Ujian dan Fatamorgana Kehidupan

Advertisement
Ujian dan fatamorgana kehidupan adalah dua sisi yang tidak akan lepas dari manusia dimuka bumi ini
Kuncinya bersyukur itu saja sih. Ya, kenapa tiba-tiba saya ngomongin tentang syukur lagi? Karena saya banyak bertemu dan ngobrol dari mulai pedagang, pegawai, bahkan wirausahawan. Semuanya kalau diajak berdiskusi mislanya tentang pekerjaan, mesti ada saja keluar pernyataan, "kamu mah enak begitu.....saya mah begini...."

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar, lah wong saya dengar dari mereka secara langsung. Apa artinya itu? Artinya kita manusia jangan sampai lupa dengan apa yang telah diberikan saking Gusti Allah. Bersyukur harusnya menjadi dasar dalam menjalani kehidupan ini. Tanpa rasa syukur, saya yakin akan merasa kurang terus.
Baca juga: Lima Tingkatan Nikmat Yang Harus di Syukuri Agar Selalu Berbuat Kebaikan
Pernyataan yang keluar dari hasil obrolan-obrolan tersebut, memang tidak sepenuhnya benar karena seringkali juga ada yang tidak sesuai dengan apa yang di omongkan dimulut dengan perbuatan. Bisa jadi, mereka menyatakan seperti itu hanya sebagai pemanis saja. Kita tidak tahukan apa yang ada di hatinya? Akan tetapi, apapun kondisinya semoga saja kita semua masih bisa tetap bersyukur. Amin...
Indahnya Dunia Ini
Indahnya Dunia Ini, Tapi hati-Hati!

Ujian Kehidupan

Hidup ini yang menurut orang-orang bijak katakan adalah sebuah ujian. Oleh karenanya, dalam ujian tidak semuanya bisa lulus. Ada yang harus diulang, ada yang baru sekali ikut langsung down, ada yang sudah berkali-kali ikut walaupun gak lulus, tapi tetap bersemangat untuk mengulang, dan lain sebagainya.

Orang-orang yang lulus dalam ujian kehidupan, maka yang didapatkan adalah kebahagiaan. Akan tetapi, dimasa yang akan datang bukan berarti tidak ada lagi ujian. Justru ada ujian dengan tingkat yang lebih tinggi lagi. Disinilah benarnya bahwa hidup itu memang benar adalah ujian. Lagipula jika seandainya manusia hidup tanpa ujian, maka yang terjadi adalah akan datar-datar sajar. Tidak ada menariknya.

Ujian hidup sebelumnya dan yang akan datang bisa saja dengan pola sama atau bisa jadi berbeda. Jika pola sama, ini tentu sebuah rezeki karena setidaknya pengalaman tersebut akan menuntun pada keberhasilan. Mengapa demikian? Karena setidaknya cara penyelesainnya pun tentunya memiliki cara yang sama. Misalkan ketika mengalami kegagalan dalam berbisnis, dimasa yang akan datang tentunya akan lebih berhati-hati lagi. Belajar dari pengalaman, begitulah orang-orang sukses bilang. Jangan sampai kita jatuh dilubang yang sama, maka hal demikian adalah sebuah (maaf) 'ketololan'.

Berbeda jika ujian tersebut ternyata sesuatu hal yang baru, maka ada dua kemungkinan bisa lulus, bisa mengulang, bisa juga mutung, tak dilanjutkan. Kita tentunya kalau bisa memilih yang lulus. Kalaupun harus mengulang, jangan sampai terjadi berulang kali dalam jumlah yang tidak dapat kita tentukan.

Menyoal ujian, kita mungkin teringat tentang masa lalu misalnya sekolah. Ya, hidup itu seperti orang bersekolah, setiap tahun akan selalu ada kenaikan kelas. Untuk bisa naik kelas, maka harus ada ujian terlebih dahulu. Setiap naik kelas, ujian yang hadapi akan berbeda sesuai dengan tingkat kelas yang sedang didudukinya. Ujian antara kelas 1 SD akan berbeda dengan ujian kelas 2 SD dan seterusnya.

Tingkat kesulitan itu ditemui pada dasarnya bisa terjadi karena kita belum maksimal untuk belajar. Sehingga apabila ini dikaitkan dengan hidup, jangan takut dengan ujian, hadapi saja dengan tenang namun penuh kehati-hatian. Saya yakin Gusti Allah tidak memberikan sesuatu yang berat sesuai dengan batas kemampuan seorang manusia. Ini sudah dijamin oleh Gusti Allah  dalam surat Al-Baqarah ayat 286 yang berbunyi:
Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Persoalan hidup seperti kegagalan adalah sebuah proses ujian yang sebenarnya kalau kita yakini itu mempunyai hikmah tersembunyi. Hanya saja kita sebagai manusia yang penuh dengan ketidaktahuan ini yang menyebabkan seolah-olah kegagalan itu adalah satu-satunya biang kehancuran. Stop berpikir seperti itu guys!!!

