Masih Adakah Anak-Anak Sekarang di Kampung Yang Mencari Jamur?

Advertisement
Masa lalu yang menyenangkan seringkali bisa  menjadi bahan cerita yang mengasyikan bersama teman-teman ketika berkumpul. Apalagi kalau berkumpul dengan teman semasa kecil. Masa-masa bahagia satu persatu sudah pasti akan dibahas tanpa bosan yang bisa membuat senyum-senyum sendiri bahkan tertawa terbahak-bahak. Lucu, unik, konyol itulah semua yang dirasakan. Sampai-sampai ingin rasanya balik lagi ke masa-masa itu.

Pengalaman masa lalu bagi saya pribadi, alhamdulillah begitu banyak. Tinggal dikampung jelas membuat saya merindukan masa-masa itu. Salah satunya yang saya rasakan adalah ketika menjadi pencari jamur. Sejak SD hingga SMA, saya termasuk anak yang paling aktif mencari jamur di pekarangan-pekarangan warga. Mencari jamur ini gampang-gampang susah dan ada musimnya. Susahnya adalah harus bersaing dengan teman-teman lain. Kala itu, siapa yang bangun kesiangan sudah pasti rezeki dipatok ayam. Oleh karena itu, harus bangun pagi-pagi buta. Bagi saya beruntung karena terbiasa dengan bangun pagi. Sehabis subuh biasanya langsung berhamburan untuk berburu jamur dengan membawa lampu senter.
Jamur Tidak Layak Makan
Jamur Tidak Layak Makan, Saya Menemukannya di Pamulang
Kesusahan lain adalah, seorang pencari jamur harus tahu mana jamur yang layak dimakan dan mana jamur yang tidak layak makan alias mengandung racun. Di perkampungan sendiri banyak jenis jamur yang tidak boleh dimakan karena mengandung racun. Dua jamur yang selalu saya ambil biasanya adalah jamur payung yang tumbuh di tanah dengan jamur grigit yang tumbuh dikayu. Kalau dikampung saya, jamur grigit biasa tumbuh di pohon mangga yang sudah ditebang. Bentuk jamur grigit ini kecil-kecil, sehingga harus bisa sabar ketika mengambilnya. Mengambil jamur grigit tidak harus pagi, akan tetapi sore hari atau siang juga bisa dilakukan. Jamur grigit biasanya lebih tahan lama dibanding jamur payung. Oleh karenanya untuk jamur payung begitu muncul pagi hari harus segera diambil. Jamur payung cukup besar, namun seringkali tumbuh tertutupi daun yang jatuh. Kadang juga tumbuh dibawah tumpukan sampah dedaunan yang banyak dan tak terlihat. 

Sebagai seorang pencari jamur khususnya jamur payung, maka ketahanan fisik harus dijaga karena akan berhadapan dengan dinginnya pagi hari. Seringkali juga saya harus hujan-hujanan ria. Setiap mencari jamur, biasanya saya dapat sekantung plastik. Cukup banyak untuk dijadikan lauk makan siang. Emak saya yang akan memasaknya. Biasanya dibuat pepes dikasih bawang merah sama cabai rawit. Untuk rasa, jangan tanya. Dijamin nikmat, bahkan menurut saya lebih nikmat pepes jamur daripada daging bebek. 
Baca Juga: 30 Jenis Makanan Khas Indramayu
Pekarangan warga yang saya satroni begitu luas. Biasanya saya akan bergerilya dari satu pekarangan ke pekarangan lainya. Tetapi, harus ekstra hati-hati karena jangan sampai merusak tanaman yang sengaja ditanam oleh para pemiliknya. Kalau ini terjadi dalam artian menginjak-injak tanaman orang lain, maka itu bentuk kejahatan yang akan cepat tersebar diperkampungan. 

Mencari jamur itu perlu strategi. Tidak bisa mengandalkan hanya bangun pagi. Pencari jamur yang sudah mahir akan tahu dimana jamur itu biasa tumbuh. Diperlukan naluri yang kuat untuk bisa menemukannya. Oleh karenanya antara teman yang satu dengan yang lain akan mempunyai tempat-tempat rahasia yang tidak akan diberitahukan kepada teman lainya. 

Saya tidak tahu, kebiasaan mencari jamur dikampung saya saat ini masih ada atau memang sudah punah. Semoga saja masih ada anak-anak yang melakukan kebiasaan seperti saya dulu karena mencari jamur itu penuh manfaat. Apa saja manfaatnya? Pertama, minimal bisa bangun pagi secara teratur. Kedua, belajar bekerja keras untuk mencari rezeki dilingkungan sekitar. Ketiga, menghemat pengeluaran karena jamur bisa dijadikan lauk pauk. Keempat, tentu saja jamur penuh dengan gizi. Kelima, menjadi pemburu jamur itu perlu kesabaran sehingga ini bisa menjadi latihan mengontrol sifat sabar.

Kurang lebih sudah 17 tahun, semenjak lulus SMA dan merantau ke kota Gudeg, kebiasaan mencari jamur secara otomatis tidak dilakukan lagi. Kadang-kadang saat saya pulang kampung, ingin rasanya saya mencari jamur pagi-pagi buta sekaligus mengajarkan kepada anak-anak saya. Hingga sekarang masih terngiang betapa bahagianya ketika saya bisa menemukan jamur, tumbuh diatas tanah, tertimbun dedaunan. Mengorek-ngorek daun dengan sangat hati-hati dan sabar. Saat itu, tak ada rasa takut misalnya ketemu ular atau hewan kecil beracun lainya. Saat ini, saya hanyalah seorang mantan pencari jamur. Satu pertanyaan yang masih misteri dalam pikiran saya, yakni masih adakah anak-anak sekarang di kampung yang mencari jamur? Entahlah...

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Masih Adakah Anak-Anak Sekarang di Kampung Yang Mencari Jamur? "