Kisah Putusnya Jari Sang Raja Dan Pemuda Buta

Advertisement
Masjid Bapeten
Tepat sebelum waktu sholat Jum'at dimulai, sebenarnya saya telah menulis tentang sebuah foto sederhana yang membuat saya harus bersyukur karena alam ciptaan-Nya yang begitu sempurna (baca: Indahnya Matahari Terbit diPagi Hari). Entah kebetulan atau tidak, tema khutbah untuk Jum'at ini, ternyata membahas tentang rasa syukur pula.

Belajar tentang syukur memang selalu menjadi topik yang menarik bagi kaum muslimin dimanapun berada. Apalagi jika disampaikan melalui cerita-cerita islami yang penuh hikmah dan nasehat. Jum'at kali ini, khatib menceritakan sebuah kisah apik dan menarik. Kisah yang diceritakan tersebut adalah sebuah riwayat yang mempunyai hikmah mendalam tentang pelajaran rasa syukur. Melalui riwayat ini kaum muslimin bisa mengambil pelajaran penting untuk dijadikan motivasi agar selalu senantiasa bersyukur kepada Allah, SWT.

Kisah ini adalah tentang putusnya jari sang raja terkenal dari Baghdad dan seorang pemuda buta. Berikut ceritanya yang saya bagi menjadi dua:

Pergi Berburu
Suatu hari raja mengajak pengawal setianya untuk berburu ke hutan. Sang raja memang terkenal dengan hobinya berburu binatang. Masuklah ia bersama pengawal setianya ke hutan belantara. Sang rajapun melihat seekor rusa yang bagus hingga begitu bahagianya hati sang raja.

Saking senangnya, mulailah ia mengeluarkan panahnya lalu membidiknya. Ketika panah itu tepat mengenai rusa, lalu sang rajapun mengambil pisaunya hingga tak terasa pisau tersebut mengenai jarinya. Seketika putuslah jari sang raja tersebut. Kemudian ia memerintahkan pengawal setianya untuk mencari potongan jarinya.
"Hei pengawal, coba cari dimana potongan jariku tadi," suruh sang raja
"Paduka raja, syukurilah dengan apa yang terjadi," sahut pengawalanya
Mendengar perkataan dari pengawalnya itu, lantas sang rajapun marah besar. Lalu ia kembali ke istana dan memenjarakan pengawalnya tersebut.

Ditangkap Manusia Kanibal
Dihari yang lain sang rajapun berburu kembli ke hutan. Kali ini dengan membawa pengawal barunya. Setelah memasuki hutan, ternyata sang rajapun salah jalan. Ia tersesat di hutan yang bukannya banyak binatang buruannya, melainkan tersesat dihutan yang ada sekolompok suku primitif pemburu manusia atau manusia kanibal.  

Akhirnya sang raja dan pengawal baru itu ditangkap oleh suku kanibal. Mula-mula pengawal barunya dimandikan lalu disembelih untuk dijadikan hidangan makanan. Setengah untuk persembahan dewa. Setengah lagi untuk dimakan oleh ketua suku manusia kanibal bersama anak buahnya.
"Daging ini enak sekali, saya masih lapar. Masih adakah yang lainya?" tanya ketua suku.
"Oh masih ada satu lagi tuan," jawab dari salah satu anak buahnya.
"Ok, masak satu lagi," sahut ketua suku menimpali.

Mendengar obrolan para manusia kanibal ini, sang rajapun ketakutan. Seluruh badanya gemetar tak terkira.

Lalu, dibawahlah sang raja oleh para manusia kanibal ini. Setelah dimandikan dan ketika akan disembelih, salah satu dari manusia kanibal itu terkejut karena melihat salah satu jari dari sang raja tidak ada. Melihat itu, sang rajapun dibuangnya ditengah hutan. Para manusia kanibal itu tidak jadi untuk menyembelihnya karena ada yang kurang sempurna dengan anggota tubuhnya. Jika ini dilakukan, maka rasa dagingnya menjadi tidak enak. Belum lagi ini akan menjadi bala karena dewa akan menolak persembahan yang tidak sempurna.

Bersyukur
Sang rajapun benar-benar bahagia karena merasa bebas dari para manusia kanibal. Sepanjang jalan  ia tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah, SWT. Setiba di istana, ia pun mendatangi pengawal setianya yang dulu dipenjara. Lalu sang rajapun membebaskan sang pengawal tersebut.