Tatkala kita dihadapkan pada sebuah ujian yang sulit pun, tentu kita harus hadapi dengan penuh keyakinan bahwa kita pasti bisa. Ini bukanlah bentuk kesombongan, akan tetapi suatu bentuk penyemangat diri ketika sedang berusaha sekuat tenaga. Tetapi juga jangan lupa, setelah berusaha iringi dengan do'a dan sikap tawakal, berserah diri, ikhlas dan ridho terhadap hasilnya. Ini yang akan membuat hati tenang.
Baca juga: Sudahkah Kita Ikhlas dan Ridho?
Ujian-ujian kehidupan untuk mencapai kesuksesan tentunya akan selalu dibarengi dengan tantangan dan hambatan. Tak asyik nian, seandainya hidup tidak ada tantangan plus hambatan. Kepuasan batin, tidak akan tercipta tanpa adanya dua hal itu.

Kadar ujian kehidupan seringkali kita bandingkan dengan teman-teman sekliling kita, sahabat, kawan, tetangga, saudara dan apalah itu semua yang pada dasarnya itu hanyalah semu. Rezeki manusia tentu sudah ada masing-masing. Tak perlu kita berkomentar ini dan itu yang menyebabkan pada penyakit hati. Rezeki yang ada pada oran lain, lebih baik dijadikan landasan pacu untuk tetap bersemangat sehingga efeknya adalah positif. Segala sesuatu yang terjadi pada manusia memang sudah ketentuan Gusti Allah, akan tetapi itu tentu setelah melalui sebuah proses panjang bukan instan!

Fatamorgana Kehidupan 

Proses perjalanan panjang seseorang hingga ia merasakan kesuksesan dengan kondisinya sekarang, bukanlah terjadi karena sim salabim melainkan karena akumulasi perbuatan yang dilakukan sebelumnya, terus menerus secara ajeg. Istiqomah. Akan tetapi, kita juga perlu melihat pada dasarnya apa yang terjadi dengan seseorang itu bukanlah suatu hal yang pasti. Cover belum tentu mencerminkan isinya. Juga sebaliknya isi belum tentu sesuai dengan covernya. Ini perlu diwaspadai. Semua itu adalah fatamorgana kehidupan.

Ujian dan fatamorgana kehidupan adalah dua sisi yang tidak akan lepas dari manusia dimuka bumi ini. Jika ujian melatih kita untuk menjadi manusia-manusia tangguh, manusia penyabar, manusia yang berkualitas, maka fatamorgana adalah menjebak kita untuk menjadi manusia yang dipenuhi ilusi, khayalan, tak sesuai realitas, dipenuhi hawa nafsu yang tak berdasar.

Fotamorgana menyebabkan kita dipenuhi dengan semangat semu untuk menjadi manusia yang serba wah, yang serba ter-, yang serba.......karena pada dasarnya itu adalah amarah dari sifat kesombongan dan keserakahan manusia.

Hati-hati dengan fatamorgana kehidupan karena sejatinya ia akan menuntun kita ke jalan yang tak berujung. Jalan yang terlihat indah, namun pada dasarnya adalah menuju jurang hitam yang dalam. Hidup ini sejatinya adalah permainan yang melelahkan kecuali bagi mereka bertakwa seperti yang difirmankan oleh Gusti Allah yang berbunyi:
Artinya: Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS Al-Hadiid:20)
Jika demikian, maka janganlah berbangga hati dengan kesuksesan jika tak disyukuri dan bermanfaat bagi orang lain. Disisi lain jangan pula kita sombong dengan ujian yang telah kita lewati dengan baik. Ingat! setiap manusia akan menghadapi ujian yang beda-beda sesuai dengan hidup yang dijalaninya sekarang, entah dia sebagai seorang ustad, guru, dokter, pengacara, youtuber, wirausahawan, pejabat, dan apapun segala macam profesinya dan tentunya juga pustakawan seperti saya seakarang ini.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat penulis sendiri. Selamat hari pahlawan 10 November dan selamat menunaikan ibadah sholat Jum'at. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bisa menghadapi ujian, tak terjebak fatamorgana kehidupan. Amin....


Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ujian dan Fatamorgana Kehidupan"