Selamat Hari Ibu: Hikmah Dari Semangat Sang Ibu Penambal Ban

Advertisement
Tak terasa, hari ini sudah menginjak tanggal 22 Desember lagi. Hari yang diperingati sebagai hari yang bersejarah yaitu hari Ibu. Dulu, dua kali saya pernah menulis tentang hari ibu yang ditujukan untuk emak saya. Tulisan pertama mengenai nasehat emak yang saya temukan jawabannya di buku Ihya Ulumuddin dari Imam Al-Ghazali (baca: Selamat Hari Ibu: Hati-Hati Jangan Sampai Tertipu!). Kemudian, tulisan kedua tentang puisi untuk ibu (baca: Puisi Hari Ibu: Terima Kasih Untuk Segalanya).

Hari ini, 22 Desember 2016 secara khusus saya ingin melihat dari sosok seorang ibu yang kesehariannya membuka tambal ban dan menjual bensin eceran di pinggir jalan Siliwangi Pamulang. Sudah lama saya menjadi pelanggan ibu ini ketika ingin mengisi angin baik untuk sepeda maupun motorku ataupun sekedar membeli bensin. Pertama kali saat saya mengisi ban untuk sepedaku, saya kaget karena ternyata yang membuka usaha tambal ban itu adalah seorang ibu-ibu. Saya pikir adalah seorang bapak-bapak karena mukanya yang tertutup kain penuh. Hanya matanya saja yang terlihat.

Kemarin, tak sengaja motorku bocor, saya pun mengunjungi tambal ban dari ibu ini. Tengah hari, cuaca cukup panas, tapi si ibu dengan sigap menambal ban motorku. Dengan ditemani anaknya, sang ibu tetap memiliki semangat tinggi demi penghasilan  guna menyambung hidup hari demi hari. Terlihat jelas dari matanya, sang ibu begitu ridho menjalani usahanya membuka tambal ban.

Saya tidak tahu, kemana suaminya atau memang ia justru sedang membantu suaminya guna memperoleh penghasilan tambahan atau jangan-jangan meneruskan usaha suaminya yang dulu. Saya juga tidak tahu nama ibu penambal ban ini. Namun, saya sudah lama melihat ibu ini dari pagi hingga petang tetap konsisten dengan pekerjaanya. Pernah suatu hari saya kehabisan bensin pagi-pagi buta. Beruntung ada sang ibu penambal ban ini yang sedari pagi sudah buka.

Hikmah Dari Sang Ibu Penambal Ban
Apa yang bisa diambil pelajaran atau hikmahnya dari sang ibu penambal ban ini? Kurang lebih ada bebarapa yang bisa menjadi penyemangat, entah buat saya pribadi maupun teman-teman pembaca semuanya.

Selamat Hari Ibu: Semangat Ibu Penambal Ban


Pertama, semangat menjalani hidup ini dengan bekerja keras. Ada yang berbeda dari sang ibu ini. Saya melihat kendati pekerjaan penambal ban umumnya dilakukan oleh kaum lelaki, akan tetapi bagi ibu ini ia jalan sendiri. Saya yakin hal tersebut dilakukannya karena sang ibu mempunyai semangat yang baik sehingga ia mampu menjalani usaha tambal bannya.

Kedua, tak perlu malu yang penting halal. Ketika membuka sebuah usaha, tak perlu malu untuk menjalaninya. Selama itu sesuai dengan kemampuan kita dan halal, maka jalanilah dengan keyakinan dan niat yang baik.

Ketiga, konsisten. Saya sudah lama melihat ibu ini membuka jasa tambal ban dan ia terus lakukan secara konsisten. Bahkan, belakangan saya baru tahu ia kadang-kadang dibantu oleh anaknya (Lihat gambar diatas sang ibu dibantu anaknya, sepertinya masih SMP).

Oleh karenanya, di hari ibu ini, tidak berlebihan apabila saya melihat sang ibu ini adalah sosok ibu yang bisa menjadi teladan bagi ibu-ibu lainya. Bersyukurlah buat para ibu yang bekerja di balik meja, tidak berpanas-panas ria. Bekerja di bawah AC yang sejuk dan nyaman dibandingkan dengan ibu penambal ban itu. Buat ibu-ibu yang tidak bekerja, maka rasa syukur itu sepatutnya bisa menjadi alasan utama untuk lebih baik dan fokus dalam mendidik anak-anaknya. Lantas, bagaimana dengan ibu yang belum dikaruniai anak? Maka, berbaktilah dan layani suamimu dengan baik. Semoga..

Di hari yang spesial ini, saya juga hanya bisa mendo'akan semoga ibu sang penambal ban itu terus diberikan kekuatan dan kesehatan. Untuk anaknya semoga menjadi anak yang sukses baik di dunia maupun di akherat kelak.

Selamat hari ibu untuk semua ibu yang ada di dunia ini. Engkau adalah pahlawan sebenarnya tanpa pamrih dan lelah.

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Selamat Hari Ibu: Hikmah Dari Semangat Sang Ibu Penambal Ban"