Masyarakat Informasi Dalam Perspektif Manuel Castells

Advertisement
Dokumentasi tulisan ini adalah tugas kelompok untuk mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat Informasi, Prof. Partini. Kebetulan dalam dalam kelas itu dibagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah pandangan dari David Dickson mengenai teknologi dan kelompok kedua adalah pandangan dari Manuel Castells mengenai teknologi informasi dalam hal ini berkaitan dengan perkembangan masyarakat informasi.

Tulisan ini bisa disebut sebagai ringkasan dari beberapa bahan bacaan dari para teman-teman yang tergabung dalam kelompok kedua. Beberapa diantaranya saya sendiri, Berlian Eka Kurnia, Nuraini Perdani, Rahmat Fadhli, Resti Laras Gilang Parindra, dan Futri Wijayanti. Berikut tulisan lengkapnya:


Masyarakat Informasi Dalam Perspektif Manuel Castells

Seperti yang kita ketahui, menurut Ito (1981) dalam Denis Mcquail (2011) bahwa istilah masyarakat informasi pertama kali berasal dari Jepang pada tahun 1960-an. Walaupun dalam buku Denis Mcquail tersebut juga mengatakan pada dasarnya jika diruntut awal sejarahnya, ternyata masyarakat informasi tidak terlepas dari konsep masyarakat ‘pasca-industrial’dari Daniel Bell pada tahun 1977. Perkembangan masyarakat informasi secara umum akan dikaitkan dengan adanya kemajuan teknologi informasi yang mempengaruhi di segala bidang. Oleh karenanya, selain Daniel Bell , dua tokoh yang pionir dalam mengkaji perkembangan teknologi informasi adalah Manuel Castells (1996). Keduanya juga termasuk ahli dalam perkembangan teori masyarakat informasi. Jika Bell menyebut masyarakat informasi dengan sebutan masyarakat pasca-industrial, maka Castells menyebutnya dengan istilah “zaman informasi”.

Bagi Castells, dikatakan bahwa kemajuan teknologi informasi telah menyediakan “dasar materi” bagi “perluasan pervasive” dari apa yang disebut bentuk jejaring sosial dari organisasi dalam setiap keadaan struktur sosial (Rahma Sugihartati, 2014:39). Pervasive adalah suatu bentuk dimana teknologi telah menyatu terhadap pemakai teknologi dan lingkungannya sehingga teknologi tersebut bukan suatu hal yang khusus. Bisa dikatakan teknologi tersebut sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Misalnya penggunaan smartphone oleh seseorang untuk aktivitasnya sehari-hari. Ketika smartphone tersebut ketinggalan, maka akan menimbulkan ketidakpastian perasaan.

Manuel Castells memiliki banyak pandangan terhadap perkembangan masyarakat informasi. Dua diantaranya adalah mengenai konsep informasionalisme dan masyarakat jaringan. Tulisan ini akan mengulas seperti apa gambaran umum masyarakat informasi berdasarkan perspektif dari Manuel Castells. Secara umum, ada enam hal yang menjadi gambaran masyarakat informasi menurut perspektif Manuel Castells tersebut, yakni informasionalisme, masyarakat jaringan (network society), perekonomian global atau ekonomi informasional, transformasi angkatan kerja, global city dan cyberculture.
6  gambaran masyarakat informasi menurut perspektif Manuel Castells
Informasionalisme
Dalam pandangan Castells, teknologi komputer dan aliran informasi telah mengubah dunia bahkan hingga menimbulkan permasalahan pada bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Istilah informasionalisme yang dikenalkan Castells adalah suatu mode perkembangan dimana sumber utama produktivitas terletak pada optimalisasi kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi berbasis pengetahuan dan informasi. Jadi, tidak hanya bardasarkan pada kekuatan modal. Seperti halnya konsep smart city, pada dasarnya adalah memandang sebuah informasi dan pengetahuan memainkan peranan penting dalam kepengelolaan kota. Menurut Castells (2000) dalam Rahma (2014), bahwa penerapan pengetahuan (knowledge) dan informasi menghasilkan suatu proses inovasi teknik yang sifatnya akumulatif serta berpengaruh signifikan terhadap organisasi sosial. Sehingga perkembangan masyarakat diakhir abad ke-19 yang dipengaruhi oleh perkembangan informasi dan teknologi informasi disebut sebagai masyarakat jaringan (network society).

