Filosofi Api dan Air Dalam Keluarga

Jika berbicara mengenai filosofi antara api dan air dalam sebuah keluarga, maka saya jadi teringat dengan salah satu nasihat bijak dari ibunya istriku (mertua). "Apabila istrimu api, maka jadilah kamu air". Sebaliknya, nasihat tersebut juga ditujukan kepada istriku. "Jika suamimu api, maka jadilah kamu air". Artinya jika suami / istrimu sedang marah-marah, gundah gulana, keras kepala dan apa saja yang dapat berpotensi ke arah pertengkaran, maka seorang suami / istri harus bisa "mengadem-ademi". Memberikan ketenangan bagi sang suami / istrinya, mengalah demi keutuhan rumah tangga agar tetap harmonis. Jangan sekali-kali kedua-duanya menjadi api dan jangan juga kedua-duanya menjadi air. Harus salah satunya menjadi api atau air.

Air
Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang saling mengingatkan, saling menasihati dalam hal kebaikan, juga saling memberi tanpa pamrih. Sebagai seorang muslim, apapun yang dilakukan semuanya harus berdasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sesuai yang digariskan dalam Al-Quran dan hadist.
Baca Juga: Lima Tingkatan Nikmat Yang Harus di Syukuri Agar Selalu Berbuat Kebaikan
Saat mbah putriku masih hidup, beliau juga sering memberikan wejangan kepada saya agar selalu bersabar dalam menghadapi hidup ini. Satu yang membuatku selalu teringat adalah ketika baru menikah dengan istriku. Satu hari selang acara pernikahan, mbah putri istriku selalu bercerita mengenai kesabaran. Beliau juga selalu "mengadem-ademiku". Sampai hari ini saya masih teringat jelas akan senyumanya. Sayangnya menjelang wafat, saya tidak sempat menengoknya. Namun, selang beberapa hari saya datang untuk ke makamnya. Saya hanya bisa berdo'a semoga beliau diterima semua amal baiknya dan ditempatkan disisi Allah, SWT. Amin....

Api dan Air Serta Pengaruhnya Kepada si Anak

Api identik dengan kemarahan, kesombongan, tidak mau mengalah, pendek kata semua mengarah pada iblis yang tercipta dari unsur api. Sedangkan air identik dengan membersihkan, menghilangkan, menyegarkan. Bahkan sifat-sifat air ini perlu kita tiru dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya air itu bersifat fleksibel bisa berupa jadi padat dan uap. Kemudian air itu selalu mengalir dari tinggi ke rendah. Ini artinya manusia harus selalu rendah hati bukan rendah diri. Lalu air itu jangan pernah sekali-sekali diganggu karena dia akan datang membela diri untuk menerjang siapa saja yang menggangunya. Contoh gampangnya adalah aliran air yang tersumbat dapat mengakibatkan banjir. Air juga dapat memberikan ketentraman karena sifatnya yang menolong. Tanah-tanah pertanian bisa subur karena air, ternak ikan bisa berjalan sukses karena air, manusia bisa terjaga kesehatannya salah satunya karena unsur air. Bagi yang suka menonton kartun Avatar,  maka disana akan terlihat jelas perbedaannya antara api dan air. 

Menurut hemat saya, filosofi api dan air dalam keluarga itu baik mengingat keluarga adalah bagian terkecil dalam lingkungan masyarakat. Ini juga akan akan berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan anak. Misalnya marah-marah kepada sang istri didepan anak, berbicara kasar didepan anak, pendek kata semua yang tidak baik dapat dilihat langsung oleh si anak. Dapat dibayangkan ketika dalam sebuah keluarga yang  tidak memberikan contoh yang baik didepan anak-anaknya, maka jangan heran si anak pun akan mengikutinya. Biasanya menjadi seorang anak yang tempramen, mudah marah misalnya.

Seorang anak ibarat seperti kertas putih yang bebas untuk ditulis. Seorang anak juga seperti kaset kosong yang dapat merekam semua yang dilihatnya. Contoh yang paling mudah adalah ketika kita menyuruh anak untuk membaca buku sedangkan kita hanya menonton televisi. Saya yakin si anak lama-lama akan berkomentar, "ibu atau bapak nonton televisi aja, kok gak pernah baca buku?".

Memberi contoh adalah sesuatu hal yang terbaik daripada menyuruh. Boleh saja menyuruh, akan tetapi dalam jangka panjang si anak akan kritis dan dikemudian hari hal tersebut akan membekas terhadap ingatan si anak misalnya "Ibu atau bapak ini bisanya hanya menyuruh saja". Sekali lagi saya tekankan, memberi contoh adalah solusi terbaik untuk mendidik anak.

