Mengenal Wajah Perpustakaan Kita Melalui Ngeblog

“A great library contains the diary of the human race.” – George Mercer Dawson
Harus jujur kita akui, dapat dipastikan masyarakat kita jarang mengetahui bahwa di bulan September tepatnya tanggal 14 ini adalah hari dimana diperingatinya bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan (bahkan di wikipedia pun belum tercantum). Apabila dibandingkan dengan salah satu peristiwa misalnya seperti hari valentine, jelas sekali perayaan hari kasih sayang tersebutlah yang akan lebih di ingat terutama bagi generasi muda bangsa kita. Cobalah anda tanyakan itu kepada salah satu remaja di sekiling kita? benarkah demikian adanya?

Peristiwa penting memperingati bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan telah dicanangkan oleh mantan presiden Soeharto pada tanggal 14 september tahun 1995. Tujuannya adalah satu yaitu peradaban bangsa Indonesia maju karena budaya membacanya. Harapan itu menjadi cita-cita di setiap negara di belahan dunia manapun berada terutama bagi negara-negara berkembang yang notabene budaya bacanya masih kurang mengakar dengan baik.

Dari sekian banyak permasalahan yang di hadapi perpustakaan, salah satu yang masih menjadi topik hangat di perbincangkan yakni perpustakaan masih dianggap sebagai tempat buangan para pegawai. Kondisi ini akan banyak kita temukan di perpustakaan umum dibawah naungan pemerintah daerah dan perpustakaan-perpustakaan sekolah. Penulis sendiri mengalami secara langsung fenomena tersebut saat masih bekerja di Perpustakaan Umum selama tujuh tahun bahkan hingga terlibat dalam kampanye menolak penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan dengan berpartisipasi mengirimkan karikatur yang di buat oleh salah satu pemustaka dan dukungan petisi yang di gagas oleh rekan saya Ahmad Subhan. Sejalan dengan itu, seiring dengan pekembangan jejaring sosial yang banyak digunakan untuk rangkaian kegiatan yang bersifat positif, maka tidak heran jika kini bermunculan sebuah grup facebook yang khusus mengangkat permasalahan itu misalnya "Solidaritas Pustakawan Tolak Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan" dan "Solidaritas Perpustakaan Untuk Perubahan". Ini patut diapresiasi mengingat perjuangan untuk memajukan perpustakaan masih panjang dan berliku, kendati ini bukanlah organisasi resmi.

Perpustakaan Vs Tong Sampah
Perpustakaan di ibaratkan layaknya tong sampah karena dianggap sebagai tempat buangan bagi para pegawai bermasalah dan tidak produktif. Saya tidak menampik akan hal itu karena kondisi demikian sudah terjadi dalam rentang waktu yang begitu lama hingga dianggap lumrah. Di salah satu forum terbesar pustakawan sendiri, kondisi perpustakaan yang seperti itu masih menjadi perdebatan yang seperti tidak ada ujungnya. Kita ambil satu kasus ketika Gubernur Jakarta Joko Widodo memindahkan mantan walikota Jakarta Selatan menjadi Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah. Di sana terjadi perdebatan pro dan kontro antara para akademisi, pustakawan, dan pakar lainya di bidang perpustakaan. Namun saya mengambil suatu kesimpulan dalam perdebatan itu. Pertama, mereka yang tidak setuju perpustakaan dianggap sebagai tempat buangan dalam hal ini layaknya tong sampah. Kedua, mereka yang menganggap hal itu biasa saja, namun demikian perpustakaan bisa dijadikan sebagai tempat berkontemplasi agar menjadi paribadi yang lebih baik. Di sisi lain, para pustakawan yang bekerja di dalamnya harus menunjukan kinerja yang lebih baik agar dunia luar bisa mengakui itu. Pendek kata tunjukanlah prestasi kerja lebih dahulu. Ketiga, mereka yang hanya diam membisu alias masa bodoh.

