Sentuhan Rasa
AI begitu berpengaruh dalam kehidupan fana ini, mengubah ke segala lini.
Termasuk pada jenis-jenis tulisan.
Misalnya saja, dulu saya sering menulis terkait istilah-istilah penting dan daftar hari penting sebagai ide menulis.
Kini, itu tak perlu.
Kenapa? Karena istilah-istilah penting dan daftar hari penting sudah dikemas dengan kerja AI.
"Kan dulu ada semacam Wikipedia. Jadi, tetap bisa menulis kok. Ada potensi direferensikan dari mesin pencari"
Iya betul, tapi kini tak perlu lagi. Orang sekarang cenderung mencari jawaban ke AI langsung.
AI yang akan menyuguhkannnya. Faktanya, tak usah jauh-jauh, pada diri sendiri dan teman-teman tempat saya bekerja. Hal yang dilakukan ketika mencari informasi langsung ke AI.
Dulu, mungkin via mesin pencari, tapi kini AI yang pertama. Setelahnya, mungkin mesin pencari, media sosial, dan lainnya.
Oleh karenanya, dikasus tersebut sering dianggap sebagai perubahan pola perilaku dalam pencarian informasi. Dari mesin pencari ke AI. Dulu ada SEO, kini konon katanya ada GEO (Generative Engine Optimization). Prinsipnya ada empat hal misalnya dari sisi kejelasan struktur konten, kredebilitas sumber, konten komprehensif, dan bahasa natural (skema.co.id).
Memang, pada mesin pencari Google misalnya, tersedia juga AI Mode.
Lalu, bagaimana dengan blog, website dan sejenisnya? Apa masih perlu?
Konon, masih perlu. Namun, ada perpaduan SEO+GEO.
Mengapa masih perlu? Karena AI juga seringnya mengambil referensi dari blog atau website-website terpercaya itu.
Perlu diingat, pada kasus jenis tulisan lain, misal semacam tulisan-tulisan curhatan murni dari penulisnya, mungkin ini akan menjadi kekuatan tersendiri. Kenapa? Karena ada sentuhan 'rasa' yang tak dimiliki AI.
Tapi, balik lagi, biasanya akan berpengaruh juga sisi personal si penulisnya.
Mungkin tulisannya tidak banyak direferensikan oleh AI, tapi sering dibaca oleh si pembacanya karena ada ketertarikan dari personilnya yang terbuka, tidak anonim dan dipadu kebutuhan informasi si pembacanya.
Sebagai contoh, seseorang yang berbagi pengalaman terkait proses membeli rumah pertama. Kalau dari AI mungkin banyak, tapi dengan melihat sisi person-nya, maka akan menjadi nilai tersenidiri bagi si pembaca. Sentuhan rasa dan nyata, itu akan membuat terbawa suasana bagi si pembaca. Ada semacam 'roh' yang membuat otak kita tersentuh. Entah sedih, takut, gembira, ragu, dan sejenisnya. Keterbukaan person-nya yang akan membuat menjadi semkin hidup. Bukan mesin semacam AI!
Lagi pula, saya percaya setiap tulisan murni itu ada pembacanya masing-masing, tak peduli kita itu siapa.
Menulis itu tentang rasa, bukan sekedar rangkaian susunan kalimat cepat dari AI. Si penulis senang bisa mencurahkan pikirannya secara bebas. Pembaca juga ada rasa percaya, tercipta kedekatan psiklogis karena ada permasalahn yang sama. Ada simpati, empati, solidaritas, dan sejenisnya.
Sentuhan rasa itu yang membuat itu menjadi berbeda.

Posting Komentar untuk "Sentuhan Rasa"