Masyarakat Jaringan (Network Society)
Castells melalui konsepnya tentang masyarakat jaringan (network society)  mengembangkan konsep Daniel Bell pada awal tahun 1970-an. Berawal dari adanya revolusi informasi di Amerika pada tahun 1970-an mengakibatkan terjadinya perubahan luar biasa pada pengelolaan dan peran informasi, melahirkan restruksturisasi fundamental pada sistem kapitalis yang disebut sebagai “kapitalisme informasional”. Selanjutnya dari sinilah  muncul istilah “masyarakat informasi”. Kedua istilah diatas muncul didasarkan pada “informasionalisme”. Perkembangan masyarakat pada abad ke-19 yang dipengaruhi oleh perkembangan informasi dan teknologi informasi disebut sebagai masyarakat jaringan atau yang lazim disebut sebagai network society (Rahma Sugihartati, 2014:61).

Dengan adanya jaringan (network) memungkinkan komunikasi berjalan kesemua arah, pada level struktur manapun, tanpa perlu diwakilkan. Produktivas dan efisiensi kerja organisasi/ institusi akan semakin berkembang pesat dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan jaringan informasi. Dengan adanya jaringan ini, maka seyogyanya pemberdayaan masyakarat informasi dapat dilakukan ke semua lapisan masyarakat, pada level struktur mana saja, dimanapun dan kapanpun. Jaringan menjadi hal penting karena dengan adanya jaringan setiap individu berhubungan satu sama lain, saling terbuka, mampu berkembang, dinamis, dan mampu bergerak ke arah yang lebih baik. Adanya jaringan ini juga membuat kapitalisme semakin mendunia dan teroganisasi. Hal ini tergambar pada perkembangan perusahaan transnasional yang luar biasa berkembang di berbagai negara, tidak akan terjadi tanpa dukungan teknologi informasi. Adanya teknologi informasi disini memadukan jaringan kerja dan komunikasi secara terintegrasi.

Ekonomi Informasional

Ekonomi pada dasarnya mengalami dinamika perubahan dari waktu ke waktu. Dinamika tersebut ditandai dengan perubahan bentuk ekonomi tradisional menjadi ekonomi baru. Ekonomi yang ada saat ini adalah ekonomi yang baru dimana dikenal dengan ekonomi yang informasional dan global. Perekonomian informasional adalah perekenomian perusahaan, perekonomian di suatu wilayah atau Negara, yang sumber produktivitas dan daya saingnya sangat tergantung pada dukungan ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi pengolahan yang mereka miliki, termasuk teknologi manajemen dan manajemen teknologi (Rahma Sugihartati, 2014:61).

Kemunculan ekonomi informasional global yang baru semakin menguntungkan organisasi ataupun Negara, ekonomi ini bersifat informasional karena produktivitas dan daya saing dari unit-unit dan agen-agen dalam ekonomi ini secara mendasar tergantung pada kapasitas mereka untuk menghasilkan, memproses dan mengaplikasikan pengetahuan dan informasi secara efisien. Sifat eknomi ini adalah mengglobal karena mempunyai kapasitas untuk bekerja sebagai unit secara real-time pada skala dunia (planetary), melewati batas-batas Negara dan terjadi karena adanya teknologi komunikasi dan informasi. Dengan bangkitnya ekonomi informasional yang bersifat global ini muncul bentuk organisasional yang baru yakni perusahaan jaringan [network enterprise], yaitu bentuk spesifik perusahaan yang sistem sarananya dibangun dari titik temu sejumlah segmen sistem tujuan otonom. Perusahaan jaringan ini adalah perwujudan dari kultur ekonomi informasional global yang memungkinkan transformasi tanda-tanda ke komoditas seperti informasi dan pengetahuan. Pada era masyarakat informasi ini, dalam kontek ekonomi informasional, satu hal penting yang disebut Castells (1996) adalah “Jaringan”, yang sifatnya terbuka, mampu melakukan ekspansi tanpa batas, dinamis dan mampu berinovasi tanpa merusak sistem.

