Jujur dan Tingkatannya

Advertisement
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.” Muhammad, SAW
Jika Jum'at yang lalu di Masjid Bapeten membahas tentang ikhlas, maka hari ini membahas tentang jujur. Sebuah kata yang mudah di ucapkan di mulut, namun sungguh menjadi sebuah tantangan jika di aplikasikan ke dalam perbuatan sehari-hari.

Kondisi keterpurukan bangsa kita saat ini salah satunya juga dikarenakan karena ketidakjujuran. Korupsi merajalela, suap dimana-mana, kebohongan publik merebak hingga semakin mahal lah harga sebuah kejujuran di negeri kita ini.

Bapeten

Kehadiran media massa pun tak luput memberitakan peristiwa-peristiwa seperti pejabat korupsi, anak sekolah nyontek agar lulus, skripsi dibuatkan, tes CPNS bayar, ijazah palsu, joki masuk perguruan tinggi, pencurian, perampokan, makanan kadaluarsa tetap dijual, dan lain sabagainya. Mengapa demikian? mengapa jalan pintas yang dipilih? mengapa berani berbuat bohong atau dusta sementara jujur di pinggirkan? sungguh sangat di sayangkan mengingat perbuatan jujur akan membawa kebaikan. Hal ini seperti yang di terangkan dalam Al-quran surat Muhammad ayat 21 yang berbunyi:
“Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)
Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta. Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (HR. Muslim no. 2607).
Jika ingin mendapat manfaat dari berbuat kejujuran secara ilmiah, berikut artikel yang saya ambil dari Kompas, 6 Agustus 2012 yang berjudul "Orang Jujur Lebih Sehat dan Bahagia"



Tingkatan Jujur
Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, membagi kejujuran dalam lima tingkatan, yakni:

Jujur dalam ucapan
Setiap orang yang mengeluarkan perkataan dari mulutnya harus mencerminkan kebenaran bahwa apa yang diucapkannya bukanlah dusta, bukanlah fitnah, atau bahkan bukanlah sebuah gunjingan. Sebuah ucapan yang dikeluarkan harus memberikan manfaat dan kebaikan sehingga tidak merugikan bagi orang lain.

Jujur dalam niat
Niat adalah sebuah permulaan ketika akan melakukan sebuah perbuatan namun belum tentu dilaksanakan. Banyak orang yang telah berniat untuk melakukan kebaikan akan tetapi tak jarang melenceng dari niat awal yang telah di rencankan. Jujur dalam niat sangat perlu dilakukan untuk mewujudkan keinginan agar terlaksana.

Jujur dalam kemauan
Jika sudah niat, maka kemauan yang kuat harus di upayakan. Niat tanpa kemauan yang kuat akan menjadi sia-sia karena hanya akan berhenti di tengah jalan tanpa mencapai sebuah tujuan. Jujur dalam kemauan untuk berbuat kebaikan yang mendatangkan manfaat hanya di landasi karena Allah, Swt. 

Jujur dalam menepati janji
Jika sudah berani membuat janji maka harus jujur untuk menepati janjinya. Biasanya para pejabat publik atau anggota DPR senantiasa membuat janji ketika sedang dilakukan pemilihan. Andaikata telah terpilih beranikah mereka untuk jujur menepati janjinya? tidak hanya para pejabat atau anggota DPR, setiap kita yang berani membuat janji maka harus berani jujur untuk menepatinya.

Jujur dalam perbuatan
Jujur dalam perbuatan adalah inti dari semua tingkatan kejujuran. Dari mengucapkan, kemudian menetapkan niat dengan kemauan yang kuat hingga berani menepatinya yang pada akhirnya harus di wujudkan dalam bentuk perbuatan. Semua perbuatan yang dilakukan harus berdasarkan pada kebenaran apa adanya. Semuanya dilakukan hanya karena Allah, Swt.

Di akhir khutbahnya, satu pertanyaan yang terlontar dari sang khotib yakni apa yang harus dilakukan agar menjadi orang jujur? lantas sang khatib berwasiat bahwa agar menjadi orang jujur salah satunya adalah berkumpulah atau bergaulah hanya dengan orang-orang yang jujur. Siapkah kita menjauhi orang-orang yang tidak jujur?

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bisa berbuat kejujuran. Amin...

Referensi
Hasil Khutbah Jum'at di Masjid Bapeten Jakarta, 20 September 2013
http://www3.eramuslim.com/hikmah/berlakulah-jujur.htm#.UjvtluI6g5Z
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jujur-kiat-menuju-selamat.html
http://health.kompas.com/read/2012/08/06/11053583/Orang.Jujur.Lebih.Sehat.dan.Bahagia

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Jujur dan Tingkatannya "