Karikatur Yang di Buat Pemustaka Kantor Arsip dan Perpustakaan Indramayu
Karikatur Yang di Buat Oleh Salah Satu Pemustaka 
di Kantor Arsip dan Perpustakaan Indramayu
Sebagai renungan, mari kita lihat beberapa kasus yang muncul di pemberitaan media khusus tentang mutasi pegawai yang merasa terbuang di perpustakaan antara lain:
  • Guru Penganiyaya Siswa Dipindah Tugas, Tempo, 19 Januari 2009
  • Guru Pemukul Siswa Dibebastugaskan Mengajar, Suara Merdeka, 12 Maret 2012
  • Mengagetkan, Sekda Kulonprogo di Mutasi Mendadak, Kedaulatan Rakyat, 18 Februari 2013
  • Walikota dan Baperjakat ‘Lepas Tangan,’ Surabaya Post,  14 September 2013
Puncaknya, kita tentu masih ingat ketika Gubernur Jakarta Joko Widodo yang memutasikan mantan walikota Jakarta Selatan menjadi kepala perpustakaan dan arsip daerah yang mengakibatkan pro dan kontra baik dari kalangan akademisi pengajar ilmu perpustakaan, pustakawan hingga masyarakat itu sendiri. Bagaikan api tersiram bensin, ketika itu banyak komentar-komentar bernada positif bahkan negatif yang pada akhirnya tenggelam bak ditelan bumi. Ketika Ikatan Sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan Indonesia (ISIIPI) memprotes kebijakan Jokowi tentang pemindahan mantan Walikota Jaksel itu menjadi Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah yang dinilai melanggar UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, peristiwa tersebut adalah momentum yang tepat untuk di jadikan titik tolak kebangkitan perpustakaan dengan cara menyalurkan aspirasi langsung kepada Jokowi mengingat gubernur fenomenal ini terkenal dengan pejabat yang suka mendengar. Apa yang terjadi? tidak mudah memang, hujatan bernada negatif seperti dianggap numpang tenar bertebaran di media jejaring sosial dan  portal berita seperti di detik.com. Kondisi ini sungguh sangat di sayangkan mengingat apa yang kita lakukan adalah benar-benar demi perkembangan dunia perpustakaan di Indonesia.

Sebagian kasus diatas yang terangkat di media tersebut kiranya bisa menjadi bahan introspeksi buat kita semua terutama bagi para pemegang keputusan di negeri kita ini. Masih pentingkah keberadaan perpustakaan di negeri kita tercinta ini. Semoga pikiran dan hati mereka terbuka dengan lebar.

Mengenal Perpustakaan Kita Melalui Ngeblog
Baiklah, tentu kita tidak mau terjebak dalam arus permasalahan perpustakaan diatas tanpa adanya sebuah solusi yang tepat. Ini adalah sebuah ujian bersama terhadap kemajuan dunia perpustakaan Indonesia. Tanpa perjuangan yang gigih dan berkesinambungan maka sangat mudah ditebak kita akan terhempas dijalan bagaikan kerikil yang terus terinjak-injak.

Peringatan bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan ini adalah momentum yang tepat untuk medekatkan perpustakaan di tengah-tengah masyarakat yang semakin dinamis ini. Ada banyak cara untuk mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat. Sebagai contoh di Jogjakarta yang diselenggarkan oleh Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Yogyakarta membuat sebuah acara  bertajuk "Memanfaatkan Perpus, Cara Bijak Menggapai Masa Depan". Beberapa rangkaian kegiatan yang unik dan menarik dibalut dengan budaya setempat seperti literasi angkringan, diskusi buku, literasi difabel, dan pelatihan jurnalistk. Kegiatan ini tentu sangat baik karena dapat mengenalkan sekaligus mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat secara luas. Di kota Solo, peringatan hari kunjung perpustakaan dimeriahkan dengan pembagian hadiah kepada para pengunjung tepatnya di tanggal 14 September ini.

Cepatnya perkembangan media online internet memaksa kita harus membuka mata lebar-lebar terhadap perubahan besar di masa yang akan datang. Jauh sebelum media jejaring sosial tumbuh, kehadiran sebuah blog adalah salah satu media yang mewarnai dalam perkembangan pemanfaatan internet.Terinspirasi dari kegiatan ngeblog yang dilakukan penulis setiap hari, saya membayangkan peringatan bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan ini akan lebih meriah jika diadakan lomba ngeblog tentang dunia perpustakaan. Ngeblog bertemakan perpustakaan dilakukan selama sebulan penuh dengan kategori pelajar mahasiswa dan umum. Apa yang ditulis? tentu saja seputar dunia perpustakaan misalnya menyangkut pegawai, fasilitas, kelengkapan koleksi, desain interior dan semua informasi yang berkaitan tentang perpustakaan. Konsep lomba ngeblog ini lebih bersifat santai tapi serius. Gaya kepenulisan bersifat populer sehingga memudahkan peserta menulis dengan apa adanya. Disini para peserta dapat mengeksplorasi ide dan gagasan seputar program-program ideal perpustakaan. Banyak objek sasaran yang bisa di jadikan topik penulisan seperti Perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, dan perpustakan perguruan tinggi.