Transformasi Angkatan Kerja
Ciri lainnya yang menandai peranan teknologi terhadap masyarakat informasi melalui kacamata Castells adalah adanya transformasi angkatan kerja / lapangan pekerjaan. Masyarakat informasi dipandang sebagai sebuah gejala sosial yang mempengaruhi perkembangan kehidupan masyarakat. Penggunaan teknologi dalam lingkup masyarakat informasi juga memiliki peranan yang cukup signifikan dalam perubahan/transformasi angkatan kerja. Penggunaan teknologi dalam dunia pekerjaan memunculkan kecemasan dan kekhawatiran akan pengurangan jumlah tenaga kerja teknis yang dapat digantikan oleh teknologi sehingga jumlah pengangguran akan meningkat. Teknologi baru yang menjadi basis bisnis akan membuka peluang: (1) operasional pekerjaan berjalan secara otomatis, perusahaan menjalankan produksi di luar negeri atau melakukan “outsource” pasokan atau mengadakan subkontrak dengan perusahaan-perusahaan kecil; dan (2) pengembangan jaringan perusahaan dengan melakukan subkontrak yang bersifat individual antara manajemen dan pekerja secara ad hoc untuk waktu dan pekerjaannya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi ini juga membuka peluang jenis pekerjaan baru. Perkembangan ini memunculkan pertumbuhan lapangan pekerjaan mandiri, pekerjaan temporer, dan paruh waktu yang bisa dibayar sangat tinggi tergantung pada kualitas hasil kerja yang diberikan. Dengan catatan, kondisi ini dimungkinkan terjadi pada masyarakat yang melek teknologi informasi. Masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah dan tanpa kemampuan untuk ‘bersahabat’ dengan teknologi akan tertinggal.

Berbeda dengan era masyarakat industri di mana posisi pekerja sering kali hanya dipandang sebagai kumpulan massal dari para buruh yang acap kali tersubordinasi, di era masyarakat informasi, munculnya berbagai profesi dibidang jasa pengolah informasi dan orang-orang yang menguasai teknologi informasi, umumnya memiliki posisi bargaining lebih dan dihargai kompetensinya. Kondisi ini juga berlaku dalam dunia perpustakaan. Permintaan akan tenaga pustakawan hari ini tidak lagi hanya kebutuhan akan pengetahuan dan keterampilan mengklasifikasi buku, namun lebih dari itu adalah bagaimana pustakawan dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan akan teknologi informasi dalam pekerjaan keseharian di perpustakaan.

Global City
Sebagaimana yang dikatakan Castell bahwa ruang mengalir adalah organisasi materi praktek-praktek sosial pertukaran waktu yang bekerja melalui aliran jaringan. Jaringan adalah serangkaian titik, hub atau node - ini bisa orang, kota, bisnis, nationstates - dihubungkan bersama oleh arus dari berbagai macam: arus informasi, bahkan, uang, orang. Jadi ruang arus adalah baik node dan menghubungkan. Appadurai mencoba untuk menkonseptualisasikan globalisasi dengan dunia yang silang-menyilang oleh serangkaian tidak berkesinambungan yang bereaksi dengan bergabung dalam jaringan kejahatan global. Selain itu, mereka tidak hanya mengelilingi dunia seperti satelit, mereka mendarat. Di mana mereka mendarat, dan apa hasil dari arahan mereka, juga sama tidak terduga.

Appadurai dan Castells juga setuju bahwa node mana ini proses yang kompleks yang paling jelas bermain yang disebut-kota global. Karakteristik lain dari ruang arus berkaitan dengan waktu. Waktu bermetamorfosis oleh ruang arus, menciptakan apa yang disebut Castells waktu abadi (sampai nanti). Castells telah menyebut ini sebagai pemusnahan ruang oleh waktu, atau waktu-ruang kompresi. komunikasi global seketika mengalir membuat ruang menyusut. Pengalaman ruang, jarak, secara mendalam dimediasi oleh waktu: waktu perjalanan membuat kita merasakan betapa dekat atau jauh tempat yang, tergantung pada mode transportasi. dunia terasa lebih kecil dari pesawat jet. Bahkan berlaku sama dengan komunikasi. Castells juga membuat sejumlah komentar wawasan lain di dunia kota di masyarakat jaringan. Salah satunya adalah bahwa 'kota global terbuat dari banyak potongan-potongan kota di seluruh dunia. Sebuah kota global bukan tempat, tetapi merupakan proses. Bagian dari proses ini adalah tentang disembedding, kota global yang menekankan interkoneksi dengan kota global lainnya.

Sebagaimana Castell dalam (Bell, 1970: 71)  mengatakan, 'Globalisasi sangat selektif. "Selain itu, geografi baru ini tentang kekuatan jaringan, tidak jaringan kekuasaan. Sebagaimana dicatat, disebut kota global utama node atau hub di ruang mengalir. Ini bagi Castells, dan bagi kita, menimbulkan sebuah teka-teki yang menarik. Diberikan kualitas dari masyarakat jaringan, mengingat bahwa ruang-waktu orang kompresi 'membebaskan' dari kendala geografi, dan diberikan semua tentang cara-cara baru 'hidup kabel'. Kota global yang 'cenderung untuk menghasilkan gaya arsitektur, jenis tertentu kosmopolitan estetika, dan serangkaian fasilitas yang mencirikan gaya hidup yang elit global' seperti restoran yang menyajikan sashim atau berbagai macam 'ruang VIP' yang menawarkan berkelas. Sehingga ruang arus adalah jaringan tempat yang terhubung satu sama lain. Tidak hanya node dari komunikasi elektronik, tetapi juga situs dari konstelasi kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan politik.

