Antara MPN BATAN dan Perpustakaan BAPETEN, Ternyata Merasakan Kegalauan Yang Sama

Advertisement
Moment selesai acara Knowledge Sharing Kepustakawanan dari Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek, saya menyempatkan bertandang ke Perpustakaan BATAN bersama pustakawan Mas Rohandi Yusuf. Pustakawan yang satu ini sungguh baik dan ramah juga murah senyum sekali (he..2). Terima kasih sudah menemani Mas Yusuf.
Saya Bersma Pustakawan BATAN Mas Yusuf
Saya Bersama Pustakawan BATAN Mas Yusuf
Kini, setelah melakukan re-organisasi, Perpustakaan BATAN telah berevolusi menjadi Manajemen Pengetahuan Nuklir (MPN) atau dikenal dengan sebutan Perpustakaan PPIKSN (Pusat Pendayagunaan Informatika dan Kawasan Strategis Nuklir ) yang bersanding dengan sub bidang lainya, yakni Aplikasi Sistem Informasi.

Kenapa gerangan berubah? Konon menurut Kepala Bidang Sistem Informasi Manajemen Nuklir, re-organisasi ini berkiblat pada IAEA (International Atomic Energy Agency). Lalu, apakah tugasnya juga banyak yang berubah? Tetap sama, namun malah ada banyak tambahan tugas dari sebelumnya. Begitu kira-kira yang saya dengar langsung dari salah satu pustakawannya.

Nah, saya sendiri mencoba berdiskusi dengan beberapa pustakawan lain yang ada di Manajemen Pengetahuan Nuklir (MPN) disela-sela sedang sibuknya stock opname. Saya bertanya terkait perubahan secara fisik untuk kondisi sekarang. Ternyata merasakan kegalauan yang sama dengan di perpustakaan saya bekerja. Apa itu? Sekarang di era digital ini, sangat terasa jarang sekali ada pemustaka yang datang mengunjungi perpustakaan. Bahkan, bisa dikatakan sehari tidak ada yang mengunjunginya. Persis yang terjadi dengan di tempat saya.

Sercara fisik, koleksi-koleksi yang dulu berjajar di rak memenuhi ruangan dan bersifat terbuka, kini menjadi tertutup. Semua dipusatkan pada satu tempat. Sementara, bekas tempat berjajar rak diganti menjadi space untuk diskusi, kolaborasi, meja akses internet. Harapannya nanti ada yang  mau datang ke perpustakaan. Namun, setelah beberapa bulan, konon katanya malah justru semakin sepi. Entah kenapa ini terjadi. Yang jelas, era digital kini sudah merubah pola pencarian informasi para pegawai di BATAN.
Ruang Diskusi MPN BATAN
Salah Satu Ruang Untuk Diskusi dan Akses Internet MPN BATAN
Perpustakaan BATAN
Dok. Perpustakaan PPIKSN
Saya membayangkan, jika di BATAN yang jumlah pegawainya lebih dari 4.000 orang saja dengan jumlah peneliti yang cukup banyak, namun masih jarang yang datang ke perpustakaan, maka bagaimana dengan Perpustakaan BAPETEN? Secara jumlah pegawainya dibawah 400 orang saja dan di dominasi fungsional pengawas radiasi bukan peneliti. Pemustaka kini sudah beralih ke sumber informasi digital yang dapat diperoleh hanya melalui komputer meja kerjanya bahkan gawai. Jika dihubungkan dengan konsisi sekarang, mungkin inikah sebuah fenomena yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan bahwa shifting dan disruption sedang melanda dunia kepustakawanan? Entahlah!
Baca Juga: Definisi, Manfaat dan Elemen Penting Literasi Digital
Saya sendiri setelah melakukan kajian terhadap perilaku informasi para pengawas radiasi, maka saya semakin yakin karena hasil temuan menunjukan sumber informasi yang banyak diakses adalah internet. Hal ini juga didukung oleh statistik kunjungan secara fisik yang dalam satu bulan hanya ada satu sampai dua orang saja.

Lalu, dengan kondisi tersebut apa yang harus saya lakukan? Khususnya bagi perpustakaan di tempat saya bekerja? Jujur, saat ini saya sedang menyusun rencana perubahan yang akan diimplementsikan di tahun 2018. Pertama, mulai dari klasifikasi dan menguatkan peran perpustakaan itu sendiri. Kedua, pengembangan koleksi yang saya prioritaskan berformat digital dan tidak harus membeli. Justru berasal dari yang dihasilkan beberapa unit kerja sendiri dan apabila itu dari membeli, maka tentu saja saya fokuskan pada subyek terkait dengan institusi induk. Kedua, implementasi program knowledge management yang kini tertunda setelah saya tugas belajar. Padahal, prototypenya sudah ada. Sayang, sekarang berjalan ditempat.

Sementara, baru tiga itu yang rencananya akan saya implementasikan. Dengan melihat kondisi nyata antara MPN BATAN dan Perpustakaan BAPETEN, ternyata sejatinya merasakan kegalauan yang sama  juga, dimana pemustaka kini sudah banyak beralih ke serba digital. Sehari-hari saya sadar bergelut dengan era digital, tapi untuk yang satu ini saya seperti bangun tidur karena disiram air. Kalau tidak bergegas berubah, dari hati yang paling dalam, lebih baik perpustakaan ditempat saya bekerja ini ditutup saja. Selamanya. Biar negara gak menanggung beban.

Salam,
#PustakawanBloggerIndonesia

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Antara MPN BATAN dan Perpustakaan BAPETEN, Ternyata Merasakan Kegalauan Yang Sama"