"Pengawal, saya berterima kasih kepadamu karena telah mengingatkanku untuk bersyukur",  kata sang raja. Lalu ia menceritakan persitiwa berburunya hingga tersesat dihutan dan akan disembelih oleh manusia kanibal.
"Wahai paduku raja, sesungguhnya saya yang harus berterima kasih karena saya dipenjara," jawab pengawaalnya.

Mendengar perkataan pengawalnya itu, sang rajapun semakin tidak mengerti.
"Mengapa justru kamu yang minta maaf," tanya sang raja dengan roman muka kebingungan.
"Wahai paduka raja, seandainya saya tidak dipenjara, mungkin saya yang akan disembelih oleh manusia kanibal itu. Karena saya dipenjara, maka yang disembelih adalah pengawal tuan raja yang baru," jawab pengawalnya.

Sang rajapun baru tersadar. Mendengar jawaban dari pengawalnya, hati dan pikirannya mulai terbuka. Betapa semua kejadian itu ada hikmahnya. Sebagai manusia yang beriman kepada Allah, SWT, harusnya selalu senantiasa bersyukur baik dikala senang maupun ketika sedang ditimpa musibah.

***

Pemuda Buta
Ketik kecil, kisah yang senada dengan diatas sebenarnya sudah pernah saya dengar juga ketika mendengarkan ceramah dari almarhum KH.Zainuddin, MZ. Hanya saja ada perbedaanya, yakni pada kisah peran dari orang yang diceritakannya.

Kalau dari KH.Zainuddin, MZ, kisah itu tersiratkan oleh seorang pemuda yang buta sejak lahir. Suatu hari pemuda tersebut mengeluh dalam hati.
"Ya Allah, mengapa saya dilahirkan dalam keadaan buta," gumam pemuda tersebut.

Suatu ketika didesanya itu datangi oleh sekelompok suku pemakan manusia (kanibal). Lantas banyak pemuda didesa itu diambil untuk dijadikan hidangan makanan. Termasuk pemuda yang buta matanya itu tak luput dari culikan para manusia kanibal tersebut.

Sebelum disembelih untuk dijadikan hidangan makanan, para kumpulan pemuda yang telah diculik itu diberikan makanan yang enak-enak agar gemuk. Para pemuda tidak tahu, mengapa mereka dikasih makanan yang enak-enak. Hingga tiba saatnya, ternyata baru menyadari bahwa para pemuda itu akan disembelih untuk dijadikan hidangan makanan.

Satu persatu para pemuda itu disembelih. Sekarang giliran terakhir, pemuda buta itupun dibawa dan akan disembelih pula. Ketika akan menyembelih, salah satu orang kanibal itu terkejut karena orang yang akan disembelih adalah orang buta. Seketika acara penyembelihanpun digagalkan.
 "Wah ini buta, kalau disembelih pasti dagingnya tidak enak," kata salah satu orang kanibal  
"Lebih baik dibalikan saja lagi ke desanya," teriak dari salah seorang lagi.

Akhirnya sang pemuda buta itu dikembalikan ke desanya. Dalam hati, pemuda buta itu tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah, SWT. Ternyata ada hikmahnya juga dengan apa yang terjadi pada kondisinya sekarang.

***

Dua kisah diatas adalah pelajaran penting buat kita semua khususnya yang lupa akan rasa syukur kepada Allah, SWT. Apapun yang diberikan oleh yang maha kuasa terimalah dengan sabar, ikhlas dan ridho. Sebagai tambahan silahkan baca 3 Hal Yang Harus Dilakukan Agar Menjadi Manusia Beruntung. Tulisan tersebut adalah hasil catatan khutbah Jum'at setahun lalu tepatnya bulan April 2014. Dari 3 hal itu, satu diantaranya Qana'ah, yakni merasa ridha dan cukup dengan pembagian rezeki yang diberikan Allah,SWT. Semoga kita bisa menjadi manusia yang Qana'ah. Manusia yang senantiasa pandai bersyukur. Amin...

Salam pustakawan blogger

Advertisement

Artikel terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Putusnya Jari Sang Raja Dan Pemuda Buta"