Lalu adanya fenomena lain yang menarik luas akademik dan pembuatan kebijakan perhatian baru-baru ini yang membuat beberapa kota lebih menarik bagi inovator dan materi yang dipandang sebagai penyelamat kota dirusak oleh pergeseran untuk memasukkan industrialisme (atau informationalism) yang patah hati pusat-pusat kota di seluruh dunia, dan juga sebagai mesin dari competitivenss antar-kota baru, sebagai kota mempromosikan diri. Hal inilah yang kemudian mengalami pertumbuhan suatu kota dan berkembang menjadi kawasan kosmopolitan. Hal inilah kemudian banyak kota besar di dunia kini ramai-ramai membuat tagline kampanye untuk mencitrakan dirinya sebagai kota global. Dan terjadi proses globalisasi dalam pembangunan kota menjadi kota global.

Cyberculture
Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan masyarakat, sehingga muncullah suatu pola masyarakat baru. Castells mengemukakan bahwa hal baru pada era masyarakat ini dimulai oleh sesuatu yang sederhana, yakni teknologi. Hal ini bukan berarti bahwa teknologi dapat menciptakan masyarakat, melainkan teknologi merupakan bagian dari masyarakat. Castells menjelaskan bahwa teknologi informasi baru bukanlah penyebab dari adanya transformasi sosial, tetapi tanpa adanya teknologi, proses yang mengarah pada transformasi sosial tidak dapat terjadi.  Oleh karenanya teknologi dapat dikatakan sebagai suatu kebutuhan bagi masyarakat sekarang (network society). Berbagai macam infrastruktur teknologi yang kita miliki saat ini berbasis pada komputer, teknologi jaringan, telekomunikasi, dan perkembangan dari nanoteknologi. Hal ini merupakan transformasi yang luar biasa baik dilihat dari sisi positif maupun negatifnya, mereka menyediakan dasar infrastruktur yang sepenuhnya berbeda dari 20-25 tahun yang lalu.

Kita tidak dapat mengatakan bahwa hanya karena kita berada pada suatu tatanan masyarakat baru, maka semua masalah dapat diselesaikan dengan mudah. Kita harus bisa mengenali hal baru apa yang dihasilkan teknologi, bagaimana kompleksitas yang dihasilkan dari munculnya teknologi, serta tantangan apa yang diberikan teknologi terhadap masyarakat. Faktanya kita dapat dengan mudah merusak dunia, masyarakat, maupun diri kita sendiri sebagaimana kita dapat membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik bagi kehidupan manusia hanya dengan mengandalkan teknologi. Sesuatu yang baru dari masyarakat ini adalah adanya jejaring, artinya saat ini kita tidak hanya memasuki paradigma teknologi baru, tetapi suatu bentuk baru struktur organisasi atas segala apa yang kita lakukan. Kita telah bergeser dari masyarakat yang segala bentuk aktivitasnya terorganisasi secara vertikal, terstandardisasi, terstruktur secara rasional dan hirarkis, menjadi masyarakat yang aktivitasnya berjejaring.

Pada tahun 1990-an masyarakat Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya membuat program pengembangan infrastruktur informasi modern atau disebut dengan information superhighway, yang pada akhirnya memicu munculnya dunia maya (cyber space). Castells (dalam Sugihartati, 2014:39) mengatakan bahwa era revolusi informasi selalu ditandai dengan adanya perkembangan teknologi informasi, sehingga memunculkan kebudayaan virtual riil, yakni suatu sistem sosial-budaya baru dimana realitas sepenuhnya masuk dalam setting citra maya, yang di dalamnya tampilan tidak hanya ada di layar tempat dikomunikasikannya pengalaman, namun telah menjadi pengalaman itu sendiri. Dengan kata lain, di era masyarakat post-industry realitas sosial dapat dikatakan telah mati, yang kemudian diambil alih oleh realitas yang bersifat virtual, realitas cyberspace. Dunia baru yang dimediasi oleh hadirnya teknologi informasi yang makin maju dan super canggih telah melahirkan hal-hal yang serba virtual, seperti kebudayaan virtual dan komunitas virtual.