Blog adalah sarana untuk mengekspresikan diri dengan sebuah tulisan. Orang yang berkecimpung di dunia blog di sebut juga sebagai blogger. Sedangkan aktivitas menulis di blog yang berkelanjutan di sebut juga dengan ngeblog. Inilah yang perlu di garis bawahi menulis blog yang berkelanjutan dapat memperolah manfaat yang besar. Dalam dunia ngeblog, seseorang dapat menulis bebas tanpa beban. Berbeda dengan menulis karya ilmiah yang memiliki banyak aturan. Namun demikian, menulis di blog bukan berarti bebas tanpa batas karena di sana ada sifat berbagi informasi dan pengetahuan yang terkontrol oleh para pembacanya yang aktif. Oleh sebab itu ngeblog dalam rangka peringatan bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan bertujuan akan mendatangkan banyak manfaat diantaranya:
  • Menciptakan minat dan budaya baca
Ngeblog identik sekali dengan dunia tulis menulis. Untuk bisa menulis tentu saja harus banyak-banyak mengakses bahan bacaan. Tanpa membaca mustahil akan bisa menulis dengan baik apalagi memperoleh inspirasi, ide atau gagasan. Karenanya ngeblog akan memaksa seseorang untuk membaca sebagai bahan bakarnya. Dengan demikian ngeblog secara tidak langsung akan dapat menciptakan minat dan budaya baca.
  • Mencintai dan memasyarakatkan perpustakaan
Menyelenggarakan lomba ngeblog khusus bertemakan tentang perpustakaan akan membuat si penulis blog makin mengetahui peran penting perpustakaan sehingga akan membangkitkan rasa cinta kepada perpustakaan.
  • Merangsang minat dan sebagai media latihan menulis
Ngeblog dapat merangsang minat menulis karena blog bisa dimanfaatkan sebgai sarana latihan menulis setiap hari.Tidak sedikit seseorang yang telah menulis buku dengan diawali dari menulis di blog yang berkelanjutan.
  • Menciptakan produsen informasi dan pengetahuan
Sampai kapan kita akan menjadi konsumen informasi dan pengetahuan? dengan ngeblog maka secara tidak langsung kita akan berperan sebgai produsen informasi dan pengetahuan. Di sini kita akan belajar berbagi informasi kepada masyarakat melalui sebuah tulisan hingga menjadi sebuah pengetahuan. Ngeblog adalah kegiatan merangkai informasi dan pengetahuan hingga menjadi bahan bacaan yang dapat bermanfaat untuk orang banyak. Isi tulisan tersebut bisa berupa dari hasil membaca yang kemudian di tuangkan kembali atau berdasarkan pengalaman maupun hasil penelitian secara langsung.
  • Mengenal pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi
Manfaat ngeblog yang tidak kalah pentingnya yakni seseorang dapat memahami pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk tujuan kebaikan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi akan lebih mempercepat desiminasi informasi dan pengetahuan kepada masyarakat.
  • Mengembangkan konsep, ide dan gagasan
Ngeblog khusus tentang perpustakaan akan dapat menggali sekaligus mengembangkan sebuah konsep, ide atau gagasan dari masyarakat terhadap kemajuan perpustakaan. Di sini ada peran aktif para penulis blog (blogger) dari berbagai kalangan. Saya menganalogikan konsep 'gotong royong pemikiran'

Itulah beberapa manfaat dari aktivitas ngeblog dengan tujuan untuk mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat melalui sebuah tulisan guna memeriahkan bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan. Begitu pentingya aktivitas ngeblog dalam membangun perkembangan perpustakaan di masa yang akan datang. Merujuk pada pepatah lama yang berbunyi "tak kenal maka tak sayang", maka adakah yang mau menjadi penyelenggara kegiatan ngeblog dengan topik "Mengenal Wajah Perpustakaan Kita" selama satu bulan? Barangkali Perpustakaan Nasional RI bersedia menjadi pionirnya?

Selamat Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Maju terus perpustakaan di seluruh Indonesia

Posting Komentar untuk "Mengenal Wajah Perpustakaan Kita Melalui Ngeblog"