Contoh kasus pengalamanku terhadap anak adalah ketika menjelang tidur, si anak disuruh untuk tidur sedangkan yang menyuruh masih tetap menonton televisi, maka jangan heran si anak akan membangkang karena yang menyuruh tetap saja menonton. Seharusnya yang menyuruh juga harus mematikan televisinya. Ini adalah kisah nyata yang sering terjadi, namun tanpa kita sadari hal tersebut sangat berpengaruh. Jadi mencontoh adalah solusi terbaik daripada hanya sekedar menyuruh.

Seperti halnya filosofi api dan air, maka sebisa mungkin kita harus mencontoh langsung kepada si anak. Tunjukan didepan mereka bahwa kita tidak pernah marah kecuali untuk yang bersifat prinsip misal menasihati harus salat. Tunjukan di depan mereka bahwa kita tidak pernah sombong, tidak pernah egois, mengalah demi kebaikan, dan tunjukan kepada mereka bahwa kita orang-orang tua yang selalu mengkedepankan kasih sayang.

Filosofi api dan air tampak kelihatan sepele untuk dijalankan. Padahal pengaruhnya sangat besar dan ini benar-benar memerlukan niat yang kuat sehingga mampu untuk mengimplementasikannya. Filosofi api dan air dalam keluarga ini sejatinya adalah berdasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam yang memerlukan kesabaran dan keikhlasan. Semua yang dilakukan adalah atas dasar Allah, SWT.
Baca Juga:Iblis Pun Menyerah Kepada Orang-Orang Yang Ikhlas
Pengabaian terhadap filosofi api dan air dalam sebuah keluarga, maka tidak jarang mengakibatkan pada hal-hal yang sepele sehingga seringkali menjadi salah satu faktor pemicu ketidakharmonisan. Apalagi bagi pasangan muda yang baru menjajaki fase berkeluarga dimana faktor egoisme masih seringkali diutamakan. Api dan air hendaknya bisa dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah sebuah rumus yang bisa diuji keberhasilanya karena berdasarkan pengalaman keluarga mertuaku.

Filosofi Api dan Air Dalam Keluarga

Jika John Gray mengistilahkan bahwa hubungan baik antara si lelaki dan wanita itu bisa tercipta apabila keduanya saling pengertian karena bahasa lelaki dan wanita itu berbeda. Hal tersebut bisa dibaca pada bukunya yang berjudul Men Are from Mars, Women Are from Venus. Maka, nasihat ibu mertuaku ini bisa lebih dashyat lagi.

Bagaimana Jika Keduanya Api atau Air?

Di atas sudah saya singgung sekilas bahwa tidak baik jika keduanya menjadi air apalagi api. Yang terbaik adalah jika salah satunya menjadi api atau air. Mari kita lihat contoh kasusnya satu persatu:
  • Pada kasus tertentu tidak baik jika keduanya air misalnya pada nasihat untuk salat wajib. Harusnya salah satunya menjadi api yang bisa memberikan sedikit nasihat agak keras. Pada awalnya boleh saja memberikan nasihat yang halus, namun jika tidak digubris menjadi api adalah harus dilakukan.
  • Jika keduanya api, maka dapat dibayangkan, pertengkaran hebat bisa terjadi karena keduanya tidak ada yang mau mengalah. Apalagi kalau mempertahankan yang hanya bersifat keduniawian. Disini tidak ada yang berperan sebagai air untuk bisa menyegarkan atau "mengadem-ademi".
Filosofi api dan air dalam keluarga lebih cenderung pada cara berkomunikasi yang lebih baik. Antara suami atau istri harus mengerti kapan ia harus menjadi api dan kapan pula ia harus menjadi air. Keduanya harus memiliki kepekaan masing-masing sehingga bisa mengerti kondisi yang harus dilakukan. Umumnya kemarahan selalu menghiasi dan menjadi bumbu dalam kehidupan rumah tangga.  Oleh karenanya dengan menjadi api dan air, Insya Allah kita bisa terhindar dari ketidakharmonisan yang tidak kita inginkan. Sebagai penutup ada baiknya kita renungkan salah satu hadist shahih Bukhari 6114 dan Muslim 2609. Berikut hadistnya:
HR. Bukhari 6114 dan Muslim 2609Orang yang hebat bukanlah orang yang sering menang dalam perkelahian. Namun orang hebat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika marah.”

Salam,
Pustakawan Blogger

Posting Komentar untuk "Filosofi Api dan Air Dalam Keluarga"