Kelahiran revolusi informasi yang ditandai dengan teknologi komunikasi dan media baru (new media) mulai menggeser peran media-media konvensional, bahkan pada titik tertentu new media  memberikan lebih dari apa yang bisa diberikan oleh media konvensional. Perpustakaan sebagai suatu lembaga pusat informasi seharusnya dapat melihat fenomena revolusi informasi ini sebagai suatu peluang dalam membentuk dan mengembangkan perpustakaan yang lebih futuristik. Segala bentuk perubahan yang diakibatkan karena munculnya masyarakat informasi, seperti munculnya realitas virtual (cyberspace) dan new media, dapat dijadikan senjata bagi perpustakaan untuk meningkatkan mutu layanannya yang berbasis pada preferensi pengguna.

Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih serta munculnya revolusi informasi, memberikan dampak perubahan yang signifikan terhadap perilaku membaca maupun perilaku penemuan informasi masyarakat. Pada zaman dahulu sebelum munculnya internet, proses pencarian informasi cenderung berkutat dengan buku maupun bahan tercetak lainnya, namun pada era generasi milenium mulai terjadi perubahan perilaku pencarian informasi, dimana mereka lebih bergantung terhadap bahan digital dibandingkan dengan bahan non-digital.

Perihal tersebut  didukung oleh pernyataan Junni (2007) yang mengatakan bahwa keberadaan internet telah mengubah perilaku penemuan informasi masyarakat, dimana ketergantungan pemustaka terhadap koleksi perpustakaan terkurangi oleh banyaknya informasi yang berjejalan di dunia maya. Berkenaan dengan hal itu, Sugihartati (2011) juga telah menyampaikan bahwa di era masyarakat informasi, seorang pengguna yang membutuhkan informasi tertentu tidak harus datang ke perpustakaan dan kemudian mencari koleksi yang dibutuhkan di rak-rak dengan dibantu katalog, melainkan ia cukup duduk di kamarnya sendiri, membuka laptop, dan kemudian berselancar di dunia maya untuk mendownload e-book atau mencari informasi yang dibutuhkan melalui google, yahoo, atau situs-situs lainnya.

Teknologi digital tidak menciptakan revolusi itu sendiri, melainkan hanya berperan sebagai alat yang mendasari/mendukung infrastruktur komunikasi saat ini yang berguna untuk menyimpan dan mentransmisi data. Nilai yang diciptakan oleh jejaring sosial dan internet jelas berkaitan dengan fakta yang memungkinkan seseorang untuk berinteraksi dengan kerabat jauh menggunakan facebook, email, whatsapp, skype, serta aplikasi-aplikasi serupa lainnya secara gratis. Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan juga dengan mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dengan bantuan teknologi digital ini. Seperti yang kita ketahui, kita dapat dengan mudah mengakses buku-buku serta jurnal hasil penelitian melalui internet. Saat ini internet dapat menyediakan segala macam informasi yang terpercaya, dimana kita dapat mengunduh e-book, e-journal, video, musik, serta jenis informasi lain dari sumber aslinya. Bahkan media belajar online juga tersedia dalam berbagai macam topik. Saat ini seseorang dapat membawa perpustakaan kecil di saku mereka yang terekam dalam flashdrive atau smartphone mereka. Fenomena ini menciptakan sebuah dunia informasi yang mudah untuk diakses. Nilai yang dihasilkan oleh teknologi digital ini sangat luar biasa, hal ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pengukuran nilai yang digunakan pada era industri yang berdasarkan modal dan uang.

Terima kasih buat teman-teman satu kelompok: Berlian Eka Kurnia, Nuraini Perdani, Rahmat Fadhli, Resti Laras Gilang Parindra, dan Futri Wijayanti. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

Daftar Pustaka
  • Castells, Manuel.1996. The Rise of The Network Society (The Information Age: Economy, Society, and Culture). London:Willey-Blackwell
  • Junni, P.2004.Students Seeking For Information  For Their Masters’s Theses: The Effect of the Internet. Swedish School of Bussiness and Economics Administration.
  • McQuail, Denis. 2011.Teori Komunikasi Massa.Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
  • Sugihartati, Rahma.2014.Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer.Jakarta: Kencana Prenadamedia Group
  • __________________.2011.Menyikapi Perilaku Users Pada Layanan Perpustakaan di Era Digital. Disampaikan pada Seminar Ethics of  Librarianship. Surabaya: Perbanas

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Masyarakat Informasi Dalam Perspektif Manuel Castells"