Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyoal Buku Transformasi Perpustakaan dalam Ekosistem Digital Penulis Dr. Hartono, Bab 22 Copas Plagiat Paper Saya (Ini Fakta-Faktanya)

Ok, tulisan ini saya bahas terkait buku berjudul Transformasi Perpustakaan dalam Ekosistem Digital: Konsep Dasar, Organisasi Informasi, dan Literasi Digital karangan Dr. Hartono. Terbit tahun 2020 dan diterbitkan oleh Penerbit Kencana. Saya mengetahui buku tersebut ketika membaca di iPusnas. 

Langsung saja, saya baca di Bab 22 Transformasi Perpustakaan Dalam Literasi Digital. Serius, saya kaget karena ketika membacanya kok rasa-rasanya seperti membaca tulisan sendiri tepatnya halaman 318-322. Setelah dibaca dan diteliti secara seksama, fix itu adalah tulisan paper saya yang pernah saya publish di blog ini dan Academia pada 2015. Judulnya Definisi, Manfaat dan Elemen Penting Literasi Digital

Tulisan yang dicopas alias disalin adalah dari pendahuluan, definisi dan manfaat literasi digital. Jadi, tidak sampai pada elemen pentingya. Semuanya sama, dari halaman 318-322.  Tanpa mencantumkan sumbernya lagi. Sekarang saya akan bedah kontennya karena saya hapal betul ketika menulisnya dan sebenarnya bukti-bukti kuat itu ada di daftar pustaka selain dari tahun diterbitkannya. Sebelumnya, mohon maaf apabila saya mengambil bukti screenshootnya dari iPusnas. Ini tidak ada tujuan lain kecuali hanya untuk pembuktian saja. 

Fakta 1: Di awal paragraf sebenarnya ada bagian yang dipotong. Penulis langsung mengambil di Josh James (2014). Saya cek di daftar pustakanya. Sumbernya jelas tidak ada.

Sementara tulisan saya yang diblog, begitu terang benderang saya ambil data tersebut: Josh James (2014), Data Never Sleeps 2.0: https://www.domo.com/blog/2014/04/data-never-sleeps-2-0/, diakses tanggal 5 Oktober 2015. 

Lagipula itu data tahun 2014. Kenapa tidak mengambil data terbaru minimal misalnya 2019. Kalau buku itu dalam proses menulis tahun 2019, ya setidaknya tahun 2018. 

Fakta 2: Internet livestats.com, sama seperti sebelumnya. Di daftar pustaka tidak ada. 

Sementara saya mengambil jelas: NetCraft and Internet Live Stats (2014), Total number of Websites: http://www.internetlivestats.com/total-number-of-websites/, diakses tanggal 5 Oktober 2015. Sumber tersebut secara live. 

Saya sambung lagi dengan data yang saya ambil dari webpagefx.com. Lagi-lagi disana tidak ada rujukannya. 

Saya sendiri begitu jelas mengambil disini: Webpage FX (2014). The Internet in Real Time: http://www.webpagefx.com/internet-real-time/, diakses tanggal 5 Oktober 2015.

Narasi diatas jelas-jelas menyalin dari blog saya. 

Sekarang lanjut ke halaman berikutnya halaman 319:


Fakta 3: Menariknya ketika penulis mengambil filsuf Perancis, Paul Virillio. Disitu jelas pengutipannya Kloock, 1997 dari Bernhard Jungwirth. Lagi-lagi penulis tidak ada daftar pustakanya. Jika memang benar kalau seandainya penulis membacanya dari itu, mestinya dicantumkan.

Sementara saya sumbernya jelas mengambil disini: Jungwirth, Bernhard (2002), Information Overload: Threat or Opportunity?: http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.461.2076&rep=rep1&type=pdf,  diakses tanggal 5 Oktober 2015

Berikut saya lampirkan potongan sumbernya:
Oh iya, itu salah satu tanda dalam tulisan yang sengaja saya sematkan disitu terkait Paul Virillio dan dehumanisasi untuk kontrol saya ketika cek di mesin pencari Google.

Fakta 4: Masih terkait daftar pustaka. Penulis luput menulisnya. Saya mengambil pengertian literasi digital yang masih dianggap belum final bersumber dari thesis Douglas A.J. Belshaw judulnya What is digital literacy? A Pragmatic investigation. Lainya saya list dibawah:
  • Seung-Hyun Lee (2014) diambil disini: Lee, S. (2014). Digital Literacy Education for the Development of Digital Literacy, 5(September), 29–43. http://doi.org/10.4018/ijdldc.2014070103
  • Deakin University’s Graduate Learning Outcome 3 (DU GLO3) diambil disini: Deakin Learning Futures (2013), Communication Skills: http://www.deakin.edu.au/__data/assets/pdf_file/0017/38006/digital-literacy.pdf, diakses tanggal 5 Oktober 2015
  • Soheila Mohammadyari & Harminder Singh, 2015 diambil disini: Mohammadyari, S., & Singh, H. (2015). Computers & Education Understanding the effect of e-learning on individual performance : The role of digital literacy. Computers & Education, 82, 11–25. http://doi.org/10.1016/j.compedu.2014.10.025
  • Commmon Sense Media (2009) diambil disini: Sense, A. C. (2009). Digital Literacy and Citizenship in the 21st Century. San Francisco: Common Sense Media.
Lanjut ke halaman 320:
Dari beberapa definisi itu, bahkan hingga kesimpulan pun juga sama. Untuk gambar abaikan.

Fakta 5: Masih daftar pustaka juga. Penulis tidak menyertakan. Padahal jelas saya menulis terkait survei dari BCS itu saya ambil dari sini: Digital literacy and employability: http://www.bcs.org/category/17854, diakses tanggal 5 Oktober 2015.

Sementara Brian Wright (2015) saya ambil dari sini: Top 10 Benefits of Digital Skills: http://webpercent.com/top-10-benefits-of-digital-skills/,  diakses tanggal 5 Oktober 2015. Itu gambar infografis yang coba saya narasikan. 

Lanjut ke halaman 321:

Yang lucu lagi pada manfaat yang ketujuh, saya mengutip tulisan dari Pak Ida judulnya: Nilai Informasi : https://www.academia.edu/4553433/Nilai_Informasi, diakses tanggal 30 September 2015. Lagi-lagi penulis tidak menyertakan itu. Terakhir, sambungannya pada halaman 322.

Ok, mungkin segitu dulu. Kalau ada yang ingat lagi, baru saya tambahkan kembali. Semua referensi masih saya simpan rapi di laptop. Kalau diperlukan mungkin akan saya screenshoot tanggal ketika penyimpannya dan itu bisa terlihat dari metadatanya.

Oh iya, berikut saya lampirkan untuk daftar pustaka dalam buku tersebut:





Lantas, gimana kelanjutannya? Saya akan coba hubungi penulisnya. 

3 komentar untuk "Menyoal Buku Transformasi Perpustakaan dalam Ekosistem Digital Penulis Dr. Hartono, Bab 22 Copas Plagiat Paper Saya (Ini Fakta-Faktanya)"

Purwoko Sabtu, Maret 13, 2021 Hapus Komentar
Menarik, Mas.

Ini adalah bagian dari proses berkomunikasi antar para penulis. Tentunya perlu jawaban dari penulis.

Proses inilah yang akan menjadi jamu peningkatan kualitas riset dan tulisan, khususnya terkait kepustakawanan di Indonesia.

Murad Maulana Rabu, Maret 17, 2021 Hapus Komentar
Siap. Makasih banyak Kang Pur.
Unknown Rabu, Maret 31, 2021 Hapus Komentar
gimana kelanjutannya ???