Kisah Penyesalan Gusdur Tentang DPR dan Taman Kanak-Kanak

Advertisement
Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemarin saya baca berita di Merdeka Online. Judulnya "Ternyata Gus Dur pernah menyesal sebut DPR taman kanak-kanak" (13/3/106). Awalnya saya juga berpikir seperti yang diungkapkan oleh Kiai Maman dalam berita tersebut. DPR itu lambang negara masa disamain dengan taman kanak-kanak. Kalau DPR itu sering ribut, memang kenyataanya demikian. Sayapun tidak menampik, taman kanak-kanak itu juga sering ribut. Tapi yang diributkan berbeda dengan DPR. Tahu sendirikan apa yang diributkan DPR?
Megawati, Gusdur, Amin Rais
Gambar: Merdeka (13/3/2016)
Pertanyaan dari Kiai Maman itu, ternyata diluar dugaan. Gusdur mengatakan kenapa ia menyesal menyebut DPR taman kanak-kanak karena ia merasa berdosa telah meremehkan anak-anak yang suci, cerdas dan kreatif dengan anggota DPR yang kotor dan kreatif mencari celah untuk mendapatkan uang. Kira-kira seperti itu jawaban Gusdur ketika itu.

Sungguh jawaban dari Gusdur itu juga benar-benar menamparku. Saya baru tersadar, anak-anak itu memang orang yang suci jauh dari dosa. Anak-anak itu orang yang cerdas, apapun yang diajarkan biasanya akan cepat meresap. Anak-anak itu kreatif, pemikirannya penuh dengan daya imajinasi tinggi.
Suci, Cerdas dan Kreatif
Suci
Bagi yang sudah mempunyai anak atau pengalaman sendiri ketika masih kecil, tiga yang di ucapkan Gusdur itu, mestinya tidak menampik dan memang benar adanya. Saya ingat betul anak-anak itu ketika terjadi pertengkaran, dalam beberapa menit biasanya akan cair kembali. Rasa benci itu hanya sementara, namun kemudian hilang seketika dan bermain kembali seperti sedia kala. Itulah kenapa anak-anak itu benar-benar suci dan polos karena belum dihinggapi pikiran-pikiran dengan niat yang kotor. Berbeda dengan orang dewasa, bagaimana kelakuan kita ketika benci terhadap seseorang?

Cerdas
Anak-anak dibilang cerdas karena bagaikan kertas putih yang mudah sekali untuk dituliskan apa saja. Ini artinya anak-anak itu ketika diajarkan apa saja, ia akan cepat meresap. Kalaupuna ada yang lambat, itu bukan karena ia bodoh, akan tetapi biasanya adalah karena metode penyampaiannya yang kurang tepat. Setiap anak-anak itu unik dan berbeda. Oleh karenanya orang dewasa harus mengerti metode seperti apa yang harus digunakan. Hal yang paling mudah adalah ketika anak-anak cepat sekali mencontoh dengan orang disekitarnya misalnya dalam keluarga. Ketika dalam suatu keluarga bapaknya tidak berhati-hati dalam bertingkah laku di depan anaknya, maka si anak biasanya cenderung meniru seperti apa yang dilakukan bapaknya. Apalagi kalau ada si anak mempunyai kakak yang perbedaanya tidak terlalu jauh, maka biasanya kakaknya akan menjadi role model bagi si adiknya. Apapun yang dilakukan kakaknya cenderung akan ditiru oleh adiknya.

Kreatif
Bagaimana dengan kreatif? Anak-anak adalah gudagnya. Daya imajinasi dan rasa penasaran anak-anak itu sangat tinggi. Inilah yang membuat anak-anak mempunyai segudang kreatifitas yang biasanya akan ditampilkan dengan cara apa saja ketika sedang bermain. Tidak ada tujuan lain, bermain adalah yang paling disukainya. Oleh karenanya anak-anak itu tampak seperti tidak ada beban dalam hidup, polos tak berdosa, dan apa adanya. Bahkan anak-anak itu mempunyai teman imajinasi antara umur 7-9 tahun.

Nah, kalau DPR itu dikatakan seperti DPR taman kanak-kanak. Jelas saya juga sangat tidak setuju. Kendati, anak-anak juga tidak marah ketika disamain dengan DPR karena saking polosnya si anak-anak. Kalau demikian, lebih tepatnya seperti apa? Silahkan nilai sendiri. Yang jelas, bukan dengan taman kanak-kanak. Paham?

Salam,
Pustakawan Blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Penyesalan Gusdur Tentang DPR dan Taman Kanak-Kanak"