bisa mengambil dompet dari target korbannya.

Para penumpang commuter line

Manusia Sarden
Teman-teman tahu sardenkan? makanan ikan yang diawetkan dan dikalengkan numpuk tanpa celah. Seperti itulah kira-kira menaiki commuter line saat berangkat kerja di pagi hari dan ketika pulang sore hari pula. Saya yakin semua orang memilih transport ini juga karena terpaksa. Walaupun tidak macet, namun tetap harus berjuang untuk berdesak-desakan dengan penumpang lain. Belum lagi kalau ada keterlambatan jadwal, makin sengsaralah para pengguna transportasi yang satu ini. Menunggu transportasi baru seperti Mass Rapid Transit (MRT), tentu perlu menunggu waktu cukup lama, paling tidak lima tahun lagi. Oleh karenanya saya harus mulai mencari solusinya agar tidak lagi menjadi manusia sarden. 

Wirausahawan  
Saya jadi berpikir untuk mulai memikirkan  kembali tentang masa yang akan datang untuk tidak lagi menjalani rutinitas seperti ini lagi. Tidak lagi berangkat pagi-pagi buta hanya untuk menggunakan commuter line agar tidak terlalu penuh, tapi itu mustahil. Sudah saatnya saya harus membuat rencana besar untuk tidak menjadi pegawai lagi. Saya harus berani mengambil keputusan besar dengan menjalani bidang kewirausahaan.

Sebenarnya untuk menjadi wirausahawan salah satu alasannya bukanlah dikarenakan menjadi  manusia sarden. Akan tetapi ini adalah visi saya kedepan untuk menjadi manusia yang bebas, berkarya dan bermanfaat. Bukan berarti dengan menjadi pegawai tidak bisa mencapai tiga point yang telah disebutkan itu. Namun, dengan bekerja sendiri (self employment), maka ini akan menjadi tantangan bagi saya pribadi. Utamanya dalam jangka panjang adalah dengan menjalani kewirausahaan ini pada akhirnya dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ini titik point yang saya tekankan mengapa saya ingin menjalani kewirausahaan secara serius dan tidak lagi menjadi manusia setengah-setengah seperti  saat ini yang sedang saya jalani. Satu sisi menjadi PNS dan satu sisi lagi menjadi wirausahawan.

Terus terang saya sudah tidak sabar lagi untuk mengucapkan selamat tinggal manusia sarden dan selamat datang dunia wirausahawan. Kira-kira kapan ya mulai siap? doa'kan saja kawan.

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Manusia Sarden dan Wirausahawan"